
*AKUN TIKTOK @Swahy17*
*AKUN INSTAGRAM @Swahy18*
***
Dor ...
Sniper sudah menembak kepala Shani yang bahkan semua bodyguard mencari kesana kemari sang musuh.
"Shani, tolong Shani hiks hiks ..." tangis Shina.
"Kita bawa ke rumah sakit, toloooong! toloooong!" teriak Citra yang sudah menangis.
Salah satu bodyguard langsung mengangkat Shani dan membawanya ke rumah sakit yang di iringi Citra dan Shina.
Ninno Ninno ...
"Hiks hiks hiks ... Shani sayang bertahan Nak," kata Shina yang sudah melihat Shani mulai menutup matanya.
"Mama, Mami. Shani sayang kalian ..." ucap Shani dengan lirih lalu pingsan.
"Shaniiii!" teriak Citra dan Shina bersamaan.
Sedangkan sniper itu sudah pergi karena khawatir bodyguard musuh menemukan persembunyiannya.
"Aku harus cepat pergi," gumam sniper itu lalu melompat.
Salah satu bodyguard melihat langsung menembak karena bodyguard juga seorang sniper.
Dor ...
"Akhhh ..." ringis sniper itu.
"Kejar dia!" teriak bodyguard lain.
"Sial," gumam sniper meringis sakit karena kena peluru dilengan.
"Tangkap dia," kata bodyguard itu.
"Sini kamu, ikut kami sialan."
"Akhhh ..."
Sedangkan Shina dan Citra hanya bisa menangis ketika sampai dirumah sakit.
"Maaf Bu, tidak bisa masuk tunggu disini dulu."
"Tolong anak saya Dok," kata Citra dengan khawatir, Shina sedikit kaget tapi tidak ia hiraukan yang penting anaknya bisa tertolong.
"Iya Dok, tolong selamatkan anak saya!" kata Shina.
"Baik, kami akan berusaha."
Suster itu langsung menutup pintunya dan Shina hanya bisa menangis begitu juga dengan Citra.
"Hiks hiks hiks, Shani Cit."
"Yang sabar yah Shani pasti selamat kok."
"Aku takut Cit."
"Apalagi aku Shin," sahut Citra. 'Bagaimana aku gak takut Shin, Shani anakku yang selama ini aku cari bertahun-tahun malah berakhir begini.' Citra membatin.
"Oh iya aku lupa kasih tahu Mas Toni."
"Ya sudah, kasih tahu langsung hiks."
Tut ...
Tut ...
"Shina nelpon, kenapa yah?" gumam Toni lalu mengangkatnya. “Halo Shin ada apa?“ tanya Thoni.
“Hiks hiks ... Shani Pi, Shani!“
“Shani kenapa, bukannya kalian lagi jalan-jalan yahh terus ini Mami kenapa nangis.“
“Shani Pi hiks hiks hiks ...“
“Iya Shani kenapa ngomong yang jelas.“
“Shani masuk rumah sakit Pi, Shani ketembak!“
Degh ...
“Apahhh!“ kaget Toni.
“Pi,“ kata Shina lagi.
“Papi kesana sharelok alamat rumah sakitnya,“ kata Toni dengan datar.
“Iya Pi,“ sahut Shina.
__ADS_1
Toni langsung pergi ke rumah sakit dengan perasaan yang tak karuan.
"Ya ampun Nak banyak sekali yang ingin menghabisi kamu sayang," gumam Toni sangat sedih.
***
Kazio sangat sedih karena harus merasakan hidup yang sangat keras, semuanya di ambil, bahkan sudah resmi bercerai dengan Citra.
"Tuan, ayo makan. Tuan dari kemarin belum makan," kata art mengetuk pintu kamar Kazio.
Tok ...
Tok ...
"Gak papa Bi, taruh aja di depan."
"Tapi Tuan-"
"Letakin aja Bi," sahut Kazio dengan cepat.
"Baik Tuan."
Art itu hanya meletakkan nasi di nampan diluar pintu yang sudah ada mejanya.
"Kasihan Tuan Kazio semuanya hancur dalam sekejap," kata art itu lalu kembali ke belakang.
Kazio kemudian keluar karena ingin mencari suasana yang lebih baik.
Saat ingin keluar, tiba-tiba Kazio dapat serangan langsung dari beberapa orang.
Bugh ...
"Siapa kalian?" tanya Kazio.
"Banyak bacot, hajar!" teriak orang itu.
Cyaaaaa ...
"Hoahhh," suara Kazio saat melawan beberapa penjahat itu.
Bugh ...
Bugh ...
Krak ...
"Siapa yang menyuruh kalian ha?" tanya Kazio geram tapi penjahat itu berhasil memukul punggung Kazio dengan kayu balok.
Bugh ...
Saat penjahat itu ingin memukul kembali, Kazio berhasil menahannya dengan kedua kakinya.
Brak ...
"Brengsek!" maki Kazio lalu bangkit.
Bugh ...
Bugh ...
Bugh ...
"Akhhhhh ... sial," kata penjahat itu.
"Cabut!" teriak teman satunya.
Mereka semua kabur terbirit-birit meninggalkan Kazio yang sudah terengah-engah.
"Hah hah, siapa mereka?" ucap Kazio dengan nafas yang tersengal-sengal.
Ternyata ada yang mengintip perkelahian Kazio tadi dibelakang mobil.
"Kita beritahu Bos," ucap orang yang berjaz pakai kacamata hitam itu.
"Hemmm ..." sahut teman yang satunya.
***
Boy dan Julia sedang makan di restoran, sebab sudah ada janji dengan Bima dan juga Sifa.
"Mereka kapan sih datang," gerutu Julia sambil makan.
"Sebentar lagi kok Yang," sahut Boy.
"Ehh Yang kira-kira Shani kenapa yah milih home schooling," kata Julia.
"Aku juga gak tahu sih Yang, tapi yang jelas pasti ada sesuatu yang berbahaya untuk Shani."
"Aku setuju sih Yang, lagian yah keluarga William itu sangat kaya raya pasti banyak persaingan bisnis."
"Nah itu, siapa tahu salah satu musuh bisnis keluarganya bisa membahayakan untuk Shani."
"Aku juga sepemikiran Yang."
__ADS_1
"He em ..."
Bima dan Sifa baru saja sampai dan langsung menepuk pundak Boy.
"Serius banget ngomongnya, ngomong apaan sih?" tanya
Bima.
"Ngomongin lu," sahut Boy.
"Ishhh," desis Bima.
"Hay Jul," sapa Sifa.
"Ehh Fa pesen gih makanan, kita pesen ini loh kepiting rebus."
"Iya."
"Mbak," panggil Bima.
"Iya Mas mau pesan apa?"
"Saya pesen kepiting kaya temen saya ini yah, yang jumbo."
"Baik Mas."
"Cieeeee ... makan bareng Sifa," ledek Julia.
"Apaan sih Jul," sahut Sifa karena malu.
"Heheh ..."
***
Toni berjalan di koridor rumah sakit dengan tergopoh-gopoh bahkan sampai menabrak orang lain.
Brugh ...
"Hati-hati dong Pak," ketus orang itu.
"Maaf Mbak," sahut Toni sambil menangkupkan kedua tangannya sambil berjalan.
"Huu dasar orang sombong!"
Toni tidak menghiraukan ucapan Mbak itu karena hanya fokus ingin ke ruangan Shani.
"Hiks hiks hiks, Shani Cit huhuhuhu ... Shani Cit gak mungkin huhuuu Shani gak mungkin-" kata Shina sambil tersedu-sedu.
"Gak mungkin apa Mi," kata Toni yang tiba-tiba sudah sampai depan kamar Shani.
"Papi," kata Shina langsung memeluk Toni.
"Kenapa dengan Shani?" tanya Toni.
"Shani masih di dalam Pi, gak tahu gimana Dokternya belum keluar hiks."
"Sabar yah Mi, kita doakan saja Shani yah."
Ceklek ...
"Dokter gimana keadaan anak saya?" tanya Shina antusias begitu juga dengan Citra.
"Karena peluru itu hampir tembus dikepala, kami sudah berusaha mengeluarkannya tapi terjadi pembengkakan dan itu yang membuat pasien menjadi koma."
"Apah Dok, anak saya koma." Kata Shina lagi.
"Gak mungkin," sambung Citra.
"Hishhh," desis Toni sangat marah dan mengepalkan tangannya.
"Boleh kita jenguk Dok?" tanya Shina.
"Boleh, tapi dua orang saja."
"Baiklah," sahut Shina.
"Kalian saja yang masuk," suruh Toni.
"Iya Pi, ayo Cit."
"Iya Shin," sahut Citra sambil menyeka air matanya.
Sedangkan Toni langsung menghubungi anak buahnya yang paling bisa di andalkan.
“Halo, saya ada tugas untukmu.“
Tut ...
"Kali ini, akan saya habisi kalian. Siapa yang berani menyakiti anak saya, harus mati!" gumam Toni sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
***
NEXT
__ADS_1