MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
55


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Sita dan juga Sifa langsung menuju kamar Shani.


"Sifa Sifa, Mama pikir kamu tahu Shani ada dirumah rupanya ada dirumah sakit. Kita jadi dua kali nih," kata Sita yang tidak mengerti dengan Sifa.


"Hehe maaf Ma, Sifa belum tanya Shani sakit apa. Tapi biasanya Shani ada dirumah kalau sakit, kalau pun di rawat dirumah sakit dia akan merengek minta pulang," sahut Sifa.


"Hahh kamu ini dasar!"


"Hehe maaf, kita tanya suster dulu."


Sifa menanyakan kamar Shani pada suster. "Sus apa dimana yah pasien atas nama Shani Miziana William?" tanya Sifa.


"Tunggu yah saya periksa dulu," sahut suster itu.


"Iya sus," kata Sifa lagi.


Sita merasa ada yang mengikuti dirinya tapi juga takut memberitahu Sifa, maka dari itu Sita memberi pesan pada Galih.


”Galih, sekarang aku dan Sifa ada dirumah sakit menjenguk temannya Sifa. Tapi aku merasa ada yang mengikuti kami, aku takut itu anak buah Sandra.”


Galih yang melihat pesan itu langsung pergi ke rumah sakit memakai masker.


"Aku harus bantu Sita," gumam Galih menaiki motornya.


"Kamar pasien berada dilantai dua nomor 67," ucap suster itu.


"Terima kasih sus, ayo Ma."


"Ayo."


Sesampainya depan kamar Shani, Sifa mengetuk pintunya dengan pelan.


Tok tok ...


"Siapa yah," gumam Citra dan Shina.


"Buka aja dulu," kata Shina lagi.


"Ya sudah aku bukain dulu," sahut Citra yang ternyata pergi ke rumah sakit selalu.


"He em."


Ceklek ...


"Hay Tante," sapa Sifa.


"Eh kamu ouh iya silahkan masuk," kata Citra lagi.


"Siapa Citra, eh Sifa."


"Iya Tan, mau jenguk Shani."


"Makasih ya sudah mau jenguk Shani, itu siapa Sifa?" tanya Shina yang melihat wanita seusianya disamping Sifa.


"Kenalkan Tante, ini Mama kandung Sifa namanya Sita."


"Ouh, iya kenalin Shani."


"Sita."


"Kamu ... kayaknya saya pernah lihat kamu deh," kata Citra.


Sita mulai mengingat wajah Citra yang satu tahun lalu sudah menolongnya.


"Ouh iya, anda yang menolong saya itu waktu di jalan saat hujan lebat."


"Astaga, saya baru ingat."


"Terima kasih sudah menolong saya," kata Sita lagi.


"Sama-sama," sahut Citra lagi.


"Ini kalian berdiri aja," tegur Shina.


"Eh enggak kok," sahut Sita dan Sifa barengan dan tampak kikuk membuat Shina gemas sendiri.


"Ayo duduk," kata Citra lagi.


Sifa melihat Shani yang masih bergantung dengan oksigen.


"Shani kenapa Tan?" tanya Sifa dengan muka yang cemas.


"Shani ditembak," sahut Shina.


"Ya Tuhan," pekik Sifa tidak percaya.


"Ya ampun," ucap Sita juga yang merasa kasihan pada sahabat anaknya ini sekaligus murid.

__ADS_1


Dokter pun datang memeriksa Shani. "Permisi, saya mau periksa pasien dulu."


"Ouh iya Dok," kata Shina langsung sedikit menepi.


Dokter itu mulai memeriksa Shani dari detakan jantung dan seterusnya.


"Bagaimana Dok keadaan anak kami?" tanya Shina tanpa sadar menggunakan kalimat kami.


"Kondisi pasien masih sama, mungkin ini akibat dari peluru sempat bersarang dekat dengan otak."


"Kalau bagaimana Dok," kata Shina lagi yang sudah terisak.


"Kita hanya bisa menyerahkan ini pada Allah, jika pasien sadar itu sudah keajaiban."


"Ya Allah Shani," ucap Citra tak percaya.


"Saya permisi dulu kalau ada apa-apa panggil saya," kata Dokter itu.


"Terima kasih Dok," sahut Shina.


Mereka semua menatap nanar tubuh Shani yang penuh tusukan jarum entah itu apa gunanya dan banyak selang.


"Sudah ketemu pelaku tembaknya?" tanya Sita.


"Sudah," sahut Shina.


"Siapa?" tanya Sita lagi karena Sifa dan Citra juga menunggu jawabannya.


"Musuh bisnis Mas Thoni, katanya bekerja sama dengan Mafia Blackmars."


Degh ...


"Ya ampun," ucap mereka semua tidak habis pikir karena bisnis kalah justru keluarga yang jadi sasaran.


"Kasihan kamu Shani," ucap Sita kemudian membelai pucuk kepalanya karena jarak mereka sedikit dekat.


"Shan, kapan lu bangun.' Sifa membatin tanpa sadar air matanya jatuh.


"Kamu yang sabar ya Nak," ucap Sita yang melihat putrinya menangis.


"Dia sahabat pertama Sifa, Ma."


"Iya Mama tahu, makanya kamu doain Shani biar dia membuka matanya lagi."


"Iya Ma."


'Mama disini Nak, tolong berjuang dan buka mata kamu sayang disini Mama menunggu kamu kembali.' Citra juga membatin sambil menyeka air matanya yang sudah jatuh.


***


Boy membelikan es krim untuk Julia dan belum mengetahui jika Shani masuk rumah sakit.


Ting ...


sebuah pesan masuk.


"Siapa yang chat?" tanya Julia.


"Sifa Yang," sahut Boy lalu membaca pesan dari Sifa dan langsung kaget. "Hah!"


"Kenapa Yang?" tanya Julia kaget.


"Shani masuk rumah sakit dan koma," kata Boy.


"Apa," kaget Julia.


"Iya, katanya ketembak!"


"Kita kesana yuk," ajak Julia langsung.


"Ya sudah ayo, aku tanyain Sifa dulu dirumah sakit mana."


"Iya."


Setelah dapat dimana rumah sakitnya, Boy dan Julia langsung ke rumah sakit tidak lupa membawa buah-buahan.


"Kita parkirnya disini aja Yang," kaya Julia.


"Iya,"sahut Boy.


Saat masuk rumah sakit, tiba-tiba Boy menabrak seseorang.


"Hati-hati dong kalau jalan itu lihat mata!" maki orang itu.


"Maaf Om," sahut Boy lalu minta maaf.


Tapi orang itu langsung pergi.

__ADS_1


"Aish dasar tua bangka, orang mau minta maaf juga main pergi aja."


"Sudahlah Yang," kata Julia.


"Iya," sahut Boy menurut.


"Kita tanya suster dulu," kata Julia yang mendekati suster yang sedang mendata nama pasien. "Maaf sus apa ada nama pasien Shani Miziana William?" tanya Julia.


"Tunggu sebentar ya Dek," sahut suster itu.


"He em ..."


"Sayang, gimana ya kabarnya Aevan?" tanya Julia.


"Ngapain kamu tanya dia," sahut Boy.


"Kan dia temen kamu Yang."


"Iya tapi itu dulu."


"Tega juga kamu Yang."


"Siapa suruh dia jahat."


Suster itu langsung memberitahu jika Shani dirawat dilantai dua nomor 67.


"Kamar pasien berada diruangan 67 lantai dua," kata suster itu.


"Terima kasih sus," ucap Julia.


Tidak lama kemudian Sifa dan Sita keluar karena harus kembali ke panti.


"Eh Sifa mau pulang lu," kata Julia.


"Iya nih," sahut Sifa.


"Ada Bu Sita juga rupanya," kata Boy lagi.


"Iya nih," seru Julia.


"Kalian masuk aja kita mau pulang," kata Sifa.


"Iya Fa," sahut Boy.


"Dahhh ..."


"Eh tunggu- yahh udah pergi," kata Julia.


"Kenapa Yang?" tanya Boy.


"Itu, sejak kapan Bu Sita sama Sifa akrab."


"Ouh iya benar juga yah."


"Ah sudahlah gak usah dipikirin kita masuk aja," kata Julia lagi.


"Benar juga kamu."


Galih memberi pesan pada Sita kalau mobil mereka disabotase oleh anak buah Sandra.


”Bos, mobil anda disabotase sebaiknya pakai mobil warna hitam disebelahnya itu saya yang sewa.“


”Terima kasih Galih.”


"Ayo Ma," kata Sifa yang ingin naik ke mobil yang sudah disabotase itu.


Sita langsung menarik Sifa agar masuk ke dalam mobil satunya.


"Ehh Ma kenapa?" tanya Shani heran.


"Shuuut, ikutin aja."


Sifa langsung mengerti dan mobil yang sudah disabotase anak buah Sandra itu dipakai Galih.


Brom! Brom! Brom!


Ditengah jalan, Galih yang sudah tahu disabotase mobilnya langsung membuka pintu dan melompat lalu mobil itu masuk jurang dan meledak.


Dor ...


'Galih,' batin Sita yang cemas.


'Mama kenapa cemas yah," batin Sifa.


***


NEXT

__ADS_1


__ADS_2