
Kazio tidak sengaja mendengar jika Shani Miziana William itu adalah anak kandungnya dari pembicaraan Citra bersama Darma.
"Aku akan membicarakan hal ini pada Shina dan Thoni jika Shani mereka adalah anakku," ucap Citra pada Darma di sebuah kafe.
Deg ...
Kazio yang berada tak jauh dari rumah Citra, tidak sengaja mendengarnya.
'Apa, jadi ... Shani Miziana William itu ...?' batin Kazio mengepalkan tangannya. 'Kalau begitu dia adalah anakku, aku harus membicarakan ini pada Citra.'
"Itu ide bagus Nyonya, tapi anda juga harus berhati-hati karena musuh masih berkeliaran apalagi saya lihat Nyonya Cici sepertinya sangat membenci Shani." Darma menjawab karena waktu itu dia pernah mendengar Cici bersama Jhon.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu," kata Citra.
"Kemarin saya tidak sengaja dengar pembicaraan Nyonya Cici bersama Jhon, selingkuhannya Laras."
"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Citra penasaran.
"Mereka berniat ingin menyingkap Shani agar tidak mendapatkan hak waris dari Toni dan Shina," jawab Darma.
"Bukannya Nyonya Cici itu, Ibu dari Tuan Antoni."
"Betul Nyonya tapi bukan Ibu kandung, Nyonya Cici hanya Ibu sambung."
"Aku curiga, penembakan Shani itu dari mereka." Citra mulai mencurigai Cici dan Jhon.
"Itu bisa jadi Nyonya, apalagi hubungan Jhon dengan Cici cukup diperhitungkan."
"Baiklah, terus awasi dan gali informasi tentang mereka Darma!"
"Baik Nyonya."
"Saya harus kembali ke rumah Shina," ucap Citra lalu pergi begitu saja.
"Hati-hati Nyonya," gumam Darma dengan pelan.
Kazio langsung membuntuti Citra karena ingin menanyakan hal ini.
Ditengah jalan, mobil Citra dicegat oleh Kazio.
"Mau apa lagi dia," gumam Citra tampak kesal.
Tok tok ...
"Buka pintunya Cit aku mau ngomong," pinta Kazio.
Citra pun keluar.
"Mau apa lagi hah," jawab Citra.
"Apa benar Shani anak Tuan Antoni itu Shani kita?" tanya Kazio.
Citra tampak terkejut mendengar pertanyaan Kazio, darimana dia tahu.
"Apa maksud kamu," kata Citra.
"Kamu jangan berpura-pura Cit, apa itu benar."
"Itu bukan urusan kamu."
"Itu urusan aku Cit, biar bagaimanapun Shani anakku juga."
"Cihh anak kamu itu Xavier bersama Laras sedangkan Shani hanya anakku seorang."
"Kamu jangan serakah Cit."
"Tidak masalah kalau aku serakah menyangkut anakku sendiri, jangan dekati Shani!"
Deg ...
"Segitu bencinya kamu sama aku malah melarang aku untuk ketemu sama Shani," kata Kazio dengan degupan jantung tak karuan.
__ADS_1
"Aku tidak bisa melupakan kebohongan bejat kamu itu mengatasnamakan Xavier adalah anak kandungku," ucap Citra dengan sinis.
"Apa, jadi Xavier ini bukan anak kandung Mama." Xavier yang baru saja datang mendengar percakapan kedua orang tuanya.
"Xavier, ekhem kapan kamu datang?" tanya Kazio.
"Siang tadi Xavier datang Pa, rumah kosong makanya Xavier minta alamat Mama dari Om Darma."
"Kamu urus anak kamu itu," sahut Citra lalu masuk ke dalam rumahnya tanpa memperdulikan kedatangan Xavier.
"Mama tunggu, Xavier mau-" kata Xavier yang ingin bertanya lebih banyak lagi tapi ditahan langsung oleh Kazio.
"Xavier sudah Nak, ayo kita pulang."
"Tapi Pa."
"Pulang Vier."
Xavier pun menurut.
Setelah Xavier dan Kazio pulang, Citra sebenarnya ingin kembali ke rumah Shina tapi karena capek. Citra memutuskan untuk istirahat dan memilih besok untuk pergi.
***
Alya dan Aevan memilih tinggal di apartemen pribadi milik Alya saat masih gadis dulu.
"Van, maaf yahh. Kita tinggal disini," kata Alya.
"Tidak papa Ma, Aevan tidak akan menyesal. Justru Papa yang akan menyesal," sahut Aevan.
"Makasih ya Nak," kata Alya kemudian memeluk Aevan.
Aevan melepas pelukan.
"Boleh Aevan tanya."
"Apa itu Van."
"Iya, Papa kamu punya saudara lain namanya Viko. Kakak Papa kamu."
"Lalu Om Viko kemana."
"Dia bunuh diri."
"Apa," kaget Aevan.
"Kenapa?" tanya Aevan.
"Cinta Om Viko tidak direstui karena istrinya dari golongan rendah."
"Lalu apa yang terjadi Ma?"
"Om Viko nekat mengajak nikah lari dengan kekasihnya dan mereka memiliki anak perempuan tapi Nenek kamu yang licik itu malah memisahkan mereka."
"Sampai Om Viko bunuh diri karena frustasi," sambung Aevan menebak.
"Iya."
"Pantas saja, salah satu teman dan guru Aevan ada yang patut dicurigai Ma."
"Kenapa?" tanya Alya heran.
"Bu Sita pernah di ancam sama Nenek dan Sifa salah satu teman sekelasnya Aevan pernah menyebut jika dia membenci keluarga mertuanya Mamanya."
"Kenapa kamu gak bilang dari awal Van, Sita apa namanya."
"Sita Luzia."
"Itu istrinya Om Viko."
Deg ...
__ADS_1
"Jadi bener dugaan Aevan selama ini," kata Aevan lagi.
"Mama ingin ketemu sama Bu Sita, ada yang ingin Mama bicarakan dengannya."
"Besok ya Ma, Aevan janji akan mempertemukan kalian."
"Apa dia tahu kamu itu ..."
"Aevan tidak tahu Ma, entah mereka tahu atau tidak kalau Aevan ini cucu Nenek Sandra."
"Mama harap bisa bekerja sama dengan sita untuk membongkar kejahatan Nenek kamu yang jahat itu."
"Itu bukan neneknya Aevan, catat itu."
"Hehehe ..."
"Gak lucu ah Mama ketawa mulu," kesal Aevan.
"Utututu ... sayang anak Mama maaf yahh sini peluk dulu anak Mama yang manja ini.
Aevan pun masuk ke dalam pelukan Mama tercintanya dengan sukarela.
***
Jhon dan Laras adalah ibu dan anak dari suami pertama sebelum dengan Regan.
"Bu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Jhon.
"Ibu juga bingung, karena mansion Toni benar-benar dijaga ketat!"
"Kita harus secepatnya bertindak Bu, supaya harta itu jatuh ke tangan kita dan tidak dengan anak itu."
"Anak itu masih bisa bertahan," kata Cici dengan kesal.
"Aku sudah suruh orang lain untuk melepas alat pernafasan bocah itu Bu," sahut Jhon.
"Bagus Jhon, semoga saja berhasil." Cici menyeringai karena akan membuat Shani anak pungut itu mati.
Arga ternyata mengintip mereka semua dari celah yang tidak diduga yaitu bawah ranjang.
'Jahat sekali," batin Arga sambil meremas pembicaraan mereka.
***
Shina merasa muianya kering dan berniat membersihkan mukanya dalam kamar ini saja yang sudah didesain khusus untuk Shani.
Saat Shina masuk kamar mandi, orang suruhan Jhon masuk dengan santainya melepas alat oksigen Shani dan menutup wajah Shani dengan bantal lalu menekannya.
"Hah hah hah ..." Shani kejang-kejang.
"Woyy!" teriak Shina yang ternyata hanya mencuci mukanya dalam kamar mandi.
"Hah," kaget orang itu langsung kabur.
"Kalian semua tangkap penyusup itu!" teriak Shina, bahkan Malik dan Ratna langsung sigap memerintahkan untuk mengepung mansion.
Dokter pribadi langsung masuk dan memeriksa Shani, khawatir dengan kondisi Shani kejang-kejang.
"Dokter, tolong anak saya!" ucap Shina dengan lirih sambil terisak.
***
Malam ini, Bima menyatakan cintanya pada Sifa disebuah kafe dengan nuansa putri topeng.
"Sifa, aku dah lama merasakan nyaman sama kamu sejak itu tapi aku enggan mengakuinya. Aku cinta sama kamu, kamu jadi pacar sekalian istri aku kelak."
Sifa benar-benar terkejut dengan ini semua, apalagi Bima menyatakan cinta pada dirinya.
"A-aku ...?"
***
__ADS_1
NEXT