
Azka tersenyum melihat biodata pribadi milik Shani Arizaya. "Kamu memang sangat misterius, baby."
Anak buah yang mengorek informasi Shani kesusahan. "Tuan muda, jujur saja kami sangat susah menembus data pribadi gadis itu."
Azka hanya mengangguk dan menyuruh mereka pergi. "Pergilah."
Orang-orang itu pun pergi sesuai perintah Azkarino Heil.
Sedikit tentang Azkarino Heil, seorang anak tunggal dari pengusaha Bima Heil.
Azka sudah menandai Shani sebagai miliknya dan tidak akan membiarkan siapapun menyentuh Shani.
"Kamu harus jadi milikku, baby!"
Lalu Shani yang kesenangan dapat adik langsung selfi bersama Baby S.
Shani memberikan nama adiknya Shiana William dan keluarga besar pun menyetujuinya.
"Aduh-aduhh kayaknya ada yang senang nih," ucap Tuan Malik.
"Iya dong Kek, kan punya adek."
Tuan Malik mengacak rambut Shani karena gemas dengan cucunya ini.
Darma dan Citra langsung di singgung Shina. "Pengantin baru harus punya momongan dong."
Darma dan Citra langsung terkejut dan tampak salah tingkah.
"Apa sih kamu Shin," ucap Ratna.
"Iya dong Ma, mereka pengantin baru."
"Benar itu," sambung Tuan Malik.
"Apa sih Ma ... Pa ..." rengek Citra lalu menyembunyikan wajahnya di bahu lebar Darma.
"Hahahah ..." Shina mentertawakan Citra yang lagi menahan malu.
"Shina sudah sayang," tegur Ratna.
"Hehehe maaf Ma," sahut Shina cengengesan.
"Mami kapan pulang?" tanya Shani sudah tidak sabar.
"Nanti sayang, katanya tadi habiskan infus dulu."
"Ouhh kalau gitu Shani nginep di sini aja yah nemenin Mami."
"Minta izin dulu sama Mama."
Shani menoleh ke arah Mamanya. "Boleh ya Ma."
"Boleh sayang."
"Di izinin sama Mama Mi."
"Kalau gitu boleh."
"Yeyy ... Dek Ana, Kakak Shani temenin yah malam ini."
"Boleh Kakak," ucap Shina menjawab dengan khas anak kecil dan itu berhasil membuat yang lain tertawa.
"Hahahaha ..."
[][][]
Beberapa Minggu kemudian Shani sudah sangat nyaman dengan kampusnya tapi ada beberapa hal yang membuat Shani geram. 'Sial, siapa yang meretas data pribadiku.'
Saat Shani masuk kelas ada yang menahan tangannya.
"Ada apa?" tanya Shani.
"Mau kenalan aja," sahut Azka.
"Ouh, Shani!"
"Azz-"
Shani langsung pergi ke meja belajarnya dan memasang earphone lalu membaca buku.
"Yahhh benar-benar menarik," ucap Azka tersenyum simpul.
Lalu Azka duduk di samping Shani sambil memandangnya.
'Cantik banget sih kamu, baby.'
Shani sebenarnya melirik diam-diam ke arah Azka. 'Laki-laki ini, dia ...'
Tidak lama kemudian dosen datang dan mengajar.
Shani menjelaskan semua bagian tubuh dengan detail dan jelas, dosen sangat puas dengan jawabannya.
Jam istirahat, Shani sengaja pergi dengan cepat agar Azka tidak mengikutinya biar bagaimanapun anak buah Azka juga harus di perhitungkan.
__ADS_1
'Kurang ajar laki-laki itu, kenapa dia menyuruh anak buahnya untuk mengawasiku.'
Shani bukanlah gadis bodoh, justru dia menghubungi anggota The Meteor untuk mengawasi anak buah Azka.
«Kalian persiapkan diri ke kampus, awasi anak buah Azkarino Heil.»
«Baik Queen.»
Shani tersenyum menyeringai. 'Jangan kekang hidupku apalagi menyuruh orang untuk mengawasiku.'
Anggota Meteor sudah tiba di kampus dan melihat anak buah Azkarino Heil.
Tiba-tiba mereka langsung membekap semua anak buah Azka dan meringkusnya tanpa jejak.
«Queen, kami sudah meringkus anak buah Tuan Azkarino.»
«Bagus, nanti malam aku kesana.»
«Siap Queen!»
Shani tersenyum miring dan melanjutkan baca bukunya dengan aman.
Azka menunggu informasi dari anak buahnya tapi tak kunjung dapat.
"Ini kenapa gak ada yang kasih informasi ke aku," gumam Azka.
Saat Azka memeriksa jaringan gelang di tangannya tiba-tiba hilang.
"Loh kok gak ada, sinyalnya gak ada." Azka tiba-tiba jadi panik dan menelpon anak buah sang Papa.
«Papa, Papa sudah lihat sinyal anak buah yang Azka tugaskan untuk mengawasi seseorang hilang.»
«Iya boy, sinyalnya hilang. Siapa yang kamu awasi?»
«Temen kampus Azka, Pa.»
«Boleh Papa tau marga belakangnya?»
«Emmm itu ...?»
«Siapa?»
«Shani William Pa.»
«Apa!»
«Kenapa sih Pa?»
Tut.
"Azka, Azka! haishh anak itu cari penyakit dia." Tuan Bima mendengus dengan kelakuan Azka.
[][][]
Kazio dan Laras menjenguk Shina yang baru saja melahirkan.
"Assalamualaikum," ucap Kazio.
"Wa' alaikumsalam," sahut Tuan Malik.
Kazio dan Malik saling bersalaman. "Ayo masuk."
"Baik Tuan."
"Tidak usah panggil saya Tuan, panggil saja Papa."
"Saya tidak pantas panggil anda dengan-"
"Jangan merendah seperti itu, ayo duduk."
Ratna turun dari tangga. "Ehh ada tamu, Bi ..."
"Iya Nya."
Ratna kemudian duduk di samping suaminya sedangkan Lisa sudah membawa buah tangan seperti sepaket buah.
"Kita mau jenguk Baby, Tan."
"Ayolah, naik."
"Mas disini aja yahh."
"Iya Mas."
"Ayo Ras."
Kemudian Malik bertanya tentang kemajuan tentang Shani.
"Gimana hubungan kamu sama Shani, Kaz?"
"Baik Tuan, kemarin aja kita jalan-jalan ke mall."
"Iya, baguslah kamu terus dekati Shani aja biar hubungan kalian makin dekat."
__ADS_1
"Iya Tuan, saya senang akhirnya Shani memaafkan Papanya."
"Hemmm."
Di kamar Shina, Laras sudah menciumi baby S dengan gemas.
"Ikhh lucu sekali jadi pengen punya bayi."
"Buat aja Ras," ucap Shina.
"Hehe nanti kalau dikasih juga sama Allah."
Tiba-tiba ...
"Assalamualaikum, princes pertama datang ... Kakek ... Nenek ... Mami ..."
"Astaga Shani, itu anak kenapa." Shina merasa telinganya jadi pengang.
"Shani sayang ini rumah bukan hutan," ucap Tuan Malik.
"Ehh Kakek, ada Papa juga."
"Iya sayang."
Shani langsung mencium tangan Kakek dan Papanya itu.
"Kamu pasti capek sayang," ucap Kazio.
"Iya Pa capek ... banyak banget tadi materi sama pengalaman."
"Namanya juga kuliah sayang."
"Ke atas gihh, ganti baju terus istirahat."
"Iya Kek, Pa ... Mama Laras ada disini juga."
"Iya sayang Mama Laras ikut dan dia di atas di kamar adik kamu."
"Ya udah Shani ke atas dulu ya Pa ... Kek."
"Jangan lari Shani," larang Malik.
"Heee ... iya Kek."
"Dasar anak itu," gerutu Tuan Malik.
"Ya ampun pecicilan sekali gadisku itu," ucap Kazio mengernyitkan dahinya.
[][][]
Brak!
"Astaga! kaget mereka semua.
"Shani," ucap Ratna.
"Dek S, Kakak princess datang."
"Shani sayang pelan-pelan, ini rumah Nak." Shina menegur Shani.
"Iya Mi, sore Ma."
"Kamu udah makan sayang?" tanya Laras.
"Belum Ma," sahut Shani.
"Ya ampun kasihan banget anak mami ini," ucap Shina.
"Laper Mi ..."
"Ya sudah masak gih sana," goda Ratna.
"Nenek ..." rengek Shani.
"Hahaha ... sudah-sudah ahh gak cocok kamu merengek seperti itu yang jago karate, Ras tolong masakin buat Shani yah. Tante capek banget nihh mana Bibi juga lagi gak enak badan tadi."
"Baik Tante, ayo Nak."
"Iya Ma."
Laras menggandeng Shani. "Kamu mau minta dimasakin apa?"
"Ayam goreng aja Ma sama kremes laos, enak itu."
"Iya Mama masakin, kamu duduk manis aja disitu."
"Iya Ma."
Shani kemudian duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya.
[][][]
NEXT
__ADS_1