MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
75


__ADS_3

Shina, Citra, dan Shani minta izin untuk pergi ke mall, mau jalan-jalan.


"Boleh ya Pa," kata Shina.


"Boleh tapi pakai bodyguard," sahut Malik.


"Terserah Papa aja yang penting kita bertiga mau jalan-jalan," kata Shina lagi.


"Iya, ada uangnya gak?" tanya Malik.


"Hehehe, belum Pa."


"Huu dasar kamu ini, Papa transfer kalian."


"Citra gak usah Pa."


"Loh kenapa Cit?" tanya Shina.


"Aku adada uangnya uangnya," sahut Citra.


"Ya tetap aja, gak ada penolakan. Papa transfer sekarang yahh," ucap Malik.


"Tapi Pa-" kata Citra lagi.


"Udah terima aja dikasih uang jajan juga," sahut Shina.


"Kamu mah mata duitan Shin," sahut Ratna.


"Ikh Mama."


"Hahahah," tawa Ratna.


() ()


Mereka bertiga sudah sampai di mall.


Mata Shani terus waspada bahkan tidak jarang menggengam tangan Mama dan Maminya.


Gue gak boleh lengah, siapa tahu anak buah Regan sedang mengawasi!


"Shani, Mama mau ke kamar mandi dulu yahh."


"Iya Ma."


"Mami, kita tunggu Mama disini."


"Iya sayang."


"Ouh ya Mi, sekarang kita harus hati-hati."


"Mami paham sayang."


"Ingat yah Mi!" peringat Shani lagi.


"Iya sayang," sahut Mami.


Bodyguard yang sedang menyamar jadi orang lain.


Musuh sudah menargetkan Citra untuk jadi umpan agar bisa menjebak Shani dan Shina.


Tiba-tiba ada suara teriakan dari dalam kamar mandi.


"Mama!" teriak Shani.


"Astaga Citra, kamu gak papa didalam Cit?"


Citra sudah berada dalam genggaman musuh.


"Jika ingin wanita ini selamat, serahkan diri kalian."


"Apa maksudnya?" tanya Shina.


"Ah itu sepertinya tidak perlu kamu tahu, cepat serahkan diri kalian jika tidak wanita ini akan mati!"


"Jangan sakiti Mama saya!" bentak Shani.


"Hey bocah, jantungmu itu sangat berharga dan mungkin bernilai 7 triliun, ahhh cepat serahkan diri kalian atau aku bunuh wanita ini aakhhh ..."


Shina terkejut karena Darma yang memukul dan langsung menarik Citra.


Bodyguard langsung mengamankan Shani dan Shina lalu ikut bergabung untuk memberi pelajaran.


"Kalian jangan kemana-mana," ucap bodyguard.


"Apa yang terjadi Shan?" tanya Shina.


"Shina gak tahu Mi," sahutnya pura-pura.


Citra disuruh bergabung pada Shina.


"Nyonya, ikut saya."

__ADS_1


"Citra," panggil Shina langsung memeluk saudaranya itu.


"Shina," sahut Citra.


"Kamu gak papa?" tanya Shina.


"Aku gak papa kok," sahut Citra.


Tiba-tiba anak buah Shani datang dengan memakai topeng lalu ikut menghajar anak buah Endras dan Regan.


"Siapa mereka," ucap salah satu bodyguard.


"Aku tidak tahu dan tidak peduli yang penting kita sudahi pertarungan ini."


Dengan tembakan yang menggema di mall membuat pengunjung lain ketakutan bahkan ada yang serangan jantung.


Tuan Endras yang melihat dari jarak jauh mengepalkan tangannya.


"Ada apa Tuan?" tanya sekretaris.


"Turunkan bala bantuan," titah Endras.


"Baik Tuan."


Sekretaris itu langsung menekan tombol merah.


Tidak lama kemudian sekitar seratus orang turun dan membantu.


Para bodyguard yang hanya berjumlah 20 kewalahan.


Bahkan sekarang mereka mengepung Shina, Citra, dan Shani.


"Mau apa kalian!" teriak Shina.


"Wah mangsa kita kali ini empuk."


"Iya, pantas saja Tuan kita menginginkan organ tubuh mereka. Kapan lagi coba."


Saat mereka ingin menyentuh Citra dan Shina, Shani langsung gerak cepat menendang.


"Brengsek kau bocah!"


Shani hanya diam karena dia ingin fokus melawan musuh.


"Kenapa kalian diam saja, dia hanya bocah!"


Shani maju dan terus menendang orang yang mau mencelakai Shina.


Mereka berdua shok melihat Shani berkelahi dengan banyak musuh.


"Kita harus telpon Papa," ucap Shina.


"Kamu benar Shin," sahut Citra yang ingin mengambil ponsel tapi sudah dirampas oleh musuh.


"Jangan harap kalian bisa lolos!"


Shani langsung memukul orang itu dengan benda yang dia lihat dimana ada.


"Brengsek, jangan sentuh nyokap gue!"


"Shani, hati-hati Nak!" ucap Citra.


Citra berusaha melindungi perut Shina agar tidak kenapa-napa.


Malik akhirnya mengetahui jika keluarganya diserang.


Langsung menyusul ke mall.


"Kurang ajar kamu, Regan!"


Shani berusaha melawan dan memang kehebatan Shani dalam bertarung patut di acungi jempol.


"Shani!" teriak Citra.


"Citra, ayo kita pergi aku takut."


"Kamu tenang aja Shin, mereka pasti bisa mengalahkannya."


"Tapi aku takut."


"Ada aku Shin."


Tiba-tiba ada yang memukul Citra dari belakang.


"Citra!" jerit Shina.


Shani yang melihat Mamanya dipukul sangat marah.


"Kurang ajar kalian!" teriak Shani lalu berlari ke arah orang itu dan menendangnya.


Shina saja sampai histeris melihat kebrutalan Shani.

__ADS_1


"Brengsek!" maki Shani meninju wajah orang itu.


Meteor langsung memakai senjata mereka dan menembaki musuh dengan brutal sampai anak buah Endras tumbang.


"Astaga, bocah itu mengamuk gimana ini."


"Teman-teman kita juga udah pada kalah."


"Lebih baik kita mundur."


"Iya daripada kita mati konyol."


Saat mereka sudah berjalan Shani langsung memanggil mereka.


"Hoy, mau kemana? Jangan kabur atau gue akan ngebunuh lu."


Mereka berdua menoleh ke belakang, Shani langsung menarik pelatuk.


Seketika jatuh dan tewas di tempat.


Musuh yang tersisa langsung ketakutan dan mereka berniat ingin kabur.


Shani mengkode anak buahnya untuk menangkap mereka semua.


"Tangkap mereka semua," titah Dara.


Dara mendekati Shani lalu menepuk pelan pundaknya.


Shani langsung memegang tangan Dara dan tersenyum tipis.


"Kakak pergi dulu, kamu harus istirahat."


"Hemm."


Citra berusaha berdiri tapi punggungnya sangat sakit.


"Akhhhh," ringis Citra dan Shani langsung mendekatinya.


"Mama gak papa?" tanya Shani dengan panik juga tidak lupa menanyakan pada Shina. "Mami gak papa?"


"Mami gak papa sayang, wajah kamu ..."


"Gak papa kok Mi."


"Kita harus bawa Mama kamu ke rumah sakit."


"Iya Mi."


Tidak lama kemudian Malik datang ke mall dan situasi sudah sangat sepi bahkan ditutup akses atas perintah Malik.


"Itu Kakek," tunjuk Shani.


"Kalian bertiga tidak papa?" tanya Malik.


"Shina gak papa kok Pa tapi kita harus bawa Citra ke rumah sakit," sahut Shina.


"Ya sudah, ayo kita ke rumah sakit. Kalian ikuti dari belakang jangan sampai wartawan meliput kami."


"Baik Tuan."


"Apa diluar banyak wartawan Pa?" tanya Shina.


"Bukan banyak lagi tapi membludak, kemungkinan beritanya akan turun besok."


"Sangat disayangkan mereka mengorbankan perasaan orang lain."


"Seperti itulah mereka haus akan cuan, ayo kita pergi ke belakang."


Mereka memilih pergi ke belakang itu pun masih sempatnya wartawan melihat.


"Itu mereka."


"Sepertinya lewat pintu belakang."


"Ayo kita kesana."


Bodyguard langsung menahan mereka.


"Jangan ada yang mengikuti mereka atau karir kalian hancur!"


Semua wartawan terdiam dan merasa takut tapi berita ini sangat fenomenal dan ditunggu pemirsa.


"Terobos aja, gak peduli yang penting berita."


"Ayo teman-teman."


Para bodyguard itu langsung bentrok dengan wartawan.


() () ()


NEXT

__ADS_1


__ADS_2