
Malik sangat terkejut melihat jasad Cici.
"Astaga!" kaget Malik.
"Ya ampun," ucap Ratna dengan lirih.
"Siapa yang melakukan ini Pa?" tanya Ratna.
"Tidak tahu, Darma apa kamu sempat melihat kejadian Cici di celakai."
"Tidak Tuan, saya datang Nyonya Cici sudah seperti ini."
"Ouhhh."
"Kita harus bawa Pa."
"Jangan."
"Kenapa."
"Bukan keluarga kita."
"Apa yang dikatakan Tuan Malik benar, Nyonya."
"Ya udah kalau gitu kita tinggalkan saja."
"Ayo."
Setelah Malik dan yang lainnya pergi, Shani membawa Cici ke markas.
"Bagus, bawa tubuh nenek peot itu ke tempat pembuangan di markas."
"Baik Queen."
Shani tidak ikut ke markas karena ingin kembali ke mall.
"Akhirnya nenek peot itu mati juga, aman hidup."
[][][]
Citra dan Shina mencari Shani.
"Kamu yakin dia disini Shin?" tanya Citra.
"Iya Mbak tadi dia disini," sahut Shina.
Sedangkan Toni hanya mengikuti Shina dan Citra dari belakang.
"Ya ampun mana yah dia, tadi Shani itu kepalanya dibenturin nenek peot itu ke dinding Mbak! aku takut aja dia pingsan."
Shani bertemu langsung dengan Xavief dan Dara.
"Akhirnya ketemu juga, habis darimana tadi. Papa sama Mama nyariin kamu tadi," ucap Xavier.
"Dari toilet tadi Kak," sahut Shani.
"Ya sudah kita susul mereka aja."
Shina melihat Shani bersama Xavier dan perempuan cantik.
"Nah itu Shani," tunjuk Shina.
"Shani!" panggil Citra.
"Mama," ucap Shani.
Citra langsung mendekati Shani dan memeluknya.
"Kamu gak papa?" tanya Citra.
"Gak papa kok Ma," sahut Shani.
"Ini kenapa dahi kamu ya ampun, pasti karena perempuan tua itu yahhh."
"Udahlah Ma gak papa kok, Kakek mana?"
"Emm itu lagi ngejar nenek peot!"
"Udah ah Cit kita balik aja ke rumah, yuk."
"Ya udah kita pulang aja," ucap Citra.
"Kak, aku pulang dulu yahh."
"Iya dek."
Dara hanya diam sambil melirik Shani.
'Hemmm nih anak bisa banget akting polos, hadehhhh ...' batin Dara.
Sampainya dirumah, Shani melihat Julia.
"Jul," ucap Shani.
"Eh lu," sahut Julia.
"Ngapain, ayo masuk."
"Iya."
"Sayang Mami sama Mama mau istirahat dulu yahh."
"Iya Mi."
"Bi bikinin jus yahh."
"Iya Non."
__ADS_1
"Ada apa Jul?"
"Gue mau langsung intinya aja sih, emm mau pamit."
"Pamit kemana?"
"Gue sama keluarga mau pindah."
"Hahh ... Pindah?"
"Iya Shan, gue sama keluarga mau pindah ke Singapura."
"Sifa udah tahu hal ini?"
"Udah kok."
"Terus Boy ...?"
"Dia ikut kuliah di Singapura."
"Ohh bagus deh kalau gitu, gue ikut senang."
"Itu aja sih yang pengen gue omongin ama lu."
"Emm ya gue paham kok."
Bibi pun datang mengantar jus alpukat.
"Ini jusnya Non."
"Makasih ya Bi ..."
"Sama-sama Non."
"Minum Jul."
"Iya Shan."
Karena ingin ke Singapura, Julia pun mengambil moment berdua dengan Shani di sebuah foto selfi.
"Cissss," ucap Julia.
Shani dan Julia mengambil foto.
"Gue upload yah di ig."
"Iya."
[][][]
Satu Minggu kemudian Billa sudah tidak memperdulikan anak dan Ibunya lagi.
Justru hari ini dia menemui keluarga Ralindra.
"Billa," ucap Shina.
"Ouhh ya duduk dulu," ucap Shina mempersilahkan Billa duduk.
"Iya."
"Ada apa yah?" tanya Shina.
"Saya kesini mau minta maaf aja," sahut Billa.
"Karena ...?"
"Ibu saya udah bikin huru-hara di tengah keluarga bahagia kalian."
"Tidak papa kok."
"Lalu?" tanya Ratna.
"Emmm kedatangan kesini sekalian mau pamit sama kalian."
"Iya," ucap Shina.
"Saya mau pindah ke Italia ingin hidup dari awal lagi.
"Saya mengerti kok, kamu gak salah Bill. Emmm saya juga minta maaf yahh" ucap Shina.
"Syukurlah saya cuma mau bilang itu aja kok, saya langsung ke bandara setelah ini."
"Ouh ya, ya ampun cepet banget sihh."
"Iya Shin."
"Ya gak papa semoga sukses yahh."
"Iya."
"Saya pergi dulu semuanya," pamit Billa.
"Hati-hati yahh," ucap keluarga Ralindra.
Setelah Billa pergi, mobil sedan warna hitam pun datang.
"Mas Toni," ucap Shina.
"Shin, aku ..."
"Mau ngapain kamu kesini?" tanya Ratna ketus.
"Ma, Toni minta maaf kalau udah buat Mama sama Shina sedih."
"Terus ...?"
"Sudah ayo cepat masuk!" tegas Malik.
__ADS_1
"Papa," tegur Ratna.
"Sudahlah Ma," ucap Malik.
Akhirnya Toni di izinkan masuk.
Malik menyuruh Bibi membuatkan minuman.
"Bi, buatkan minum untuk tamu."
"Baik Tuan."
Toni meremas kepalannya karena gugup.
"Bicara," ucap Tuan Malik.
"Toni ingin mengajak Shina untuk rujuk, Pa."
"Emang kamu bisa di andalkan," ucap Tuan Malik.
"Toni minta maaf Pa karena bodoh, maaf Pa."
"Denger ya Mas, kamu itu mudah terpengaruh. Gimana nanti kalau kita udah rujuk terus mantan kamu datang, sikap apa yang kamu ambil!"
"Aku janji gak akan terpengaruh lagi!"
"Cihhh aku gak percaya lagi, Mas. Contoh yang tadi yahhh, kita udah lama nikah tapi kamu masih percaya sama omongan orang luar. Itu apa namanya kalau bukan mudah terpengaruh!" ucap Shina.
"Shin, maafin aku tapi ini demi kebaikan anak yang ada dalam kandungan kamu!"
"Hahahahah," tawa Shina karena merasa lucu. "Kemarin kamu kemana saja Mas, hahh ... bukannya dulu kamu gak mengakui ini anak kamu, anak selingkuhan aku kan."
Toni hanya diam tidak berani memandang Shina.
"Kita udah cerai dan jangan ganggu aku sama Shani lagi! Untuk sekarang hidupku sangat bahagia, benar-benar bahagia!"
Bibi itu pun datang dan meletakkan minumannya.
"Lebih baik kamu minum, Ton."
Toni pun menurut dan meminum yang sudah dibuatkan Bibi tadi.
"Ton, saya tahu kamu mencintai Shina tapi kamu sangat mudah terpengaruh dan itu akan menyakiti anak saya. Maaf, sebaiknya masing-masing saja yahh."
Setelah lama bicara, akhirnya Toni pergi juga.
"Ma," ucap Citra.
"Ya Cit ada apa," sahut Ratna.
"Besok Citra ada kerjaan di luar negeri, emm sekitar 4 hari."
"Mbak mau pergi," ucap Shina.
"Iya," sahut Citra.
"Gak usah kerjalah Mbak."
"Enggak lah Shin, Mbak udah nyaman kayak begini."
"Gak cari suami?"
"Males!"
"Sama Mbak, aku juga males."
"Males-males, gak ada yang begituan. Kalian berdua harus menikah!" tegas Malik.
Shina dan Citra memanyunkan bibirnya.
[][][]
Shani malam ini datang ke markas seperti biasa tanpa sepengetahuan orang rumah.
"Queen," ucap anggota.
"Apa ada info lain?" tanya Shani.
"Pemasokan bisnis kita makin lancar, Queen."
"Hemm terus ..."
"Sebulan ini sih gak ada gangguan dari kelompok lain sih, masih aman kok Queen."
"Tahanan?"
"Seperti biasa Queen, kalau mereka tidak mengaku kita bunuh dan keluarganya ya di kasih kompensasi."
"Baguslah, emm aku ada rencana buat mindah markas."
"Dimana Queen."
"Dekat kampus."
"Ouhhh ..."
Shani merencanakan untuk memindah markasnya dekat kampus.
Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk dari Sifa.
Shan, nyokap gue mau nikah sama Pak Galih.
"Hah!" kaget Shani.
[][][]
NEXT
__ADS_1