MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
48


__ADS_3

♥️DUKUNG KARYA INI DENGAN LIKE DAN KOMENTAR SERTA VOTE KEMUDIAN FOLLOW AKUN AUTHOR ♥️


♥️AKUN TIKTOK @Swahy17♥️


♥️AKUN INSTAGRAM @Swahy18♥️


***


Antoni langsung masuk kamar setelah mendengar jika dirumah dapat teror.


"Shina."


"Papi," peluk Shina.


"Ada apa?"


"Ada ancaman Pi."


"Mana ancamannya?"


"Mami gak sanggup lihat."


"Ya sudah Mami tunggu disini."


"Iya."


Antoni menemui Robi yang menyembunyikan kotak itu.


"Robi," panggil Toni.


"Tuan."


"Mana kotak itu."


"Ada disana Tuan," tunjuk Robi.


Toni membuka kotak itu dan benar saja ada kepala kera.


"Astaga!" kaget Toni.


"Tuan, ada tulisan dalam foto Nona Muda."


Toni langsung membuka foto itu dan merasa geram.


"Akhhh ... siapa mereka sebenarnya?"


"Keselamatan Nona Muda sangat terancam Tuan."


"Kamu benar, Robi."


"Apa Tuan punya musuh yang mengetahui bahwa Tuan punya anak."


"Dulu ... anak saya Shani sempat koma karena serangan mendadak dari musuh, semenjak itu kami sedikit takut untuk mengizinkan Shani sekolah formal. Selama setahun Shani home schooling tapi sayang dia kembali koma karena kena tembakan dan itu membuat istri saya sangat takut!"


"Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita batasi Nona Muda karena sekarang musuh Tuan sudah mulai menampakkan diri."


"Kamu benar Robi."


Sebuah pesan masuk di ponselnya Antoni.


Ting ...


”Bagaimana hadiah dariku, Antoni William hahaha bagus bukan dan itu akan jadi kenyataan sebaiknya jaga baik-baik putri manismu itu hahahah ...”


Brak ...


"Brengsek siapa orang ini, ahhh! Robi perketat penjagaan disekitar rumah dan jangan biarkan Shani keluar sejengkal pun tanpa izin."


"Baik Tuan."


"Cepat ke belakang."


Toni benar-benar khawatir akan kesempatan Shani.


"Bagaimana ini, baru saja aku bahagia bisa merasakan keluarga kecil sudah diganggu seperti ini."


Shina memanggil suaminya.


"Papi."


"Iya Mi, ada apa?"


"Kita pindah aja ya Pi, Mami merasa disini gak aman apalagi Shani pernah dikeroyok Mafia!"


"Mami ... Mami tenang aja jangan takut, Papi akan melindungi kalian berdua."


"Tapi tetap aja Pi, Mami takut."

__ADS_1


"Sudah tenang saja, oh ya Shani lagi ngapain?"


"Dia dikamar, Mami suruh istirahat."


"Fyuhhh, syukurlah ayo kita tengok."


"Iya Pi, ayo."


Sedangkan Shani tampak berpikir bagaimana mencari tahu musuh dalam keluarganya.


'Aku sangat yakin, Oma Cici itu benci banget sama gue.' Shani membatin.


Saking fokusnya dalam berpikir membuat Shani tidak sadar diperhatikan oleh Antoni dan Shina.


"Shani," panggil Toni namun Shani tidak menjawab karena masih fokus dengan pikirannya.


'Aku yakin kecelakaan waktu itu ada sangkut pautnya dengan Nenek Cici,' batin Shani lagi.


"Sayang," panggil Shina juga namun Shani masih tidak menjawab.


Karena Shani sama sekali tidak menjawab, Toni dan Shina langsung menepuk pundaknya.


"Shani," panggil mereka berdua.


Shani sedikit terkejut dan berbalik.


"Mami, Papi."


"Kamu kenapa Nak?" tanya Shina.


"Gak papa," jawab Shani.


"Yakin gak papa," sambung Toni.


"Iya Pi gak papa," sahut Shani gugup.


"Shani, jangan bohong sama papi kamu, duduk!" titah Toni.


Shani pun duduk dipinggiran kasur.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Toni sambil duduk disofa samping meja belajarnya Shani yang juga di ikuti oleh Shina.


"Gak ada kok Pi."


"Shani Miziana William!" tegas Thoni dan Shina langsung mengelus punggung suaminya.


"Pandang Papi."


Shani mendongak sedikit ragu dan mata mereka saling menatap.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Toni dengan sorotan mata yang tajam.


Fyuhhh ...


"Tapi Papi dan Mami jangan marah yah," kata Shani sambil memandang keduanya.


Shina langsung berdiri dan duduk disamping Shani lalu memeluknya.


"Papi sama Mami tidak akan marah sayang, asal kamu mau cerita."


'Sebaiknya gue ceritain sebagian tanpa menuduh Nenek Cici.'


"Papi sama Mami ingat gak, waktu Shani kecelakaan dulu yang diculik itu."


"Ingat kenapa emang," sahut Toni.


"Umm pada saat itu Nenek Cici kemana Pi?" tanya Shani.


"Waktu itu Nenek Cici lagi sama temennya, emang kenapa sayang."


"Masa sih Pi, tapi waktu itu Shani sempet lihat Nenek Cici saat Shani tenggelam!"


"Kamu gak salah lihat, kan."


"Enggak kok Pi, terus yang kedua saat Shani hampir jatuh di kolam renang rasanya ada yang dorong dan Shani melihat ada bayangan Nenek Cici lagi!"


Toni langsung diam tak bergeming.


"Kenapa Pi, ko diam! gak percaya yah ... apa Shani bilang Pi, Papi gak akan percaya sama Shani."


Shani langsung merajuk dan membenamkan dirinya dalam selimut.


"Bukan begitu maksud Papi, Shani. Sebenarnya Papi juga sudah curiga dari awal," kata Toni.


"Maksud Papi," kata Shani yang menyahut dari dalam selimut dan itu membuat Shina menahan tawanya.


"Sebenarnya ada yang ingin Papi ceritakan sama kamu Shani, tentang Nenek Cici."

__ADS_1


Shani langsung membuka selimutnya.


"Apa Pi?"


"Nenek Cici itu bukan Ibu kandungnya Papi."


"Apa!" kaget Shani.


"Dia ibu tirinya Papi kamu sayang," sahut Shina.


"Hah, pantes sinis banget sama Shani."


"Sinis gimana maksudnya," kata Toni.


"Waktu di rumah sakit kemarin bisikin Shani macem-macem."


"Itulah yang Papi pikirkan sekarang, karena dulu adik kandung Papi menghilang tiba-tiba semenjak Oma Cici hadir."


"Seharusnya kamu selidiki sayang," kata Shina.


"Aku sudah menyelidikinya namun tetap, Nenek Cici tidak menimbulkan gelagat aneh."


"Tapi cerita Shani tadi," kata Shina.


"Sepertinya kita harus berhati-hati sama Nenek Cici, untuk sementara jangan terlalu dekat dulu dan kalau ada masalah jangan cerita sama dia."


"Iya Pi," sahut Shina.


Shani kembali menarik selimutnya.


"Sayang kamu kenapa, kok gitu."


"Ya habisnya Shani gak di izinin sekolah."


"Maaf ya sayang, mulai besok kamu home schooling aja ya."


"Emang kenapa sih Mi, ribet banget hidup Shani."


"Shani kamu gak boleh ngomong gitu, Mami gak suka."


"Iya Maaf Mi."


"Ya sudah ayo kita turun, makan siang dulu."


"Iya Mi."


"Nah gitu dong, ayo sayang."


Toni hanya tersenyum tapi pikirannya kembali tertuju pada Ibu tirinya itu.


'Kalau sampai Mama Cici terlibat, aku tidak akan tinggal diam.' Toni membatin.


***


Laras menemui Jhon sambil menangis.


"Hiks hiks hiks, Jhon."


"Laras, kamu kenapa?" tanya Jhon.


"Aku di usir dari rumah itu."


"Kok bisa!"


"Ken tahu kalau Gea itu bukan anaknya dan dia marah lalu ngusir aku."


"Kurang ajar, berani sekali dia memperlakukan kamu kaya gitu."


"Hiks hiks ... aku gak punya rumah Jhon, apa aku boleh nginep dirumah ini semalaman, nanti besok aku cari tempat tinggal."


"Jangan, kamu tidak usah cari tempat tinggal. Kamu tinggal disini aja yahh, urusan Ken aku yang beresin."


"Jhon," langsung memeluk Jhon dengan erat.


"Sudahlah jangan menangis."


'Bodoh, siapa yang nangis lumayan sih buat manfaatin Jhon lagi hahah ...'


Laras memanfaatkan Jhon karena kaya raya sedangkan Ken, Laras sendiri yang meninggalkannya karena bangkrut.


***


"Aaaaaakhhh!" teriak Ken karena Laras sudah pergi meninggalkannya.


***


NEXT

__ADS_1


__ADS_2