
Ujian telah usai kini semua murid kelas 12 sedang libur menunggu hasil kelulusan.
Tidak di sangka Mamanya menikah dengan Darma itulah yang ada dalam benak Shani.
"Kamu kenapa?" tanya Citra pada anak semata wayangnya ini.
"Gak papa Ma," sahut Citra.
"Yakin?"
"Iya."
"Ya sudah kalau gitu kita sarapan dulu, Kakek sama Nenek dan juga Mami nunggu kita."
"Iya Ma."
Citra membantu anaknya berdiri karena Shani bilang badannya lemes.
"Loh cucu Kakek kenapa?" tanya Malik.
"Ini Pa ... Shani bilang badannya lemes," sahut Citra.
"Kamu tadi malam begadang yahhh," tebak Malik.
"Enggak kok Kek," sahut Shani.
"Panas gak badannya," ucap Shina lalu menyentuh dahi Shani.
"Shani gak panas Mi ..."
"Badan kamu itu anget."
"Ayo cepat duduk," ucap Citra.
"Hemmm ..."
Shani tidak terlalu semangat makan karena rasa dilidah tak terlalu enak.
"Shani ke atas dulu yahh udah selesai makan."
"Kamu gak habis makan sayang," ucap Citra.
"Udah kenyang Ma, Shani ke atas dulu yahh."
Semua melihat perubahan Shani.
"Itu badannya tadi anget Mbak," ucap Shina.
"Masa sih dia sakit," ucap Citra lalu mau berdiri.
"Biar Mama aja yang ke atas Cit, kamu makan aja."
"Iya Ma."
Malik juga harus berangkat ke kantor.
"Citra kita berangkat bareng aja yah."
"Maaf Pa, Mas Darma katanya mau antar."
"Ya sudah kalau gitu, Shina Papa berangkat dulu."
"Hati-hati Pa."
"Iya sayang emmuahh."
"Ya udah kalau gitu Mbak juga berangkat ya Shin."
"Iya Mbak."
Citra merasa tidak enak saat melihat Shani tadi.
'Semoga aja Shani gak sakit,' batin Citra.
[][][]
Ratna menemui Shani ke dalam kamarnya dan melihat cucunya itu sedang bersembunyi dibalik selimut.
"Cucu Nenek kenapa sihh kok sembunyi di balik selimut," ucap Ratna sambil menarik selimut.
"Gak papa Nek," sahut Shani.
"Jangan bohong sama Nenek, ayo jujur!"
"Nek ..." rengek Shani.
"Jangan bohong, ayo cerita."
Shani hanya diam dia bingung mau bercerita tentang apa.
Yang di ingat Shani hanya satu kalimat yaitu pindah.
"Ya sudah Nenek tunggu kamu cerita nanti, ok."
"Shani mau istirahat Nek, boleh."
"Boleh dong sayang."
"Makasih Nek."
"Tapi setelah bangun langsung cerita sama Nenek yah."
"Iya Nek."
Ratna kembali menutup tubuh Shani dengan selimut.
Darma yang sudah jadi suami Citra mengerutkan keningnya karena tidak melihat Shani.
"Anak gadis kita mana Ma?" tanya Darma.
"Ada kok Mas," sahut Citra.
"Ouhh, ya sudah ayo naik."
"Iya Mas."
[][][]
Siang ini Darma ingin mengajak Citra ke rumah baru untuk mereka tempati bersama Shani.
__ADS_1
"Sayang, kamu udah siap."
"Udah Mas."
"Ayo."
Di atas motor, Citra terus bertanya pada Darma.
"Mas."
"Iya sayang."
"Nanti tolong dekorasi kamar Shani sesuai kesukaannya yahh."
"Boleh."
"Pakai duit aku aja Mas kalau gak cukup."
"Ssss ... Mas masih sanggup beli rumah, ok."
"Ya udah kalau gitu."
"Sebentar lagi kita sampai ke rumah baru kita."
Setelah sampai depan rumah barunya, Citra dengan senyum mengembang langsung jingkrak-jingkrak.
"Ini beneran rumah kita, Mas."
"Iya sayang, gimana kamu suka."
"Suka banget."
"Ayo kita masuk ke dalam."
"Rumahnya tidak terlalu besar dan juga kecil, ini pas banget Mas aku suka."
"Baguslah kalau kamu suka, ada tiga kamar sayang terus ada kolam mini dalam rumah tapi masih bisa melihat pemandangan belakang lewat kaca."
"Ini perfect banget Mas, Shani pasti suka."
"Padahal tadi aku mau ajak Shani kesini."
"Tadi Shani agak kurang enak badan gitu."
"Ouh ya."
"Iya Mas makanya aku setelah ini mau pulang ngecek suhu badan Shani."
"Semoga Shani cepat sembuh ya sayang."
"Aamiin makasih Mas."
'Mas senang kamu sebahagia ini, Cit. Semoga Shani juga ikut senang jadi aku tambah bahagi.' Darma membatin.
[][][]
Shani merasakan jika nafasnya sudah panas dan seluruh badannya lemas.
"Apa aku sakit," gumam Shani.
Shina langsung masuk kamar Shani karena tidak turun saat di panggil untuk makan siang.
"Enghh Mi ... Shani mau tidur jangan ganggu."
Shina langsung mengambil pengecek suhu.
"Mami periksa suhu kamu dulu."
"Heouhh ..."
"Astaga ini kamu demam Nak."
Suhu badan Shani 41 derajat.
Panik pasti, Shina sangat panik dan berteriak memanggil Mamanya.
"Mama!"
"Ada apa sih Shin?"
"Shani Ma, badannya panas."
"Kok bisa."
"Ya bisalah pagi tadi aja udah hangat."
"Ya sudah panggil Dokter aja."
"Iya Ma."
[][][]
Darma dan Citra melihat ada mobil Dokter pribadi keluarga Ralindra.
"Loh bukannya ini mobil Dokter Eri," ucap Citra.
"Siapa yang sakit Yang?" tanya Darma.
"Gak tau Mas ayo kita masuk."
Citra memanggil orang dirumah tapi tak menyahut.
"Bi ... Mama sama Shina Mana?"
"Ada di atas Nyonya, Nona Shani sakit."
"Apa!"
Citra dengan terburu-buru naik tangga.
"Pelan-pelan sayang," tegur Darma.
"Iya Mas."
Brakk ...
"Astaga!" kaget Ratna dan Shina bersamaan.
"Shani kenapa Ma?" tanya Citra dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Tenanglah Citra," ucap Ratna.
"Iya Mbak, Shani demam katanya kecapean dan banyak pikiran."
"Kamu mikirin apa sayang?" tanya Citra.
"Kalau gitu saya pergi dulu," ucap Dokter Eri.
"Baik Dok terima kasih," sahut Ratna.
"Sama-sama Nyonya," ucap Dokter Eri lalu pergi.
Citra langsung memeluk Shani dan merasakan badannya panas.
"Badan kamu panas banget sayang."
"Mama ..." isak tangis Shani untuk pertama kalinya saat sakit.
"Sudah Nak jangan nangis nanti tambah panas badannya," ucap Shina.
Uhuk huk uhuk ...
"Hemmmm ya ampun kamu sepanas ini sih, kamu mikirin apa sayang?" tanya Citra.
Shani meminta Mama dan Maminya untuk menemaninya tidur siang.
"Shani mau tidur sama Mama dan Mami."
Citra dan Shina saling pandang.
"Baiklah," ucap Citra.
Darma langsung minta izin ke kantornya.
"Sayang aku harus ke kantor dulu."
"Iya Mas."
Lalu Darma memberi semangat pada Shani.
"Baiklah anak gadis Papa jangan nangis lagi, ok."
Cup ...
Darma mencium kening Shani dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Papa berangkat kerja dulu yah."
Shani hanya diam, dirinya ingin menjawab tapi rasa lemas ditubuhnya masih ada.
[][][]
Malamnya ...
Shani yang tidur bersama Shina karena Citra sama Darma.
"Mi ..."
"Hemmm ..."
"Semua teman Shani pindah Mi."
"Terus?"
"Shani sedih."
"Jadi karena itu Shani sakit, iya?"
"Emmm."
"Ya ampun anak mami kenapa jadi begini sih, harus kuat dong."
"Shani kesepian nanti."
"Kan adeknya Shani mau lahir nanti."
"Itu masih kecil Mi."
"Walaupun kecil tetap akan membuat Shani bahagia nanti."
"Benarkah?"
"Iya dong."
"Anak Mami laki-laki apa perempuan?" tanya Shani dalam pelukan Shina.
"Laki-laki sayang."
"Shani harap adik kecil gak nakal."
"Hahaha kamu ini lucu sekali sudah ahh Mami mau siapkan kamu obat dulu biar cepat sembuh."
"Shani udah sembuh Mi."
"Mana ada jangan ngarang kamu."
"Beneran."
"Enggak! Mami gak percaya, kamu itu ratu alasan kalau mau minum obat. Buka mulutnya."
Dengan pasrah Shani membuka mulutnya.
"Nahh pinter minum obatnya."
"Pahit."
"Namanya juga obat mana ada manis."
"Makanya Shani gak suka minum obat."
Shina menggelengkan kepalanya lalu memeluk Shani kembali.
"Ayo kita tidur."
Dalam pelukan Shina, akhirnya Shani tidur dengan nyenyak.
[][][]
NEXT
__ADS_1