
() () ()
Toni ke rumah mertuanya karena ingin bertemu Shina.
"Ada Shinanya Pak?" tanya Toni pada satpam rumah Malik.
Satpam sudah mengenal baik Toni sebagai menantu Tuan Malik.
Tapi, kemarin Tuan melarang keras jika ada menantunya yang datang ke rumah.
"Maaf, Tuan Toni. Sebaiknya anda pulang saja, Nyonya Shina tidak bisa ditemui."
"Saya mohon Pak," melas Toni.
"Saya hanya bekerja Pak, maaf."
"Tapi-"
"Usir dia Pak," kata Shina di atas balkon kamarnya.
"Shin, Shina sayang. Aku mau bicara, please turun yuk."
"Ogah!"
"Mohon maaf Pak Toni, silahkan pulang."
"Baik Pak."
Toni pun berjalan dengan lesu menuju mobilnya.
'Harus beginikah,' batin Toni.
Shina hanya menjatuhkan air matanya karena sakit hati dituduh selingkuh.
"Aku gak pernah selingkuh, Mas. Tapi kenapa kamu percaya sama Ibu kamu itu, aku kecewa!"
Citra menepuk pelan pundak Shina.
"Kamu yang sabar yah," kata Citra lalu mengusap air mata Shina dengan tisu.
"Makasih Mbak," sahut Citra.
"Sama-sama."
"Katanya Shani mau sekolah besok," kata Citra.
"Apa itu aman Mbak?" tanya Shina.
"Kamu tenang aja aku sudah pilihkan bodyguard untuk Shani nantinya."
"Benarkah?"
"Iya, aku sedih lihat dia gak ada sosial."
"Iya juga sih Mbak."
"Ayo kita masuk, ini sudah malam."
"Hemmm."
Makan malam pun dimulai dan Shani akhirnya turun juga.
"Lama yahh," kata Shani.
"Enggak kok sayang," sahut Shina.
Saat semua orang tertidur bahkan Citra yang tidur bersama Shani saja tidak tahu jika anaknya itu sudah keluar.
Iya kali ini Shani akan pergi ke markas.
Shani hanya ingin melihat Laras.
"Bangun," kata Shani pada Laras.
"Emghhh," lenguh Laras.
"Enak tidurnya?" tanya Shani.
"Shani, kamu ...?"
"Aku sudah membunuh Gea," kata Shani lagi.
Laras terdiam tapi matanya menatap Shani dengan dalam.
"Saya minta maaf," sahut Laras lalu mengalihkan mukanya ke samping.
"Kenapa minta maaf?" tanya Shani.
"Sudah buat kamu menderita," sahut Laras.
"Penyesalan memang selalu di akhir."
"Kalau kamu mau bunuh saya, silahkan."
"Saya bukan orang jahat!"
__ADS_1
"Bukankah kamu ingin balas dendam."
"Ya."
"Lalu?"
"Ada hal yang lebih penting dari kamu, saya bebaskan kamu malam ini. Ikut saya!"
Laras sangat terkejut mendengar ucapan Shani yang mendadak itu.
"Apa saya tidak salah dengar," kata Laras.
"Tidak, gue maafin lu."
Laras menitikkan air matanya karena terharu dengan kebaikan hati Shani.
"Maafin saya."
"Gue dah maafin lu, ikut gue sekarang!"
"Baik."
Shani membawa Laras ke rumah kecil tapi bersih.
"Ini rumah gue, lu bisa tinggal disini."
"Apa ini gak terlalu berlebihan Shan."
"Gue kasih rumah ini bukan karena sayang sama lu tapi kasihan."
"Saya paham."
"Bagus!" tegas Shani lalu ingin pergi.
"Tunggu," tahan Laras.
"Kenapa?" tanya Shani.
Huffthhh
"Makasih sudah mau memaafkan saya, masalah Gea dan Jhon saya udah ikhlas dan menuai apa yang saya taburkan, tolong jangan benci saya."
"Hemmm."
"Kamu mau, 'kan berteman dengan saya."
"Nanti gue pikirin cepat masuk lu."
"Iya, saya masuk dulu."
Laras mencium pipi Shani karena gemas dan sangat imut tapi juga menyeramkan.
"Dahhh, saya masuk dulu."
Shani langsung tancap gas agar sampai ke rumahnya.
'Permasalahan gue sama Tante Laras sudah selesai, sekarang tinggal Nenek Cici dan Kakek Regan. Cukup Gea, Jhon, dan Ken yang gue bunuh dari keluarga. Tante Laras jangan, Kak Xavier pasti sedih."
Mulai sekarang Shani akan lebih hati-hati jika bertemu Regan dan Cici, musuh memang selalu dimana-mana.
"Gue bakalan hancurin, Regan dan Cici. KALIAN TUNGGU GUE!!!" teriak Shani sangat marah ketika Papi angkatnya menampar dirinya hanya karena mendorong Nenek peot itu.
() () ()
Pagi ini Shani sudah boleh masuk sekolah dan langsung di antar oleh Shina dan Citra.
"Anak kita ini makin hari makin cantik loh Mbak," kata Shina.
"Iya Shin, emmm sayang kamu harus makan banyak biar tambah cantik." Citra memberikan sayuran di piring Shani.
"Ikhhh Mama, Shani gak suka sayur!" rengek Shani.
"Justru karena kamu gak suka sayur harus dibiasakan," celetuk Ratna.
"Ikh Nenek," kata Shani lagi."
"Apa yang dikatakan mereka benar Shani," timpal Malik.
"Kakek juga aaaaakh."
"Hehehe," tawa Citra dan Shina.
Ratna hanya tersenyum simpul melihat kebahagiaan keluarganya itu.
"Udah yuk, Shani udah selesai makan."
"Ya sudah ayo Kami antar," kata Citra.
"Mami mau ngantar Shani."
"Iya sayang kenapa?"
"Mami lagi hamil nanti kecapean."
"Gak papa kok sayang."
__ADS_1
"Udah gak papa Shan, lagian kalian di antar pakai sopir kok."
"Ouh gitu ya Kek."
"Iya."
"Ya udah, ayo kita berangkat.
Mereka pun saling pamit dan mencium tangan yang lebih tua.
Tidak lama kemudian Shani sampai depan gerbang sekolah.
"Mami, Shani berangkat dulu yahh. Mama, Shani berangkat yahh. Dedek bayi jangan bikin Mami capek, Kakak sayang Dedek emmuahh."
"Hahaha," tawa Shina melihat kelakuan Shani.
"Hati-hati ya sayang!" peringat Citra.
"Iya Mi, iya Mam."
() () ()
Anak buah Shani sudah mengejar habis Regan dan Cici yang selalu berhasil kabur atau berlindung dengan mafia lain.
D'Havk, salah satu mafia yang disewa Regan untuk mengelola bisnis haramnya.
"Gimana?" tanya King D'Havk, Anzo.
"Saya ada beberapa gadis yang masih ditahan diruang bawah tanah, nanti malam kita akan ambil organ tubuh mereka tapi ingat pergerakan kita dipantau oleh polisi!" peringat Regan.
"Baiklah," sahut Anzo.
"Ada dua orang yang sedang mengerahkan anak buahnya untuk membunuhku," kata Regan lagi.
"Siapa itu?" tanya Anzo.
"Anak buah Malik dan cucu angkatnya," sahut Regan.
"Semakin banyak saja yang tahu pekerjaan kita," kata Anzo.
"Maka dari itu kita harus hati-hati," sahut Regan.
"Ya sudah aku pergi dulu."
"Hemm iya."
Setelah Anzo pergi, Regan langsung cepat-cepat pergi.
"Aku harus temui Toni untuk menceraikan Shina dan minta hak bagiannya," gumam Regan.
() () ()
Sedangkan Toni sudah tepat dirumahnya, dia tidak berangkat kerja.
Brakkk
"Anak bodoh!" maki Regan melihat Antoni mabuk sampai 3 botol.
Regan menampar pipi Toni agar sadar.
Plak
"Sadar bodoh, ayo bangun!"
"Ehhh minggir!" hardik Toni.
"Kamu kenapa mabuk Ton?" tanya Regan.
"Aku kehilangan istriku," sahut Toni.
"Dia bukan perempuan baik, cepat ceraikan dia."
"Papa tidak berhak menyuruhku cerai!"
"Kamu berani melawan Papa Ton!"
"Berisik, gara-gara kalian berdua Shina gak mau ketemu sama Toni akhhhh." Toni terlihat sangat berantakan.
"Jangan banyak tingkah kamu malah menyalahkan orang, cepat mandi dan ikut Papa!"
"Tidak mau, pergi saja sana."
Karena kesal, Regan menyeret Toni ke kamar mandi.
"15 menit kamu gak selesai mandi jangan harap kamu ada di Indonesia!" ancam Regan untuk menundukkan Toni dengan dalih pindahan.
Brakk
Regan menutup kamar mandi dengan wajah kesalnya.
"Kurang ajar Shina, berani sekali dia membuat Toni depresi!" maki Regan dengan monolognya sendiri.
() () ()
NEXT
__ADS_1