
Shani berpikir sejenak, akan sangat berbahaya jika menyerang tanpa rencana apalagi ada musuh seperti Tuan Endras.
Karena tidak tahu jika ada Tuan Endras, Shani mengkode anggotanya untuk mundur.
"Queen, kenapa kita mundur?" tanya anggota.
"Kita tidak bisa menyerang karena ada Tuan Endras," sahut Shani.
"Kalau boleh kami tahu siapa Tuan Endras?" tanya anggota lagi.
"Kamu bergabung ke kelompok saya sudah berapa lama, bisa-bisa kalian tidak tahu siapa itu Tuan Endras.
"Kami hanya tahu sedikit."
"Apa yang kalian ketahui."
"Tuan Endras sangat berpengaruh di bagian Eropa."
"Kita cari cara untuk melindungi Nyonya Shina dan sepertinya ...?"
"Queen juga target mereka bukan."
Shani menghela nafasnya dengan kasar karena cukup terkejut dengan kedatangan Tuan Endras.
"Kalian kembali ke markas kita bicarakan nanti malam hari," kata Shani.
"Baik Queen," sahut anggota.
"Hemmm." / 'Gue harus kasih info sama Kakek biar dia antisipasi.'
Shani memutuskan untuk kembali ke sekolah.
Saat sampai disekolah malah didekati cowok resek tadi.
"Darimana aja, bolos?"
Shani tidak menggubris sama sekali karena menurutnya itu tidak penting.
"Ayo dong jangan sombong, kenalan dulu."
Shani masih terus berjalan tanpa menghiraukan laki-laki tadi.
"Nama kamu Shani, 'kan. Bener gak?"
Shani menoleh dan berbalik lalu mendekati laki-laki tadi.
"Jangan ganggu gue, ngerti!" kata Shani dengan tegas lalu pergi.
"Woahhh, menarik banget. Gue suka nih cewek model begini gak tersentuh, punya tantangan baru gue."
Shani kembali ke kantin dan memesan burger hangat.
"Burger," pesan Shani.
"Ini Dek."
"Hemmm."
Shani juga memesan susu untuk minum.
"Enak banget kayaknya burger, mau dong."
Shani masih sabar menghadapi cowok satu ini.
"Ya ampun gue gak ditawarin," keluh cowok itu sambil memasang muka sedih.
Shani tidak peduli dan terus memakan burgernya.
"Eh ngomong-ngomong lu ini keluarga William, 'kan."
Ingin sekali Shani menghajar laki-laki ini karena sok akrab.
"Nama gue Zevan," ujarnya.
Shani meminum susu sampai tandas dan mengambil tisu untuk membersihkan disekitar mulutnya.
"Lu udah punya pacar belum?" tanya Regan lagi.
Shani langsung pergi begitu saja meninggalkan Regan setelah selesai makan burger.
__ADS_1
Zevan tersenyum, dia suka cewek dingin seperti Shani. Menurutnya punya tantangan sendiri untuk meluluhkan hati es batu seperti Shani, ini akan jadi tugas berat juga menyenangkan.
"Ok Shani cantik, gue tandain bakalan jadi milik gue!"
Shani masuk kelas dan sudah ada Julia dan Sifa.
"Shan, lu tadi kemana?" tanya Sifa.
"Ada urusan sebentar," sahut Shani.
"Ouh kayaknya sebentar lagi kita akan mengadakan camping deh," cetus Julia.
"Benarkah?"
"Iya Shan, lu ikut yahhh," kata Sifa lagi.
"Kayaknya bakalan seru deh kalau kita ikut camping," ujar Julia.
Shani hanya diam memikirkan camping cukup menyita waktunya nanti.
"Gimana Shan?" tanya Julia.
"Nanti gue pikirin deh," sahut Shani.
"Ok nanti kita tunggu yahh," tukas Sifa.
"Hemmm."
Suara bell berbunyi dan tandanya jam pelajaran akhir sudah dimulai.
Bima dan Boy baru masuk setelah latihan basket.
"Baru masuk kalian?" tanya Sifa.
"Iya, baru selesai latihan basketnya." Bima mengambil tisu dan menyeka keringatnya.
"Kalian nanti mau lomba basket yahh?" tanya Julia.
"Iya sayang," sahut Boy.
"Lawannya siapa?" tanya Sifa lagi.
"Widihhh SMA itu yahh," kata Julia.
"Emang kenapa?" tanya Boy.
"Banyak cowok ganteng loh disitu," sahut Julia.
"Awas aja kamu mau selingkuh," ancam Boy.
"Hehehe."
"Beneran ganteng Jul?" tanya Sifa lagi.
"Iya Fa, ganteng loh."
"Sayang, aku rasa yang paling ganteng itu pacar kamu ok." Bima ikut kesal.
"Hahahaha," tawa Sifa dan Julia.
Sedangkan Shani hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah teman-temannya.
() () ()
Saat ini Laras lebih memilih bertaubat dan akan meminta izin pada Shani untuk mint maaf.
"Semoga saja Shani mau," gumam laras sambil memasak.
Tiba-tiba ponselnya berdering dan Laras kemudian menyudahi kegiatan masaknya dan mengangkat telpo tersebut.
"Halo," ucap seseorang dalam telponya.
"Siapa yahh?" tanya Laras.
"Beneran gak kenal suara siapa ini," sahutnya lagi.
"saya benar-benar tidak kenal."
"Ya sudah saya Xavier Arizaya."
__ADS_1
Setelah mendengar nama itu jantung Laras beretak lebih cepat dari biasanya.
"Ka-kam-kamu ..."
"Iya ini Xavier anak Mama."
"Bagaimana kabarnya Xavier?" tanya Laras dengn kelu sambil tersenyum tapi pipinya basah dengan deraian air mata.
"Baik kok Ma."
"Alhamdulillah Ma, Xavier baik-baik aja kalau Mama sendiri gimana, sehat?" tanya Xavier denga bibir yang tersenyum lebar.
"Mama baik-baik aja sayang."
"Alhamdulillah kalau begitu Xavier senang Ma, emmm apa kita bisa bertemu."
"Of course sayang."
"Dimana kir-kira kita nertemu Ma?"
"Kamu atur aja sayang, Mama pasti datang kok."
"Ya sudah Ma kalau gitu kita ketemuan di kafe aja nanti Xavier sharelok tempatnya."
"Iya sayang."
"Nanti Xavier telpon lagi, assalamualaikum."
"Wa alaikumsalam Nak," ucap Laras lalu menangis karena ia tidak pernah memberikan kasih sayang untuk Xavier."
() () ()
Shani langsung pulang tanpa pamit dengan teman-temannya.
Gue harus kirim bukti itu ke Kakek, secepat mungkin khawatir banget gue sama Mami.
Sesampainya di rumah Shani langsung disambut Shina dan Citra.
"Eh anak kita sudah datang Cit," seru Shina lalu mencium pipi Shani kiri dan kanan.
"Sini dulu Nak Mama mau cium," kata Citra.
"Ya ampun Ma padahal Shani bau masam loh."
"Gak papa bagi Mama kamu tetap wangi," goda Citra sambil menoel pipi imutnya Shani.
"Ikh Mama mah toel-toel pipi Shani nanti tambah lebar pipinya," cemberut Shani sambil memegng kedua pipinya.
"Pipi kam, kan emang udah tembem sayang," sahut Shina ikut menggoda.
"Ih Mama, Mami, kalian sekongkol yah ngerjain Shani."
"Enggak kok sayang," sahut Citra lalu mencium pipi Shani yag tembem itu.
"Ya udah Sani mau ke kamar duu mau istirhat capek banget," kata Shani lalu mendekati Shina dan mengelus perut. "Dek bayi yang piter yah di dalam Kakak mau istirahat dulu ke atas." Kemudian Shani mencium perut Maminya itu lalu juga mencium Mamanya. "Shani ke atas dulu yah."
"Iya sayang istirahat ya Nak," kata Citra lalu mendekati Shina. "Kamu juga istirahat Shina."
"Dari pagi tadi aku sudah istirahat Cit," sahut Shina.
"Ya sudah kita nonton tv aja," jak Citra.
"Ok kalau gitu."
Sedangkan Shani saat sampai ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu dan ganti baju biar enak.
Shani langsung membuka laptopnya dan mengirim semua rekaman Tuan Endras, Tuan Regan William, dan Nyonya Cici.
"Kali ini gue harus manfaatkam kekuatan Kakek untuk melindungi Mami," gumam Shani.
() () ()
Saat Malik memeriksa beberapa data tiba-tiba sebuah pesan masuk.
Malik pun membuka pesan itu dan melihat rekaman yang dikirim seseorang tanpa nama, Malik tidak memikirkan siapa pengirimnya tapi yang ada dalam video itu membuat Malik murka.
"Kurang ajar!" teriak Malik menggelega diseluruh rungan dan membuat takut siapa saja yang mendengarnya.
() () ()
__ADS_1
NEXT