MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
54


__ADS_3

Shani mengalami kejang-kejang dalam komanya hingga Shina dan Toni sangat khawatir.


"Dokter-dokter!" teriak Shina sangat histeris. Para Dokter pun datang lalu memeriksa Shani.


"Bagaimana Dok keadaan anak kami?" tanya Toni.


"Pasien tadi mengalami pemberontakan dalam alam bawah sadarnya, sepertinya pasien berusaha melawan tapi syukurlah jantung pasien makin membaik."


"Terima kasih ya Dok."


Regan dan Cici langsung meluncur ke rumah sakit karena cemas dengan keadaan Shani.


'Sebenarnya aku malas banget nengok itu anak pungut, biarin ajalah! pokoknya anak pungut itu harus mati,' batin Cici.


'Aneh, kenapa Cici dari tadi diam aja. Apa benar yahh yang dikatakan Shina sebelumnya,' batin Regan juga bermonolog.


"Pa, kita beli buah dulu yah buat mereka disana."


"Baiklah," angguk Regan.


'Semoga saja Papa tidak curiga,' batin Cici yang sudah punya rencana lain.


Regan memarkirkan mobilnya ditoko buah, saat ingin turun Cici mengkode anak buahnya agar mencelakai dirinya sendiri setelah selesai beli buah.


"Berapa ini Mbak?" tanya Cici menunjuk buah di keranjang.


"Itu 50 ribu Pak," sahut penjual itu.


"Ouh.


Regan memandang ke sekeliling sambil menunggu istrinya membeli buah.


Tidak berapa lama kemudian, Cici datang. Regan pun membuka pintu mobil untuk Cici tapi saat Cici memutar dari sedikit untuk menuju pintu itu ada motor anak buahnya yang langsung menyerempet.


Brom!


"Aaaaaakhh!" teriak Cici.


"Mama," kaget Regan dan Cici pun pingsan.


Regan langsung membawa Cici ke rumah sakit yang mana Shani juga dirawat disitu.


"Bertahan Ma," panik Regan.


"Bapak tunggu disini," tahan suster.


"Tolong selamatkan istri saya sus," pinta Regan.


"Baik Bapak, silahkan tunggu diluar."


Regan mengangguk dan mondar-mandir depan pintu, saking paniknya sampai lupa memberitahu Toni.


"Astaga, aku lupa. Sebaiknya aku kasih tahu Toni dulu," kata Regan lalu menghubungi putranya itu.


Dalam kamar Shani, Shina masih menangis sedangkan Citra disuruh pulang walaupun Citra bersikeras akan menemani Shani tapi tetap saja Shina menyuruhnya pulang.


'Tuhan, tidak bisakah aku bahagia sedikit saja. Hanya anak angkat tapi kenapa begitu banyak yang ingin membunuh anakku, apa ini alasannya Tuhan. Apa engkau menguji supaya lebih melindungi anak kami,' batin Shina.


Tut tut tut ...


"Papi ponselnya bunyi," kata Shina.


"Ouh iya Mi maaf, Papi baru sadar."


"Siapa Pi?"


"Papa Shin."


"Ya sudah angkat aja Pi."


"Iya."


“Halo,“ ucap Toni dalam telponnya.


“Halo Toni maaf sekali Papa tidak bisa menjenguk Shani, ini Mama kamu diserempet motor dan sekarang masuk rumah sakit.“

__ADS_1


“Astaga, ya sudah gak papa kok Pa.“


“Sekali lagi Papa minta maaf yahh.“


“Sudah gak papa, Toni paham kok. Ya sudah, kalau Papa mau temani Mama.“


“Makasih Ton.“


“Iya Pa sama-sama.“


Tut ...


"Ada apa Pi?" tanya Shina.


"Mama dan Papa gak bisa kesini katanya Mama diserempet motor," sahut Toni.


"Oh," kata Shina.


"Kok kamu oh doang sayang," protes Toni.


"Terus aku harus apa, Shani juga sedang koma sekarang!"


"Iya deh jangan naik gitu suaranya kaya mau nerkam aja Yang," takut Toni melihat sorot mata Shina yang nyalang.


"Makanya gak usah nanyak!"


"Iya iya, oh ya Papi mau pindahin Shani agar dapat perawatan yang lebih baik."


"Kemana Pi."


"Dirumah kita sayang, Papi sudah siapin semuanya biar Shani nyaman dirawat. Kamu, kan tahu sendiri anak kita gak suka dirumah sakit. Siapa itu ini berdampak besar dengan pindahnya ruang perawatan."


"Ouh iya yah Pi, baguslah kalau gitu Mami setuju aja yang penting Shani cepat sadar."


"Iya sayang."


Arga dan Dara hanya bisa menatap dari jauh dengan deraian air mata.


"Ga, itu Queen kita?" tanya Dara lagi setengah tidak percaya.


"Apa snipernya udah tertangkap?" tanya Dara.


"Kayaknya sudah tertangkap sama anak buah Toni, tapi aku gak tahu dimana mereka menyembunyikan sniper itu. Mungkin Tuan Toni akan melakukan sesuatu," sahut Arga lagi.


"Semoga saja, aku tidak lihat Queen seperti itu."


"Iya, ya sudah kita kembali ke pekerjaan kita. Sekaranglah kita tunjukin kalau kita adalah orang yang setia dengan Queen," ucap Arga.


"Iya," sahut Dara sambil menyeka air matanya yang dari tadi terus jatuh.


"Ayo," ajak Arga yang di angguki oleh Dara.


***


Sifa sangat shok mendengar kabar bahwa Shani masuk rumah sakit.


"Gue harus kesana," gumam Sifa yang ingin pergi menjenguk Shani.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Sita yang masih di panti.


"Sita mau keluar Ma," sahut Sifa.


"Tapi itu berbahaya Nak," ucap Sita dengan cemas.


"Tapi sahabatnya Sifa masuk rumah sakit Ma, gak enak."


"Mama antar yah."


"Emang Mama gak sibuk."


"Enggak, tugas nanti bisa Mama kerjain malam."


"Tapi nanti Mama kurang tidur, Sifa gak mau. Sifa bisa berangkat sendiri kok," kata Sifa lagi.


"Jangan, ayo Mama antar."

__ADS_1


"Tapi-"


"Ayo!" tegas Sita.


Sifa pun pasrah.


Dalam mobil Sita bertanya apa sudah lama bersahabat dengan Shani.


"Kamu sudah lama bersahabat dengan Shani sayang?" tanya Sita.


"Udah lumayan kok Ma," sahut Sifa.


"Ada yang ingin Mama kasih tahu sama kamu, mulai sekarang kita harus hati-hati dengan Nenek Sandra. Sepertinya dia sudah menyuruh mata-matanya mengintai kita," ungkap Sita.


"Iya Ma ... Nenek Sandra itu Neneknya Sifa, kan."


"Iya emang kenapa?"


"Kenapa dia jahat sama Mama dan ingin memisahkan kita, bukankan yang salah itu saudara Mama."


"Namanya juga manusia sayang, pasti siapapun yang berhubungan dengan orang yang kita benci pasti juga ikutan dibenci."


"Maaf ya Ma," kata Sifa.


"Kenapa maaf, kamu tidak salah sayang cuma Mama minta sama kamu jauhi mereka yah. Mama janji kita gak akan terpisah lagi," ucap Sita sambil menyetir.


"Iya Ma," sahut Sifa.


"Ini ngomong-ngomong rumah Shani dimana?"


"Eh astaga Sifa lupa kasih tahu hehe ..."


"Ish kamu ini."


"Belok kiri Ma, terus nanti kalau ada bundaran belok kanan kalau ada kompleks elit kita masuk."


"Ok sayang."


Dibelakang mobil Sita sudah ada anak buah Sandra yang mengikuti.


"Infokan pada Nyonya Besar," ucap salah satu penguntit yang punya janggut panjang.


"Baiklah," sahut temannya.


Sedangkan Sandra yang dapat info terbarunya sangat geram.


"Kurang ajar kamu Sita, rupanya dia sudah menemukan Sifa ini gak boleh terjadi!" gumam Sandra lalu memerintahkan anak buahnya untuk mencelakai mereka.


Tut tut ...


“Halo, buat mereka kecelakaan dan jangan biarkan mereka selamat tanpa ada jejak sedikit pun.“


“Baik Nyonya.“


Pria berjanggut itu langsung bertanya bagaimana setelah ini.


"Bagaimana?" tanyanya sambil menyetir.


"Kita disuruh mencelakai mereka dan jangan tinggalkan jejak," sahutnya.


"Cih ayo kita melakukan kesenangan."


"Hahaha akhirnya, kita dapat uang banyak."


Sandra tersenyum puas dan dirinya bersumpah tidak akan membiarkan Sita hidup bahagia.


"Dengar Sita, saya tidak akan pernah membiarkan kamu bahagia bersama anak sialan itu!" ucap Sandra menyeringai.


Ternyata Alya mendengar rencana mertuanya itu, sampai hati memisahkan Sita dengan anaknya.


Karena takut ketahuan Alya langsung ke kamar dan memikirkan cara agar bisa memberitahu Zaki, siapa sebetulnya Ibunya itu.


"Aku senang bisa mendengar kabar Sita lagi, tapi ... aku aja belum ketemu sama Mbak Sita. Sepertinya aku harus ketemu sama Mbak Sita," gumam Alya dengan mantap.


***

__ADS_1


NEXT


__ADS_2