
Degh ...
"Aaaaaaaaa!" teriak Finni.
Bugh ...
Shani langsung memukul leher Fini sampai pingsan lalu menyuruh anak buahnya untuk menyekapnya.
"Sekap dia!" titah Shani.
"Baik Queen," sahut anggota.
***
Pertemuan Alya dengan Sita benar-benar diluar dugaan.
"Mbak Sita," ucap Alya.
"Kamu ...?" tunjuk Sita.
"Apa Mbak ingat sama aku?" tanya Alya.
Sita ingat siapa Alya, karena waktu melahirkan Aevan dirunyalah yang menemani Alya.
"Iya, aku ingat!" sahut Alya.
"Gimana keadaan Mbak sekarang?"
"Baik-baik aja."
"Ma, udah ketemu belum bajunya." Aevan nampak terkejut melihat Mamanya lagi bicara dengan Bu Sita.
"Mama," kata Sita memicingkan mata.
"Ouh iya Mbak, maaf. Aevan, sini Nak."
Aevan menghampiri Mamanya.
"Ada apa Ma?" tanya Aevan.
”Mama,” batin Sita.
"Ahhh ini Mbak, kenalin namanya Aevan, anakku!"
"Aku sudah tahu kok."
"Hah, Mbak sudah tahu sama Aevan. Beneran Van?"
"Iya Ma, dia guru Aevan disekolah."
"Ya ampun, Mama gak tau loh."
"Jadi Aevan ini anak kamu?"
"Iya Mbak ini anakku yang dulu kamu sambut pertama kali dia lahir."
"Ya ampun, sudah besar aja kamu."
Dari arah belakang, Sifa tidak mengetahui jika ada Aevan dengan Mamanya.
"Mama, Sifa udah selesai beli in–" kata Sifa langsung terhenti.
"Sifa," kaget Aevan.
Sita menoleh ke belakang ternyata ada anaknya yang sudah selesai belanja.
"Lu," kata Sifa menatap Aevan.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Alya.
"Dia satu kelas sama Aevan, Ma!" sahut Aevan.
"Eh tunggu, kamu satu kelas sama dia. Mbak, kalau gak salah dengar tadi dia manggil Mbak ..."
"Dia anakku!" kata Sita.
"Wouahhh ..." kaget Alya.
"Ini sangat membingungkan," ungkap Aevan.
"Alya, Aevan. Ikut kita, ayo aku jelaskan!"
"Ayo Van," ajak Alya.
"Mama," kata Sifa.
"Kita harus kasih tahu mereka Sif, Mama yakin Alya dan Aevan pasti punya masalah."
Sifa terdiam.
”Gak nyangka gue Sifa ini ... anak Bu Sita,” batin Aevan.
Setelah sampai dirumah Sita, Alya dan Aevan dipersilahkan duduk.
"Kalian tunggu disini yahh," kata Sita pergi ke belakang ingin membuat minuman.
Dibelakang, Sita bergumam karena bertemu dengan iparnya.
"Astaga," gumam Sita.
Sedangkan Sifa memilih untuk masuk kamar karena memang tidak mengenal.
"Ma, jadi istrinya Om Viko itu ...?"
"Iya, kenapa kaget kamu."
"Ya pastilah kaget Ma, orang beliau gurunya Aevan."
"Hahahah ada banyak pertanyaan untuk gurumu nanti."
"Aevan ikutin Mama aja deh."
Sita sayang membawa nampan.
"Maaf yahh ala kadarnya aja."
__ADS_1
"Gak usah repot-repot Mbak."
"Iya gak papa, kan kita baru ketemu. Ayo diminum."
"Iya Mbak."
Sruuuup ...
Sruuuup ...
"Ahhhh ..."
"Gimana kabar kalian?" tanya Sita.
Fyuhh ...
"Seperti yang Mbak lihat," sahut Alya.
"Heheh ... bagaimana satu rumah dengan beliau?" tanya Sita.
"Ahahaha hidupku seperti di neraka Mbak, aku gak kuat!"
"Hahahaha ... kamu masih bersama dengan Aevan sedangkan aku dipisah sama nenek peot itu."
"Ouh iya benar juga, terus gimana ceritanya bisa ketemu sama anak Mbak."
"Panjang ceritanya Al, aku juga harus minta bantuan sama Galih."
"Aku gak nyangka aja Mbak, Mama sangat jahat!" ucap Alya.
"Itu karena masa lalu yang membuat Mama jahat!"
"Tapi gak segitunya kak, apalagi Mas Zaki sekarang bikin aku kesel."
"Kamu berantem sama Zaki?"
"Iya, itu karena nenek peot itu yang fitnah."
"Terus."
"Aku sama Aevan pergi dari rumah itu."
"Omg."
"Santai aja Mbak, kami hidup berkecukupan kok."
"Astaga!"
"Hahaha ..."
”Apa-apaan ini pembicaraan emak-emak,” batin Aevan.
***
Makan bersama keluarga benar-benar membuat Shani sangat senang.
"Mami malam ini terlihat sangat lahap makan, ada apa? tumben sekali," ucap Shani.
"Hihihi kamu pasti sangat terkejut Shani," sahut Antoni dengan senyum mengembang.
"Tentu saja dong," sahut Shina.
"Apa itu?"
"Ekhem, Shani begini sebenarnya ..."
Dari belakang Nenek Ratna datang membawa banyak makanan.
"Taraaaaa ..."
Dari samping Citra dibawa Tuan Malik pakai kursi roda.
Sedangkan Shina, Antoni, dan Shani makan malam dekat kolam yang sudah dihias.
"Mama," kata Shina.
"Ya ampun kalian ini makan malam gak ngajak- gajak," seru Nenek Ratna.
"Hehehe ..." tawa Shina.
Shani melihat Mamanya dan langsung mendekati Citra.
"Tante, ayo duduk."
"Iya."
Shina yang melihat harus memberitahu kepada Citra jika Shani mengalami hilang ingatan waktu mereka temukan dulu.
"Nahh sekarang kita makan malam bareng, ini sambutan untuk Citra yang baru keluar dari rumah sakit!" pungkas Ratna.
"Ya ampun Ma, segitunya."
"Gak papa sayang, ayo kita makan."
Citra duduk disampingnya Shina.
"Shin, nanti aku mau bicara yah sama kamu. Ada yang harus kamu ketahui," bisik Shina.
Citra mengangguk pelan kemudian menatap Shani yang asyik makan.
”Mama senang kamu baik-baik aja,” batin Citra.
Shani mengetahui dirinya saat ini sedang membagi waktu, antara sekolah dan mafia bahkan bisnis sekalipun.
"Besok Shani mau sekolah lagi Pi," pinta Shani.
"Bagus sayang kalau kamu mau sekolah lagi," sahut Toni.
"Udah lama juga gak ketemu sama teman-teman," kata Shani lagi.
"Eh maksudnya?" tanya Toni kurang memperhatikan perkataan Shani tadi.
"Shani mau kembali masuk sekolah tapi gak home schooling."
"No!"
__ADS_1
"Why?"
"Itu berbahaya sayang," kata Shina.
"Shani baik-baik aja kok."
"No!" tegas Antoni.
"Kakek Nenek," kata Shani memelas.
Malik memalingkan muka karena takut goyah dengan tatapan maut Shani yang imut.
"Papa awas aja yah," ancam Shina.
"Gak bakalan," sahut Malik.
"Hahh, kalian sangat jahat!" kesal Shani.
"Ini demi kebaikan kamu sayang," tambah Shina.
"Iya itu betul," seru Ratna.
"Suka-suka kalian lahh," pasrah Shani.
"Hahaha anak pintar."
Mereka semua makan dengan bahagia dan itu membuat suasana hati Citr kembali menghangat.
***
Xavier sangat marah pada Papanya, karena sudah membuat Mama kesayangannya pergi.
"Papa sekarang udah puas? udah puas apa?" tanya Xavier.
"Diam kamu," sahut Kazio.
"Xavier yang tidak lahir dari rahim Mama Citra aja tahu kebaikan hatinya, lahh Papa sendiri bagaimana merasakan hal itu tidak! enggak, 'kan?" tanya Xavier lagi.
"Diam kamu Xavier!" bentak Kazio.
"Terserah Papa!"
Brak ...
Xavier menutup pintu kamarnya dengan keras dan kuat.
***
Laras dari tadi terus berteriak karena kakinya dipasung.
"Woy lepasin, brengsek! woyyy!"
"Akhhh berisik sekali wanita itu," ucap anggota.
"Pukul kepalanya biar pingsan."
Bugh ...
"Akhhh ..."
"Nahh begini, 'kan enak gak berisik!"
"Hahah lu kalah," tawa anggota lain saat main kartu.
Shuuut ...
Arga datang.
"Kenapa tahanan itu pingsan?" tanya Arga.
"Kami memukulnya karena berisik," sahut anggota.
"Apa lu bilang!"
"Kenapa, mau marah? ini bukan jalur lu yah, ini ruang penyiksaan mendingan lu diam!"
Arga langsung mencengkram kerah baju anggota itu dengan kuat.
"Berani lu sama gue hemmm!"
"Arga apa yang lu lakuin, lepasin Oki."
"Cuih!"
Brak ...
"Oki, Oki lu gak papa?" tanya anggota lain.
"Uhuk gak papa," sahut Oki.
"Arga lu kenapa kayak gitu aja marah sih, apa yang Oki bilang itu benar ini ruang penyiksaan!"
Dor ...
"Angga, Arga kamu ..."
"Sedikit aja lu bicara, mati!"
Dan kejadian itu langsung dilihat oleh Shani lewat cctv yang dipasang secara rahasia.
"Arga, Arga! rupanya kamu biang keroknya?"
Shani langsung menelpon orang kepercayaannya selain Arga dan Dara.
DRRRT DRRTT ...
“HALO, KAMU PUNYA MISI!“
“OK.“
TUT ...
"Pengkhianat harus mati!" gumam Shani tersenyum miring.
***
__ADS_1
NEXT