
Citra mengatakan pada Shina jika dirinya takut karena Kazio terus-terusan mengejarnya, padahal itu hanyalah alasan agar bisa dekat dengan Shani.
"Kurang aja yah itu laki," kesal Shina.
"Sudah, kamu nginap aja dirumah ini atau kamu tinggal sama Papa dan Mama aja biar mantan kamu itu enggak nyakitin kamu lagi," usul Ratna.
"Nah itu benar Toni sih setuju aja," sambung Toni.
'Tidak masalah sih daripada tinggal dirumah sendirian, kalau aku tinggal disini nanti kesannya aku gak baik lagi mana aku janda.' Citra membatin.
"Citra," panggil Ratna.
"Iya Ma," sahut Citra.
"Kenapa kamu diam masih kepikiran mantan brengsek kamu itu," kata Ratna lagi.
"Ya ampun Cit gak usah dipikirin tau masih banyak laki-laki lain," sahut Shina.
"Oh ya mantan kamu itu Kazio, kan?" tanya Toni.
"Iya, emang kenapa?" sahut Citra.
"Gak papa," kata Toni lagi.
Shani langsung pura-pura menguap karena tidak mau terus-terusan disamping Mama kandungnya karena gugup.
"Hoaaaaaaam ..."
"Ya ampun Nak, ya sudah mendingan sekarang Shani bobo yahh."
"Iya Mi."
"Jangan lupa itu gosok giginya," kata Ratna.
"Iyaaaa," sahut Shani dari jauh.
"Ya sudah Cit, sini aku anter ke kamar kamu." Shina mengajak Citra agar melihat kamarnya yang ingin ditiduri.
"Ouhh iya,” sahut Citra.
Mereka berdua pun naik tangga dan sampai depan pintu sebelah kanan, sepertinya dekat sama kamar Shani.
"Nahh ini kamar kamu, semua pakaiannya sudah ada karena kamu gak bawa baju iya, kan."
"Iya."
"Ya udah aku turun dulu, anggap aja rumah sendiri jangan sungkan-sungkan."
"Makasih ya Shin."
Citra langsung masuk ke kamarnya dan rasanya sangat bahagia lalu menghubungi Darma.
“Halo Darma, apa kamu bisa bikin skenario agar saya bisa lebih dekat dengan keluarga William?“
“Itu gampang Nyonya.“
“Terima kasih Darma.“
Bu
Tut ...
Citra menutup telponnya dan mengintip dari jendela ke arah jendela Shani.
"Sudah sangat dekat, sebaiknya aku ke kamarnya."
Citra nekat mengetuk kamar Shani karena rindu yang menggebu-gebu.
Tok ...
Tok ...
Ceklek!
"Iya ada ... apa?" kaget Shani melihat Mama kandungnya dengan berlinang air mata langsung memeluknya.
Hufh ...
"Hiks ..." tangis Citra memeluk Shani.
"Ehh Tante kenapa?" tanya Shani sebisa mungkin bersikap normal.
"Maafin Mama, maafin Mama tolong jangan benci Mama hiks ..."
'Apa Mama sudah tahu,' batin Shani.
"Hiks ... jangan tinggalin Mama lagi yahh," ungkap Citra sambil terisak.
Shani melepaskan pelukan Citra dan bertanya kenapa Citra menangis.
"Tante kenapa, apa ada masalah?" tanya Shani.
"Kamu lupa sama saya," sahut Citra.
"Tante temennya Mami, kan."
Citra tidak percaya Shani ternyata benar-benar melupakannya, apa sebenarnya yang terjadi.
"Kamu beneran lupa sama Mama, Citra Wijaya."
"Shani gak paham apa maksud Tante."
Degh ...
'Kenapa Shani tidak mengenaliku,' batin Citra.
'Maaf Ma, ini demi keselamatan Mama. Shani merasa ada orang jahat yang mengintai Mama,' batin Shani lagi.
Citra langsung menyeka air matanya dan tersenyum sebisa mungkin.
"Tante gak bisa tidur yah," kata Shani.
"Iya."
"Ya sudah tidur sama aku aja Tante."
"Hah, kamu mau."
"Iya."
"Terima kasih sayang."
"Sama-sama Tante."
Di kamar Tuan Besar Malik dan Nyonya Ratna membicarakan perihal Citra.
"Mama jadi kasihan sama Citra Pa."
"Yah mau bagaimana lagi, itu nasibnya. Padahal dulu Papanya itu sangat berwibawa," sahut Malik.
"Papa kenal orang tuanya Citra.
"Tentu saja kenal, sebenarnya Papa itu masih ada hubungan darah loh sama Prabu Wijaya."
"Serius Pa."
"Iya."
"Terus kenapa selama ini Papa gak cerita sama Mama kalau punya keluarga."
"Itu atas permintaan Prabu Wijaya sendiri, dia gak mau berdiri dalam marga Ralindra. Jadi dia memakai nama marga Ibunya, yaitu Wijaya."
"Kalian saudara satu Ayah tapi beda, begitu."
__ADS_1
"Iya, meski begitu baik aku atau Prabu tidak pernah berselisih paham, hanya kedua Ibu kami saja yang berselisih paham."
"Ya ampun, Mama baru tahu loh Pa."
"Karena selama ini Papa gak pernah cerita karena aib, itu pun Prabu menekan Papa agar tidak saling mengenal."
"Kasihan juga jadi Citra."
"Kok malah bahas Citra?" heran Malik.
"Ya kasihan aja harus terlahir dari seorang Ayah yang lahir dari hasil zinah."
"Husss kamu ini, gak boleh begitu gak baik!"
"Eh Maaf Pa."
"Jangan lagi di ulangi."
"Iya, itu artinya Citra keponakan kita dong Pa."
"Hemmm tapi jangan kasih tahu Citra dulu."
"Iya."
"Bagus, kita olahraga yuk."
"Ishh udah tua juga."
"Kan lagi pengen."
"Masih kuat gak?"
"Kamu meremehkan aku."
"Bukan meremehkan tau-taunya besok pinggangnya encok lagi."
"Ish kamu ini."
"Hehe ya sudah ayo."
Cup ...
"2 ronde ya."
"Serah aja aku gak mau tanggung jawab besok ya."
"Hahaha ..."
***
Tepat jam malam, Shani keluar lewat jendela dengan pelan agar Citra tidak terbangun.
"Bagus, para penjaga juga tertidur."
Dari luar, sudah ada mobil tumpangan anak buah Shani yang menunggu.
"Itu mereka," gumam Shani lalu melompat dan keluar melompati pagar yang cukup tinggi.
"Queen," panggil Arga.
"Kita ke rumah Laras sekarang!" titah Shani.
"Baik Queen."
Brom! Brom! Brom!
Sesampainya di mansion megah dan mewah, sudah banyak penjaga. Ada yang tidur dan ada yang masih jaga.
"Bagaimana Queen?" tanya Arga.
"Seperti biasa bikin mereka kejutan.
"Baiklah, aku akan buat tulisan dicermin."
"Buatlah."
Shani langsung keluar sambil memakai topeng karena ingin masuk lewat jendela.
Sangat kebetulan sekali malah masuk ke kamarnya Gea dan Fini.
'Hemmm keberuntungan memang mendukungku,' batin Shani lalu menulis sesuatu dibuku tulisnya Gea dengan ancaman pembunuhan.
Sedangkan Arga malah masuk ke kamarnya Jhon yang sangat dia benci.
"Jiahhh, masuk ke kamar tua bangka ini lagi. Gak papa deh, abis lu kali ini pedofil!" maki Arga dengan pelan lalu memasang cctv di kamar Jhon tak lupa juga memasang penyadap suara.
Arga juga menulis ancaman dicermin sebagai musuh yang akan menyerang dalam waktu dekat.
"Kali ini kalian akan terkecoh."
Selesai melakukan aksi tersebut Arga langsung keluar dan menunggu Queen di mobil.
"Sebentar lagi arena balapan, semoga keburu ini Queen."
Shani meletakkan kotak hadiah disampingnya Laras dengan senyum devil, Shani keluar.
'Rasanga menyenangkan jika membuat kalian ketakutan,' batin Shani.
Arena balap.
"Huuuuuu, ayo!" teriak Bima.
"Ini King Racing mana sih," kata Boy sambil celingak-celinguk.
"Ya sabar napa tungguin," sahut Bima.
Brom! Brom! Brom!
King racing datang menggunakan motor warna merah dan tampak sangat gagah.
"Huuuuu King racing datang," teriak penonton.
"Ini lawannya siapa?"
"Katanya sih Queen racing."
"Wahh beneran?"
"Iya."
Arga dan Shani sudah sampai di arena balap dan banyak sekali orang yang datang.
"Kali ini hadiahnya sangat besar," kata Arga.
"Motor gue dah siap belum."
"Tenang aja udah siap kok."
"Ok, ayo jalan!"
"Siap, aku kasih tahu mereka yang disana buat nyiapin motornya."
"Hemmm."
Arga mengirim pesan pada anak buah Meteor yang menyamar disitu.
”Siapkan motor Queen.”
”Baiklah.”
Bima melihat ada dua orang yang datang menarik motor warna hitam.
"Ehh itu, kan motor Queen racing orangnya mana?"
__ADS_1
King racing itu penasaran siapa yang jadi Queen racing saat ini.
"Kok gak kelihatan sih," keluh King racing itu.
"Sabar King, napa sih?"
"Gue ada kerjaan besok, bego!"
"Hahaha ..." tawa teman King itu.
"Ishh ngetawain gue lu hah."
"Ups sorry."
Shani pun keluar sudah memakai helm dan naik ke motornya lalu disambut wasit wanita cantik.
"Uhhh itu dia Queen racing."
"Maju King, ayo."
Ada sekitar 5 yang ikut balapan malam ini, di antaranya Bima dan Boy lalu Aevan.
Wasit sudah masuk dan mengangkat bendera lalu menghitung dengan keras.
"Satu ... dua ... tiga siap!"
Brom ...
Motor Aevan dan Bima langsung melaju kencang.
Brom ...
Motor Boy juga menyusul Bima dan Aevan.
Sedangkan Shani hampir bersamaan dengan King racing itu yang tampak meremehkan lawannya.
"Cihh cuma segitu," kata King racing itu.
Jalanan yang berbelok dan tikungan tajam hampir membuat Boy jatuh.
"Ashh sial," kesal Boy akhirnya ketinggalan.
"Gue gak boleh kalah," gumam Aevan.
"Sialan, dia mulai dekat lagi mana Boy dia ketinggalan apa!" kata Bima.
King itu mulai melaju cepat dan melewati Bima dan Aevan yang membuat keduanya panas.
"Sial," kesal Aevan memukul setirnya.
"Gak bakalan gue biarin lu menang dengan gampang, King sombong!" maki Bima lalu melajukan motornya tiba-tiba.
Ngosshhh ...
Queen racing melewati Aevan dan Bima begitu saja dengan cepat bahkan dalam tikungan membuat King itu terkejut karena Queen racing sudah didepan.
Garis finish sudah dekat, King dan Queen saling berebut agar sampai.
"Quee, Queen, Queenn!" teriak penonton.
"King ayo, ayo!" teriak penonton cewek.
Brom ...
Ban motor Shani sudah sampai difinish dan juga King, semua penonton mendekati mereka berdua.
"Siapa yang menang, siapa?"
"Pemenangnya adalah ..."
Deg ...
Deg ...
Deg ...
"Queeeeen!" teriak wasit itu.
King racing tidak terima dan langsung mencengkram baju wasit.
"Lu kalau hitung itu yang bener, gimana sih!"
"Bisa santai gak," sahut Shani.
"Jangan songong lu!"
Bugh ...
Satu tamparan dipipi King itu.
"Lu ..." tunjuknya.
"Kenapa, gak terima hemmm ..."
"Brengsek!" maki King racing itu dan akhirnya ribut.
Bugh ...
Bugh ...
"Astaga, Queen!" kata Arga lalu tanpa sengaja terdengar sirine polisi.
Nino ... Nino ...
Trauma apa yang membuat Shani takut akan suara itu hingga membuatnya histeris.
"Aaaaa hentikan sialan," pekik Shani dan dia dapat pukulan dari King itu.
Bugh ...
"Ahhh," ringis Shani.
"Rasain sialan."
"Hentikan," kata Aevan memegang tangan King racing itu yang ingin memukul Shani kembali.
"Siapa lu, pahlawan kesiangan."
Bugh ...
Bugh ...
Melihat Shani seperti takut, Arga langsung mengangkat Shani dan memasukkannya dalam mobil.
Sedangkan motor Shani dibawa oleh anggota Meteor dengan cepat agar tidak ditangkap polisi.
Aevan dan King itu langsung menyudahi perkelahian mereka dan kabur masing-masing.
Arga terpaksa mengangkat tubuh Shani dan masuk ke kamar Shani dengan hati-hati. Awalnya kaget ada wanita yang tidur dalam kamar Shani, tapi langsung meletakkan Shani disampingnya.
'Wanita ini,' batin Arga tapi langsung pergi takut ketahuan.
***
Paginya, Laras berteriak histeris sampai membuat Jhon tergopoh-gopoh mendatangi Laras.
Brak ...
"Ada apa Ras?" tanya Jhon yang melihat Laras menangkup wajahnya dengan tangan.
***
NEXT
__ADS_1