MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
50


__ADS_3

Citra begitu sumringah melihat isi surat itu rasanya ingin sekali dirinya jingkrak-jingkrak.


"Darmaaaaaa aku seneng banget, kamu gimana bisa dapat ini Dar."


"Saya selama ini mengikuti dan menyelidiki Nyonya dekat sama siapa aja terus lihat anak temen Nyonya yang nama Shani Miziana William itu, saya jadi ingat wajah Nona Muda Shani Arizaya."


"Tapi ini benar, kan Darma?" tanya Citra sekali lagi.


"Iya Nyonya," sahut Darma.


"Kamu lagi gak bersandiwara, kan hanya karena tidak tega melihat aku sedih."


Darma tersenyum melihat Nyonya Citra yang begitu teliti dan jeli.


"Seratus persen itu surat resmi Nyonya, waktu anak itu dirawat dirumah sakit saya sempat ambil satu helai rambutnya."


"Kapan itu?"


"Saat Nyonya Citra dan teman Nyonya lagi asyik cerita saya masuk dan mengambil rambut anak itu, apa Nyonya lupa yah kemarin ada Dokter masuk."


Citra langsung ingat.


"Astaga jadi itu kamu."


"Iya Nyonya."


"Haishh kamu ini ... itu bahaya tahu."


"Tapi saya profesional Nyonya."


"Ishh kamu ini tapi saya seneng akhirnya saya tahu jika anak saya Shani Arizaya masih hidup, eh tapi kok Shani bisa jadi anak keluarga William Dar?"


"Kalau itu saya masih dapat sebagian informasi saja tapi kalau Nyonya ingin tahu lebih detail, saya sudah menangkap Tuan Ken."


"Apa!" kaget Citra.


"Karena Tuan Ken yang sudah membuang Nona Shani ke jurang."


"Teruskan saja Darma, kalau perlu dia harus mati! oh ya bagaimana dengan Laras?"


"Laras sudah kabur saat kami tangkap, sepertinya dia kabur bersama selingkuhannya."


"Selingkuhan lagi yahh, banyak sekali cabangnya."


"Hihihi Nyonya bisa aja."


"Ya sudah saya ingin menemui Shani dulu."


"Tunggu Nyonya."


"Ada apa Darma."


"Apa Nyonya langsung ingin menjemput Nona Shani."


"Tentu saja tidak Darma, aku hanya ingin mencari tahu kenapa Shina bisa menemukan Shani dan apa yang terjadi pada Shani sampai dia tidak mengenaliku sebagai Mama kandungnya."


"Ouhh begitu Nya, terus bagaimana dengan Tuan Muda Xavier?" tanya Darma.


"Aku sudah menyuruh seseorang untuk mengawasi Xavier disana," sahut Citra.


"Baguslah, saya hanya khawatir Laras akan mempengaruhi Xavier untuk balas dendam pada Nyonya."


"Tenang saja, karena semua perusahaan yang dikelola Xavier atas namaku jadi kamu tenang saja."


"Baiklah Nyonya kalau begitu saya permisi dulu, sebaiknya anda hati-hati."


"Terima kasih Darma."


"Iya Nyonya."


Citra sangat senang bisa menemukan anak kandungnya dengan berbagai halangan dan rintangan akhirnya berbuah manis.


***


Sita dan Mila harus cari cara agar bisa lepas dari kejahatannya Nenek Sandra.


"Gini aja Bu Mila, saya punya rumah satu lagi daerah jakarta sini. Sebaiknya Ibu Mila sama anak panti lain pindah ke situ," usul Sita.


"Tapi bagaimana kalau Nyony Sandra kembali menemukan saya Sit," sahut Ibu Mila.


"Ibu tenang aja, saya pastikan semua aman."


"Nyonya Sandra itu sangat licik, saya hanya khawatir tentang keselamatan Bu Sita dan juga Sifa.


"Apa maksud Ibu," kata Sifa tiba-tiba masuk dari rumah yang Bima juga ada disitu.


"Si-sifa," kata Bu Mila terbata-bata.


"Kenapa ada Bu Sita disini?" tanya Sifa.


Bima juga heran kenapa Bu Sita ada disini dan tadi Bima juga sempat dengar Nyonya Sandra.


'Nyonya Sandra, apa yang mereka maksud ini ... ah sudahlah.' Bima membatin.


"Gak ada apa-apa kok Fa, kamu kapan pulang kok sudah nongol aja sama Nak Bima?" tanya Bu Mila kembali sengaja mengalihkan topik.


"Sifa sama Bima baru aja dari rumah Shani Bu," sahut Sifa.


"Ouh, emang Shani kenapa?"


"Shani sakit."


"Ya ampun, Ibu gak tau kalau Nak Shani sakit."


"Gak papa kok Bu."


"Emang Shani sakit apa?" tanya Sita.


"Dia dikeroyok sama Mafia," sahut Sifa.


"Hah, kok bisa!" kaget Bu Mila.


"Katanya sih persaingan bisnis orang tuanya," sahut Sifa.


"Ya ampun kasihan sekali Shani."


"Emang Shani itu anak konglomerat yah?" tanya Sita yang sama sekali tidak tahu siapa Shani.


Bima tersenyum dan langsung menjawab pertanyaan Bu Gurunya itu.


"Shani anak Tuan Antoni William Bu, yang mana beliau salah satu pengusaha dunia!" jelas Bima.


"Wouah, saya baru tahu."


"Kami juga baru tahu Bu, selama ini Shani menyembunyikan identitasnya." Sifa kembali menjawab dan merasa kesal dengan Ibu Mila. 'Sifa tau kok Bu kalian berusaha mengalihkan topik,' kata Sifa dalam hatinya.


'Sepertinya Sifa mulai kesal,' batin Bu Mila.


"Sebaiknya kalian jujur aja, ini kenapa sih?" tanya Sifa.


"Kita duduk dulu yah," sahut Bu Sita.

__ADS_1


Mereka pun duduk.


"Kenapa Ibu bisa disini?" tanya Sifa setelah meletakkan bokongnya di sofa.


Fyuhhhhh ...


Bu Sita menghela nafasnya.


'Apa aku kasih tahu aja yah,' batin Sita.


'Akan sangat berbahaya jika Sifa tahu kalau Sita itu Ibu kandungnya, tapi kalau gak dikasih tahu juga kasihan.' Bu Mila membatin.


"Bu," panggil Sifa lagi.


"Iya," sahut Sita.


"Jujur," kata Sita lagi.


'Semoga aja Ibu Sita mau jujur kalau dia Ibu kandung aku,' batin Sifa yang sebenarnya baru mengetahui fakta yang mengejutkan karena bantuan dari Shani.


"Kamu mau tahu siapa Ibu kamu?" tanya Mila.


"Iya Bu, Sifa pengen banget tahu. Jadi tolong kasih tahu ke Sifa, siapa Ibu kandung Sifa?"


"Sebenarnya ibu kandung kamu deket kok sama kamu dan beliau ada disini," sahut Bu Mila.


"Jangan bilang kalau ibu kandung Sifa itu ..." kata Sifa tertahan dan rasanya kelu untuk melanjutkan kata-katanya.


Huffg ...


Dengan cepat Sita memeluk Sifa karena tidak tahan lagi menahan rindu yang amat besar.


"Hiks ... ini Mama Nak," ucap Sita.


Bima langsung terkejut dengan apa yang dia dengar.


"Mama," kata Bima.


"Mama, ini Mama kandung Sifa."


"Iya sayang, ini Mama kandung kamu Nak."


"Mama."


"Sifa anak Mama."


"Mama hiksss hiks Mama, Mama jahat. Kenapa Mama buang Sifa, Mama tau gak Sifa sering di ejek disekolah karena gak punya orang tua hiks hiks ... kenapa Ma?" tanya Sifa sambil terisak.


"Maafin Mama Nak, maafin Mama hiks hiks ... Mama kecolongan sayang hiks hiks ..."


Bu Mila juga menangis.


"Woahh gak nyangka banget, ternyata Sifa anaknya Bu Sita tapi kok bisa terpisah?" tanya Bima lagi.


"Itu karena mantan mertua saya yang jahat," sahut Sita.


"Mantan mertua Ibu siapa?" tanya Bima.


"Nyonya Sandra istri dari Rifzi Arsenio," sahut Sita.


"Apa," kaget Bima.


"Emang kenapa Bim," kata Sifa.


"Itu Neneknya Aevan," sahut Bima.


"Jadi Aevan itu ..." kata Sifa.


"Sepupu kamu," sahut Sita.


"Iya, tapi Mama gak mau kamu dekat sama mereka apalagi Nenek Sandra dia sangat licik. Sifa, kamu mau yah tinggal sama Mama."


"Aku mau banget Ma."


"Syukurlah, pokoknya kita mulai sekarang harus hati-hati karena Nenek Sandra berniat ingin memisahkan kita lagi."


"Apa alasan Nenek memisahkan kita Ma?"


"Karena dulu Mama dan Papa kamu gak direstui menikahnya, hingga Papa kandung kamu nekat kabur dari rumah dan membawa lari Mama. Kita menikah di Bandung, tapi naas saat Mama hamil kamu Papa kandung kamu di tahan sama Nenek kamu dan mulai sekarang Mama gak tahu gimana keadaan Papa kamu."


'Apa mungkin yang waktu itu diceritakan oleh Aevan yah, kalau dia punya Om yang setres.' Bima membatin.


"Nama Papa Sifa siapa Ma?"


"Vico Arsenio, Kakak dari Zaki Arsenio."


Sifa terdiam.


"Kamu kenapa Nak?"


"Kenapa Sifa harus sepupuan sama Aevan Ma, Sifa gak suka Aevan dia sombong."


"Itu sudah takdir sayang."


"Ee maaf Tan, apa maksud Tante Nenek Sandra ingin memisahkan kalian?" tanya Bima.


"Dia gak suka melihat saya bahagia Bima, karena masa lalu."


"Masa lalu Mama apa?" tanya Sifa penasaran.


"Karena kembaran Mama, Om Putra sudah menghamili anak bungsu keluarga Arsenio dan tidak mau bertanggung jawab. Akhirnya dia gangguan jiwa dan memilih bunuh diri," kata Sita.


"Astaga," kaget Sifa begitu juga dengan Bima dan Bu Mila.


"Kasihan, saudara Ibu yang berkelakuan tidak baik malah Ibu yang kena imbasnya." Bu Mila berujar.


"Saya sudah terima konsekuensinya," sahut Sita.


"Sebaiknya Bu Sita tinggal disini, nginap dulu ini sudah malam." Bu Mila menyuruh Sita untuk menginap.


"Ya sudah, gak papa. Oh ya, Bima pulang dulu yah."


"Iya Bima makasih yah sudah antar Sifa," kata Sita.


"Sama-sama Bu, oh ya kalau ada apa-apa hubungi aja Bima."


"Terima kasih," sahut Sita.


Bima pun pulang dan ada mata-mata Bu Sandra yang melihat Sita memeluk Sifa.


"Kita kasih tahu Bos besar," kata mata-mata itu.


"Baiklah, aku kirim pesan dulu."


Mata-mata itu kemudian mengirimkan pesan pada Bu Sandra tentang Sita, Sifa, dan Mila.


”Bos, mereka semua berkumpul.”


Sandra mengepalkan tangannya karena marah terhadap Mila yang sudah berkhianat.


"Kurang ajar kamu Mila, berani sekali kamu mengkhianati aku!" gumam Sandra.

__ADS_1


”Bakar panti itu sampai tak tersisa, pastikan jangan ada jejak yang tertinggal.”


”Baik Bos.”


"Kali ini kalian harus mati," kata Sandra menyunggingkan senyumnya.


Mata-mata itu menyuruh temannya beli bensin.


"Lu beli bensin biar gue sama Acat yang tangkap mereka dalam rumah."


"Ok."


Anak buah Shani menelpon Shani memberitahu situasi panti.


“Halo Queen, mereka bergerak Queen.“


Shani yang dalam kamar langsung mengepalkan tangannya karena marah.


"Bawa anggota lain dan selamatkan mereka dan ingat bawa mereka ke rumah saya yang ada di pusat Jakarta.“


“Baik Queen.“


***


Shani mondar-mandir dari dalam kamar, bagaimana caranya dia bisa keluar sedangkan penjaga dalam mansion sangat banyak.


Shani ke balkon kamarnya dan melihat mobil datang.


"Mobil siapa itu?" gumam Shani.


Ternyata yang datang adalah Citra.


"Mama," kaget Shani.


Citra menghela nafasnya dengan tekad yang kuat.


"Semoga bisa," kata Citra lalu masuk.


"Ada apa Nyonya?" tanya penjaga.


"Bisa ketemu Nyonya Shina," sahut Citra.


"Baik Nyonya tunggu disini."


Tidak lama kemudian ada mobil lagi datang.


"Citra," kata Ratna yang datang dengan Malik.


"Tante," sahut Citra.


"Kok panggil Tante sih, Mama dong."


"Oh iya."


"Kamu ngapain didepan ayo masuk," ajak Ratna.


Sesekali Citra melirik ke arah Tuan Malik.


"Itu suami Mama, kamu boleh panggil dia Papa."


"Ehh," kaget Citra.


Antoni dan Shina lagi duduk dibelakang.


"Tuan," panggil penjaga.


"Ada apa?"


"Ada tamu datang."


"Siapa?"


"Nyonya Citra."


"Suruh aja Citra masuk," kata Shina.


"Baik Nyonya."


Saat penjaga itu berpaling sudah ada Tuan besar Malik, Nyonya Besar Ratna dan Nyonya Citra.


"Eh Tuan, Nyonya."


Shina dan Toni langsung menoleh.


"Mama, Papa." Ucap Toni dan Shina bersamaan.


"Ada Citra juga yah," kata Shina dan Citra hanya tersenyum.


"Ayo duduk," kata Toni.


Dan pelayan pun menyiapkan makanan untuk mereka semua.


"Ada apa yah kesini?" tanya Toni ke arah Citra.


"Emmm saya kesini ingin ..."


"Kakek, Nenek," panggil Shani.


"Eh sayang, cucu Nenek emmuahhh gimana kabar kamu sayang?" tanya Ratna.


"Baik Nek," sahut Shani lalu mengajak Citra bicara. "Tante Citra jadi, kan nginep dikamarnya Shani." Shani mengedipkan matanya ke arah Citra.


"Ehh iya," sahut Citra.


"Kamu ngundang Tante Citra sayang?" tanya Shina.


"Iya Mi gak papa, kan."


"Gak papa sayang tapi kenapa?" tanya Shina lagi.


"Pengen aja Mi kayaknya Tante Citra baik orangnya," sahut Shani dengan manja.


"Hahaha ... kamu ada-ada aja Shan, Cit siap-siap yahh anak saya sudah mode manja dia ini."


"Gak papa Shin," sahut Citra yang makin penasaran dengan apa yang dilakukan Shani tadi.


"Ya sudah kita makan malam yuk," ajak Tuan Malik.


"Iya nih, kita juga belum makan malam. Citra kamu sudah makan malam belum," kata Ratna.


"Belum sih Tan."


"Ya sudah kita makan bareng aja," kata Tuan Besar Malik.


"Ayo," sahut Nenek Ratna.


'Aduhh gimana bisa gue keluar, padahal mau bikin pelajaran sama Laras jahat itu.' Shani membatin.


Karena makan malam, Shani memutuskan untuk ikut dan mencari cara agar bisa keluar nanti malamnya. Lumayan ada healing malam, apalagi Shani ada undangan balap liar dari King Racing.


"Gue bakalan bikin Laras makin setres dan setelah itu mengalahkan King Racing,' batin Shani sambil makan.

__ADS_1


***


NEXT


__ADS_2