
♥️ DUKUNG KARYA INI DENGAN LIKE DAN KOMENTAR SERTA VOTE KEMUDIAN FOLLOW AKUN AUTHOR ♥️
♥️AKUN TIKTOK @authorbtm♥️
♥️AKUN INSTAGRAM @Swahy18♥️
***
Nenek Sandra mengajak Bu Mila bertemu di restoran.
”Saya tunggu kamu.”
Bu Mila hanya menghela nafas saat membaca pesan itu.
”Apa harus sepagi ini, Nyonya.”
”Iya.”
”Baiklah.”
Bu Mila pun bersiap ingin pergi bertemu dengan Nyonya Sandra.
Sifa melihat Bu Mila keluar dari kamar.
"Ibu," panggil Sifa.
Bu Mila kaget dan sejenak berdiri mematung dan belum berani berpaling.
Sifa mendekati Bu Mila dan menanyakan mau kemana.
"Pagi-pagi begini Ibu mau kemana?" tanya Sifa.
Bu Mila pun berusaha tersenyum dan menormalkan suasana.
"Eh, ini ... ibu mau ketemu teman lama katanya sih mau ketemu."
"Ouh, perlu Sifa antar."
"Gak usah kamu, kan sekolah."
"Oh, hati-hati yah Bu."
"Iya, Ibu pergi dulu yahh."
Sifa masih menatap Bu Mila saat keluar.
'Harus gue ikutin nih, gak biasanya Ibu ketemu sama temen.'
Sifa kembali masuk kamar dan memakai jaket lalu masker, tidak lupa membawa ponsel.
Nenek Sandra sudah menunggu di restoran.
Bu Mila pun sampai di restoran itu, begitu juga dengan Sifa yang mencari tempat agar bisa mendengar obrolan Bu Mila.
"Darimana aja, kenapa lama?" tanya Nenek Sandra.
"Maaf Nya, saya jalan kaki."
"Halah, alasan aja kamu! gimana perkembangan anak itu?"
"Baik Nya."
"Saya ingin anak itu tidak bertemu dengan Ibunya!"
"Maaf Nya, apa kewajiban saya mengikuti kemauan Nyonya."
"Mila, saya ini orang yang berjasa atas hidup kamu!"
"Memang benar Nyonya, tapi tidak selamanya Nona bisa menekan hidup saya."
"Jangan kurang aja kamu sama saya."
"Maaf Nyonya, keputusan saya sudah bulat. Kalau memang anak itu bisa bertemu dengan Ibu kandungnya tidak masalah, saya tidak mau memisahkan seorang Ibu dengan anaknya, Karen saya perempuan tidak seperti Nyonya!"
"Jaga mulut kamu Mila, memang pantas kamu itu mandul!"
"Nyonya yang harusnya menjaga bicara disini, mungkin Nyonya berkuasa tapi bukan berarti saya takut! karena saya yakin masih ada orang yang baik menolong saya, harap Nyonya ingat baik-baik! Sifa, bayi anda serahkan ke saya pasti akan ketemu sama Ibunya!"
"Mila!"
"Permisi."
Sifa begitu kaget mendengar obrolan Bu Mila dengan Nenek itu.
'Siapa Nenek itu?'
"Akhhh, sudah berani dia melawanku!" dengus Nenek Sandra.
Sifa memotret wajah Nenek Sandra diam-diam, nanti dia akan minta tolong sama Shani.
Jadi Sifa cepat-cepat kembali ke panti.
***
Pagi ini Sita kedatangan anak buah yang selama ini ditugaskan untuk mencari anaknya.
"Ada apa, Dody?" tanya Sita.
"Saya dapat informasi baru tentang anak anda, Bos."
"Cepat katakan!"
__ADS_1
"Nenek Sandra menitipkan seorang bayi di panti."
"Panti."
"Iya Bos."
"Apa kamu tahu nama panti itu?"
"Yang saya tahu panti itu namanya, Mentari Tenggelam."
"Terima kasih Dod."
"Sama-sama Bos."
"Kamu tahu dimana alamatnya?"
"Ini Bos."
Setelah memberikan informasi penting, Dody langsung pergi.
Sita sangat senang. "semoga saja anakku ada disana."
***
Zaki bingung karena Ibunya baru saja datang.
"Ibu habis darimana?" tanya Zaki yang ingin berangkat kerja.
"Habis jalan-jalan pagi, seger rasanya."
"Ouh, ya sudah Zaki berangkat dulu ya Bu."
"Iya."
Tidak lama kemudian Alya juga ingin berangkat.
"Alya mau kemana kamu?"
"Bu, Al mau ketemu sama temen."
"Kamu ini ... jalan Mulu, gak bisa dirumah apa."
"Maaf ya Bu, Alya males ribut sama Ibu! Al berangkat dulu."
"Alya! akhh, punya mantu gak waras!"
Aevan mendengar ucapan Neneknya, sebetulnya Aevan sangat tidak suka Mamanya dihina begitu.
Jadi Aevan langsung lewat tanpa menyapa Nenek Sandra.
"Gak sopan yah kamu, Aevan!" teriak Nenek Sandra.
"Ikh, dasar! awas aja kamu Van, berani kamu sama Nenek begitu!" Sandra meneriaki cucunya.
"Bodo amatlah," gumam Aevan.
***
Hari kedua Boy menjemput Julia.
"Ayo naik," kata Boy.
"Ok."
"Kalian berdua hati-hati yah," kata Flora.
"Iya Ma."
"Iya Tante."
Flora begitu senang tapi agak sedikit sedih karena makan malamnya gagal.
"Yah, makan malamnya gagal."
"Gak papa, nanti kita buat lagi."
"Makasih ya Pa."
"Ya sudah, Papa berangkat kerja dulu."
"Ok Pa hati-hati."
Muahhh ...
Muahhh ...
"Ikh Papa, malu tahu!"
"Hehe, biar romantis Ma."
"Nanti Mama mau ketemu sama temen-temen Pa."
"Iya boleh tapi jangan lama yah, aku gak suka punya istri lebih sering menghabiskan waktunya sama temannya."
"Ok Pa."
"Tos dulu."
"Yeahhh."
"Hahahah," tawa mereka bersama.
__ADS_1
"Papa berangkat dulu, dahh."
"Dahh Pa."
***
Shina begitu sampai di meja makan langsung mencium pipi Shani.
"Pagi sayang, cup."
"Pagi juga Mi, cup."
"Ini Papi gak dicium."
"Ogahh!" kata Shani dan Shina bersamaan.
"Aishh dasar kalian ini."
"Hehehe," tawa Shina.
Shani meminta izin kalau hari ini agak siangan dikit pulang sekolah.
"Mami, Papi, kayaknya Shani agak siangan deh pulang sekolah."
"Loh emang ada acara apa sayang," sahut Shina.
"Ada acara kebersihan disekolah karena kemarin."
"Ouh, ada yang kaya begitu. Bukannya itu sekolah elit yahh, kenapa muridnya harus turun tangan juga."
"Ya haruslah Mi, soalnya pemilik sekolah itu udah ada yang baru, kan sekolahnya dijual jadi kata pemilik sekolah yang baru menginginkan anak murid disitu harus bisa kerja bakti, gak cuma bisanya ngejek orang, terus juga biar tahu cara memperkerjakan organ tubuh!"
"Ya ampun Shani, kamu ini ngomongnya yang bener ah."
"Hahaha," tawa Toni terbahak-bahak.
"Ini Papi juga, kenapa malah ketawa!" sewot Shina.
"Apa yang dikatakan Shani itu ada benarnya Mi, jangan mentang-mentang anak sultan atau sekolah elit disekolah gak pernah diajarkan kerja bakti! harus kerja bakti juga, itu baru namanya sekolah."
"Iya, iya. Eh kok udah ganti pemilik, emang siapa yang beli itu sekolah?" tanya Shina.
Shani hanya diam.
"Yang Papi dengar, sekolah itu dibeli sama Ceo muda Miziana Group."
"Yang bener Pi? itu, kan ceo paling muda yahh. Namanya mirip sama kamu Shani, ada Miziananya hehe."
"Mirip dimananya sih, mana ada Mi."
"Mirip tahu! kamu, kan Shani Miziana William. Nah kalau Ceo itu ... emm siapa namanya Pi."
"Papi gak tau namanya, tapi dia sering dipanggil Ceo Mizi."
"Pengen deh Mami ketemu sama dia."
"Susah Mi," sahut Toni."
"Susah kenapa Pi?"
"Banyak para pengusaha ingin ketemu tapi justru sekretaris yang mengelola proyeknya."
"Susah juga ya Pi."
"Makanya."
'Kalian membicarakan Ceo Mizi, ini ada disebelah kalian.'
"Ya sudah Mi, Pi Shani berangkat dulu."
"Iya sayang, muahhh hati-hati."
"Papi gak dicium nih."
"Hee maaf Pi, muahhh."
"Dahh sayang," kata Toni dan Shina.
"Dahh."
Shani pun berangkat dengan motornya dan seperti biasa menjemput Sifa.
"Shan," kata Sifa sambil boncengan dibelakang.
"Apa?" sahut Shani.
"Gue boleh minta tolong gak?"
"Tolong apa?"
"Kalau sudah sampai disekolah, gue pasti cerita ini lagi dijalan fokus nyetir aja dulu."
Shani hanya diam.
***
♥️ DUKUNG KARYA INI DENGAN LIKE DAN KOMENTAR SERTA VOTE KEMUDIAN FOLLOW AKUN AUTHOR ♥️
♥️AKUN TIKTOK @authorbtm♥️
♥️AKUN INSTAGRAM @Swahy18♥️
__ADS_1