MAFIA GIRLS DEVIL

MAFIA GIRLS DEVIL
91


__ADS_3

Pernikahan Galih dan Sita digelar disebuah gedung mewah.


Acara itu berlangsung meriah dan dihadiri banyak kolega bisnis.


Sifa baru tahu kalau selama ini Galih adalah seorang pengusaha sukses.


"Gak nyangka aja Papa Galih ..."


"Papa minta maaf gak ngomong dulu sama kamu tapi melihat kalian berdua hati Papa jadi mantap."


"Apa Mama sudah tahu?"


"Mama kamu sudah tahu, iya ... awalnya sih kecewa tapi setelah Papa jelasin akhirnya Mama kamu mau menerimanya."


"Yah Sifa ikut seneng."


"Setelah ini kamu boleh minta apapun sama Papa."


"Beneran Pa."


"Iya dong."


"Yey makasih Pa, Sifa gabung sama yang lain yahh."


"Iya."


Sita mendekati Galih sambil menatap Sifa.


"Apa yang kamu sampaikan, Mas."


"Mas cuma bilang dia boleh minta apapun."


"Jangan kayak gitu Mas, aku gak suka!"


"Kenapa?"


"Aku ingin mendidik Sifa agar tidak bergantung dengan fasilitas."


"Ouh terserah kamu aja sih."


"Iya."


Tuan Malik dan Nyonya Ratna memberikan hadiah besar pada Galih dan Sita.


"Wah-wah pengantin baru nih," goda Tuan Malik.


"Ah anda bisa aja," ucap Galih malu-malu.


"Selamat yah Ta, kamu udah nikah."


"Terima kasih Tante."


"Sama-sama."


Kemudian Tuan Rayhan dan Nyonya Flora juga memberikan hadiah untuk Galih dan Sita.


Tidak lupa dengan Julia yang mencium tangan Sita sebagai gurunya.


"Buu ... selamat yahh, jangan lupa malam pertamanya Bu bikin adek buat Sifa!" ucap Julia.


"Semprol lu Jul," kesal Sifa.


"Hahahaha ..." tawa Boy.


"Apa lu ketawa!" ketus Sifa.


"Ye maaf," ucap Boy.


"Kasihan pacar aku ini," ucap Bima sambil memeluk Sifa.


Tidak mau ketinggalan, Kazio dan Laras juga naik lalu menyalami mereka berdua.


"Pak Galih selamat yahh," ucap Kazio.


"Astaga Tuan Kazio, anda Tuan Kazio. Iya, kan."


"Benar sekali Pak Galih."


"Lama tidak bertemu Pak, gimana sehat?"


"Alhamdulillah saya sehat, anda?"


"Seperti yang ada lihat."


"Baguslah kalau begitu."


"Bu Sita, selamat yahh."


"Terima kasih Bu Laras, anda ini ...?"


"Ibu sambungnya Shani."


"Ouh iya saya paham."


Xavier juga terlihat memberi selamat.


"Kakaknya Shani yah," tebak Sita.


"Benar Bu," sahut Xavier.


"Ganteng juga kamu persis seperti Shani, cantik!"


Pernikahan Galih dan Sita sangat meriah.


[][][]


Saat ini Darma menemani Citra mengantar ke kantor.

__ADS_1


"Nyonya hari mau makan apa?"


"Gak ada."


"Apa sebaiknya Nyonya ..."


"Dar, kamu jemput Shani aja yahhh kayaknya dia masih dirumah deh."


"Baik Nyonya."


"Nanti saya kabarin yahh."


"Baiklah."


Darma sangat menghormati Citra karena kebaikannya itu.


"Nyonya Citra ya ampun dia itu," gumam Darma.


Sesampainya dirumah Tuan Malik, Darma melihat Shani sedang berdebat dengan Tuan Malik.


"Kakek, udah dong."


"No, kalau mau pergi harus ada bodyguard ok."


"Tapi kayak anak kecil Kakek."


"Gak, itu demi keselamatan."


"Ahhh Kakek gak klop ihhh."


"Apanya yang gak klop, musuh Kakek itu dimana-mana dan kamu itu cucu Kakek. Sudah pasti mereka akan mencelakai kamu, Shani. Tidak hanya kamu, Kakek juga memberikan bodyguard untuk dan Mami kamu."


"Hahh!"


"Tuan Malik," ucap Darma.


"Ehh Darma," tukas Tuan Malik.


"Om Darma ngapain kesini bukannya jagain Mama yahh," ucap Shani.


"Mama kamu suruh Om buat jemput kamu."


"Hahh apalagi sihh."


"Nahhh pas, kamu antar Shani."


"Baik Tuan."


"Eh gak bisa gitu, Shani mau naik motor."


"Gak ada motor-motor," ucap Shina dengan tatapan tajam.


"Ehh Mami."


"Apa, dengar ya Shani gak ada motor-motoran kamu naik mobil di antar sama Pak Darma langsung!"


"Jangan dong Mi ..."


"Baik Nyonya."


"Ayo masuk Shani, apa perlu Mami bantu untuk masuk ke dalam mobil. Takut banget kayaknya kamu naik mobil, ayo."


"Iya ..."


Saat Shani ingin masuk, Shina langsung berdehem.


"Ekhem ... ekhem ..."


Malik menahan tawanya karena kelakuan Shina.


"Jangan dehh ... malu ..."


"Gak ada, kamu juga waktu kecil kayak gini kok."


Dengan terpaksa Shani mencium pipi Shina kedua belahnya.


"Shani pergi dulu ..."


"Kakek enggak," ucap Malik.


Fyuhhh ...


Shani menghela nafasnya dan tersenyum.


Emmuahhh emmuahh ...


"Dahh Kakek ... dahh Mami ..."


"Dahh sayang yang semangat ujiannya," ucap Shina sambil memegang perutnya yang sudah besar.


"Ayo masuk Shin," ajak Tuan Malik.


"Iya Pa," sahut Shina.


[][][]


Akhir-akhir ini Xavier semakin dekat dengan Dara.


Sekarang saat makan pun Xavier tidak pernah melepas ponselnya.


Laras yang melihat itu menegur Xavier.


"Xavier, ini di meja makan loh gak baik main hape."


"Maaf Ma."


"Letakkan dulu ponselnya kalau mau makan," tegur Kazio.

__ADS_1


"Iya Pa." Xavier melepaskan ponselnya di samping.


"Emang yang nelpon kamu siapa?" tanya Laras.


"Temen aja Ma."


"Temen apa temen ..." goda Kazio.


"Temen kok Pa."


"Yakin?" tanya Kazio sekali lagi.


"Kalau kamu emang nyaman dan dia juga nyaman, kenalin sama Mama dan Papa. Jangan nunda terus, kita udah tua juga pengen nimang cucu." Laras menasehati Xavier.


"Iya Kan, doain yahh."


"Iya sayang pasti ..."


[][][]


Galih dan Sita benar-benar merengguk asmara dengan bahagia.


"Sayang ihhh," ucap Sita manja.


"Hehehe maaf sayang aku kelepasan," sahut Galih.


"Aku hari ini ada jadwal jadi pengawas ujian jam kedua."


"Nanti aku anter yahh."


"Iya makasih yahh."


"Masih ada satu jam nihh, minta dong."


"Kan tadi malam sudah Mas."


"Masih belum puas, punya kamu itu bikin nagih."


"Ishh Mas gak di filter ngomongnya."


"Hehehe maaf yah sayang."


"Janji ya satu jam aja jangan nambah lagi soalnya aku harus kerja."


"Iya sayang."


Galih langsung melahap dua gunung kembar itu.


"Ahhh ..." Sita mendesah karena permainan lidah Galih.


"Makin gede aja sayang punya kamu."


"Kamu, kan yang buat begitu."


"Hehehe ahh ..."


Sruuuup ...


Sruuuup ...


"Hihihi udah basah yahhh."


"Masukin aja Mas, ayo."


"Aihhh gak sabar sekali sini aku masukin karena kamu sudah basah."


Jleb ...


"Ouhhhhh ..."


"Walaupun udah punya anak satu punya kamu tetap menjepit sayang," puji Galih kenikmatan.


"Kan aku dah lama gak berhubungan badan."


"Bagus sayang, kan sudah ada aku."


"Punya kamu besar banget sihh kayak robek punyaku tau gak."


"Hihihi perkasa, kan aku."


"Emmmm ..."


"Goyang pinggulnya sayang."


Mereka pun menggoyangkan pinggulnya masing-masing.


[][][]


Shani, Sifa, Julia, Boy, Aevan, dan Bima mereka ujiannya tidak sekelas karena harus di acak.


Dari tadi Sifa dan Bima saling lirik dan lempar senyum.


"Semangat," kode Bima.


Sifa hanya geleng-geleng kepala karena tingkah Bima yang menggemaskan.


Lalu Julia dan Boy juga saling lempar semangat.


Tidak dengan Shani yang selalu cuek sama orang sekitar.


'Cuek banget dia,' batin Aevan.


"Waktunya sisa 17 menit lagi diharap semua data terisi dengan rapi dan benar," ucap pengawas ujian.


Shani memeriksa semua data ujiannya dengan fokus.


Takut ada yang terlewat begitu juga dengan yang lainnya.

__ADS_1


[][][]


NEXT


__ADS_2