
Regan dan Cici kemudian duduk dimeja makan di iringi Malik.
"Bagaimana keadaannya Gan?" tanya Malik.
"Baik-baik aja Mal," sahut Regan.
"Jeng, ayo makan," ajak Ratna.
"Makasih Jeng," sahut Cici.
Antoni langsung memberikan lauk ke hadapan orang tuanya.
"Ini Pa, Ma," ucap Toni.
"Makasih ya Ton," sahut Cici.
"Kita berkumpul lagi yahh, Shina seneng."
Sedangkan Citra membangunkan Shani dengan lembut.
"Shani," ucap Citra dengan lembut.
"Ughhh ngantuk," sahut Shani.
Citra tersenyum melihat pipi Shani yang chuby saat tidur.
'Imut banget sih kamu sayang,' kata Citra dalam hati.
Citra membelai kepala Shani sambil memandang dengan seksama.
"Kamu dah besar Nak," ucap Citra.
"Tante, Shani sudah bangun kenapa masih di unyel-inyel."
"Ehh," kaget Citra.
"Kenapa sih?" tanya Shani.
"Kamu dah bangun sayang," sahut Citra.
"Dari tadi kok Tante," kata Shani lagi.
"Maaf Tante gak lihat!"
"Ya udah, Shani cuci muka dulu."
"Mama tunggu di- ehh maksudnya Tante tunggu yahh."
"Iya."
Setelah selesai cuci muka, Shani dan Citra turun ke bawah.
Tap tap tap ...
"Nah itu mereka," kata Malik.
"Pagi Papi, Pagi Mami, Pagi Kakek sama Nenek," sapa Shani namun tak menyapa Regan dan Cici.
'Sudah aku duga, Shani tidak menyapa Regan dan Cici.' Malik curiga dengan besannya.
"Ee sayang, kok gak nyapa Nenek Cici sama Kakek Regan." Shina protes.
"Ouh maaf Mi, lupa." Shani kembali murung. "Pagi Kakek dan Nenek."
"Iya pagi sayang," sahut Cici terpaksa.
Shina melihat gerak mulut mertuanya itu dan merasa curiga.
'Benar, ada yang aneh!' batin Shina.
Citra kemudian duduk disamping Shani dan mengambilkan piring.
"Sayang, ini mertuanya Shina," kata Ratna memperkenalkan Cici dan Regan pada Citra.
"Iya Ma, salam kenal Tuan Regan dan Nyonya Cici."
"Kamu siapa?" tanya Cici.
"Saya Citra Nyonya," sahut Citra.
"Ratna kenapa dia manggil kamu Mama, siapa dia?" tanya Cici lebih sinis dan itu dapat dirasakan Shina dan Toni.
"Temannya Shina yang sudah aku anggap anak sendiri," sahut Ratna.
"Kamu angkat dia anak, yang benar saja. Anak darimana dan marga apa?" tanya Cici lagi.
Citra terdiam sambil meletakkan sendok dan garpu perlahan.
"Anak Om Prabu, keluarga Arizaya!" sahut Shina kesal.
"Ouh, bukannya PT Arizaya bangkrut yahh."
"Iya bangkrut tapi Citra punya usaha sendiri kok, bahkan sudah merambah ke berbagai negara," sambung Malik.
"Ya baguslah kalau begitu, itu artinya kamu tidak mengangkat anak miskin. Tidak seperti putraku," sindir Regan.
"Papa!" tegur Antoni.
Shani sudah meremas garpu dan sendok karena kesal dan marah.
"Papa kamu benar Toni, kalau saja Shina bisa memberikan kamu anak gak bakalan kamu angkat anak jalanan yang tidak tahu asal-usulnya. Apalagi anak angkatnya kurang sopan!" sarkas Cici.
"Ini dimeja makan, kurang tepat membicarakan hal ini," seru Malik.
"Aku terbawa suasana," sahut Regan.
"Lain kali jangan di ulangi," pungkas Ratna juga ikut kesal.
"Maaf, aku sudah kenyang!" ucap Shani lalu pergi dan naik ke atas.
"Shani, kamu belum makan sayang." Shina langsung berhenti makan karena sudah tidak selera begitu juga dengan Citra.
__ADS_1
'Astaga,' batin Ratna.
"Sayang, kamu makan dulu yah. Kamu harus-" ucap Toni.
"Biarkan saja Ton," sahut Ratna.
"Tapi Ma Shina, 'kan."
"Makan saja!" tegas Ratna.
"Hah, lihatlah Malik Shina sekarang jadi urakan seperti itu semenjak mengangkat anak jalanan. Ini yang membuat aku tidak suka," kata Regan.
"Bisakah kita makan saja Regan," sahut Malik.
"Baiklah," kata Regan lagi.
Toni hanya diam.
***
Shina dan Citra melihat Shani memakai jaket dan sarung tangan.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Shina.
"Mau keluar sebentar Mi," sahut Shani.
"Kamu belum makan loh," seru Citra.
"Aku bisa makan diluar Tan," sahut Shani lagi.
"Kamu marah yahh?" tanya Shina.
"Menurut Mami ..."
"Maafin Mami yah gara-gara Nenek Cici kamu ..."
"Aku pergi dulu!"
Brak ...
"Sepertinya dia marah Cit," kata Shina.
"Biarkan saja, mungkin Shani mau menenangkan pikirannya."
"Ouh ya Cit, aku mau ngomong sama kamu."
"Ngomong aja."
"Ini soal Shani."
"Iya, Shani kenapa?"
"Sebenarnya waktu kami menemukan Shani dia terluka parah."
"Shani dihajar sama Ken, adiknya Kazio!"
"Bukan itu masalahnya."
"Shani amnesia waktu kecil, Dokter bilang karena benturan keras dikepala!"
"Huh, aku sudah menduganya Shin."
"Maaf yahh."
"Kamu tidak salah Shin, aku yang salah. Aku tidak becus jadi orang tua, bahkan ikut membenci Shani saat kejadian itu tanpa mendengarkan penjelasannya!"
"Itu sudah terjadi Cit, biarlah masa lalu jadi pelajaran!"
"Iya kamu benar."
"Kita kembali ke bawah."
"Ayo."
***
Zaki dan Sandra berdebat masalah Alya dan Aevan yang pergi dari rumah.
"Ibu keterlaluan, jadi selama ini ..."
"Diam kamu Zaki!"
"Zaki gak nyangka, Ibu berubah seperti ini."
"Kamu tidak tahu apa-apa Zaki, sampai kapan pun Ibu tidak akan pernah menerima anak itu jadi cucu!"
"Terserah Ibu."
"Kamu mau kemana?"
"Bukan urusan Ibu!"
"Zaki, kembali kamu! Zaki!"
Zaki tetap pergi ingin menemui Alya dan Aevan karena merasa bersalah.
Drrt ...
Drrt ...
"Angkat Al, aku mohon angkat!"
Tut
Alya mematikan telpon dari Zaki karena masih kecewa berat.
"Maaf Mas," gumam Alya.
***
Di markas, Boy dan Julia menunggu kedatangan Bima dan Sifa.
__ADS_1
Brom ...
"Nah tuh mereka datang," kata Boy.
"Baru sampai mereka," sahut Julia.
"Maaf yah telat!" kata Bima.
"Gak papa kok," sahut Julia.
Bima dan Julia masuk ke dalam lalu saling kompak karena itu tos mereka.
"Gue pengen hubungan kita membaik sama Aevan, udah satu Minggu dia gak masuk sekolah," ucap Bima.
"Gue setuju," sahut Julia.
"Iya, kalian itu sahabat gak baik berantem. Apalagi kalian itu dah lama sahabatannya," sambung Sifa.
"Jadi gimana?" tanya Boy.
"Kita telpon Aevan," sahut Bima.
"Bagus, telpon gih!" seru Boy.
"Hemmm ..."
Drrt ...
Drrt ...
"Bima nelpon gue, ngapain?" kata Aevan bertanya-tanya.
“Halo, napa lu nelpon gue?“ tanya Aevan.
“Sorry nih sebelumnya, kita bisa ketemu gak.“
“Mau ngapain ketemu gue, kurang puas lu hina gue!“
“Bukan gitu maksudnya bro.“
“Terus.“
“Lu sekarang ke markas, ada yang mau kita omongin. Ini masalah kita semua!“
“Ok.“
“Sekarang yahh!“
“Hemmm ...“
Tut!
"Gimana?" tanya Boy.
"Bentar lagi dia kesini," sahut Bima.
"Ok, kita tungguin."
***
Shani datang ke markas dan menemui para tahanan saat hati panas dan kesal.
"Kak Dara!" teriak Shani.
"Iya Dek, ada apa?" tanya Dara.
"Ambilkan aku tank."
"Tang," gumam Arga.
"Baik."
Shani mendekati Arga dan kesal lalu memukul wajah Arga.
Bugh
Bugh
Bugh
"Gue hari ini benar-benar kesal, akhhhh ..."
Bugh
Bugh
"Dek, ini tang-nya."
"Makasih, kembali lah ke atas."
"Dek, ngapain? Abang mohon ..."
"Gue bukan orang berhati lembut," kata Shani lalu menjambak rambut Arga.
"Aaaaakh," ringis Arga.
"Gue gak peduli kenapa lu mengkhianati gue tapi bukti adanya lu di ruangan ini, itu sudah cukup!"
"Maksudnya apa?"
Shani tersenyum miring.
Srit ...
Srit ...
Srit ...
"Aaaaaaaaaaaaaaaa ..." teriak Arga ketika kukunya dicabut dengan tang secara paksa.
***
__ADS_1
NEXT