
Malik dan Ratna lega karena Shani baik-baik saja.
"Mama gak nyangka, besan kita itu sangat jahat! Shina harus cerai dari Toni, Mama takut dia gak bisa melindungi Shina."
"Papa juga berpikir begitu."
Ratna kemudian berbalik ke arah Malik.
"Pa, apa kita jodohkan saja Citra dengan Darma?"
"Apa Citra mencintai Darma."
"Ya kita adakan aja acara makan malam."
Malik terdiam sebentar dan berpikir.
"Papa juga terlalu mengenal Darma."
"Ya kita suruh anak buah aja cari tahu tentang Darma, orang tua, dan pendidikannya."
"Kenapa kamu sangat ingin Citra menikah."
"Kalau Citra menikah, kita lanjut jodohin Shina."
"Astaga Ma ..."
"Kan bener Pa."
"Ya sudah gini aja, Papa akan undang Darma dan salah satu anak teman bisnis Papa."
"Boleh tuh Pa."
"Ya sudahlah, sebaiknya kita tidur ini sudah malam."
"Mama mau minta peluk Pa."
"Ayo sini dasar nenek manja."
"Ishhh Papa."
"Hehehehe."
Ratna dan Malik pun saling berpelukan lalu tertidur.
[][][]
Shina dan Citra satu kamar karena Shina ingin ditemani.
"Kamu kenapa gak tidur Shin?" tanya Citra sambil membuka ponsel.
"Kamu juga gak tidur Mbak," sahut Shina.
"Ya beda dong, kamu itu lagi hamil."
"Ya sama ajalah Kak, bobo yuk."
"Ya sudah ayo kita tidur."
"Kayaknya anak aku pengen dipeluk Aunty-nya deh saat bobo."
"Itu anaknya apa Mamanya yang mau."
"Dua-duanya."
"Hahaha ada-ada aja kamu."
"Peluk ihhh masa gak dipeluk adiknya."
"Manjanya kamu ini melebihi Shani."
"Biarin!"
"Dasarrrr."
Saat mereka saling berpelukan, Shina penasaran dengan rumah tangga Citra yang dulu.
"Mbakk."
"Hemmm."
"Mau nanya dong."
"Apa?"
"Emmmm ... Rumah tangga Mbak yang dulu gimana?"
"Kenapa kamu nanya itu."
"Pengen tau aja."
"Gimana yahhh."
"Gimana apanya."
"Mbak gak terlalu mengingat rumah tangga yang dulu."
"Apa sesakit itu Mbak."
"Kalau kamu mau jadi posisi Mbak."
"Ikh gak mau, dibohongin terus."
"Nah itu kamu tahu."
"Maaf ya Mbak."
"Maaf Apanya?"
"Udah nanyak yang sensitif kaya gitu."
__ADS_1
"Gak papa biasa aja."
"Yakin."
"Iyalah."
"Ya udah kalau gitu ceritain."
"Nanti aja ceritanya."
"Yah curang."
"Udah cepet tidur, besok Mbak harus berangkat pagi."
"Kerja Mulu Mbak."
"Biarin."
"Ishhh."
"Udah cepet tidur."
"Iyaaaa."
Shina pun tersenyum mendengar ucapan Citra selaku Ibu kandungnya Shani, anak angkatnya itu.
[][][]
Sita dan Sifa saling memeluk karena kejadian tadi.
"Ma."
"Iya sayang."
"Sifa gak nyangka hidupnya Shani cukup sulit."
"Kenapa?"
"Hanya karena ingin membunuh Shani sampai harus mendatangkan si Endras itu."
"Namanya juga anak sultan Fa, kita gak ada yang tau apa permasalahannya."
"Apa Nenek lampir itu kenal sama Neneknya Shani yang namanya Cici itu."
"Bisa jadi kita, kan gak tahu."
"Ikh serem juga yahhh kalau gitu Ma."
"Tapi kamu waktu di sekolah gak ada yang luka, kan?" tanya Sita.
"Gak ada Ma," sahut Sifa.
"Syukurlah."
"Bima yang melindungi Sifa."
"Ouhh, pacarnya toh."
"Siapa yang bilang bohong."
"Yahhhh."
"Dasar kamu tuh, ayo bobo ini sudah sangat malam."
"Iya Ma."
Muachhhh ...
"Selamat tidur anak mama, mimpi indahhh ..."
"Hemmmmm."
[][][]
Julia dan Boy melakukan video call di kamar.
"Kamu gak tidur sayang?" tanya Boy.
"Aku gak bisa tidur kalau lihat kamu kaya gitu," sahut Julia merasa bersalah.
"Jangan kayak begitu, aku gak suka! Ayo tidur aku nyanyiin yahh."
"Iya."
Julia pun meletakkan ponselnya agar dirinya bisa tidur.
Boy langsung menyanyikan sesuatu yang merdu agar Julia tertidur.
...Tidurlah sayang ... Tidurlahh agar dirimu segar kembali ... Jangan lupa hari esok kita bertemu ......
Setelah tiga menit Boy menyanyikan lagu, Julia akhirnya tertidur.
"Met bobo cantik," ucap Boy depan layar dan kemudian juga tidur.
[][][]
Laras baru saja selesai tahajud dan dirinya berdoa agar semua dosanya di ampuni.
Mengingat kejadian tadi siang membuat Laras bersyukur karena Citra mau memaafkannya.
*FLASHBACK ON*
Laras mengajak Citra bicara dibelakang rumah.
"Mau bicara apa?" tanya Citra sambil meletakkan bokongnya di kursi panjang.
"Aku mau minta maaf sama kamu," sahut Laras.
"Salah minum obat."
__ADS_1
"Enggak kok."
"Terus?"
"Minta maaf atas semua kesalahan aku selama ini sama kamu."
"Kamu beneran berubah?" tanya Citra.
"Aku sudah tidak mau lagi hidup dalam dendam dan iri hati, itu sakit sekali."
"Ya baguslah."
"Apa kamu mau memaafkan aku."
"Iya."
"Makasih ya Cit."
"Sama-sama."
Citra kemudian memeluk Laras bukti dia sudah memaafkan.
"Aku senang kamu berubah mana pakai hijab lagi, gak tanggung-tanggung kamu berubahnya."
"Bisa aja kamu Cit."
"Tapi kamu cantik pakai hijab."
"Kamu juga cantik kok."
"Ya doain aku yahh biar pakai hijab juga."
"Aaamiiin."
*FLASHBACK OFF*
Laras tersenyum lalu bersyukur kepada Allah.
"Terima kasih Ya Allah, engkau maha pengampun dan penyayang."
Laras berdoa begitu khidmat penuh penyesalan bahkan suara isak tangisnya membangunkan Kazio.
Kazio menatap nanar Laras dengan penuh sesal.
'Maafkan aku, karena aku kalian berdua menderita. Ya Allah maafkan hambamu ini, semoga setelah ini semua menjadi baik karena dapat pelajaran berharga!' batin Kazio.
[][][]
Sedangkan Xavier merasa bahagia karena bisa memeluk adiknya itu.
"Kakak bahagia bisa peluk kamu lagi Dek, maafin Kakak karena kejadian dulu kamu menderita."
Xavier bahkan bertekad akan jadi Kakak yang baik untuk Shani.
Kali ini Xavier tidak ingin kehilangan sang adik lagi.
"Kakak janji akan menjaga kamu Dek, besok aku harus menjenguknya."
Xavier memejamkan matanya dan tidak sabar besok hari.
[][][]
Shani sudah ada dimarkas dan menemui Dara.
"Shani, kamu datang juga."
"Iya Kak, mana dua cecunguk itu."
"Seperti biasa, kamu mau menemuinya."
"Tentu saja.
Shani langsung ke bawah dan melihat dua laki-laki tua yang sedang tidur meski digantung.
Shani mengambil gunting dan memotong tali yang menggantung mereka.
Suara tubrukan tubuh mereka ke lantai sangat keras dan itu sakit.
Mereka berdua berteriak karena hidung mereka berdarah.
"Sial, siapa yang melakukan hal kejam seperti ini hahhh?" ucap Endras menggebu-gebu.
"Aku," sahut Shani.
Endras dan Regan menoleh ke arah Shani kemudian mereka berdua terkejut.
"Kau ..." tunjuk Regan.
"Kenapa Kek hemmm kaget yahhh," sahut Shani dengan santainya menyentuh dagu Regan dengan gunting.
Regan langsung menepis tangan Shani dengan tatapan tajam.
"Dasar cucu durhaka!" hardik Regan.
"Maaf, aku cucu Tuan Malik bukan dirimu!"
"Brengsek!"
Endras tertawa keras melihat interaksi Regan dan Shani.
"Aku pikir dirikulah yang paling jahat disini tapi ternyata ada yang lebih jahat dariku," ucap Endras sambil menatap Regan.
"Apa maksudmu menatapku seperti itu, sialan!" sahut Regan tidak suka dengan Endras yang menatapnya remeh.
"Kau, kau orang paling jahat yang pernah ku temui. Bagaimana tidak, aku yang jahat saja sangat menyayangi keluarga angkatku!"
"Apa maksudmu!" teriak Regan meninggikan suaranya.
"Diam kalian, disini aku yang berkuasa. Tidak ada satu pun yang boleh berteriak meski kau seorang tahanan atau aku akan menyiksamu dengan hal yang lebih mengerikan!" ucap Shani dingin.
__ADS_1
[][][]
NEXT