
Di kantor polisi, Sandra mengamuk.
"Dasar anak durhaka kamu, Zaki!"
"Maaf anda diam dulu," ucap polisi.
"Kalian aparat hukum tidak berguna!"
"Ibu bisa diam," ucap polisi itu lagi.
"Tidak akan hahahah ..."
Zaki merasa kesehatan mental ibunya terganggu.
"Kesehatan Ibu kamu kayaknya terganggu, Ki."
"Benar Mbak."
"Kasihan sekali," ucap Shani.
"Hahahaha ..." tawa Sandra.
Zaki meminta kepada polisi untuk di cek kejiwaan Ibunya.
"Pak polisi, bisakah kita cek kejiwaan ibu saya."
"Itu juga yang akan kami rencanakan."
"Saya serahkan kepada Pak polisi."
"Baiklah."
Kemudian Zaki di antar oleh Sita ke rumah sakit. Sedangkan Shani lebih memilih untuk pulang.
"Biar kamu ku antar kepada mereka," ucap Sita.
"Makasih ya Mbak," sahut Zaki.
"Iya."
"Ya udah Tante, kalau gitu Shani pulang dulu."
"Ouh iya sekali lagi Ibu benar-benar berterima kasih sama kamu."
"Sama-sama Bu, ya sudah kalau gitu Shani pergi dulu."
"Iya."
Kemudian Zaki langsung adu tatap dengan Alya dan berjongkok dihadapannya.
"Apa yang kamu lakukan Mas," ucap Alya.
"Aku mau minta maaf sama kamu," sahut Zaki.
"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Alya.
"Gara-gara aku tidak percaya sama kamu, maafin aku. Kamu mau, kan maafin aku."
"Itu ..."
"Mama," ucap Aevan.
"Aevan, maaf Mas."
"Tunggu."
"Ada apa lagi."
"Boleh aku masuk."
"Silahkan, Aevan juga anak kamu."
"Terima kasih yahh."
"Sama-sama."
Aevan menatap datar pada Zaki.
"Kamu marah sama Papa?" tanya Zaki.
"Menurut Anda," sahut Zaki.
Alya tidak ingin hubungan ayah dan anak ini menjadi buruk.
"Aevan sayang, semuanya sudah selesai Nak. Nenek Sandra sudah dikantor polisi dan sekarang semuanya sudah terungkap," ucap Alya.
"Maksud Mama?" tanya Aevan.
"Semua kejahatan Nenek kamu sudah ketahuan sayang jadi dan kamu juga harus tahu kalau Papa kamu ini hampir jadi korban Nene kamu."
"Benar begitu Pa."
"Sudah lupakan saja yang penting sekarang kamu istirahat."
Tiba-tiba kepala Zaki menjadi pusing dan hampir jatuh.
"Eh Mas kamu kenapa?" tanya Alya.
"Aku tidak papa mungkin masih lemes aja pengaruh obat yang disuntik Ibu," sahut Zaki.
"Astaga Mas."
"Bu, waktu anak buah nenek nyerang kita siapa yang bantu?"
"Shani Van, dia datang sama Sifa. Gila tuh anak bela dirinya," puji Alya.
"Ouh," sahut Aevan. / 'Lagi-lagi lu nolongin gue Shan,' batin Aevan.
"Ya udah kalau gitu kamu istirahat juga ya Mas," pinta Alya.
"Iya," sahut Zaki.
__ADS_1
[][][]
Dua hari kemudian, saat hari Minggu dan Shani belajar pagi hari karena sebentar lagi akan ujian.
"Sayang," ucap Citra.
"Iya Ma," sahut Shani.
"Lagi belajar yahh."
"Hemmm."
"Gimana tawaran Mama sayang."
"Jangan tanya itu dulu deh Ma, Shani belum mau mikir kuliah disana."
"Itu kampus terbaik loh sayang masa kamu gak mau."
"Bukan gak mau Ma, Shani cuma ingin suasana ternyaman aja."
"Ya sama aja dong, kamu tahu gak Mama dulu kuliah disitu loh."
"Ma, Shani mohon yah jangan paksa."
"Kenapa sih kamu gak mau kuliah disana, Mama butuh alasan yang kuat."
"Shani gak mau jauh dari sini."
"Maksudnya?"
"Mama bukan orang bodoh pasti ngerti, kan maksudnya Shani."
"Kamu ngatain Mama bodoh."
"Enggak Ma."
"Terus tadi apa."
"Kan tadi Mama nanyak."
"Tapi jawaban kamu menghina Mama."
"Ma, gak ada unsur Shani menghina Mama."
"Kamu yahhh kenapa sih susah banget di kasih tahu."
"Ma cukup! Sekali ini aja jangan paksa Shani, ok."
"Mama ingin yang terbaik buat kamu."
"Ini masih pagi Ma, tolong please."
"Mama gak ngerti sama jalan pikiran kamu."
"Shani lebih gak ngerti jalan pikiran Mama yang terus memaksa Shani buat kuliah disana."
"Siapa yang maksa kamu Shani."
"Mama belum selesai bicara kamu duduk dulu, gak sopan tahu!"
Shani menurut dan hanya diam karena tidak ingin berdebat dengan Mamanya.
"Please Shani, kabulkan permintaan Mama kali ini."
Shani tetap diam bahkan tidak ingin menatap wajah Mamanya itu.
"Kenapa kamu buang muka begitu?"
"Ma, Mama ingat gak sifat Shani waktu kecil saat di paksa pakai rok."
Citra mengangguk pelan dan mengingat kejadian Shani waktu kecil mengamuk hebat saat di paksa memakai rok sampai kakinya menyenggol guci dan mengenai tubuh mungil Shani, saat itu juga darah mengalir dengan deras kemudian dibawa ke rumah sakit.
"Mama masih ingat kok," ucap Citra.
"Apa perlu Shani mengulanginya lagi!"
Citra menggeleng tidak ingin terulang lagi.
"Mama gak mau."
Shani berdiri dan memegang tangan Mamanya.
"Shani cuma ingin disini gak mau kemana-mana."
"Kenapa?"
"Shani sayang sama Mama, Mami, Kakek dan Nenek."
Citra terdiam mendengar semua alasan Shani.
"Mami sedang hamil dan banyak musuh Kakek yang mengincarnya begitu juga dengan Mama, Shani gak bisa mengandalkan Kakek buat melindungi kalian."
"Maafin Mama yah udah paksa kamu."
"Gak papa kok Ma, Shani ngerti karena Mama sayang, kan sama Shani."
"Ishh kamu ini, udah yuk turun ke bawah kita sarapan. Yang lain pada nunggu."
"Iya Ma."
[][][]
Shani pergi ke markas untuk mencari tahu tentang plat nomor.
"Gimana Kak usaha ketemu?" tanya Shani.
"Bentar ya Dek," sahut Dara.
Shani kemudian menunggu Dara mencari tahu sambil memegang ponselnya.
Pesan dari Sifa masuk dan setelah Shani membukanya langsung tersenyum.
__ADS_1
"Shani, Nenek jahannam itu ternyata sakit jiwa dan sekarang lagi pengangkatan jasad Om-nya gue." Pesan dari Sifa.
"Terus gimana keadaan semuanya?"
"Baik-baik aja kok."
"Syukurlah, maaf yah gue gak bisa dateng."
"Gak papa kok."
"Ya udah sampai ketemu di ujian nanti, ok."
"Ok friend."
"Udah ketemu Dek," ucap Dara.
"Mana Kak," sahut Shani.
"Ini coba kamu lihat."
Shani tersenyum menyeringai.
[][][]
Malam ini Zevan kembali beraksi ingin mencelakai Shina.
Shina sedang bakar jagung di belakang rumah.
"Udah matang belum Shin?" tanya Citra.
"Belum Mbak," sahut Citra.
"Hahaha kasihan Bumil ini ya sudah sini Mbak yang bakar kamu duduk aja sana."
"Makasih ya Mbak."
Sedangkan Malik dan Ratna berada dalam kamar.
"Capeknya," keluh Malik.
"Itu karena Mas udah tua," sahut Ratna.
"Enak aja udah tua, aku masih muda dan tampan."
"Dih gak mau ngaku."
"Beneran tahu."
"Iya deh masih muda dan tampan, puas!"
"Sekali lagi dong sayang."
"No replay."
"Ish pelit."
"Biarin!"
"Anak-anak mana Ma."
"Di belakang lagi bakar jagung."
"Ouh."
"Enak gak Mas pijitan aku."
"Enak dong."
[][][]
"Berbeqeo kayaknya enak deh Mbak."
"Ini sudah matang Shin, coba kamu makan."
"Ouh iya Mbak ini emmm enak banget."
Kemudian Citra membelakangi Shina karena membolak-balikkan ayam dan daging.
Tiba-tiba dari pagar belakang paling tinggi, Zevan naik.
"Bagus, wanita hamil itu bersama Mbaknya jadi gue bisa nyelakain mereka hahhahaha ..."
Saat ingin turun bukannya menginjak tanah malah menggantung.
"Jangan sentuh mereka!" ucap Shani dengan datar.
Zevan tersenyum lalu mengayunkan kakinya dan berhasil lepas dari cengkraman Shani.
Shani langsung mengejar Zevan karena berhasil kabur.
Zevan memakai motornya di pinggir jalan.
Shani gak kehabisan akal dia juga mengambil motornya di garasi.
"Nona mau kemana?" tanya penjaga.
"Ke rumah teman," sahut Shani.
Dengan kecepatan 120km perjam akhirnya Shani bisa menghadang Zevan ditempat sunyi.
"Sial," umpat Zevan.
"Mau kemana hemmm."
Shani tersenyum devil karena malam ini akan dapat mangsa baru.
'Apa-apaan dia itu senyumnya,' batin Zevan sedikit takut.
Shani tidak peduli apakah dirinya sakit jiwa atau tidak tapi dia tidak suka ada orang yang ingin mencelakai keluarganya.
[][][]
__ADS_1
NEXT