
Shani menciumi keluarganya di meja makan.
"Pagi semuanya," sapa Shani dengan syuman hangat.
"Pagi juga sayang," sahut mereka semua.
Kemudian Shani mengelus perut Mami Shina.
"Pagi Baby," ucap Shani lalu menciumnya.
"Pagi juga Kak," sahut Shina yang dibikin mirip seperti bayi.
"Hahahaha," tawa Shani dan yang lainnya.
"Shani, gimana wajah kamu sayang?" tanya Malik.
"Baik Kek, cuma sedikit perih aja."
"Udah pakai salapnya?" tanya Ratna.
"Udah Nek," sahut Shani.
"Ya sudah ayo kita makan," ucap Malik.
Semua makan dengan khidmat hanya dentingan garpu dan sendok yang berbunyi.
"Shani berangkat sekolah dulu yah," ucap Shani lalu mencium tangan Malik, Ratna, Citra, dan Shina.
"Hati-hati ya sayang kalau ada apa-apa telpon Mami," ucap Shina was-was dengan keselamatan Shani.
"Kalau gitu Citra juga harus berangkat kerja Ma, Pa."
"Loh kamu, kan lagi sakit sayang."
"Udah gak sakit lagi Ma."
"Yakin kamu udah gak sakit lagi, aku serius loh Mbak."
"Dua rius."
"Yahh."
"Hahaha."
"Ya sudah Citra berangkatnya sama Papa aja, biar Shina dan Mama yang dirumah."
"Yahhh," kata Shina.
"Diam aja napa Shin," sahut Malik.
"Kenapa sih Mbak Citra kerja, dirumah aja temenin aku."
"Iya Cit, kasian loh Shina pasti dia kesepian."
"Maaf ya Ma, Shin, Citra harus nerusin perusahaan. Sayang, soalnya hasil jerih payah Papa."
"Ya Mama sih ngerti tapi kalau kamu dirumah aja Mama lebih seneng, kan Papa Malik bakalan kasih uang jajan juga."
"Ahh bakalan bikin repot Ma, udah dulu yahh Citra mau berangkat."
"Cium dulu," ucap Ratna.
"Iya Ma," sahut Citra.
"Ini yang dicium Mama aja, aku enggak."
"Ya ampun Shin, selama hamil kamu manja banget. Apa ini bawaan bayi hemm, emmuachh sehat-sehat ya bayi Aunty tunggu launching-nya."
"Hahahaha," tawa Shina.
"Kenapa ketawa?" tanya Citra heran.
"Bayinya aku manusia bukan produk," sahut Shina.
"Sama aj Shin, produk juga."
"Ishh nyebelin!"
"Sudah, ini kapan kami berdua bisa berangkat."
"Sabar kenapa sih Pa," ucap Ratna.
"Sabar-sabar," sahut Malik.
"Ya sudah Citra pergi dulu, assalamu'alaikum."
"Wa' alaikumsalam, hati-hati Mbak."
__ADS_1
"Iya."
Ratna dan Shina mengantar mereka sampai ke mobil.
"Kita pergi dulu yah Ma, Shina," ucap Citra yang sudah ada dalam mobil.
"Dachhhh," sahut mereka bersamaan sambil tersenyum.
"Ayo Ma, masuk."
"Iya sayang."
[][][]
Ditengah jalan, lagi dan lagi Shani dihadang oleh beberapa preman.
"Jangan halangi gue," ucap Shani datar.
"Kita punya tugas buat lenyapin lu," sahutnya.
Shani tersenyum sinis dan langsung turun dari motornya.
"Ouh yahh, maju kalian."
"Dasar bocah ingusan!" hardiknya.
Perkelahian tak terelakkan, Shani melawan 7 preman sekaligus.
Krakkkk
"Apa lu anak buahnya Regan?" tanya Shani.
"Dari nada bicara lu makin kuat kalau kalian bukan orang yang akrab," sahutnya.
"Yahhh begitulah, mau gue patahin leher lu hemmmm."
"Brengsek!"
Dengan cepat Shani mematah leher musuhnya itu dan membenturkan kepalanya ke aspal.
"Aaaaa!" teriaknya.
Shani langsung menghajar preman yang lainnya.
"Cihh menyebalkan," ucap Shani kemudian melompat dan menendang rahang musuh.
"Gue bukan anak yang baik apalagi berhadapan dengan dou sialan itu," ucap Shani kemudian melayangkan rantai itu ke wajah musuh.
"Aaaaaaa!" teriak musuh kesakitan dan itu jadi bahan tontonan para pengendara yang lewat.
Untungnya Shani masih memakai jaket.
"Gue harus pergi dari sini," gumam Shani tapi sebelumnya dia membisiki para pecundang itu.
"Tunggu pembalasan gue, sebaiknya jaga baik-baik keluarga lu dan tunggu kedatangan gue!"
Preman itu langsung mematung dan tidak berani berkutik bahkan setelah Shani pergi dari situ.
[][][]
Sesampainya di sekolah Shani malah ketemu cowok yang paling menyebalkan dalam hidupnya, siapa lagi kalau bukan Zevan.
"Pagi jagoan cantik," sapa Zevan.
"Bisa gak lu jangan ikutin gue," sahut Shani datar.
"Gak bisa!"
"Jangan bikin gue ambil jalur yang lain."
"Gak papa Shani, gue bakalan terus suka sama lu."
"Minggir!"
"Kenapa?"
"Cihhh!" Shani langsung pergi meninggalkan Zevan.
"Ayank Shani tungguin jangan ditinggal!"
Karena Shani terus menghindari Zevan, dia tidak sengaja menabrak dada bidang seseorang.
"Aww," ucap Shani.
"Hati-hati," sahutnya.
Shani mendongak sedikit kaget tapi langsung menormalkan mimik wajah.
__ADS_1
"Aevan," ucap Shani.
"Iya," sahut Aevan.
Dari jarak yang sedikit jauh terdengar suara cempreng laki-laki.
"Ayang ebeb Shani William!" teriak Zevan.
"Ikut gue," ucap Aevan langsung menarik tangan Shani.
"Mana sih dia cepet banget jalannya," ucap Zevan celingak-celinguk.
"Aevan membawa Shani ke ruang yang tidak banyak dilewati murid.
"Kenapa lu bawa gue kesini?" tanya Shani.
"Biar lu aman aja dari hama," sahut Aevan dengan hangat dan itu membuat Shani merasakan perbedaan Aevan yang sekarang dari yang dulu.
"Gue ke kelas, mau bareng." Aevan sengaja mengajak Shani seperti itu.
Shani langsung duduk dikursi.
"Nanti kalau bell udah bunyi baru gue masuk kelas," sahut Shani.
Aevan juga duduk di sampingnya Shani.
"Kenapa?" tanya Aevan.
"Males aja ketemu curuk," sahut Shani.
Aevan tersenyum mendengar ucapan Shani dan itu Shani meliriknya sendiri secara diam-diam.
Gue rasa Aevan agak sedikit berubah.
"Ya udah kalau gitu apa boleh gue temenin lu disini?" tanya Aevan.
"Terserah lu aja," sahut Shani dengan datar.
Aevan sesekali melirik Shani yang menurutnya sangat beda dari perempuan lain.
Shan, gue akuin lu cantik dan juga menarik.
[][][]
Boy dan Bima sama masih saja berdebat karena ingin kencan bersama malam ini.
"Gue udah bilang, kita booking restoran di Miziana Food aja." Boy bersikeras ingin makan di restoran mahal itu
"Hobi banget lu makan disitu," sahut Bima.
"Itu restoran favorit terbaru keluarga gue dan itu emang makanannya enak banget, cobain deh."
"Iya deh."
"Nah gitu dong," kata Boy mengacungkan jempolnya.
"Ini demi ayang gue," sahut Bima dengan wajah sewotnya.
Tiba-tiba Zevan masuk dan memanggil nama Shani.
"Ayang Shani, ehh gak ada kemana yahh tadi dia pergi duluan."
Sifa dan Julia yang mendengar ucapan Zevan mau muntah.
"Itu anak baru ngeselin banget sihh," kata Julia.
"Sama gue juga kesel," sahut Sifa.
Zevan langsung menatap sinis pada Bima dan Boy.
"Ngapain lu natap gue kaya gitu, ehh sorry Zev gue masih normal!" ucap Boy.
"Siapa yang mau sama lu," sahut Zevan.
"Terus kenapa lu natap gue," kata Boy dengan ketus.
"Udahlah Boy, kita duduk aja yuk biar emosi lu gak meledak-ledak eh bikin kebakaran nanti ini sekolah."
"Gila lu yah, gak ada kasihan sama sekali apa?" tanya Boy.
Belum sempat menjawab, ada suara tembakan dan bunyi sesuatu yang nyaring.
"Aaaaaaa!" teriak orang itu.
[][][]
NEXT
__ADS_1