
Shani tersenyum menyeringai menatap Zevan.
"Senyuman lu itu sangat jelek, sialan!"
"Ouhh begitu yahh tidak masalah juga sihh karena senyuman jelek gue cuma buat lu," sahut Shani kemudian melangkah maju.
"Mau apa lu hah, sini maju."
"Sangat terlihat bencongnya," ucap Shani tertawa.
"Dasar cewe murahan!"
Shani tidak terima dibilang murahan.
"Brengsek!"
Bughh! Bughh! Bughhh!
"Akhhh," ringis Zevan.
Shani menjambak rambut Zevan dan memukul perutnya.
Bugh!
"Akhhhhh ..."
Bughh!
"Akhhh ehukk ..."
Bughhh!
"Uhuk akhhh ..."
Shani sangat brutal menghajar Zevan.
Setelah Zevan pingsan, Shani membawanya ke markas.
Brughhh!
"Astaga!" pekik mereka semua termasuk Dara.
"Ada apa Dek?" tanya Dara.
"Dapat mangsa lagi," sahut Shani lalu menyeret Zevan ke ruang penyiksaan.
Fyuhhhh ...
Mereka semua menghela nafasnya melihat aura Shani.
"Queen sangat kejam."
"Iya sebaiknya jangan mengganggunya."
"Habis tuh mangsa."
"Pasti gak akan hidup."
"Siapa suruh cari masalah sama Queen."
"Iya juga yahh."
"Ekhem," tegur Dara.
"Eh maaf bos hehehe ..."
Shani mengikat Zevan dengan total.
"Saatnya berkarya," gumam Shani sambil menyeringai.
Shani mencopot semua gigi Zevan sampai habis.
"Nahh ganteng nihh," gumam Shani.
"Aaaaaaaaaa!" teriakan Zevan begitu memilukan karena dia merasakan begitu sakit giginya dicabut tanpa bantuan apapun seperti obat bius.
Mata Zevan bengkak dan merah, tenggorokannya sakit karena berteriak.
Mulut Zevan mengalir darahnya begitu deras.
"Sudah gue bilang jangan cari masalah tapi loh berani banget cari masalah sama sahabat gue, apa lu mau gue lakuin ini ke nyokap lu juga. Gue lihat nyokap lu baik tapi kenapa punya anak jahat, ahh gue lupa lu cucu nenek jahat itu, kan. Pantas, seorang penjahat! Sekarang lu terima ajal lu, gue udah muak!"
Shani mengambil kapak dan tersenyum pada Zevan.
"Ada kata-kata terakhir?" tanya Shani.
Zevan tidak mampu lagi untuk bicara karena sakit yang luar biasa bahkan sampai ke otaknya.
Braghhhhh!
Darah segar mengenai wajah Shani.
"Cihh gue pikir lu hebat karena berani banget cari masalah sama gue, ternyata cuma ampas! satu hama sudah musnah, sisa nenek jahat itu!" ucap Shani seperti psikopat mengintai mangsanya.
Satpam dirumah Shani melihat nona majikannya baru datang.
"Ini sudah jam 3 pagi Non," ucap satpam itu.
"Iya Pak maaf yahh ini buat Bapak."
"Untuk apa Non."
"Buat tutup mulut."
"Ouh iya siap Non."
"Jangan lupa ya Pak."
"Baik Non."
Shani menyogok satpam rumah untuk tidak memberitahu Kakek Malik jika dirinya keluar dan sampai jam 3 subuh.
[][][]
Paginya Shani bersama keluarga sedang sarapan pagi.
__ADS_1
"Good morning semuanya," ucap Ratna.
"Good morning to Ma," sahut Shina.
"Mama mau joging?" tanya Citra.
"Iya Cit, mau joging sama Papa."
"Bagus Ma, biar sehat. Shin kamu juga harus olahraga baik buat ibu hamil."
"Iya Mbak, ini juga lagi nyari."
"Ma, katanya mau joging."
"Iya Pa tungguin ... ya udah Mama sama Papa mau joging dulu ok."
Mereka semua mengangguk dan melanjutkan makannya.
[][][]
Zaki dan Alya berencana memulai hidup baru.
"Kamu yakin sayang?" tanya Zaki.
"Iya Mas, aku ingin cari suasana baru."
"Kalau Aevan sendiri?" tanya Zaki lagi.
"Senyaman Mama aja dimana, Aevan ngikut aja."
"Ya udah kalau gitu kita sepakat yahh pindah dari luar negeri."
"Iya Mas."
"Aevan mau pamit sama teman-teman dulu Pa."
"Ya sudah itu lebih baik Nak."
"Iya Pa."
"Masalah paspor dan visa kamu biar Papa yang urus."
"Iya Pa, Aevan pergi dulu Ma."
"Hati-hati dijalan ya Nak."
"Iya."
"Sayang aku seneng banget deh," ucap Zaki.
"Aku juga Mas."
Rencana keluarga Aevan pindah setelah ujian nanti.
[][][]
Billa gelisah karena Zevan tidak ada sejak tadi malam.
"Kamu kenapa Bill?" tanya Cici.
"Emang anak itu kemana?"
"Tadi malam dia pamit keluar."
"Belum pulang juga."
"Iya Ma, Billa udah telpon dari tadi gak di angkat."
"Aiahhh anak itu ayo kita cari."
"Iya Ma."
[][][]
Dihadapan Sifa, Galih melamar Sita.
"Apa kamu mau menemani saya dan menjadi istri saya lalu menerima saya sebagai Ayah sambung Sifa."
Sifa mengangguk karena baginya Om Galih orang yang baik.
Dengan anggukan Sifa, Sita pun menerima lamaran dari Galih.
"Iya Mas aku terima."
"Terima kasih sayang."
Prok prok prok ...
"Ehhh!" kaget Sita.
"Selamat Tante," ucap Julia dan kedua orang tuanya.
"Wahh Bu Sita udah mau nikah aja nih Pap," goda Nyonya Flora.
"Iya Mam," sahut Tuan Rayhan.
"Zaki ikut senang Mbak."
"Selamat ya Mbak," ucap Alya.
"Tumben kalian datang barengan begini?" tanya Sita.
"Kita mau ngomong sama Mbak," sahut Zaki.
"Kami juga," sambung Tuan Rayhan.
"Ya udah kalau gitu kita duduk," tawar Galih.
Zaki dan Alya memberitahu tentang kepindahan mereka keluar negeri.
"Ouh begitu yah, Mbak doain aja semoga kalian bahagia disana. Kapan berangkatnya?"
"Setelah Aevan ujian mungkin pernikahan Mbak harus dipercepat."
"Bagus itu," sambung Nyonya Flora.
__ADS_1
"Aku sih ngikut Mas Galih aja," ucap Sita.
"Besok juga bisa sayang," sahut Galih.
"Hahaha sepertinya Pak Galih udah gak sabar," goda Tuan Rayhan.
"Iya benar," sahut Nyonya Flora.
"Lalu kalian berdua apa?" tanya Sita.
"Begini kami juga sepertinya harus pindah karena kontrak kerja saya dipindahkan ke Singapura," ucap Tuan Rayhan.
"Yahh artinya Julia," ucap Sifa.
"Maaf Fa, gue gak bisa tinggal."
"Gak papa Jul, terus Boy ..."
"Boy juga ikut pindah ke Singapura."
"Wahh makin dekat aja lu berdua."
"Hahaha."
"Shani udah tahu rencana kepindahan lu."
"Belum nanti gue kasih tahu."
"Yahh yang penting buat sahabat gue, sukses yahh."
"Iya dong."
Mereka semua tampak bahagia.
[][][]
Xavier menjemput Shani untuk mendekatkan antara Kakak dan Adik.
"Kamu mau kemana Dek?" tanya Xavier.
"Kemana ajalah Kak," sahut Shani.
"Ya udah kita jalan dulu yahh."
"Iya."
Selama dalam mobil Xavier banyak bertanya dan obrolan kecil pada Shani.
"Setelah lulus nanti kamu mau kuliah dimana Dek?"
"Disini aja Kak gak kemana-mana."
"Kamu mau ambil jurusan apa."
"Dokter."
"Wahhh Adek Kakak rupanya pengen jadi Dokter."
"Buat bantu masyarakat kecil aja."
"Niat kamu mulia Dek."
"Hemmm ..."
Saat mereka sedang asyik mengobrol, Xavier tidak sengaja melihat mobil ditengah jalan.
"Itu kenapa yahh," ucap Xavier.
"Gak tahu Kak," sahut Shani.
"Kakak turun dulu yahh."
"Iya." Shani memperhatikan mobil itu seperti familiar.
'Kok mirip mobil Kak Dara,' batin Shani.
Xavier mendekati mobil itu dan bertanya.
"Mobilnya kenapa Mbak?" tanya Xavier.
"Gak tahu nih mobilnya gak bisa hidup," sahut wanita itu.
"Ya udah kalau gitu Mbak ikut saya," tawar Xavier.
"Apa tidak merepotkan saya mau ke kantor."
"Gak papa."
"Terus mobil saya gimana."
"Biar nanti orang saya yang handle."
"Ya udah kalau gitu."
"Saya dorong dulu mobilnya ke pinggir biar gak halangin orang."
"Iya, saya bantu."
"Terima kasih."
Saat wanita itu masuk mobil malah terkejut.
"Astaga Dek Shani!" kaget Dara.
"Hay," sapa Shani.
Ya, wanita yang ditolong Xavier itu adalah Dara.
Xavier kemudian masuk dan tersenyum ke arah Dara.
Shani mengkode Dara untuk tidak terlalu dekat dengannya.
[][][]
NEXT
__ADS_1