
Shani dan Aevan sangat terkejut karena ada suara keras dan bunyinya sangat nyaring.
"Suara apa itu?" tanya Aevan membuka suara.
"Gak tahu," sahut Shani dengan datar tapi hatinya sudah merasa pasti ada yang menyerang.
Tidak lama kemudian sudah banyak para guru dan siswa yang berteriak.
Dengan cepat Shani lari tanpa memperdulikan Aevan.
Sial, apa mereka menyerang langsung ke sekolah jika itu benar. Ini benar-benar gawat!
Shani langsung melompat dan bersembunyi saat melihat beberapa orang memakai pistol.
Mereka itu?
"Tangkap semua guru dan murid, jangan sampai gerbang sekolah terbuka!" titah salah satu dari mereka yang dari tadi memberi perintah.
Boy langsung menggendong Julia untuk masuk ke gudang.
"Jangan bersuara, kita sembunyi disini. Matikan ring tone kamu, sayang."
"Baik."
Sedangkan Bima langsung menggendong Sifa dan bersembunyi dibawah ruang perpustakaan.
"Sayang, jangan lupa kita senyapkan semua notifikasi ponsel."
"Iya."
Aevan kehilangan jejak Shani dan dia langsung melompat ke ruang ganti baju dan bersembunyi didalam ruangan bekas.
Sedangkan Zevan sudah bersembunyi di gudang sekolah.
Shani memilih bersembunyi di ruang latihan studio dance anak musik.
Gue harus matikan semua notifikasi biar gak bunyi.
[][][]
Malik benar-benar terkejut saat info penyerangan sekolah terjadi.
"Apa kamu bilang?" tanya Malik.
"Benar Tuan," sahut Darma.
"Shani, cucuku ada disana."
"Semua guru dan murid disandra."
"Bawa semu anak buah, aku yakin itu pasti anak buahnya Endras dan Regan."
"Baik."
"Jangan sampai tiga wanita itu tau."
"Baiklah."
Saat Malik ingin keluar dari kantor sudah ada tiga orang yang menghadang.
"Siapa kalian?" tanya Malik.
"Aku ingin menyelamatkan anakku," ucap Kazio yang sekarang penampilannya lebih sederhana.
"Adikku dalam bahaya," sambung Xavier.
"Biarkan kami ikut," tambah Laras yang sekarang sudah berhijab.
"Apa kalian bisa dipercaya?" tanya Malik yang masih ragu.
"Anda bisa menggunakan anak buah untuk mengawasi kami," sahut Kazio.
"Tidak perlu, ikutlah."
"Terima kasih."
"Hemmm."
Mereka semua menuju sekolah karena sangat khawatir, sedangkan Kazio dapat kabar tidak sengaja karena melihat anak buah Regan saat lewat sedang patroli di sekolah.
[][][]
__ADS_1
Bima berusaha melindungi Sifa karena persembunyian mereka diketahui.
"Mau kemana bocah!?"
"Tetap dibelakang aku, Sifa."
"Bim, aku takut."
"Aku bakalan lindungin kamu, ok."
"Iya."
"Hahahahah sangat dramatis, bunuh mereka."
Ada suara tembakan tapi bukan untuk Bima dan Sifa.
"Sayang, bukan aku yang ditembak tapi ..."
Sifa membuka matanya dan melihat musuh sudah tumbang.
"Siapa yang menembak?" tanya Sifa.
"Aku tidak tahu," sahut Bima yang terus mengawasi sekitar.
Shani yang sudah memakai jubah dan topeng, memimpin kelompoknya untuk menghadapi anak buah Endras dan Regan.
"Jangan lupa pistol dan granat," ucap Shani.
"Baik Queen," sahut mereka.
"Kak Dara," kata Shani lagi.
"Iya Dek, ada apa?"
"Bantu gue ngalahin mereka semua dan anggota sisanya tuntun para tahanan keluar dari area sekolah!"
"Baik."
[][][]
Boy langsung memukul orang yang sudah berani menampar wajah Julia.
"Brengsekkk, jangan pernah lu sentuh cewek gue!" maki Boy.
Sekitar 5 orang yang menghabisi Boy, Julia berusaha melindungi kekasihnya tapi salah satu musuh menyeret Julia ke dalam dan ingin melecehkannya.
Saat itu terjadi Shani datang dan langsung menembak kaki musuh itu.
Julia hanya bisa menangis tanpa mau melihat siapa yang menolongnya.
Tapi Julia tahu Boy masih ada disana.
"Aku harus tolong Boy," lirih Julia tapi melihat jubah dan topeng itu membuatnya takut. "Siapa orang itu tapi aku tidak peduli pertarungan mereka menyakitkan dan Boy, aku harus bawa Boy ke tempat aman."
Julia mendekati Boy dan berusaha membawanya keluar, saat keluar sudah ada beberapa perkelahian antar kelompok.
"Astaga, mereka sebenarnya siapa?"
Julia dan Boy terdorong saat musuh terpental karena serangan anggota Meteor.
"Akhhhhh," ringis Julia.
"Hey, kau ..." Anggota Meteor menyuruh Julia dan Boy mengikutinya.
"Aku," sahut Julia masih takut.
"Ikut kami."
"Kemana?"
"Ikut saja."
Julia mengikuti anggota Meteor dari belakang sambil memapah Boy yang bobotnya lebih besar darinya.
Astaga Boy, kamu makan apa sih berat banget.
Anggota itu menuntun Julia dan Boy keluar sekolah melalui pintu belakang.
"Mulai sini, ikuti saja jalannya."
"An-anda mau kemana?" tanya Julia.
__ADS_1
"Jangan banyak tanya atau kau akan terbunuh!" sahut anggota Meteor.
"Baik." / galak sekali sih cuma nanyak doang.
Julia mengikuti alur jalan yang disuruh orang tadi, saat sampai dirinya terkejut.
"Ini ..." Julia terkejut saat melihat kumpulan orang tua dan semua murid yang terluka bahkan guru juga ada, tidak hanya itu seorang polisi pun ada.
"Julia," panggil Flora.
"Mama," sahut Julia dengan isak tangis.
Flora langsung memeluk anaknya yang masih memapah Boy.
"Kamu gak papa Nak?" tanya Flora.
"Julia gak papa kok Ma tapi ini si Boy," sahutnya.
"Letakkan Boy disana," kata Tuan Rayhan.
"Papa," girang Julia.
"Iya sayang ini Papa Nak," kata Tuan Rayhan menciumi pucuk kepala anaknya itu.
Rayhan meletakkan Boy ke tempat dimana siswa terluka.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Flora.
"Julia gak tahu Ma," sahutnya.
"Astaga terulang lagi, kenapa sekolah ini selalu jadi sasaran empuk kejahatan," ucap Tuan Rayhan.
[][][]
Alya mencari Sita dan Aevan, juga Sifa.
"Kemana mereka, ya Allah jangan sampai ini terjadi."
Alya begitu panik dan berusaha mencari keberadaan keluarganya.
Begitu juga dengan orang tua murid lain.
Malik dan Darma sudah menyuruh anak buahnya untuk masuk.
"Kalian cari cucuku," titah Malik.
"Baik," sahut anak buahnya.
Ada wartawan masuk menyampaikan berita tentang sekolah yang diserang sekelompok bandit internasional dan mafia paling kuat didunia.
Malik langsung masuk begitu saja, Darma panik karena Tuannya masuk tanpa sepengetahuannya.
"Tuan, jangan masuk seperti tadi itu berbahaya."
"Aku lebih mengkhawatirkan cucuku, Regan dan Endras pasti ada disini."
[][][]
Toni menampar Mama tirinya karena sudah memfitnah Shina.
"Mama keterlaluan!" maki Toni kemudian pergi dari rumah itu dan ingin menuju rumah Shina.
"Maafin Papi Shani, Maafin aku Shina, aku salah dan bodoh sudah percaya dengan omongan mereka." Toni begitu menyesal sudah menyakiti hati istri dan anaknya, apalagi sekarang Shina lagi hamil.
[][][]
Shani mengambil cambuknya dan mulai menghajar musuh satu persatu.
Pertarungan Shani dan beberapa anak buah Endras jadi rekaman paling epic yang pernah ada.
"Bagus, terus rekam ini sangat menguntungkan jika ini di jadikan berita utama mereka, siaran langsung cepat!" ucap produser itu.
Banyak dari mereka yang memegang ponsel dan siaran langsung.
Instagram, Tiktok, Facebook, dan Snack Video.
Perkelahian Mafia Meteor jadi viral paling atas satu dunia.
Mereka yakin yang berkelahi satu lawan 20 orang itu adalah pemimpinnya.
[][][]
__ADS_1
NEXT