
Citra ingin bercerita yang sejujurnya tentang identitas Shani.
Drrrt drrrt ...
"Citra," gumam Shina.
"Siapa yang telpon sayang?" tanya Toni.
"Citra Pi," sahut Shina.
"Ya udah angkat aja siapa tahu penting," kata Toni.
"Iya Pi," sahut Shina lagi.
"HALO CIT ADA APA?" TANYA SHINA.
"HALO JUGA SHIN, AKU MAU KETEMU BISA TAPI GAK DIRUMAH DITEMPAT LAIN AJA."
"OUHH BISA KOK, KAMU KASIH TAU AJA TEMPATNYA DIMANA."
"NANTI AKU SHARLOK YAHH."
"IYA."
"SEKARANG YA SHIN," KATA CITRA.
"IYA."
"YA SUDAH AKU TUTUP DULU TELPONNYA YAHH," KATA CITRA.
"IYA CIT," SAHUT SHINA.
TUT ...
"Alhamdulillah," ucap Citra senang karena dirinya akan mengatakan yang sebenarnya.
Tok tok ...
"Siapa sih yang datang," kata Citra lagi lalu membuka pintu.
Ternyata yang datang adalah Kazio.
"Kamu," ucap Citra.
"Saya tahu Shani itu anak kita, kan."
"Bukan urusan kamu."
"Jangan membohongi saya."
"Cih!"
"Mama," panggil Xavier.
"Xavier."
"Xavier tahu Ma, kesalahan Papa dan Mama kandung Xavier sangat fatal tapi tolong jangan pisahkan Shani dengan Papa."
"Kamu tidak tahu apa-apa Xavier, jangan ikut campur."
"Enggak Ma, Xavier tetap akan ikut campur karena Xavier anak pertama walau beda rahim."
"Kalau begitu urus saja Papa kamu, tidak usah mengurus saya dan juga Shani!"
"Shani adiknya Xavier Ma."
"Xavier kamu ngiyel yahh!"
"Enggak Ma, Xavier ingin yang terbaik untuk keluarga kita."
Citra terdiam.
***
Shani sudah minta izin pada Shina dan Toni saat keluar dengan syarat di antar sopir.
"Pak Dani, ayo berangkat."
"Baik Non kita mau kemana?" tanya Pak Dani.
"Ke rumah dekat bundaran Pak," sahut Shani.
Di alamat tempat tujuan Shani sudah disiapkan makanan karena ada pertemuan teman-teman Shani.
"Pak Dani silahkan makan," kata Shani lagi.
"Tapi Non ini-"
"Gak papa kok Pak saya yang traktir."
Karena Pak Dani tergolong orang yang jarang makan enak dan lezat akhirnya menyantap makanan itu dengan lahap.
__ADS_1
Shani sudah mengkode pelayan dan pihak restoran agar membuat Pak Dani tertidur.
Setelah Pak Dani tertidur, Shani meninggalkan Pak Dani tanpa memindahkannya karena takut akan curiga. Biarlah Pak Dani berpikir ia tertidur karena kekenyangan.
Shani langsung meluncur ke markas untuk bertemu Laras.
"Queen," kata anggota.
"Mana dia," sahut Shani.
"Ada diruang bawah tanah!"
"Apa dia mengaku?" tanya Shani sambil merokok.
"Di menutup mulutnya Queen."
"Baiklah, biar aku yang melakukannya. Jangan lupa culik Gea untuk Finni tidak usah!"
"Baik Queen."
Anggota lain langsung mengerjakan misinya kembali menculik Gea sedangkan Shani langsung menemui Laras.
Plak ...
"Bangun anjing!" maki Shani.
"Hahh ... kau?"
"Iya, aku Shani kenapa? sudah lupa yahh atau masih ingat!"
"Brengsek rupanya kamu masih hidup!"
"Iya aku masih hidup makanya aku mau balas dendam, ahhh rasanya tidak asyik jika kamu mati dengan cepat!"
Prok prok ...
"Iya Queen."
"Ambilkan kotak hadiah yang kemarin malam."
"Baik Queen."
"Dasar anak siala!" maki Laras.
Plak ...
"Ini wilayahku, sangat tidak sopan jika kau bicara seperti tadi!"
Anggota tadi datang.
"Sini."
"Iya."
Brugh ...
Shani melempar kotak itu ke tubuh Laras sampai terbuka dan kepala Ken jatuh.
"Aaaaaaaaaa!" teriak Laras.
Bugh ...
"Jangan berteriak, aku tidak suka orang berteriak."
"Ke-ken."
"Hehehehe bagaimana tampan bukan suamimu itu hemmm," kata Shani.
"Bagaimana bisa kau ..." tunjuk Laras.
Dia tidak mau mengaku makanya seperti itu," kata Shani lagi.
"Eeekhh dasar psikopat!" umpat Laras.
"Jangan memakiku seperti itu biar bagaimana pun aku masih punya banyak pertanyaan!"
"Cuihhhh aku tidak akan sudi!"
Brak ...
Shani menginjak kepala Laras dengan kuat sampai Laras kesakitan.
"Bukankah sudah aku katakan jangan membuatku marah, sialan!"
"Si-sial," gumam Laras.
Laras melihat Shani meminta alat pada anak buahnya seperti gunting.
"Mau apa kau?" tanya Laras dengan sangat takut karena Shani yang sekarang benar-benar psikopat.
"Menurutmu aku akan melakukan apa dengan gunting ini hemmm ..."
__ADS_1
"Jangan macam-macam!" peringat Laras.
Shani mengangkat kakinya yang menginjak kepala Laras lalu perlahan berjongkok.
"Kau tahu betapa sakitnya jadi aku waktu itu," kata Shani dengan mata yang sudah mode kejam.
Dengan cepat Shani menggunting rambut Laras sampai acak tak terbentuk.
"Hiks hiks hiks kurang ajar, berhenti sialan itu rambutku woyy! aku sangat mahal ke salon," kata Shani.
Lalu Shani membuka baju dan bra-nya Laras dan timbullah perbukitan kembar yang menyembul.
Saat ingin menggunting ****** kenyal-kenyal itu, tiba-tiba tangan Shani terhenti.
"Jangaaaan, aku ibu kandung kamu Shani!" teriak Laras.
Deg ...
Jantung Shani berdetak lebih kencang.
"Jangan membual, bangsat!"
"Aku tidak membual Shani, aku ini memang Ibu kandung kamu. Seharusnya kamu ini sadar, wajah kamu itu mirip siapa?"
"Apa maksudmu?"
"Hahahah ... kamu itu anak saya hasil zina dengan laki-laki perampok!"
"Keparat!"
"Jangan setres seperti itu Shani, hahaha itu kebenarannya. Aku membenci kamu karena ayah kamu yang bejat itu!"
"Diam!"
"Gea itu baru anak kandung Kazio dengan Citra aku sengaja menukar kalian, biar aku bisa mendidik anak mereka dengan kejahatan."
Bugh ...
Bugh ...
Bugh ...
"Anda jangan main-main!" teriak Shani.
"Inilah kebenarannya, sudah seharusnya kamu bakti denganku!"
"Cuihhhh saya tidak sudi punya Ibu seperti kau!"
"Dan saya tetap akan memaksa kamu untuk menghormati saya," kata Laras lagi.
"Saya tidak akan percaya dengan ceritamu," sahut Shani.
"Citra itu sangat bodoh, dia pikir kamu itu anaknya padahal Gea-lah anak kandung mereka. Darahku dengan Citra sama dan ini menguntungkan aku karena darahmu itu sama!"
Brak ...
"Hentikan omong kosong ini!" maki Shani.
"Kamu harus hormat sama saya, Shani!"
Galih sopir pribadi Sita
"Tidak akan," kata Shani kemudian ponselnya berbunyi.
Drrt drrt ...
”Halo, iya ada apa?" tanya Shani dalam telponnya tiba-tiba wajahnya menjadi masam.
Laras tersenyum.
"CIHH DASAR BOCAH, APA DIA PIKIR BISA MENGHABISIKU. KALI INI AKU SUDAH CUKUP LELAH BALAS DENDAMNYA KARENA KAZIO DAN CITRA JUGA SUDAH BERCERAI, SAATNYA AKU MEMBUANG GEA DAN MENGAMBIL HAK ASUH SHANI!" BATIN LARAS.
Dengan tenaga dan kecerdikannya, Laras berhasil melepaskan diri dan perlahan memukul Shani dari belakang.
Bugh ...
"Akhhhh ..." ringis Shani.
Fyuhhh ...
"Maaf, sudah waktunya kamu ikut saya!" ucap Laras lalu mengangkat Shani dan bersembunyi agar anggota The Meteor terkecoh.
"Queen, ini alat yang anda pinta- astaga Queen mana!" kaget anggota.
"Queen mana."
"Sial Laras juga tidak ada," geram Arga lalu menyuruh anak buahnya untuk memeriksa setiap sudut markas.
"SIAL, POKOKNYA AKU HARUS BISA BAWA SHANI KE SUATU TEMPAT SEMOGA SAJA BONO TEPAT WAKTU," LARAS MEMBATIN.
Laras sedikit demi sedikit maju melangkah untuk bisa keluar dari markas ini dengan bersembunyi jika masih ada anggota berkeliaran.
__ADS_1
***
NEXT