
() () ()
Zaki memohon pada Alya untuk kembali.
"Aku mohon Al, kembali ya."
"Kalau kembali kamu bisa jamin aku selamat dari Ibu kamu itu?"
"Itu ..."
"Kalau gak bisa menjamin jangan sok mau ngajak aku, paham!"
"Aku sayang sama kamu Al."
"Sayangnya Papa itu masih kalah dengan Nenek jadi Aevan rasa untuk sekarang jangan menemui Mama dulu."
"Gak bisa Van, Papa sayang sama Mama kamu."
"Kalau sayang kenapa tidak membela Mama?" tanya Aevan memojokkan Papanya sendiri.
"Kalau itu sebenarnya ..."
"Karena Papa takut sama nenek, iya?"
"Papa bukan takut tapi ..."
"Semua omongan Papa itu gak bisa dipegang dan dipercaya, sebaiknya Papa pulang daripada nanti nenek marah-marah sama Mama. Papa, 'kan tahu Aevan paling gak suka ada yang nyakitin Mama!"
"Apa yang dikatakan Aevan benar Mas, kamu harus pulang. Aku gak mau Ibu kamu nyalahin aku dan ingin menculik lagi."
"Kalau emang sayang jangan buat Mama terluka dan menderita lagi." Aevan langsung menarik tangan Mamanya dan pergi dari ruang tengah itu.
"Mama tunggu di kamar yahhh," kata Aevan.
"Iya sayang," sahut Alya.
Kemudian Aevan turun ke bawah lalu menyuruh Papanya untuk pulang sebelum bertindak kasar.
"Sebenarnya Aevan tidak ingin bicara seperti ini tapi karena menyangkut nyawa Mama sebaiknya Papa pergi dari sini, sebelum Aevan bertindak kasar!"
"Aevan, kasih Papa kesempatan."
"Aevan sudah kasih kesempatan."
"Kalau begitu izinkan Papa ketemu sama Mama kamu."
"Kalau itu, tidak sama sekali."
"Papa mohon Van."
"Pulang Pa."
"Van."
"Pulang Pa."
"Papa kangen sama Mama kam-"
"Papa pulang sekarang!" bentak Aevan lalu menariknya dengan kasar sampai depan pintu Aevan mendorong Zaki sampai terjungkal. "Aevan minta jangan pernah Papa temui Mama lagi selama Papa tidak melindungi Mama dari nenek!"
Aevan langsung masuk ke rumah dan menutup pintunya dengan keras.
Zaki berdiri dengan lesu seolah-olah tidak ada semangat sama sekali.
"Ini semua karena Ibu," ucap Zaki dengan lirih.
Zaki memutuskan untuk pulang ke rumah dan sudah ditunggu oleh Sandra.
"Darimana aja kamu Zaki?" tanya Sandra dengan wajah penuh amarah.
"Bukan urusan Ibu," sahut Zaki.
"Sudah berani kamu melawan Ibu!"
"Cukup Bu, Zaki gak mau bertengkar sama Ibu."
"Kamu habis dari rumah Alya."
"Sudahlah Bu."
__ADS_1
"Jangan bohong sama Ibu!"
"Zaki capek Bu."
Sandra langsung mencekal tangan Zaki dan menariknya.
"Ibu apa-apaan sih!" kesal Zaki.
"Jawab Ibu dengan jujur ngapain kamu ke rumah Alya?"
"Ibu ngapain suruh orang buat mata-matain Zaki, jangan ikut campur urusan Zaki!"
"Kamu itu cuma bocah bau kencur Zaki!"
"Zaki sudah dewasa Bu, jangan perlakukan Zaki seperti anak kecil."
"Cihhh jangan sok dewasa kamu, Ibu pastikan kamu tidak akan bisa hidup tanpa Ibu."
"Jangan melakukan sesuatu yang curang Bu, Mas Viko meninggal karena kekejaman Ibu bukan karena Mbak Sita begitu juga dengan anak Ibu yang satunya."
Plak!
Sandra menampar Zaki dengan keras.
"Jaga bicara kamu, jangan sampai Ibu menyakiti kamu!"
"Ibu memang psikopat gak berperasaan!" kata Zaki dengan geram lalu berbalik ingin ke kamar.
Karena kesal akhirnya Sandra menyuntik Zaki dari belakang leher.
Karena suntikan itu Zaki menjadi lemah dan pingsan.
"Maafkan Ibu Zaki, hanya kamu anak Ibu satu-satunya yang masih hidup."
Sandra langsung menyeret tubuh Zaki ke kamar dan melepas pakaiannya lalu mengikat tangan hingga kaki Zaki.
"Akan lebih baik kamu seperti ini Zaki, Ibu tidak akan membiarkan kamu bertemu dengan Alya lagi. Setelah ini, Ibu akan habisi dua perempuan itu dan membawa dua cucu Ibu ke rumah lalu kita hidup bersma-sama." Senyum Sandra mengembang saat tahu jika Sifa itu cucunya yang sangat cantik, selama ini Sandra tahu jika cucu perempuannya itu tinggal dipanti asuhan tapi tidak pernah melihat wajahnya.
() () ()
Untuk kali ini Aevan tidak masuk sekolah.
"Mau kemana?"
"Keluar sebentar aja kok Ma, ouh ya kalau ada apa-apa telpon Aevan dan jangan buka pintu sebelum melihat wajahnya."
"Baik sayang."
"Aevan berangkat dulu."
"Hati-hati ya Nak."
"Iya Ma."
Aevan berangkat pakai motornya.
Saat ditengah jalan tanpa sengaja Aevan melihat Shani.
"Shani, ngapain dia?"
Aevan tetap melanjutkan apa yang dia cari karena Shani bukan urusannya.
() () ()
Shani mengikuti mobil Regan dan Cici.
Tiba disebuah gudang kosong dan sangat sepi.
"Apa ini markas mereka," gumam Shani yang sudah tahu mereka singgah dimana.
Shani sambil menunggu anggotanya dia mengirim pesan pada Dara.
”Kak Dara sepertinya ini akan berbahaya, kirim lagi anggota susulan.”
Tidak lama kemudian anak buah Shani sampai.
"Queen," ucapnya.
"Kita masuki area itu secara diam-diam jangan lupa bawa kamera tersembunyi."
__ADS_1
"Baik Queen."
Shani dan anggotanya mulai mengendap dan mencari celah untuk mendekati agar mendengar apa yang mereka bicaraka.
Shani mulai mendengarkan pembicaraan Regan dan Cici.
"Ahhh sial," keluh Regan.
"Kenapa sayang?" tanya Cici.
"Malik sepertinya mulai curiga sama aku," sahut Regan.
"Curiga, curiga tentang apa Mas."
"Kematian Mamanya Toni, kamu tahu sendiri, 'kan Eka mati ditangan kita."
"Iyalah, 'kan kamu yang jual jantungnya."
Jantung Shani benar-benar terkejut mendengar fakta ini.
'Jadi Nenek Eka mati karena perbuatan keji mereka,' batin Shani.
"Masalahnya waktu itu kita benar-benar butuh suntikan dana untuk sewa mafia menyerang mansion Malik."
"Tapi itu berhasil sudah berhasil, 'kan membunuh Shiana."
'Shiana, siapa Shiana?' batin Shani bertanya-tanya.
"Pokoknya kita harus hati-hati!" peringat Regan.
"Aku sangat ingin membunuh anak ingusan itu sayang."
"Kita belum punya celah Ci."
"Itu karena Malik melindunginya!"
"Malik lagi-Malik lagi, sepertinya Malik memang sudah mengetahui apa yang kita lakukan selama ini."
"Aku gak mau tahu besok kita harus buat Shina keguguran."
"Kamu tenang aja sayang aku sudah menyuruh orang untuk menyusup ke rumah itu."
"Benarkah?"
"Iya, dia akan bekerja sebagai art disana."
"Kamu gercep sekali sayang," puji Cici.
"Tentu saja, aku tidak ingin keluarga William punya anak dari keluarga Ralindra."
Shani langsung mengkode anggotanya untuk memberikan topeng.
Setelah memakai topeng, Shani sudah bersiap akan menyerang Regan dan Cici.
Tapi saat ingin bersiap tiba-tiba ada satu kelompok lagi datang dan kelompok itu Shani mengenalnya.
'Mereka ...?' batin Shani.
Kelompok itu langsung menendang kotak dan menghampiri Regan.
"Regan, aku sudah mengatakannya untuk mencari lebih banyak lagi organ tubuh!" ucapnya dengan sengit.
"Maaf Tuan Endras, saya pastikan kali ini akan mendapatkan organ tubuh itu lagi."
"Dari tubuh siapa, aku tidak ingin dari gelandangan!" sarkasnya.
"Shina Ralindra dan Shani Arizaya!"
"Hemmm maksudmu putri tunggal Malik."
"Iya."
"Bagus, lebih cepat lebih baik."
Degh
Shani mengepalkan tangannya.
() () ()
__ADS_1
NEXT