
"Dasar aneh wanita yang aneh"ucap davin yang masih senyum-senyum sendiri mengingat ucapan lia.
"Cittss, apa ini kenapa aku malah memikirkan nya"gerutu davin dengan wajah yang sedikit kesal.
****
Lia yang sudah selesai dari makan nya pergi ke kamar sesuai dengan apa yang davin katakan padanya takutnya jika lia tidak menuruti davin, lia akan mendapatkan siksaan darinya apalagi davin adalah orang yang cepat sekali marah.
Saat lia sudah berada di kamar lia tidak melihat keberadaan davin tapi lia tak memperdulikan nya karna menurut lia itu lebih baik.
Baru saja lia ingin duduk di sofa tiba-tiba davin datang dan mengejutkan lia.
"Tu-tuan"ucap lia dengan wajah yang sudah tertunduk takut.
"Kenapa, kenapa kau Menundukkan wajahmu"ucap davin dan mendekat pada lia.
"lihat aku, apa wajah ku begitu tampan sampai kau tidak berani untuk melihat dan menatap ku"ucap davin sambil memegangi dagu lia.
"Ti tidak tuan"ucap lia
"Tidak, jadi kau bilang aku tidak tampan hah"ketus davin dengan kasar melepas tangannya yang memegangi dagu lia.
"Bu-bukan begitu tuan saya tidak mengatakan jika tuan tidak tampan saya..."ucap lia terpotong karna davin langsung membuang muka pada lia.
"Sudahlah, aku mau tidur dan kau seperti malam kemarin kau tidur di lantai."ucap davin dan beranjak pergi ke atas kasur king size nya.
"Maaf tuan apa boleh jika saya tidur di sofa saja."ucap lia dan berharap davin mau mengasihaninya.
"Kenapa"tanya davin cetus.
"Karna malam ini sepertinya dingin sekali jadi saya takut kalau saya nanti masuk angin tuan"jawab lia jujur.
"Aku tidak peduli, kau mau kedinginan atau kepanasan itu derita mu sendiri dan jika kau tidak ingin tidur di lantai maka aku akan dengan senang hati meminta mu untuk tidur di balkon tanpa"ucap davin dengan senyum licik nya.
Lia yang mendengar kata-kata yang keluar dari mulut davin merasa sangat tak percaya.
"Dia manusia tapi hatinya sangat keras seperti batu hingga pria ini tidak memiliki rasa keperimanusiaan sedikit pun"gerutu lia dalam hatinya dan menatap davin dengan kesal.
"Ada apa, apa kau mau tidur di balkon"ucap davin dengan senyum smirknya.
"Tidak saya akan tidur di lantai"ucap lia kesal dan mengambil bantal dengan kasar.
"Bagus,, aku bahkan mengira jika kau akan tidur di balkon"ucap davin dan langsung berbaring dan memejamkan matanya.
__ADS_1
Sebenarnya lia sudah tidak bisa menahan rasa kekesalannya pada davin tapi lia juga tidak akan bisa melawan davin karna jika lia melawan maka davin akan lebih ganas dari yang sebelumnya.
🍁🍁🍁🍁
Cerahnya matahari tidak dapat mencerahkan wajah lia yang kini wajahnya sangat pucat dan menggigil karna kedinginan akibat tidur di lantai tanpa selimut sedangkan davin masih pulas tertidur dan bergelut di dalam selimutnya.
Davin yang sudah terbangun dari tidurnya karna dvin mendengar suara gigilan lia yang begitu keras.
"Hei lia, lia bangun sudah siang apa kau akan tetap tidur seperti ini."ucap davin yang sudah beranjak dari tidurnya dan berusaha membangunkan lia.
"T-tuan sa-saya ke-kedinginan tuan, bb-benar benar dingin"ucap lia yang terbata-bata karna kedinginan bahkan wajahnya yang sekarang semakin pucat.
Davin yang memegangi jidat lia untuk memastikan kondisinya sontak membuatnya langsung membaringkannya ke atas ranjang.
"Pelayan...pelayan..."teriak davin dari dalam kamarnya karna panik dengan keadaan lia yang menggigil kedinginan dan semakin pucat saja.
Aminah yang mendengar teriakan davin dari kamar langsung naik ke atas.
Tok...Tok...Tok...
"Masuk"titah davin dan aminah langsung masuk ke kamar davin.
"Tuan..."ucap aminah.
"Ini tuan air dan juga kompres nya"ucap aminah dan davin langsung mengambilnya dari tangan aminah.
Dengan telaten davin memasangkan kompres ke jidatnya lia dan aminah yang melihat sikap davin pada lia tersenyum tipis.
"Tuan maaf kalau bibi lancang, tapi kenapa non lia bisa sampai pucat sekali dan juga non lia menggigil seperti itu."ucap aminah yang sebenarnya sedikit takut jika davin marah dengan pertanyaan itu.
"Tidak apa-apa bik lia hanya demam saja karna semalam sangat dingin jadi mungkin karna itu lia sampai menggigil."ucap davin bohong pada aminah karna davin tidak ingin jika orang yang ada di rumahnya tau apa yang telah davin perbuat pada lia sampai lia menjadi demam.
"Baiklah kalau begitu bibi pergi ke dapur dulu, bibi akan membuatkan bubur untuk non lia"ucap aminah dan di angguki oleh davin.
"Bodoh, kenapa kau sampai bisa seperti ini apa kau selemah itu hingga karna kedinginan saja kau menjadi demam seperti ini"gerutu davin yang masih mengompres lia dan lia yang masih memejamkan matanya.
Davin yang merasa kesal pada lia tapi ia juga merasa bersalah karna telah membuat lia demam padahal davin hanya membuat lia demam saja tidak lebih.
"Apa ini, davin kenapa kau harus merasa bersalah pada wanita ini"ucap davin dan memijat-mijat keningnya.
Setelah beberapa lama davin mengompres lia, aminah kembali masuk ke kamar davin dengan membawa bubur dan juga obat untuk lia.
"Tuan ini bubur dan juga obat untuk non lia"ucap aminah.
__ADS_1
"Oh iya makasih bik"ucap davin dan mengambil nampan yang berisi bubur dan meletakkan nya ke nakas di dekat ranjang davin.
"Ya udah bibi permisi tuan"ucap aminah dan di angguki oleh davin.
"Lia, bangun kau harus makan bubur nya setelah itu kau minum obatnya."ucap davin dan lia menuruti perkataan davin.
"Cepat kau makan dan habiskan buburnya"ucap davin dan memberikan mangkuk pada lia.
"Heeem, bagaimana aku bisa makan badan ku terasa tidak bertenaga apa tuan tidak bisa membantu ku"ucap lia dengan nada yang lemas.
Davin yang mendengar ucapan lja berdengus kasar dan menyuapi lia memakan buburnya.
"Ternyata kau ini sangat manja jika sedang demam"ucap davin.
"Aku tidak manja tapi aku terbiasa, saat orang tua ku masih ada jika tidak ibuku maka ayahku yang akan menyuapiku"ucap lia sedih dan menelan buburnya dengan susah karna air matanya yang tiba-tiba jatuh membasahi pipinya.
Davin yang melihat lia menangis tiba-tiba menjadi diam tak bersuara setelah mendengar ungkapan lia yang begitu sedih di tinggalkan orang yang sangat berharga dalam hidup lia.
"Maaf"ucap lia kelepasan karna telah menceritakan kehidupan pribadinya pada davin yang menurut lia davin tidak akan senang mendengarnya.
"Kenapa minta maaf,.....dengar di dunia ini bukan hanya dirimu yang di tinggalkan oleh orang yang sangat kau sayangi dan cintai tapi ada banyak sekali orang yang di tinggalkan di dunia ini bahkan mungkin kau sendiri akan meninggalkan orang-orang yang sangat kau cintai."ucap davin dengan tenang dan lembut.
Lia yang mendengar ucapan davin merasa tidak percaya karna seorang davin yang kejam bisa berkata-kata seperti itu.
"Kenapa malah memandangku, ayo cepat habiskan ini setelah itu kau minum obat"ucap davin.
"He eh, ooiya tuan apa kau tidak pergi ke kantor, jika kau ingin pergi ke kantor maka kau silahkan pergi saja"ucap lia setelah sadar bahwa sekarang sudah hampir jam 09.20.
"Tidak, aku sudah menyerahkan semuanya pada rimos untuk menghandle urusan kantor hari ini"jawab davin dengan wajah nya yang datar.
"Sudah tuan saya sudah kenyang"ucap lia.
"Hem, ya sudah sekarang kau minum obat ini setelah itu kau tidur istirahat"titah davin dengan lembut dan di angguki oleh lia dan mengambil obat di tangan davin.
Lia benar-benar bingung dengan sikap davin yang seperti ini kenapa davin sangat peduli pada lia padahal davin sendiri yang membuat nya sampai demam bahkan davin juga menginginkan lia untuk tidur di balkon.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Udah dulu ya nanti aku sambung lagi ceritanya dan semoga kalian semua yang sudah mampir menyukai cerita yang aku buat.
Jangan lupa like, komen, dan vote
Dan hadiahnya 🌹🌹🌹🤭🤭🤭
__ADS_1
..............TERIMA KASIH............