
"Hmm baiklah hati-hati"pesan lia sedangkan davin memincingkan bibir nya melihat lia begitu ramah pada dokter hendra.
Saat dokter hendra benar-benar telah pergi davin kembali duduk dan membuang muka pada lia.
"Ngambek niih"ucap lia sambil menggaruk tengkuk leher nya yang gatal.
"Mas davin cemburu ya"tanya lia yang sudah duduk di samping davin namun davin tidak memggubris nya.
"Hufh, Ya udah kalau mas davin ngga mau ngomong ke lia juga ngga papa"ucap lia yang berpura-pura merajuk.
Lia yang sesekali melihat davin karna davin sama sekali tidak menggubris nya dan hanya membuang muka nya sedari tadi merasa benar-benar merasa bersalah.
"Ya udah mas davin lia minta maaf lia ngga ada maksud buat bikin mas davin cemburu lagi pula dia itu cuma sahabat lia mas"ucap lia.
"Mas davin memang sudah berubah dan menerima aku dengan hati nya tapi sikak keras kepala nya tidak pernah bisa ia hilang kan"batin lia.
Namun meskipun lia sudah menjelaskan tetap saja davin keras kepala dan tidak menggubris nya.
Hingga lia memutuskan untuk pergi dan membiarkan davin untuk berpikir dangan kepala dingin.
***
Di tempat lain rimos yang menunggu di bandara seorang diri tiba-tiba di kejutkan dengan suara yang sudah tidak asing lagi untuk nya.
"OPPPAA LEEE"teriak lisa yang tiba-tiba berada di depan rimos.
Mendengar suara itu rimos langsung tersentak dan hampir saja handphone nya namun masih beruntung karna rimos masih bisa menangkap hp nya.
"Kau, kapan kau sampai dan kenapa tidak menelpon"tanya rimos.
"Aku sudah menelpon kak davin dan juga kak lia tapi ngga ada yang angkat"jawab lisa yang hendak memeluk rimos namun rimos dengan sigap menghentikan nya.
"Lalu kenapa tidak telpon aku saja"ucap rimos.
"Ck, menyebalkan sekali aku baru saja sampai di bandara setelah beberapa jam aku hanya duduk di dalam pesawat tapi oppa tidak mau memberikan aku pelukan"lisa berdecak kesal karna rimos tampak acuh pada nya.
"Ya bukan salah ku aku juga sudah bosan sedari tadi menunggu mu sedangkan davin dan nona lia pergi berdua tanpa memperdulikan ku"ucap rimos santai.
__ADS_1
"Jadi oppa lee ngga ikhlas nunggu lisa di sini"tanya lisa dengan cemberut.
"Lagi pula kalau memang oppa lee sudah bosan menunggu ku di sini kenapa tidak pulang saja lagi pula aku sudah besar dan aku juga bisa sampai ke rumah kak davin tanpa ada yang menjemput ku, dan kalau misal nya oppa lee mau pulang sekarang pulang saja aku bisa pulang sendiri"celoteh lisa panjang lebar dan hendak berjalan dengan membawa koper nya namun rimos menghentikan nya dengan memegang tangan nya.
"Apa?"tanya lisa cetus.
"Kenapa kau marah aku hanya mengatakan yang sebenar nya"jawab rimos dan langsung memeluk lisa tapi lisa tiba-tiba saja mendorong nya.
"Sudah lah aku mau pulang"ucap lisa malas.
Tanpa rimos dan lisa sadari bahwa sedari tadi adegan mereka sudah di perhatikan oleh lia yang berdiri mematung sedikit jauh dari jarak mereka berdua.
"Kak lia"ucap lisa dan menghampiri lia yang hanya berdiri sendiri saja.
"Hai, lisa apa kabar"tanya lia yang langsung memeluk adik ipar nya dengan erat.
"Baik kak, kakak sendiri bagaimana"jawab lisa.
"Aku juga baik"ucap lia.
"Kak davin mana?"tanya lisa.
"Ada, dia sedang duduk di luar"jawab lia.
"Ya udah kak lia anter lisa ke kak davin ya"pinta lisa.
"Hmm, ayo.. Ayo tu.. ee rimos"ucap lia dan tak lupa ia juga mengajak rimos.
Tanpa memperdulikan rimos lee yang ada di belakang, lisa langsung meminta lia untuk mengantar nya menemui kakak nya.
"Kamu kenapa marah sama dia"tanya lia sambil berbisik pada lisa.
"Tidak papa kak"jawab lisa santai.
Namun tanpa di sadari rimos lee mendengarkan obrolan lia dan juga lisa tapi ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan dengan santai nya berjalan dengan kedua tangan nya yang berada di dalam saku celana nya.
"Nah itu dia"ucap lia sambil menunjuk davin yang masih duduk di bawah pohon.
__ADS_1
"KAK DAVIN..."panggil lisa dan melambaikan tangan nya pada davin.
Davin yang mendengar ada yang memanggil nya langsung menoleh ke arah suara itu dan dengan wajah yang senang namun hanya tersenyum tipis menghampiri adik nya.
"Kak davin"rengek lisa dan langsung memeluk davin saat davin sudah sampai di tempat nya.
"Hhh, adik ku sayang kapan kamu sampai dan kenapa tidak menelpon ku"ucap davin yang membalas pelukan sang adik dengan erat.
"Iih, seharus nya aku uang bertanya kenapa kakak tidak mengangkat telpon ku aku sudah menelpon mu dan juga kak lia tapi kalian berdua kompak tidak mengangkat nya"ucap lisa yang mencibik kan bibir nya saat dia sudah tidak lagi memeluk kakak nya.
"Ooh benarkah sebentar"ucap lia yang sedikit kaget mendengar ucapan lisa.
Dan benar saja saat lia memeriksa telpon nya lisa memeang menelpon lia bahkan sudah lebih dari tiga kali.
"Maaf ya lisa ngga kedengaran soal nya"ucap lia.
"Sudah lah kita pulang sekarang"ucap davin yang mengalihkan pembicaraan lia, namun lia bisa tahu kalau davin masih marah saat ini pada nya.
"Rim.. Siap kan mobil"titah davin dan di angguki oleh rimos.
Rimos bergegas menuju ke parkiran bandara sedangkan davin, lia dan lisa menunggu di tempat mereka saat ini.
Tidak lama kemudian mobil nya sudah sampai dan rimos keluar lalu membukakan pintu untuk lisa namun tidak untuk davin dan lia, karna rimos berpikir bahwa davin akan membukakan pintu untuk lia taoi ternyata tidak hingga akhir nya rimos juga membukakan pintu untuk lia.
"Silahkan masuk nona"ucap rimos.
"Trima kasih"ucap lia dan langsung masuk ke dalam mobil di kursi belakang bersama lisa karna davin duduk di sebelah kursi mengemudi.
Setelah mereka semua masuk rimos melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang..
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Hai-hai bestie q makasih udah pada mampir di cerita ku ya dan semoga kalian suka dan bantu juga karya aku ya biar semangat lagi buat nulis nya.
Any way jangan lupa untuk bantu follow dan vote ya hehehh.
Thank you so much udah mampir sekali lagi.
__ADS_1