
"Tidak, tidak papa tuan, kau sangat tampan"tanpa lia sadari lia keceplosan dan langsung menutup mulut nya dengan telapak putih tangan nya.
"Kau bilang apa"ucap davin dengan senyum tipis sangat tipis hampir tidak terlihat.
"Tidak, tidak ada saya mau ke kamar mandi sebentar"elak lia dan berusaha kabur dari hadapan davin tapi davin menghentikan lia yang hendak berjalan ke kamar mandi.
"Katakan itu sekali lagi"ucap davin yang memegangi dagu lia dengan jari-jari tangan nya agar melihat nya.
"Haah, apa, apa yang harus saya katakan, saya sudah mengatakan kalau saya mau ke kamar mandi sebentar"ucap lia dengan gugup.
"Aku tahu kau mengatakan itu, tapi yang aku maksud adalah perkataan mu sebelum itu"ucap davin sambil mengangkat kedua alis.
Sebenar nya lia tahu perkataan yang davin maksud tapi lia takut mengatakan hal itu.
"Kk-kau, anda tut-tuan eemm"ucap lia terbata-bata, davin yang mendengar lia terbata-bata merasa kesal.
"Apa?"ucap davin.
"Kau tampan".
Cup..
Kecupan singkat mendarat di bibir mungil lia dan davin langsung pergi dari hadapan lia setelah memberikan kecupan itu pada lia.
Davin yang sempat menoleh ke belakang dan melihat lia bersikap seperti itu merasa geli dan gemas sendiri karna lia hanya diam dan memegangi bibir nya.
"Sudah dua kali"gumam lia sambil tersenyum manis.
"Tapi ada apa, dia kenapa belakangan ini seperti nya banyak berubah padahal dia adalah orang yang sangat kejam dan dingin pada ku, tapi sekarang kenapa ya?"batin lia yang penuh pertanyaan tapi juga perasaan yang amat bahagi.
__ADS_1
****
Di ruang kerja, davin sedang tersenyum-senyum sendiri dan mengingat kejadian di kamar nya tadi, terkadang tersenyum, terkadang memegangi kepala nya dan bahkan menggerutu diri nya sendiri.
"Kenapa dia begitu menggemaskan sekali"gumam davin dengan senyuman di wajah nya bahkan davin menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Dan kenapa jantung ku seperti terpacu lebih cepat padahal sebelum nya tidak pernah meskipun aku berdekatan dengan nya"tanya davin lada diri nya sendiri.
"Apakah aku menyukai nya, tidak jika aku menyukai nya aku pasti sudah merasakan nya sebelum ini dan lagi aku tidak bisa membuang dengan sia-sia tekad ku yang sudah ku tanam kan di dalam hati ini"batin davin dengan wajah sedih nya dan mengambil sebuah foto di laci meja nya.
"Jika saja kamu tidak meninggalkan ku di hari pernikahan kita mungkin aku tidak akan seperti ini, jika saja kamu jujur aku tidak akan memaksakan kehendak ku untuk menikah dengan mu tapi kamu tidak pernah mengatakan apa pun padaku"ucap davin dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan meluapkan kesedihan nya meskipun hanya sedikit.
Tapi tanpa di sadari ternyata lia mendengar ucapan davin karna lia berada di depan pintu ruang kerja davin, tanpa lia sengaja dan sadari juga bahwa davin sedang sedih saat ini padahal niat lia datang ke ruang kerja nya karna lia ingin bertanya sesuatu pada davin.
Tapi malah tidak jadi karna mendengar davin mengatakan hal itu, akhirnya lia memberanikan diri untuk masuk dan berusaha untuk membantu menenangkan davin.
"Tuan"panggil lia yang sudah berada di samping davin.
"Kenapa kau ada di sini dan apa kau tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk"ucap davin dengan wajah datar.
"Maaf tuan saya lupa"ucap lia.
"Hem, kau memang pelupa"ucap davin yang terkekeh geli mengatakan hal itu.
"Katakan ada apa"tanya davin.
"Tadi nya saya mau bertanya tapi tiba-tiba..."ucap lia terpotong.
"Lupa lagi?"ucap davin dan memperhatikan wajah lia.
__ADS_1
"Heheh, iya"ucap lia sambil menggaruk tengkuk leher nya yang tak gatal, walaupun lia sebenar nya hanya pura-pura lupa karna lia tidak mau membuat masalah nanti nya karna pertanyaan nya.
"Baiklah seperti nya saya harus mengingat kembali apa yang ingin saya tanyakan"ucap lia dan berbalik untuk pergi keluar.
"Tunggu lia"ucap davin memnghentikan langkah lia.
"Iya kenapa"tanya lia.
"Heeehm, apa kau mendenger perkataan ku tadi"tanya davin.
"Tidak saya tidak mendengar nya, saya permisi tuan"jawab lia mengelak dan memilih untuk cepat pergi dari ruang kerja davin.
Davin yang melihat lia pergi hanya menghembuskan nafas kasar.
"Aku tahu kau berbohong lia"gumam davin dan kembali mengeluarkan foto mantan nya.
🍁🍁🍁🍁
Lia kini sedang berada di ruang tengah dan duduk di sofa sambil melamunkan perkataan davin yang tanpa sengaja di dengar oleh nya.
"Kenapa kebahagiaan ku dan harapan ku lenyap seketika"tanya lia pada diri nya sendiri.
"Apa kah wanita di foto itu adalah cinta pertama nya"batin lia.
"Apa kah wanita itu yang telah mengisi hati davin hingga tidak ada yang bisa menggantikan dan mengisi nama wanita lain di dalam hati nya termasuk aku"pikir lia yang sudah meneteskan air mata nya dan memegangi dada nya yang terasa sakit.
"Kenapa sangat sakit dan terasa sesak apa aku sudah mulai mencintai nya, tapi kenapa cepat sekali aku jatuh cinta pada nya"ucap lia yang terisak-isak memegangi dada nya dan karna lia tidak ingin ada yang melihat nya sedang menangis lia pergi ke kamar nya.
Kini lia menangis di dalam kamr davin dan bersender di bawah kasur davin, setelah lama lia menangis lia tertidur dengan mata yang masih basah karna air mata nya.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁