
Sedangkan davin kembali ke kamar nya yang juga akan bersiap-siap dan lia sudah siap untuk pergi menjemput lisa dengan baju tunik bersetelan celana jeans yang terlihat sangat cocok untuk lia.
"Mas davin, bagaimana penampilan ku"tanya lia dengan berdiri anggun di hadapan davin dan membuat davin menelan saliva susah.
"Mas.. Mas davin..Mas Davinn.."lia berkali-kali menyebut nama davin yang terdiam mematung menatap lia.
"Eee iya"ucap davin.
"Ada apa"tanya davin seperti tidak mendengarkan pertanyaan lia.
"Tidak..tidak papa"jawab lia cemberut, kesal dan membelakangi davin.
Davin tersenyum dan memeluk lia dari belakang.
"Sangat cantik, kamu sangat cantik memakai nya tapi kenapa tidak memakai dres saja itu pasti akan lebih terlihat sangat cocok untuk mu"ucap davin dan seketika membuat pipi lia merona.
"Karna aku lebih suka memakai tunik bersetel, lagi pula jika aku memakai dres saat di bandara nanti pasti semua mata akan tertuju pada ku"ucap lia dan sedikit menyombongkan diri untuk memancing davin.
Mendengar ucapan lia seketika wajah davin memerah dan cemburu hingga lia bisa memastika bahwa davin saat ini sedang menahan rasa kekesalan nya dan cemburu nya.
"Aku mau siap-siap kamu tunggu aku di bawah nanti aku menyusul"ucap davin yang melepas pelukan nya dan pergi setelah nya.
Sedangkan lia yang melihat davin cemberut tersenyum geli karna davin yang merajuk pada nya.
"Gemes"gumam lia dan pergi ke luar kamar dengan hati yang bahagia.
Lia turun ke bawah dan sesuai permintaan davin ia menunggu di di bawah fan juga rimos lee yang juga sudah duduk di sofa ruang tengah dengan secangkir kopi di meja.
"Eh tuan rimos lee juga sudah siap ternyata"ucap lia yang menghampiri rimos sedang duduk santai menunggu davin.
"Maaf nona sebelum nya tapi apa kau bisa memanggil ku dengan nama nya saja jangan memanggil dengan tuan karna aku merasa sangat tidak enak."pinta rimos yang memang diri nya merasa tidak nyaman jika istri atasan nya memanggil nya dengan tuan.
__ADS_1
"Aakhaah iya, maaf juga karna telah membuat mu tidak enak dan tidak nyaman"tutur lia dan dia angguki oleh rimos.
Setelah mereka usai berbincang-bincang tidak lama kemudian davin datang dan mengajak lia juga rimos untuk pergi menjemput lisa.
"Ayo kita pergi sekarang"ajak davin yang sengaja tidak melihat ke arah lia dan hanya mengarahkan pandangan nya ke arah rimos lee.
Rimos lee yang melihat sikap davin yang acuh pada lia mengerutkan kening nya dan berjalan mengikuti davin dari belakang sedangkan lia juga mengikuti nya dari belakang namun raut wajah lia yang merasa kecewa pada davin menggertakan kaki nya dengan keras.
"Jika tidak ingin ikut tunggu di rumah saja"ucap davin sedikit ketus.
"Tidak aku akan ikut lagi pula lisa sendiri yang meminta ku untuk ikut menjemput nya jadi aku tidak akan merasa keberatan sama sekali"sahut lia yang juga sedimit ketus pada davin.
Sedangkan rimos hanya mendengar dan diam karna sekarang ia mengerti bahwa sekarang davin dan lia sedang bertengkar.
"Rimos kau yang mengemudi"titah davin dan tanpa ada bantahan rimos langsung mengambil kunci mobil dari tangan davin dan masuk ke mobil di bangku pengemudi, sedangkan lia sudah masuk duluan di belakang nya dan di ikuti davin yang juga duduk bersebelahan dengan lia.
Selama di perjalan saat mobil sudah mengendara di jalan raya hingga hampir sampai di bandara lia dan davin hanya diam tidak ada yang berbicara di antara mereka hanya melihat sekilas dan langsung membuang muka masing-masing.
Tanpa mereka sadari sedari perjalanan mobil mereka sedang di buntuti oleh sebuah mobil mewah sport berwarna merah.
"Kali ini aku akan bertemu dengan istri mu davin"ucap seorang wanita yang tidak lain adalah legisya dengan senyum licik nya.
"Dan akhir nya yang aku tunggu-tunggu datang juga"ucap legisya sambil memainkan jari-jari tangan nya di setir mengemudi.
Hingga mobil yang di davin sampai di bandara dan tidak menyadari mobil legisya yang telah juga berhenti di are parkiran mobil.
"Ayo"ajak davin yang masih tidak memperdulikan lia.
Tanpa melihat lia yang masih duduk di mobil dengan kepala nya yang tiba-tiba kembali sakit tapi lia juga tidak berteriak kesakitan meskipun ia ingin berteriak minta tolong karna menahan sakit.
Davin yang menyadari lia belum turun dari mobil dengan menghela nafas panjang davin menghampiri lia.
__ADS_1
"Apa tidak mau turun, kenapa masih di dalam ayo turun"ucap davin yang meminta lia turun, lia melihat davin yang berusaha bersikap normal di hadapan davon dan juga berusaha untuk menahan rasa sakit di kepala nya.
Tanpa lia sadari bahwa wajah nya sekarang ini sedang pucat dan davin yang melihat nya langsung terkejut dan khawatir melihat lia yang pucat.
"Lia.. Kamu kenapa hahh?"tanya davin yang menghampiri lia dan masuk ke dalam mobil sambil memgangi pipi lia.
"Lia ngga papa mas"jawab lia.
"Tidak papa bagaimana wajah mu pucat seperti ini dan bilang tidak apa-apa"ucap davin.
"πHalo, rimos cepat kau kembali ke mobil dan bawa kan air minum juga"titah davin pada rimos setelah ia mengeluarkan handphone nya dan menelpon rimos.
"Mas davin lia ngga papa"ucap lia yang melihat davin tak berhenti mengelus-elus wajah nya dan mengecupi kening nya.
"Kamu ini sebenar nya sakit apa kenapa belakangan ini aku selalu melihat wajah mu yang pucat?"tanya davin yang membuat lia terdiam dan bingung harus menjawab dan memberikan alasan yang tepat pada davin.
"Jika kamu sedang sakit jangan merahasiakan nya pada ku, mengerti"ucal davin dan hanya dia angguki oleh lia.
Tidak lama kemudian rimos datang dengan membawa sebotol air minum fan langsung memberikan nya pada davin.
"Ayo cepat minum dulu"titah davin dan memberikan botol minum yang telah ia buka tutup nya.
"Nona lia kenapa bos"tanya rimos yang juga melihat wajah lia pucat.
"Tidak papa hanya saja aku sedikit merasa lelah"sela lia saat davin ingin menjawab nya.
"Baik lah aku sudah merasa baikan sekarang, ayo mas kita turun"ucap lia yang mengalihkan pandangan davin dan rimos karna mereka berdua memandang lia dengan penuh selidik.
ππππππππππππππππ
(Maaf ya baru up setelah dua hari ber turut-turut ngga upππππ)
__ADS_1