
(Ok bestie, aku lanjut lagi cerita nya ya semoga buat kalian yang baca novel nya ngga bosen dan semoga kalian juga suka sama cerita yang aku buat).
"Aku rasa begitu, ayo ikut aku"ucap davin dan langsung menggenggam tangan lia dan membawa nya pergi dari sana.
"Hei kalian mau kemana"tanya rimos karna davin tidak memberi tahu diri nya atau bahkan berpamit pada nya namun apa lah daya rimos hanya berdengus kesal karna davin yang menggubris nya.
"Mas davin ngga boleh gitu tuan rimos itu kan bukan hanya sekedar asisten mu tapi juga sahabat mu"tegur lia.
"Tidak papa sayang aku sudah biasa melakukan hal itu pada nya"ucap davin.
"Iya maka dari itu kebiasaan harus di hilangkan mas apa lagi mas davin sikap seperti itu tidak baik tau"ceramah lia dan davin hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Sekarang aku kena ceramah garacgara kau"gumam davin sambil menoleh kebelakang melihat rimos yang hampir tak terlihat.
"Mas davin keterlaluan"ucap lia.
"Iya iya baik lah lain kali aku tidak akan seperti itu, Ok"ucap davin dan menarik hidung lia.
Karna mereka berdua berjalan-jalan tanpa tau tujuan davin mengajak lia, tiba-tiba lia merasa lelah dan meminta davin untuk berhenti sebentar.
"Kenapa sayang apa kamu baik-baik saja"tanya davin panik dan mengelus-ngelus pipi lia.
"Aku sedikit lelah mas, ngga papa kan kita istirahat sebentar"jawab lia dan di angguki oleh davin.
"Apa kamu mau minum"tanya davin dan lia hanya menggelenglan kepala nya.
"Hhm, baiklah kita istirahat sebentar"ucap davin.
__ADS_1
Lia dan davin duduk di bawah pohon rindang dan sesekali mata davin melihat ke sekeliling jalan sedangkan lia hanya termenung.
"Tidak berguna sekali"gumam lia.
"Kamu bilang apa tadi"tanya davin karna tanpa sengaja saja davin mendengar ucapan lia.
"Hah, tidak tidak ada"jawab lia yang memaksakan untuk tersenyum.
"Hahhh, bodoh sekali kenapa seperti ini semua seakan menjadi berantakan dan hancur seandai nya aku tau sejak lama tentang penyakit ku mungkin tudak akan seperti ini keadaan nya, bahkan aku sydah banyak membuat orang susah karna diri ku"lirih lia dalam hati nya.
"Pertama tante erna yang meninggalkan ku dan menikah tanpa sepengetahuan ku lalu aku juga membuat bibi aminah menanggung tanggung jawab yang aku buat karna kepentingan ku dan sekarang aku membuat mas davin juga kesulitan dan selalu panik saat melihat ku tampak tidak baik"lirih lia yang tanpa ia sadari air mata nya sudah membasahi pipi nya.
Davin yang menyadari lia yang tiba-tiba menangis bertambah khawatir dan dengan sigap membawa lia dan memdekap nya ke dalam pelukan nya.
"Kenapa menangis apa kamu merasa sakit, katakan pada ku jangan diam saja"tanya davin dan memgeratkan pelukan nya.
Hiks..hiks..hiks..
Lia melepaskan pelukan nya dan mendongkan kepala nya untuk melihat wajah davin karna lia menyadari akan suara davin seperti sedang menahan sesuatu.
"Mas davin kenapa mata nya"tanya lia yang sebenar nya ia sudah tahu tapi lia hanya ingin memdengar alasan itu dari mulut davin sendiri.
"Dengarkan aku jika kamu menangis maka aku akan merasa sakit dan aku tidak akan bisa tenang jika melihat mu menangis seperti tadi"ucap davin yang memegangi kedua pipi lia.
"Katakan pada ku kenapa kamu menangis, hm?"tanya davin.
"Tadi lia nangis karna lia__"baru saja lia ingin menjawab pertanyaan davin namun tiba-tiba saja suara seorang pria memanggil nama lia dari kajuhan dan pria itu menghampiri lia.
__ADS_1
"Hai, bagaimana kabar mu"tanya pria itu yang ternyata adalah dokter hendra.
"Aakh, aku baik. kamu sendiri bagaimana?"jawab lia dan juga balik bertanya pada nya.
"Aku juga baik"jawab dokter hendra.
"Ya ampun.. Aku harap dia tidak mengatakan apa pun tentang aku dan bi aminah saat itu"ucap lia dalam hati nya.
"Sayang dia siapa?"tanya davin dengan kedua pipi yang memerah karna tidak suka dengan pria yang berada di hadapan mereka berdua.
"Dia dokter hendra mas"jawab lia.
"Dokter bagaimana kamu tahu dia dokter bukan kah kamu__"ucap davin dengan nada yang tidak menyenangkan namun lia hanya tersenyum mendengar ucapan davin.
"Aakh, perkenalkan aku hendra sahabat nya adelia"ucap dokter hendra dengan ramah.
"Aku sudah tau nama mu hendra"ucap davin yang membuang muka.
"Mas davin ngga boleh gitu dia sahabat ku loh mas, kita sahabatan saat masih duduk di bangku sma dan sekarang juga kita masih menjadi sahabat hanya saja kita berdua jarang bertemu"ucap lia menjelaskan dengan berharap davin dapat mengerti.
"Eee aku pergi duluan ya soal nya aku ada janji dengan pasien ku"ucap dokter hendra yang mengerti bahwa keberadaan nya membuat suami sahabat nya merasa terganggu.
"Hmm baiklah hati-hati"pesan lia sedangkan davin memincingkan bibir nya melihat lia begitu ramah pada dokter hendra.
Saat dokter hendra benar-benar telah pergi davin kembali duduk dan membuang muka pada lia.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Ok sampai disini dulu ya bestie, semiga kalian suka dan jangan lupa ya buat bantu karya aku supaya aku bisa tambah semangat buat nulis cerita nya
...Thank you for dropping by at my stall...