
"jadi itu nama panjangmu ya? Artinya indah." Ujar Shaquil tersenyum manis.
"Lalu, bagaimana dengan arti namaku?" Ucap Rosean menggembungkan pipinya yang terlihat sangat imut.
"Namamu juga memiliki arti yang indah kok, aku tidak bohong."
Shamus tiba- tiba merangkul pundak Shaquil lagi. Menatap Shaquil penuh arti, walaupun Shaquil tidak tahu apa yang sedang di pikirkan anak itu sekarang.
Shaquil hanya cuek, tanpa peringatan, Shamus di tarik ke belakang oleh Rea. Seperti membawa seekor kucing, Rosean dan Shaquil hanya diam memperhatikan.
"Ngomong- ngomong, ini ada di mana, ya?" Tanya Shaquil melihat sekeliling.
"Kalian ada di dekat kuburan makam penjahat." Ujar Rosean dengan tatapan polos.
"Oh~"
Yang lainnya menatap Rosean terdiam sebentar, mencerna yang dikatakan Rosean tadi. 'Makam penjahat'.
3
2
1
"Aaaahhhhh!!!"
Shamus dan Rea lari duluan meninggalkan Shaquil dan Rosean. Tentu saja, Shaquil ikut berlari, tapi ia tidak sadar kalau ia menggemggam tangan Rosean saat berlari.
Mereka lari karena, ada cerita mengatakan kalau. Siapapun yang datang ke pemakaman untuk para penjahat dan tidak segera pergi dari sana.
Maka mereka akan di tarik ke dalam lubang yang di gali untuk orang- orang hina itu. Walaupun sebenarnya Shaquil tidak percaya, tapi kalau itu benar- benar terjadi kan bisa gawat.
Akhirnya kami berhenti dengan jarak yang cukup jauh, sekitar 30 meter. Jika ada yang tanya luas sekolah itu, sekolah itu sangat luas.
Sekitar 7 kalinya Dufan di Jakarta, bayangkan saja, sebesar itu. Pantas kalau muridnya juga bisa di bilang lumayan banyak.
Tiga hari saja tidak akan cukup untuk mengelilinginya. Itu luas sekolah udah di tambah asramanya
Kembali pada Shaquil dan yang lainnya, napas mereka terengah- engah. Mereka memutuskan duduk di dekat pohon di samping mereka. Tangan Shaquil masih menggenggam tangan Rosean.
"Em, Shaquil, tanganmu." Ucap Rosean sedikit malu- malu.
"Hm? Tangan? Ah, aku benar- benar minta maaf, aku tidak sengaja tadi!"
Shaquil menjadi panik dan wajah Rea malah semakin kecut saat dilihat. Shamus yang di tengah- tengah mereka berdua hanya bisa menahan ketawa senang.
"Bentar lagi akan ada drama nih." Batin Shamus.
"Ti, tidak apa- apa. Ayo, kita segera mengambil seragamnya."
Rosean tiba- tiba berdiri, hal itu membuat Shaquil sedikit kaget. Rosean mengantar mereka ke tempat pengambilan seragam, sekalian mengambil seragamnya tentu saja.
Ini seragam kesatria perempuan
__ADS_1
Ini seragam kesatria laki- lakinya
Ini Seragam penyihir perempuannya
Ini seragam penyihir cowoknya, bukan tambahan pemeran. Kalo mau dia di tambahin juga nggak papa. Komen ya mau di tambahin atau nggak.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang ke asramaku dulu, ya." Ujar Shaquil pamit pergi.
Yang lainnya mengangguk dan tentu saja Shamus ikut dengan Shaquil karena mereka satu kamar. Saat masuk ke kamar, ternyata Caldwel sedang mendengarkan musik lewat headset sambil berbaring di kasurnya.
"Hei,"
Caldwel tidak menjawab panggilanku dan hanya diam terus menutup mata. Bugh, Shaquil melempar bantalnya tepat ke arah wajah Caldwel. Caldwel terkejut langsung melepas headset nya dengan wajah marah.
"Kau ini kenapa sih?" Tanyanya dengan wajah geram.
Shaquil menghela napas berat, "Kau ini kenapa jutek banget sih?" Tanya Shaquil.
"Bukan urusanmu!"
Caldwel membalikkan badan seraya melapisi tubuhnya dengan selimut. Shaquil menghela napas dan pergi ke balkon.
"Padahal aku cuma mau tanya nama panjangnya doang." Batinnya kesal.
Mata Shaquil tertuju pada sesosok orang yang cukup akrab dengannya. Ternyata tetangga depannya adalah Rosean.
Rosean pun berbalik dan menatap wajah pemuda yang memanggilnya itu. Sepertinya bukan hanya Rosean yang ada di kamar itu, ada Rea juga.
"Hai, Shaquil." Terial Rea menyapaku.
"Ternyata kau teman sekamar Rosean ya?"
"Ya, bisa di bilang begitu." Jawab Rea.
"Bagaimna kabarmu?" Tanya Rosean.
"Baik."
Kami terus tersenyum sampai sosok yang menyebalkan datang menghampiri kami, siapa lagi kalau bukan Shamus?
"Hai, kalian, apa yang kau lakukan di balkon? Apa kau sakit hati karena perkataan Caldwel tadi?" Tanya Shamus kepada Shaquil.
"Caldwel? Siapa Caldwel?" Rea memiringkan kepala.
"Oh, Caldwel adalah salah satu murid laki- laki di sekolah penyihir Witch." Rosean menjelaskan dan Rea mengangguk paham.
Mata Shaquil menangkap sesosok gadis lagi yang ada di belakang Rosean dan Rea. Shamus juga melihat sosok itu, Shamus bahkan hampir tidak berkedip.
"Wanita yang imut." Batin Shaquil.
__ADS_1
"Hei, siapa gadis di belakang kalian itu?"
Shamus bertanya lebih dulu dari pada Shaquil, Shamus terus menunjuk ke arah gadis itu terlihat sangat bersemangat.
Pasti karena dia playboy kan?
Rosean dan Rea berbalik badan mencari gadis yang kedua pria itu maksud. Mereka ber oh panjang, tanda mengerti.
"Dia ya?" Tanya Rosean menunjuk gadis yang di bilang 'imut' oleh Shaquil tadi.
Shaquil mengangguk, "Dia adalah teman sekamar kami, namanya Lynelle Mettasha." Ujar Rosean.
Lynelle, gadis berambut ungu muda menyala dengan mata biru laut. Memakai jaket putih dengan tutup jaket berbentuk hamster imut.
Wajahnya Lynelle Mettasha. Lynelle artinya cantik, Mettasha artinya mutiara harapan. Anaknya itu imut, agak sedikit polos tapi nggak bodoh, kok.
"Lynelle, kemarilah." Panggil Rea.
"Ada apa?" Tanya Lynelle bingung.
Lynelle melihat Shaquil yang bisa di bilang tampil agak feminim jadi punya kesan imut kaya Lynelle.
"Siapa, laki- laki imut itu?" Lynelle menunjuk Shaquil.
Sontak Shaquil terkejut karena ini pertama kalianya ia di bilang imut oleh seorang gadis. Walaupun itu bukan cacian melainkan kata- kata pujian.
"Namaku Shaquil Carlir, halo Lynelle." Sapa Shaquil.
Lynelle tampak masih agak malu- malu kucing, meow🐱. Shaquil hanya terkekeh geli, sedangkan Shamus, dia masih tersihir dengan keimutan Lynelle.
"Oh, jadi kau juga kesini ya, Lynelle si gadis imut?"
Shaquil pov
Kata- kata itu sepertinya bukan cacian, tapi entah kenapa terasa seperti itu. Orang yang bertanya adalah, Caldwel.
Pertamanya aku geram karena bocah menyebalkan itu tiba- tiba muncul begitu saja. Tapi aku tetap menahan diri karena ada yang lainnya di sana.
"Apa maksud perkataanmu itu, Caldwel?" Tanyaku dengan nada bicara agak di tinggikan.
"Itu bukan urusanmu, aku bertanya pada gadis itu." Caldwel menunjuk ke arah Lynelle, membuat Lynelle menjadi sedikit ketakutan.
Aku mulai geram dengan sikap Caldwel yang berbicara agak kasar kepada Lynelle. Wajahnya memang terlihat ramah, tapi sebenarnya dia adalah orang berhati dingin.
"Memuakkan." Batinku.
"Hei, cec*ng*k sialan! Berani- beraninya kau berkata seperti itu!"
Taulah siapa yang mengatakannya, ya, dia adalah Rea. Kata- katanya memang kasar, tapi hatinya seperti hello kitty, sangat baik dan lembut. Aku akui, dia selalu membela kebenaran, itulah yang aku suka dari dia.
"Heh, siapa kau berani ikut campur?" Tanya Caldwel.
"Kami mungkin bukan siapa- siapa, tapi kau tidak boleh menghina perempuan hanya karena mereka lemah!" Ujar Rosean.
__ADS_1
Kata- katanya memang logis, tapi entah kenapa aku merasa kesal saat mendengar kata 'lemah' itu.
BERSAMBUNG~