
"Menjadi, murid Bu Miya satu- satunya?"
"Benar, jadi jika kau mendapat masalah, aku bisa membantu mu untuk keluar dari masalah itu."
Shaquil terdiam sejenak, Bu Miya melipat kedua tangannya di dada menunggu jawaban dari Shaquil.
Tatapan itu, tatapan serius yang terpancar dari mata biru es Shaquil membuat Bu Miya sedikit tersentak.
"Beri aku waktu untuk berpikir beberapa hari."
"Baiklah, asalkan kau tidak memberi harapan palsu, sih. Tidak masalah bagiku."
"Terima kasih, saya undur diri dulu."
Shaquil membungkuk dan meninggalkan Bu Miya menggunakan sihir teleportasi yang ia pelajari dari sebuah buku di perpustakaan.
"Oh, dengan kata lain, dia tidak hanya mengambil satu sekolah bukan? Tapi kalau di ingat- ingat lagi, seharusnya sekolah Witch belum sampai tahap sihir teleportasi. Dia lebih hebat dari yang aku duga."Batin Bu Miya.
Di sisi Shaquil yang sedang membuat Ryu Ice tidur siang di kamar. Shaquil terus bergumam sambil menepuk- nepuk lembut perut Ryu Ice.
"Aka da pa(Kakak ada apa)?"
"Hm, aku baik- baik saja. Aku hanya memikirkan penawaran Bu Miya saja."
"Pa aka uka eanah(Apa kakak suka memanah)?"
"Ya, aku cukup menyukainya. Tunggu dulu, kenapa kau tidak tidur?"
"Atu eum atuk(Aku belum ngantuk)."
"Tidak boleh begitu, kau harus tetap tidur."
"Atu dak aka idu(Aku nggak akan tidur)."
Beberapa menit kemudian, zzzzz, Ryu Ice berhasil tidur siang dan senyum lega terukir di bibir Shaquil. Semenit kemudian, brak, ada orang yang membanting pintu.
Tak, sontak Ryu Ice kemudian terbangun dari tidurnya, tapi anehnya, dia hanya mengucek mata dan tidak menangis.
Shaquil pun menggendong Ryu Ice dan mendekat ke arah orang itu. Buagh, ia memukul kepala orang itu yang tak lain adalah Shamus dengan amat kuat.
"Dasar Shamus bodoh! Kenapa kau membanting pintu begitu kuat?!"
"Aw, maaf, aku tidak sengaja!"
Brak, Shamus kembali menutup pintu dengan kencang. Sret, kemudian ia menarik tangan Shaquil menuju ke dalam kamar mandi(?!).
"Hei, apa yang kau lakukan?! Kenapa kau menyeret ku ke dalam kamar mandi bodoh!"
"Shut, diamlah!"
Set, jari telunjuk Shamus menyentuh bibir merah muda milik Shaquil. Mata Shaquil terbelalak sempurna tak kala Shaquil langsung menepis tangan Shamus.
"Kau ini apa- apaan sih? Bisakah kau menjelaskan hal ini terlebih dulu?"
Grep, Shamus mencengkram pundak Shaquil dengan tatapan serius dan membuat Shaquil tambah kaget sekaligus kebingungan.
"Shaquil gawat, tadi aku melihat hantu di bagian belakang sekolah!"
__ADS_1
Shamus menggoyang- goyangkan tubuh Shaquil sambil di iringi teriakan histeris yang amat membahana dan terdengar sampai kamar doi.
Buagh, grep, Shaquil kembali memukul kepala Shamus dan bergantian memegang pundak. Tapi tatapan Shaquil sangat teramat tajam dan menakutkan.
"Cuma gara- gara hantu saja kau membangunkan anak kecil tidur? Betapa jahatnya kau ini Shamus!"
"Tapi, ngomong- ngomong soal itu, kenapa Ryu Ice bisa melayang?"
Set, Shaquil memalingkan wajah menatap Ryu Ice yang kini tengah melayang bagaikan arwah gentayangan yang sedang mencari mangsa.
"Itu karena aku meletakan sihir yang membuatnya melayang idiot!"
"Aku bukan idiot!"
"Kalau kau bukan idiot, berarti kau itu bodoh!"
"Itu sama aja kali bambank!"
"Alian irip ama ana ecil ang eutan emen(Kalian mirip sama anak kecil yang rebutan permen)."
"Ralat, anak kecilnya itu si Shamus jelek ini, ya."
"Siapa yang kau bilang jelek tadi, ha?!"
Khek, Shaquil mencekik leher Shamus saking sebelnya menghadapi sikap konyol bin nyebelin dari Shamus.
"Aku akan benar- benar menghabisi mu saat aku sudah kehilangan kesabaran."
"Berarti selama kau belum kehilangan kesabaran berarti aku masih aman, kan?"
Khek, Shaquil mencekik leher Shamus semakin erat sampai Shamus kesulitan bernapas. Dengan sekuat tenaga, Shamus memukul- mukul tangan Shaquil.
"Aka, eakan ia(Kakak, lepaskan dia)!"
Sret, atas permintaan Ryu Ice, Shaquil pun melepaskan cengkramannya. Shamus pun langsung menghirup udara dengan rakusnya.
"Hah, hah, hampir saja aku, hah, mati tahu!"
"Aku tidak habis pikir, kenapa para gadis- gadis itu menyukai mu, sih?"
"Kamu cemburu ya, gara- gara popularitas ku lebih tinggi dari pada kamu, kan?"
"Kau benar- benar mau mati, ya?!"
Saat Shaquil hendak mencekik leher Shamus kembali. Ryu Ice menghalangi niat kakaknya yang cukup sadis itu saat sedang marah.
"Aka angan, ain ali aa ang unuh(Kakak jangan, lain kali saja yang bunuh)."
"Be, eh?! Apa maksud perkataan 'lain kali' itu, hah?!"
"Kau berani membentak adik, ku!"
Di sisi luar kamar, ada seseorang lagi yang masuk dan orang itu tak lain adalah Caldwel. Caldwel pun tak sengaja mendengar suara dari dalam kamar mandi.
Brak, Caldwel pun mendobrak pintu kamar mandi dan melihat Shaquil, Shamus, beserta Ryu Ice di dalamnya. Saat masuk, Shaquil terlihat sedang mencekik leher Shamus.
"Apa, yang kalian lakukan?" Tanya Caldwel terlihat polos.
__ADS_1
"Kau kenapa masuk kesini?" Tanya Shamus dan Shaquil bersamaan.
"Ao ak Awel(Halo kak Caldwel)."
"Ryu Ice, apa kau, menyapa ku?"
Ryu Ice mengangguk dan sorot mata Caldwel kembali mengarah ke tingkah konyol Shaquil yang masih mencekik Shamus.
"Kalian ini sedang apa, sih?" Tanya Caldwel lagi.
"Sedang memukul Shamus. Kenapa kau kesini Caldwel?" Shaquil melepas leher Shamus.
"Apa kau membaca trending topik hari ini?"
"Trending, topik?" Tanya Shamus yang mulai bangun.
"Ya, hei Shaquil apa itu benar? Kalau Bu Miya sendiri yang memintamu menjadi muridnya?" Tanya Caldwel.
"Iya." Jawab Shaquil to the point.
Satu kamar pun menjadi sangat hening, Shamus dan Caldwel menganga tidak percaya. Sementara Shaquil dan Ryu Ice memasang wajah bingung dengan keadaan yang terjadi.
"Me, memangnya kenapa?" Tanya Shaquil.
"Kau tidak tahu? Jika sampai Bu Miya sendiri yang memintamu menjadi muridnya. Itu artinya di matanya kau adalah murid yang hebat! Terbaik di antara terbaik!" Ujar Caldwel tiba- tiba menjadi cerewet.
"Itu tidak dapat di percaya! Apa yang kau lakukan sampai Bu Miya memintamu menjadi muridnya?!" Tanya Shamus ikut- ikutan heboh.
"Iu aena aka easil eang ai u iya alam omba eanah(Itu karena kakak berhasil menang dari Bu Miya dalam lomba memanah)."
"Kau, menang dari Bu Miya dalam lomba memanah? Tidak bisa di percaya!" Ujar Shamus.
"Ini hebat, tidak ada yang pernah mengalahkan Bu Miya dalam lomba apapun! Apa lagi lomba memanah itu adalah keahlian terbaiknya!" Ucap Caldwel.
"Aku memang hebat gitu, loh." Batin Shaquil.
"Jadi, apa kau menerima tawaran Bu Miya itu?" Tanya Caldwel.
"Sebenarnya sih, aku tadi sedang memikirkannya. Mau aku terima atau tidak." Jawab Shaquil.
"Dasar Shaquil bodoh! Itu adalah kesempatan emas! Jika kau menerima tawaran Bu Miya, maka kau akan menjadi lebih hebat!" Ujar Shamus.
"Begitu, kah?" Tanya Shaquil.
"Benar, tapi nanti jangan lupa bagi- bagi ilmunya, ya!" Ujar Caldwel.
"Tentu saja. Baiklah, kalau begitu, aku akan menerima tawaran Bu Miya." Ucap Shaquil.
BERSAMBUNG~
\-Iklan\-
"Jadi lu milih nerima tawaran si Bu BK itu? Aku pikir kau akan menolaknya." -Author dengan senyum ngejek.
__ADS_1
"Huh, itu juga karena aku ingin jadi lebih kuat! Kalau tidak tentu saja aku akan menolaknya, tahu!" -Shaquil.
"Iyain aja, deh. Tunggu next chapternya ya, guys!" -Author paling imut/ plak.