
Lagi- lagi, lagi- lagi anak itu memperlihatkan wajah datar bagai tembok baja di depan rumah. Ayolah, kenapa kau menjadi sangat dingin? Di mana Meira kecil ku yang selalu tersenyum?!
Lihat, dia bahkan tidak menjawab sama sekali. Jangankan menjawab, dia malah memalingkan wajah tidak mau bertemu pandang dengan ku! Memang wajah ku sangat jelek apa?! Sampai- sampai dia melakukan hal tidak sopan begitu?!
"Kakak tidak perlu tahu." Ujar Meira.
Sialan, setelah beberapa saat kenapa malah itu yang keluar dari mulutmu?! Aku ini kakak mu! Setidaknya jawab dong! Ah, lupakan. Kesabaran ku sudah habis. Aku ingin jawaban, dan akan aku dapatkan!
"Meira, jawab aku. Dari mana kau mendapatkannya?!"
"Ini sudah malam. Ayo kita kembali."
"Eliza Luvenia! Anak dari Dewa Catherine yang cantik dan terhormat. Mohon jawab pertanyaan ku!"
Huh, akhirnya anak itu menoleh ke arahku dengan tatapan kagetnya. Ya, ya, memang itu adalah hal yang mengejutkan juga, sih. Kita lihat, mau sampai kapan, kau memasang wajah tembok baja menyebalkan itu.
Eliza Luvenia, benar, itu adalah nama asli dari seorang anak kecil bernama Meira Lulana. Menyebalkan, beraninya dia mendekati ku dengan wajah yang menyedihkan. Aku pasti, akan mengetahui kebenarannya sekarang.
Author pov
Meira, tidak, maksudnya Eliza Luvenia. Anak perempuan itu berbalik dan menatap Adriana masih dengan wajah datarnya. Tapi dapat di lihat dengan jelas, di tatapan mata birunya itu, terselip banyak sekali pertanyaan.
"Jadi, kau sudah tahu?" Tanya Meira.
"Ya, benar. Sejak kau datang, aku terus menyelidiki mu. Tak ku sangka, ternyata kau adalah anak dari Dewi Catherine. Sungguh mengejutkan sekali."
Meira menghela napas, "Aku pikir kau itu idiot."
"Enak saja. Sekarang jawab pertanyaan ku, dari mana kau mendapat kekuatan mengerikan itu!"
Eliza menaruh tangannya di sebelah pinggang dengan sorot mata tajam yang entah kenapa seperti tatapan lembut. Set, tangan yang satunya lagi di angkat dan terlihatlah potongan- potongan ingatan di sekeliling mereka.
Adriana nampak bingung sekaligus tidak mengerti. Tapi jika di lihat lebih saksama lagi, sepertinya itu adalah pertemuan Eliza dengan seorang laki- laki misterius. Wajahnya, tidak terlalu terlihat. Mungkin karena gelap?
"Apa ini?" Tanya Adriana.
"Kau menginginkan jawaban bukan? Aku sudah memberitahukannya pada mu."
"Sialan, apa IQ ku semakin turun?"
Adriana menggaruk bagian belakang kepalanya, tak luput dengan iris biru yang masih menatap satu sama lain. Rasanya semakin bingung dan ruwet saja. Cerita ini tentunya.
"Meira, ah, salah. Eliza, bisakah kau memberitahu ku, siapa lelaki itu?"
Meira mengangguk, kemudian teratai besar berwarna merah muda cantik muncul. Zhung, Adriana langsung menatap horor. Ia paling benci mendengarkan cerita. Apa lagi kalau berjam- jam, rasanya seperti neraka.
"Baiklah, silahkan Kak Adriana untuk duduk."
__ADS_1
Benar saja, Eliza langsung naik ke teratai itu dan duduk bersila seperti biksu. Atau mungkin petapa atau pendeta? Intinya itulah. Dengan pasrah dan ogah- ogahan, Adriana melakukan apa yang di suruh Eliza.
"Sialan, aku harap tidak tertidur di tengah cerita." Gumam Adriana.
"Ekhem, sebelum aku bercerita. Aku akan melakukan itu dulu."
"Hah?"
Adriana memiringkan kepalanya bingung tidak mengerti. Semburat kecil muncul di pipi Eliza. Wush, pakaian Adriana seketika berubah menjadi gaun berwarna merah muda cantik bercampur biru.
"Loh?"
"Sekarang aku akan mulai cerita. Jadi, jangan sampai tidur!" Ancam Eliza.
"Iya, iya, Meira, ah, Eliza yang cantik~"
"Jijik."
"Sialan!" Gumam Adriana.
Heh, akhirnya wajah tembok baja itu menampilkan senyuman. Membuat Adriana melupakan semua rasa kesal dan frustasi nya. Layar ingatan itu semakin membesar dan berada di tengah- tengah Adriana dan Eliza.
"Dia adalah ayah ku, dewa kegelapan." Ucap Meira.
"Dewa kegelapan? Memang sejak kapan Dewi Catherine hamil?"
"Sejak lima tahun setelah kau lahir di dunia."
"Begitu, tapi aku tidak pernah dengar kalau Dewi Catherine menikah."
"Karena memang tidak ada yang tahu."
"Eh?"
Adriana memiringkan kepala bingung tidak mengerti. Sementara Meira hanya menampilkan senyum manis agak pahit seperti kopi yang kekurangan gula. Atau hidup kekurangan kebahagiaan.
"Yang benar saja, tidak ada yang tahu tentang pernikahan Dewi Catherine?"
"Tidak ada, karena itu juga adalah sebuah tragedi yang seharusnya tidak terjadi."
"Tragedi?"
"Hari itu..."
Tepat di malam tahun baru yang sangat gelap karena bulan tidak muncul. Keduanya melakukan hubungan intim dengan tidak sadarkan diri. Dewi Akansha memberi mereka berdua sebuah peringatan.
Yaitu, anak dari mereka berdua, tidak boleh hidup di dunia dewa dewi maupun dunia malaikat atau bidadari. Dengan kata lain, Eliza Luvenia, harus tinggal di dunia manusia. Akan ada beberapa malaikat yang menjaganya selagi di sana.
__ADS_1
Catherine mengecup kening Eliza sebelum Eliza di antar pergi menjauh darinya. Sebagai seorang ibu, tentu Eliza merasa sangat sakit seperti teriris. Tangisannya tidak berhenti selama beberapa hari. Ia bahkan di kabarkan jatuh sakit dan koma.
"Ah, maaf, seharusnya aku tidak bertanya tentang itu." Ucap Adriana merasa bersalah.
"Tidak apa- apa, lagi pula itu bukanlah masalah besar. Aku saja sudah bahagia bersama Kak Adriana."
"Eliza, kau memanglah anak yang baik. Tapi, kau harus menyingkirkan sihir gelap itu sepenuhnya sekarang."
Adriana berdiri dengan penuh keyakinan, ia mengeluarkan pedang the sword of light miliknya. Berniat menebas Eliza, tenang, nggak sakit. Cuma agak nyeri- nyeri dikit.
"Kak Adriana..."
"Maafkan aku Eliza, tapi sihir hitam itu. Tidak boleh bersarang terlalu lama di dalam tubuh mu."
"Baiklah, kalau itu yang Kakak mau. Akan aku lakukan."
"Maaf, Eliza."
"Tidak apa, Kak. Lakukanlah, tanpa sedikitpun keraguan."
"Maaf."
Zrash, the sword of light di ayunkan membelah angin tepat di tengah. Deg, beberapa darah keluar dari mulut Eliza. Darah itu agak sedikit berwarna hitam, selain itu Eliza terus meringis kesakitan.
Panik, Adriana langsung mendekap Eliza ke pelukannya. Tidak peduli berapa banyak darah yang akan mengalir, tidak peduli berapa tangisan yang terdengar. Adriana harus terus menguatkan Eliza.
"Uh, sakit, Kak...!"
"Bertahanlah Eliza. Semuanya akan, baik- baik saja. Percayalah pada ku."
"Kakak sakit...!"
"Tetap tenang Eliza. Tetaplah tenang."
"Uhuk!"
Darah berwarna hitam itu kembali termuntahkam dan Eliza langsung pingsan di tempat. Adriana mengecup kening Eliza lembut, takut membangunkan anak manis di dekapannya itu.
"Aku akan menyembuhkan mu sekarang Eliza."
Prok, prok, prok, suara tepukan tangan yang sangat tidak asing di telinga Adriana. Tanpa menoleh pun, Adriana sudah tahu siapa pelaku yang sedang menonton dia dan Eliza.
"Manis sekali."
"Ck, kenapa kau tidak ikut mati saja, sih? Leanna?"
Bersambung
__ADS_1