Magician Knight

Magician Knight
Mencurigakan


__ADS_3

Adriana dan anak- anak lainnya kecuali Hillary, Kiano, dan Lixue. Semuanya bermain lempar- lemparan salju dan tertawa bahagia. Lixue, tatapannya terlihat sayu dan hampa.


Lixue memalingkan wajah terlihat sangat sedih. Adriana melirik ke arah Lixue, tatapan Adriana pun ikut sayu.


"Anak itu, apa dia baik- baik saja?" Batin Adriana.


Saat Adriana lengah, ada sebuah bola salju mengarah kepadanya. Buagh, bola salju itu menghantam pipi Adriana. Nggak sakit, sih, tapi sebel aja rasanya pas serius di usilin.


Adriana menatap datar ke wajah si pelaku yang tidak lain adalah Hyuga. Hyuga hanya tertawa dan tersenyum dengan wajah tidak berdosa. Uh, rasanya benar- benar ingin memukul tapi takut orang gantengnya berkurang satu.


"Kau ini...!" Adriana menggetarkan gigi.


Adriana membentuk sebuah bola dan melemparkannya tepat ke wajah Hyuga dan membuat dia terjatuh. Semuanya terdiam tidak berkata- kata.


"Rasain, tuh." Ucap Adriana.


Caldwel tertawa kecil di belakang menertawakan sikap Hyuga yang membangunkan singa tidur. Adriana memalingkan wajah kesal.


"Dia nggak tahu apa kalau membuat perempuan marah sama dengan bunuh diri? Dasar bocah halu." Batin Caldwel.


"Baiklah, ayo kita pergi makan. Sesuai kesepakatan, Hyuga dan Caldwel lah yang membayar!" Ujar Adriana.


"Dasar guru nggak modal." Ucap Kiano.


Jleb, sekali lagi Kiano benar- benar minta di pukul. Adriana menatap ke belakang dengan tatapan tajam yang sangat menakutkan. Kiano bergidik ngeri.


"Kau bilang apa tadi, dasar anak mulut paprika?" Tanya Adriana.


"A, aku bilang kita harus segera pergi sekarang. Perut ku sudah mulai kelaparan."


Kiano segera pergi dan tidak melihat ke belakang. Adriana memberi kode untuk berhenti bermain dan segera pergi dari tempat beku dan menyenangkan itu.


"Dasar penakut, masa dengan perempuan saja penakut?" Batin Hillary.


Set, sekarang mereka sudah sampai di tempat yang mereka tuju. Restoran You Are Beautiful, sama seperti namanya, banyak sekali gadis cantik di dalamnya.


"Ayo masuk." Ajak Adriana.


Kriet, pintu di buka oleh seorang pelayan restoran. Adriana memilih meja yang berdekatan dengan jendela agar mereka tahu apa yang terjadi di luar.


"Kakak- kakak, ini menunya, ya."


"Baiklah, terima kasih, ya, Mbak."


Adriana mengambil buku menu yang di sodorkan pelayan restoran. Banyak sekali menu menarik dan mahal di dalamnya. Adriana memberikan buku menu itu kepada anak- anak muridnya.


"Nih, kalian saja yang pilih." Ucap Adriana.

__ADS_1


"Oh, baiklah kak Adriana." Ujar Anahita.


Hillary, Kiano, dan Lixue terlihat bodo amat sambil menyilangkan tangan di dada. Zhung, ada sesuatu yang bergetar di dalam saku Adriana. Ia kemudian merogohnya.


Tampaklah sebuah benda berbentuk tetesan air mirip gantungan kunci berwarna biru campur emas. Itu adalah alat komunikasi antara Adriana dan kekaisaran Reala.


"Adriana, ada apa?" Tanya Caldwel.


"Apa ada masalah di kekaisaran?" Tanya Hyuga.


"Aku pergi ke kamar mandi, kalian memesan saja dulu." Ucap Adriana.


Adriana pergi ke kamar mandi untuk menjawab panggilan kekaisaran. Di dalam kamar mandi, Adriana mulai mengaktifkan benda yang di sebut 'komunikatorius' itu.


"Ya, ratu, kenapa Anda memanggil saya?"


"Begini Adriana, beberapa saat yang lalu, ada orang yang berusaha membunuh saya. Apakah kamu bisa mengeceknya sekarang?"


"Baiklah ratu, saya akan sampai secepat yang saya bisa."


"Terima kasih, Adriana. Kami tahu kami bisa mengandalkan mu."


Bip, telpon itu berakhir dan Adriana segera bergegas keluar. Ia meminta maaf pada yang lainnya dan segera menggunakan portal penembus dimensi agar lebih cepat.


Zhung, tap, Adriana mendaratkan kakinya tepat di mana ratu dan raja Reala berada. Ratu dan Raja Reala berbalik badan dengan raut wajah panik dan ketakutan.


Adriana masih kesal karena ia tiba- tiba di panggil di saat ia sedang makan bersama yang lainnya. Tentu saja Mood nya langsung hancur.


"Adriana, kau harus membantu kami sesegera mungkin!" Ucap ratu Reala memegang tangan Adriana dengan kuat.


"Apa untungnya aku membantu kalian?"


Deg, jantung Raja dan Ratu Reala seakan berhenti berdetak. Adriana masih dengan wajah datar dan bosannya. Dengan tubuh gemetar, Ratu Reala berkata.


"Kalau kau membantu kami, maka aku akan memberi mu istana megah dan gelar duchess. Bagaimana?"


Adriana menampilkan smirk senang tahu Ratu Reala mengerti maksudnya. Mau bagaimana lagi, harapan kota Reala hanya Adriana seorang saja.


"Baiklah, apa yang terjadi sesaat sebelum aku datang?"


Mata Ratu dan Raja Reala kemudian berbinar bahagia. Adriana mulai ilfell, ratu Reala masih menggenggam tangannya lebih kuat dari sebelumnya.


"Begini, dia adalah salah satu prajurit lama ku. Dia menyerang ku saat aku berada di kamar sendirian bersamanya."


"Aku sudah menyuruhnya pergi beberapa kali. Tapi, dia selalu bilang seperti ini, 'Tidak apa- apa ratu, karena ini adalah kewajiban ku'. Pertamanya aku biasa saja."


"Sampai, saat aku berbalik badan, dia mengeluarkan senjata dan berniat menusuk ku dari belakang."

__ADS_1


Adriana terdiam sebentar, ia memasang pose berpikir. Ia melihat sekeliling, hanya ada mereka bertiga yang ada di ruangan itu. Tidak ada satu orang pun penjaga.


"Tapi, dari mana kau tahu dia membawa senjata?"


"Aku tahu karena saat aku berbalik, ada sebuah kaca cukup besar di depan ku. Jadi aku tahu kalau dia berniat menyerang ku."


"Jadi, apa yang harus kami lakukan?" Tanya Raja Reala.


"Di mana prajurit itu?"


"Dia, sudah tiada. Ia langsung bunuh diri setelah ketahuan."


"Kalau begitu di mana mayatnya?"


"Ada di penjara bawah tanah." Jawab Raja Reala.


"Bawa aku ke sana."


Adriana, Ratu, dan Raja Reala segera pergi ke penjara bawah tanah. Set, kriet, Adriana membuka pintu penjara dan tampaklah mayat si pelaku.


Seorang pemuda, berkulit putih dan berambut coklat. Saat wajahnya lebih di teliti, ia ternyata menggigit lidahnya. Di dalam lidahnya itu ada racun yang telah di persiapkan.


"Ini sudah di rencanakan."


"Siapa yang melakukannya?" Tanya Raja Reala.


"Aku masih tidak tahu, tapi sementara ini, aku akan sering datang ke sini untuk menyelidikinya. Dan tidak seorang pun, yang boleh ikut campur."


Adriana pun pergi dengan kerennya meninggalkan Raja dan Ratu Reala itu. Ratu Reala menampakan smirk sambil melihat Adriana pergi.


"Ternyata dia lebih keren dari pada yang aku pikirkan." Batin Ratu Reala.


Zhung, Adriana membuka portal dan ia sampai di tempat ia tinggal saat ini. Terlihat perasaan khawatir di wajah Meira dan Ryu Ice saat itu. Adriana pun mulai merasa bersalah.


"Aku minta maaf, seharusnya aku tidak pergi tadi."


Meira yang duduk di sofa dengan Ryu Ice di pangkuannya pun segera beranjak mendekati Adriana. Mata Adriana masih sayu, ia tidak berani menatap mata biru Meira dan Ryu Ice.


"Aku minta maaf." Ujar Adriana lagi.


Grep, pluk, Meira dan Ryu Ice tiba- tiba memeluk dan membuat Adriana sedikit kehilangan keseimbangan. Adriana menunduk dengan wajah penasaran dan bingung.


"Tidak apa- apa, lagi pula itu juga salah kami. Tahu kakak sibuk, tapi tetap saja meminta kakak pergi ke sana." Ucap Meira.


"Kami yang cehausnya minta maaf." Ucap Ryu Ice.


Di cahpter ini, Ryu Ice sudah berumur sekitar 2 tahun. Jadi cara bicaranya sudah mulai lancar hanya saja masih agak sedikit celat.

__ADS_1


BERSAMBUNG~


__ADS_2