Magician Knight

Magician Knight
Pasar Gelap


__ADS_3

Caldwell memundurkan langkahnya. Perasaan takut kehilangan mengelilinginya, mau tak mau, dia harus menuruti perkataan Adriana yang berurai air mata.


"Aduh, baiklah, baiklah, aku beritahu."


"Benarkah?"


Mata Adriana berbinar- binar seperti bintang di langit. Huft, Caldwell menghela napas dengan tangan di taruh di dahi.


"Iya, tapi ada syaratnya."


"Harus ya pake syarat?"


"Tentu saja." Jawab Caldwell tegas.


"Apa syaratnya?"


"Aku, akan ikut dengan mu ke sana."


Keesokan harinya, sesuai janji kemarin malam di taman lampion. Caldwell dan Adriana datang ke pasar gelap dengan jubah hitam agar tidak ketahuan dan menarik perhatian.


Pasar gelap itu bertempat di daerah terpencil Kota Reala. Tidak semua orang tahu tempatnya di karenakan itu sebuah rahasia.


Namanya adalah Pasar Utawa. Banyak penjahat, narapidana, bahkan tokoh-tokoh antagonis yang terkenal di Kota Reala ada di sini.


Pas sekali, Ayah Caldwell memiliki teman yang berada di pasar gelap itu. Caldwell juga kadang- kadang di bawa ke sini hanya sekedar untuk melihat- lihat.


"Apa kau pernah ke sini?" Tanya Adriana.


"Pernah, dulu saat bersama ayah ku. Ya, untuk mengunjungi temannya dan berkeliling."


"Begitu, jadi kau tahu seluk beluk pasar gelap ini, kan?"


"Bisa di bilang begitu."


Drap, drap, drap, Caldwell dan Adriana berjalan- jalan sambil menoleh ke sisi kanan dan kiri. Ada peralatan berat seperti kapak, tongkat sihir ilegal, bola pembaca takdir dan sebagainya.


Seorang nenek tua berambut putih panjang dengan topi kerucut ungu di atas kepalanya menggerak- gerakkan tangan membaca mantra. Adriana sedikit penasaran.


"Hei, kau! Benar, kau yang berambut biru muda. Kemarilah."


"Nenek memanggil saya?" Tanya Adriana.


"Benar nak, kemarilah. Lihatlah masa depan mu melalui bola takdir ini."


"Maaf, Nek, saya tidak terlalu percaya akan adanya takdir." Ucap Adriana.


"Ayolah Nak, apa salahnya mencoba, kan?"


Adriana pasrah, dengan segala bujukan dan rayuan yang di lontarkan. Akhirnya Adriana menyetujui ajakan Nenek aneh itu dengan segala omong kosongnya tentang takdir.


"Baiklah, jadi saya harus apa?" Tanya Adriana.


"Taruh tangan mu di atas bola takdir ini dan aku akan meramal mu."


Set, sesuai permintaan si nenek, Adriana menaruh tangannya yang amat berharga itu di atas bola takdir. Kata orang, ramalan dari bola takdir tidak pernah meleset.


Syush, wush, syush, tangan nenek itu bergerak ke sana ke mari. Bola takdir menyala dengan sinar terang yang menyilaukan mata. Takdir telah terlihat, dan akan segera terjadi.

__ADS_1


"Siapa nama mu?" Tanya nenek itu.


"Adriana, Adriana Alaqua."


"Apa kau tahu arti nama mu itu?"


"Tentu saja, artinya 'kegelapan yang manis' bukan?"


"Nama mu itu, akan membawa mu ke dalam lika liku kehidupan yang cukup buruk."


"Lalu bagaimana? Apa saya harus mengganti nama saya?"


Nenek itu menutup matanya, kembali menggerak- gerakkan tangan ke kanan dan ke kiri di atas tangan Adriana. Tatapan Adriana datar, sangat datar.


Bola takdir menyala seperti ada kunang- kunang bercahaya biru kristal di dalamnya. Di belakang, Caldwell meneguk saliva agak sedikit khawatir dan takut.


"Aku harap, tidak akan terjadi sesuatu pada Adriana kelak." Batin Caldwell.


"Jadi bagaimana?"


"Hm, kau tidak perlu mengganti nama mu. Kau hanya perlu berhati- hati saja. Tapi ingat, bahaya akan selalu mengintai mu. Wahai anak muda."


"Terima kasih, Nek."


"Berapa harga yang harus kami bayar?" Tanya Caldwell.


Nenek itu mendongakkan kepalanya menatap Caldwell. Bingung, Caldwell memiringkan kepalanya dengan amat polos. Membuat Adriana ingin tertawa.


"Kau tidak perlu membayar. Ini gratis."


Set, Caldwell menggaruk kepala bagian belakang dengan keringat yang sedikit menetes. Di belakangnya, Adriana hanya menatap dengan tangan di lipat di depan dada.


"Hei, apa kau tidak mendengarkan? Aku bilang ini gratis."


"Kalau boleh tahu, apa alasannya?" Tanya Caldwell masih penasaran.


"Kepo."


Jleb, perkataan nenek itu menusuk hati Caldwell detik dan saat itu juga. Pft, Adriana mati- matian menahan tertawa melihat reaksi Caldwell yang menurutnya sangat lucu.


"Ahahaha, dasar!" Batin Adriana.


"Hahaha, tenang, aku hanya mengerjai mu saja."


"Nenek, kau keterlaluan juga, ya." Ucap Caldwell.


"Kenapa aku tidak menerimanya? Karena aku sangat kaya. Aku memiliki istana, perhiasan, dan masih banyak lagi. Hahahahaha!"


"............."


Adriana dan Caldwell menatap datar, kaya tembok gitu. Pft, Caldwell menertawakan dirinya sendiri melihat kejadian yang menimpanya itu.


Siapa sangka, ternyata nenek- nenek yang mereka temui itu Sultan. Kalau tahu kan nggak bakal ngasih uang, tapi minta uang biar bisa beli kuota.


"Ya, sudah. Kalau begitu kami pergi dulu, Nek." Ujar Caldwell.


"Ya, ya, sampai jumpa anak- anak muda yang tampan dan cantik."

__ADS_1


Drap, drap, drap, Adriana dan Caldwell kembali berjalan. Lima belas menit mereka berjalan menyusuri pasar Utawa yang besar itu.


Set, mata Adriana menangkap sesuatu yang membuatnya berhenti melangkah. Yap, itu adalah soul powder yang tengah ia cari. Tap, tap, tap, Adriana berjalan mendekati pedagang itu.


"Permisi, apakah di sini juga ada yang menjual soul powder selain Anda?"


"Tidak, Nona. Hanya saya seorang saja yang menjual benda berharga seperti ini."


"Kalau begitu, apa kau bisa membantu ku?"


Pedagang soul powder itu nampak kebingungan dengan pertanyaan Adriana. Tap, tap, Caldwell menyusul Adriana yang berada di depannya sambil mengawasi sekitar mereka.


"Begini, apa kau bisa memberi tahu ku identitas orang yang membeli soul powder ini ke pada ku?"


"Aduh, maaf sekali Nona. Kami di pasar Utawa ini sangat menjaga rahasia para pembeli. Walau ini pasar ilegal, tapi tetap menjaga loyalitas."


"Sialan." Batin Adriana.


"Yakin kau tidak bisa membantu ku?"


"Maaf, Nona, saya benar- benar tidak bisa melakukannya."


Wajah Adriana nampak kusut dan kecut, bahkan untuk di lihat saja tidak enak. Caldwell bersedih saat melihat orang yang di cintainya itu bersedih.


Saat Caldwell hendak menepuk pundak Adriana, pedagang itu malah berulah. Pedagang itu berdekhem dengan raut wajah minta di pukul.


Wajah pedagang itu agak sedikit memerah, membuat Caldwell ilfell sekaligus waspada. Jika Adriana, dia masih agak kelihatan sedih.


"Ekhem, sebenarnya saya bisa bantu, sih."


"Benarkah?" Tanya Adriana antusias.


"Benar, tapi ada syaratnya."


"Kalau begitu, apa yang kau inginkan? Rumah? Istana? Atau harta?"


"Aku ingin tubuh mu."


Keadaan di sekeliling Adriana menjadi suram dan hening. Apa yang pedagang itu bilang tadi? Ingin tubuhnya Adriana? Minta di bogem mentah.


"Maaf, kau bilang apa tadi?" Tanya Adriana dengan aura gelap menakutkan.


"Seperti yang kau bilang tadi, aku menginginkan tubuh mu. Tubuh, pria cantik di belakang mu itu!"


".......???"


Adriana loading sebentar, ia menoleh ke belakang. Yang berada di belakangnya tidak lain adalah Caldwell, seketika Adriana naik darah.


............


Caldwell masih berusaha mengerti keadaan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap yang pedagang itu maksud bukanlah dia. Tapi, emang dia(Caldwell) yang di maksud.


"Apa kau bilang tadi, hah?!" Teriak Adriana.


"Benar, aku menginginkan anak laki- laki di belakang mu itu."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2