Magician Knight

Magician Knight
Detektif


__ADS_3

Pada akhirnya, Shaquil dan Caldwel setuju dengan ajakan Shamus. Mereka bertiga pun berencana untuk melihat siapa yang bernyanyi tengah malam di dekat pohon beringin itu.


Malamnya, sesuai janji mereka bertiga pergi ke dekat pohon beringin sambil menunggu suara itu muncul lagi. Sebenarnya Shaquil dan Caldwel terpaksa menyetujui ide bodoh Shamus karena Shamus terus- terusan merengek seperti anak kecil.


"Hah, jadi Shamus bodoh. Di mana suara yang kau dengar itu, ha?" Tanya Shaquil.


"Tunggu sebentar lagi, nggak sabaran banget, sih." Ujar Shamus.


"Loh, Shaquil kamu nggak bawa Ryu Ice?" Tanya Caldwel.


Shaquil menatap Caldwel dengan datar dan sedikit menyeramkan. Caldwel pun sontak terkejut dengan tatapan Shaquil itu.


"Ke, kenapa?" Tanya Caldwel.


"Heh, dispenser! Kalo aku bawa Ryu Ice ke sini, dia pasti juga akan terkena sial seperti kita dong kalau hantu itu beneran ada." Jawab Shaquil.


"Iya, iya cerewet. Tapi kau tidak meninggalkan Ryu Ice sendirian di kamar, kan?" Tanya Shamus dengan tatapan curiga.


"Tentu saja tidak! Kau pikir aku sebodoh kau sampai melakukan hal aneh begitu? Aku menitipkan Ryu Ice kepada Rosean." Jawab Shaquil.


Caldwel dan Shamus ber-oh panjang tanda mengerti. Shaquil pun berdecak sebal karena suara hantu yang Shamus bicarakan tidak kunjung muncul.


"Mck, sepertinya kita telah di bodohi oleh Shamus. Lihat saja, tidak ada suara apapun, tuh!" Ucap Shaquil.


"Benar, hei Shamus, di mana hantu itu?" Tanya Caldwel.


"Aku tidak tahu kenapa dia belum muncul juga! Biasanya-"


"I'm realy, realy, realy, like you! I want you, you want me? You want me to."


Belum selesai Shamus berbicara, ada suara yang datang. Merdu, sedikit agresif, tapi terdengar sangat indah. Shamus, Shaquil, dan Caldwel pun sontak langsung pada kebingungan.


Mereka bertiga saling menatap satu sama lain. Bahkan mereka juga melihat sekeliling mereka, dari mana suara itu berasal?


"Tuh kan, apa aku bilang? Suara itu benar- benar ada!" Celetuk Shamus.


Shaquil pun sontak langsung berdiri sambil memiringkan kepalanya menatap pohon beringin itu. Ia masih tidak akan percaya akan yang namanya 'hantu' sebelum melihatnya sendiri.


Shamus menarik baju Shaquil, "Hei, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Shamus.


"Aku akan mendekati pohon beringin itu." Jawab Shaquil.


"Apa? Jangan dulu, kalau kita ingin mendekatinya, kita harus memiliki persiapan yang matang dulu." Ujar Caldwel.


"Hehe, itu sih mudah! Ayo kita tangkap hantu itu!" Teriak Shamus sedikit keras.


Shamus membawa sekop, gergaji, garpu taman, sapu, pel, batu bata, dan kopi susu(?). Shaquil dan Caldwel hanya berkedip saja melihat apa yang di bawa oleh Shamus.

__ADS_1


"Dari mana kau, mendapatkan semua itu?" Tanya Shaquil menunjuk barang yang di bawa Shamus.


"Hm, oh, aku mendapatkannya dari tembok di sebelah sana itu."


Shamus menunjuk ke arah tembok yang di buatnya berantakan hanya untuk mengambil beberapa barang. Bahkan sampai ada yang terjatuh.


"Lalu, kopi susu itu, untuk apa dan dari mana?" Tanya Caldwel.


"Hm, kopi susu ini aku ambil dari pos jaga di sana. Ini juga untuk aku tidak kehausan dan tidak ngantuk. Slurp, ah, enak." Shamus meminum teh itu.


"......"


Di sisi lain di tempat pos jaga, tepatnya tempat Shamus mengambil kopi susu tadi. Seorang bapak- bapak umurnya sekitar 43 tahun nampak celingak- celinguk kebingungan.


"Di mana kopi susu ku, ya? Perasaan tadi aku taruh sini, deh. Masa aku tinggal di kamar mandi?" Batin bapak itu.


Kembali ke Shamus, Shaquil, dan Caldwel yang hanya bisa diam seribu bahasa mendengar jawaban Shamus. Shaquil menepuk jidat kemudian mengambil sekop yang Shamus bawa.


"Ayo, kita lihat apakah itu hantu asli atau bukan!" Ujar Shaquil.


"Kalau misalnya itu hantu palsu dan cantik, boleh aku nikahin, kan?" Sahut Shamus.


"Terserah kau." Jawab Shaquil dingin.


"Ayo pergi." Ujar Caldwel.


"Untuk apa kau membawa batu bata itu?" Tabya Shaquil.


"Untuk melempari hantunya, lah!" Jawab Shamus.


"Kalau sampai batu bata itu mengenaiku, maka aku akan menghabisi mu!" Ancam Shaquil.


"Iya, iya, aku mengerti."


Shaquil menyergap dari sisi kiri, Caldwel sisi kanan, dan Shamus dari atas pohon. Sebelum Shamus dan Caldwel menyerang, Shaquil mengarahkan tangan kebelakang tanda 'tunggu'.


"Kenapa?" Bisik Shamus.


"Lihat, itu Rea." Jawab Shaquil.


Ternyata saat di lihat, ternyata benar itu adalah Rea yang sedang bernyanyi. Shaquil dan Caldwel pun bernapas lega, hanya Shamus saja yang berdecak sebal.


"Mck, kenapa harus perempuan menyebalkan itu, sih?" Tanya Shamus.


"Kau membencinya?" Tanya Caldwel.


"Kalau iya bagaimana?" Tanya Shamus.

__ADS_1


"Hati- hati, nanti dari benci jadi cinta abadi, loh~" Goda Shaquil.


"Tidak akan!" Bantah Shamus.


"Hump, kita lihat saja nanti." Ujar Shaquil.


Shaquil pun menghampiri Rea yang sedang bernyanyi amat bahagia itu. Shaquil hanya bersiul sebentar saja, tapi dengan cepat Rea menoleh ke arahnya.


Shaquil bersandar di pohon beringin itu dengan Shamus dan Caldwel yang berada di sebelah kanannya. Rea pun tersenyum simpul melihat kedua sahabatnya itu. Shamus nggak termasuk hitungan.


"Caldwel, Shaquil, kenapa kalian ada di sini?" Tanya Rea menghampiri ke dua insan itu.


"Hei, cuma mereka yang di sapa? Aku enggak, nih?!" Tanya Shamus menyela.


"Hihi, cemburu dah tu~" Goda Shaquil.


"Enggak! Lagi pula kenapa aku harus cemburu? Orang dianya aja burik, nggak pantes tahu di perjuangin!" Celetuk Shamus.


Perkataan Shamus berhasil membuat rasa bahagia Rea berubah menjadi api kemarahan yang amat membara. Shamus pun mulai merasakan kalau bagian belakang punggunya panas, amat panas.


"Kau bilang apa tadi, hah?!" Teriak Rea tidak terima.


"Huh, kan aku sudah bilang kau itu burik, burik!" Ujar Shamus.


"Oh, gitu, aku rasa aku perlu memukul mu agar bisa berpikir lebih baik lagi." Ucap Rea.


Rea kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Shamus. Entah terkena angin apa, sontak wajah Shamus memerah bukan main. Padahal dia tadi bilang kalau dia tidak akan menyukai Rea. Tapi sekarang, dia tiba- tiba sangat gugup!


"Ka, kau, apa yang kau lakukan?!" Tanya Shamus gelagapan.


"Kau bilang aku tadi burik, kan?! Maka lihatlah dengan jelas bodoh! Dari atas sampai bawah, tidak ada dari diriku yang buruk!" Ujar Rea.


"Ka, kau, pi, pikiran, pikiranmu lah yang burik!" Ujar Shamus sambil memalingkan wajah meronanya.


"Huh, pikiranmu kan lebih buruk dari pada aku!" Ujar Rea membela diri.


Shamus dan Rea malah berakhir bertengkar, sementara Caldwel dan Shaquil berakhir menjadi penonton saja. Tak lama kemudian, tiba- tiba ada bola yang jatuh mirip meteor.


Bola itu menabrak bagian depan sekolah mereka, sontak Shaquil langsung senam jantung. Karena Ryu Ice berada di kamar Rosean yang berada di bagian depan sekolah.


"Gawat, Ryu Ice!" Teriak Shaquil mulai frustasi.


"Se, sebenarnya ada apa ini?!" Tanya Shamus.


"Aku tidak tahu, tapi yang pasti, itu bukanlah meteor. Dan aku yakin kalau itu adalah aksi pemberontakan!" Ujar Rea.


BERSAMBUNG~

__ADS_1


__ADS_2