Magician Knight

Magician Knight
Kakak


__ADS_3

Author POV


"Kenapa kakak, kenapa?"


Air mata terus jatuh membasahi pipi Shaquil, Rian kemudian mendekat dan menyeka air mata Shaquil yang masih menunduk.


"Hei, aku tidak bermaksud menyembunyikan hal ini. Hanya saja, aku tidak yakin apa ekspresi mu saat mengetahuinya."


Rian pun menunduk malu, memang seharusnya ia tidak menyembunyikan rahasia itu dari Shaquil. Tapi bayangkanlah kalau itu adalah dirimu sendiri.


Akhirnya kau menemukan adikmu yang sudah lama hilang. Pasti banyak pro dan kontra di dalam dirimu saat ingin mengatakan kebenarannya bukan?


Kalau dia menerimanya tidak masalah, bagaimana kalau tidak?


Pasti banyak orang yang bertanya- tanya hal seperti itu dalam benaknya. Shaquil yang bernama asli Adriana pun mendongak melihat ke arah kakak kandungnya itu.


"Kalau aku bilang aku menerima mu menjadi kakak ku, bagaimana?"


Rian mendongak dengan tatapan senang, haru, kaget dan tidak percaya menjadi satu. Shaquil hanya tersenyum ke arah Rian dengan bahagia.


"Kau, benar- benar menerimaku menjadi kakak mu?"


Shaquil mengangguk dengan senyum tulus dan memeluk adiknya itu dengan perasaan haru bercampur senang.


Di sisi lain, ada Ayah Nik beserta para pekerja- pekerjanya yang sedang bersembunyi seperti menunggu kereta api lewat dari sarang musuh.


"Hiks, sungguh mengharukan. Benar bukan, bos?"


"Ya, kau benar." Ujar Ayah Nik.


Hari itu, akhirnya Shaquil tahu bahwa Rian adalah kakaknya. Semenjak itu juga, saat Rian ingin memeluk Shaquil pun tidak di permasalahkan lagi. Walau sebenarnya Ayah Nik amat kesal.


"Hahaha, seperti sedang selingkuh tapi tidak ketahuan. Walau sebenarnya ketahuan pun tidak masalah." Batin Rian.


1 Minggu berlalu setelah Shaquil pulang ke rumah, suasana yang ia rindukan pun kini kembali. Shaquil saat ini sedang berada di pasar dan hendak akan pulang.


Saat akan pulang, ia mendengar suara tangisan bayi di dalam sebuah gang. Shaquil pun masuk ke dalam gang itu dan benar saja, ada seorang bayi yang sedang di bawa oleh 4 orang pria dewasa.


"Hei, apa yang kalian lakukan? Lepaskan bayi itu sekarang!"


Shaquil berteriak dengan lantang, jadi keempat kucing garong tidak ada akhlak itu membalikkan badan. Begitupun dengan seorang bayi yang masih menagis itu.


"Wah, ternyata ada seorang pria cantik di sini. Nak, mau ikut paman pulang nggak?" Tanya seorang preman nggak ada modal.


Shaquil POV


What the? Paman ini sudah gila ya? Aku nggak akan mau pulang sama paman!


"Bagaimana kalau aku menolak? Apa yang akan kau lakukan padaku?"


Sudahlah lupakan saja hal itu, sekarang, lebih baik aku memancing para kucing ini menuju kandang singa yang sedang mengamuk karena ikannya telah di curi.


"Kalau kau menolak,"


Glek, aku menelan saliva, membentuk sikap kuda- kuda. Berjaga- jaga kalau misalnya mereka akan menyerang tiba- tiba.


"Maka, kami akan menyanyikan sebuah lagu agar kalian ikut."


"......"


Hah? Lagu? Aku rasa paman ini memang sudah gila, bukan hanya dia saja, para tikus kebun di belakangnya juga sama!

__ADS_1


Udah tidak ada modal, mengancam orang dengan cara aneh pula. Aku rasa dia habis keluar dari rumah sakit jiwa dengan melewati sungai garam yang sangat asam dan pulau cicak napas api.


"Memangnya, kau akan menyanyi lagu apa?"


Dengan wajah datar dan berusaha tetap stay cool, aku bertanya kembali dengan perasaan akan ada sesuatu yabg buruk.


Apa mereka akan menggendongku di pundak?


"Kami akan membawakan lagu yang aku tulis sendiri."


"Lagu yang di tulis sendiri? Menarik, aku penasaran semerdu apa sih suaranya itu." Batin Adriana.


🎶Jam dinding berdetak, menunjukan angka 12 tengah malam.


🎶Kau pun tak kunjung datang, meninggalakan ku seorang diri di sini, oh yeah.


🎶Tak bisakah kau melihat hatiku yang terbuka hanya untukmu?


🎶Tak bisakah kau selalu ada di sisiku, oh my darling?


🎶Aku selalu berjuang sendirian di jalan keputusasaan hanya untuk mu seorang saja.


🎶Lihatlah diriku yang membeku ini saat melihatmu bersama dia.


🎶Hatiku bagaikan teriris oleh pisau yang sangat tajam.


🎶Kau menggoreskan luka padaku, kau jugalah yang menghapusnya


🎶Kenapa cinta kita harus seperti ini?


🎶Ku mohon, lihatlah aku sekali saja, sekali saja.


Lagu yang bagus, menampakan kesedihan yang ia rasakan. Agak terbelit- belit, tapi ini sesuai dengan perasaan orang yang jatuh cinta tapi hanya dapat di pendam.


Menagis dalam diam, sungguh menyakitkan, tak ada seorang pun yang tahu. Tak ada seorang pun yang menemani, hanya kau seorang diri.


"Suara mu sangat indah, kenapa kau tidak menjadi seorang penyanyi saja?" Tanya ku.


"Aku juga ingin, tapi hal itu hanya dapat menjadi angan- angan semata saja." Ujar preman itu.


"Kalau begitu, bagaimana kalau aku membantumu?"


"Membantu, kami? Kenapa?"


"Karena setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua."


Para preman itu akhirnya bungkam, sepertinya perkataan ku memperngaruhi akak mereka yang dulunya kotor sekarang bersih.


"Apa kau berjanji?" Tanya seorang preman.


"Ya, aku berjanji akan membantumu sebisa ku."


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita menjadi teman?"


"Teman?"


"Iya, namaku Pleret, ini Makan, dia Ball ball, yang di sebelah sana namanya pass pass."


Apa?


Astaga, namanya aneh banget, pass pass, ball ball, dan, makan? Nama apa itu?

__ADS_1


"Em, kenapa kau membawa bayi itu?"


"Itu, karena bayi ini aku temukan di sebuah kardus yang tertutup kain tadi, jadi aku memungutnya."


"Baiklah, kalau gitu aku minta maaf. Aku pikir kalian menculiknya."


"Untuk apa aku menculiknya?"


"Ya kan, mungkin saja kau-"


"Ama(mama)."


Bayi ini, cara bicaranya tidak terlalu lancar, itu menunjukan kalau dia masih kecil. Sekitar umur 3 atau 4 bulan, ya?


"Bayi ini bilang apa?"


"Huh, dasar, apa telingamu terbuat dari selimut berbahan pasir?"


"Ya, maaf, tapi aku kan tidak bisa bahasa bayi."


"Huh, baiklah, karena aku orang yang lapang dada maka aku akan memaafkanmu."


"Wah, tuan amat bercahaya."


"Hehe, kenapa kau memanggilku tuan?"


"Karena kami sudah memutuskan, kalau mulai sekarang kami akan mengikutimu kemana pun kau pergi."


A, apa yang dia katakan?


Maksudnya dia mau terus mengikutiku sampai aku jadi tua, masuk ke dalam sumur kejombloan, sampai aku berada di neraka yang penuh cewek cantik. Astaga, itu bagaikan mimpi buruk.


"Baiklah, itu terserah kau saja, hei dek, apa kau baik- baik saja?"


Author POV


Bayi itu mendongak menatap wajah Shaquil. Dia bayi yang cantik, bermata biru muda yang murni dan berambut putih bagaikan salju mirip dengan Shaquil.



Dengan air mata masih membasahi pipi, bayi itu melihat dan mata biru Shaquil dan bayi itu bertemu.


"Kenapa dia, sangat cantik?" Batin Shaqui


Shaquil menyeka air mata anak itu dengan lemah lembut, membuat agar bayi itu tidak merasa sakit.


"Sudah, jangan nangis ya adik kecil."


"Acih(Makasih)."


"Kau, sangat cantik adik kecil, aku terus melihatmu karena kecantikanmu yang melampaui dewi- dewi kayangan."


Bayi itu memiringkan kepala, iya tahu apa yang Shaquil bicarakan. Tapi bayi itu tidak tahu bagaimana caranya menghadapi kata- kata gombalan Shaquil.


"Benar, bagaikan bidadari yang sedang tersesat di tengah jalan. Apakah kau mau aku tuntun ke sebuah jalan?"


"Alan(Jalan)?"


"Iya, jalan itu bernama, Jalan perkawinan, Honey~"


BERSAMBUNG~

__ADS_1


__ADS_2