Magician Knight

Magician Knight
BK


__ADS_3

Shaquil POV


Sialan, kenapa harus ada guru BK yang melinyas ke sini sih? Nggak bisa apa dia melintas ke rel kereta terus di tabrak aja gitu? Aku paling benci dengan yang namanya guru BK!


"I, itu..."


"Apa dia adalah anak, mu?"


What the?! Ingin sekali ku mengumpat dan berteriak saat ini. Tapi apa sih urusannya sama kamu, kan aku yang mengurus bayi ini. Kok lu yang cerewet, sih?


"Bukan, dia adalah adik ku."


"Benarkah? Kenapa ia mirip dengan mu? Dan kenapa saat kau membawanya masuk tidak melapor padaku dulu?"


******, harus jawab apa dah aku? Gila, guru ini menyebalkan sekali, sih. Cerewetnya aja udah melampaui kecerewetan ayah dan kakak!


"Em, itu..."


"Kamu Shaquil, kan? Walaupun kamu anak yang pintar, tapi kamu nggak boleh semena- mena seperti itu."


Sialan, aku malah dapet ceramahan gratis coba. Ini aja kita belum di ruang BK, kalau udah di sana, aku jamin dia bakalan seperti seekor katak di musim hujan.


"Ba, baik bu, saya minta maaf."


"Sekarang kau ikut ke kantor ku untuk membuat laporan."


******, aku kan udah minta maaf. Buat apa coba harus buat laporan? Buat ayah atau kakak ke sini terus marahin aku gitu?


Dasar guru BK pembuat hubungan keluarga hancur! Inilah mengapa aku tidak terlalu suka guru BK. Kata- katanya sih lembut, tapi kalo udah di dalam kantor.


Kaya singa yang belum dapet mangsa berhari- hari terus ketemu seekor kelinci kecil. Kebayang bukan pelampiasannya begimana nanti? Habislah aku kali ini, dewa, bantu aku kali ini saja.


Mungkin ini terkesan lebay atau melodramatis tapi, AKU PALING BENCI YANG NAMANYA BK! Siapa yang sama pelukan sama aku!


Author POV


Shaquil pun berdiri dan menggendong Ryu Ice yang baru saja mau mencoba merangkak di rumput tadi. Dengan wajah sebal dan di tekuk, Shaquil mengikuti guru BK itu.


"Oh ya, dan kalian berdua kembali lah ke kamar kalian masing- masing."


"Baik bu, terima kasih." Ucap Shamus dan Caldwel.


"Terima kasih buat apa sialan? Tapi kenapa juga cuma aku yang di hukum, sih? Dasar pilih kasih!" Batin Shaquil mengumpat dalam hati.


Sepanjang koridor sekolah, banyak orang yang berbisik- bisik di belakang Shaquil. Shaquil hanya memutar bola mata malas meladeni anak- anak tukang gosip itu.


"Cih, apaan sih lihat- lihat? Nggak pernah lihat orang ganteng kena masalah?" Batin Shaquil kesal.

__ADS_1


Sesampainya di ruang BK, bulu kuduk Shaquil beridiri. Sepertinya ia tahu kalau sebentar lagi ia akan dapat masalah, masalah yang sangat besar.


Beruntung Ryu Ice tidak rewel saat itu, jika tidak, kemungkinan besar kalau hukuman Shaquil akan di tambah nanti. Hanya saja, tatapan Ryu Ice dan Shaquil menunjukan ke tidak sukaan yang sama.


Shaquil mendengus kasar, ia melirik ke arah jam di ruangan itu. Pukul 07:45, baru beberapa menit setelah Shaquil sampai ke taman di belakang sekolah itu.


"Yang benar saja, maunya guru BK ini apaan, sih?" Batin Shaquil.


Guru BK yang Shaquil maksud hanya diam di meja kerjanya sambil menulis sesuatu. Shaquil tahu kalau itu pasti surat laporan perbuatan Shaquil selama ini.


"Cih, menyebalkan sekali, kalau di ingat- ingat ini pertama kalinya aku masuk ke ruangan sialan ini." Shaquil mengumpat dalam hati.


Guru BK itu melirik ke arah Shaquil yang berusaha agar bayi yang di bawanya tidak menangis. Guru BK itu menghela napas berat.


"Jadi, nama mu Shaquil bukan?"


"Iya, bu."


"Lu kan udah tahu, ngapain masih nanya?" Batin Shaquil.


Guru BK itu melirik ke atas dan bawah, melihat fisik atau kerapian yang di miliki Shaquil. Shaquil adalah anak yang cukup menjaga kerapian. Terlebih dia tidak terlalu suka akan hal- hal yang kotor, terlebih soal pikiran.


"Apa kau tahu kenapa kau di bawa ke sini?"


Guru BK itu berdiri dan menghampiri Shaquil yang masih diam tenang di tempat. Shaquil pun terkejut dan menggenggam tubuh kecil Ryu Ice dengan erat.


"Dan apa kau tahu konsekuensinya?"


"Iya, saya akan di denda, di hukum, atau kemungkinan terburuknya di keluarkan dari sekolah di hadapan banyak orang."


Shaquil menatap mata coklat perempuan itu dengan mata biru bersinar miliknya. Sontak wanita itu kagum, pasalnya ini pertama kalinya ada orang yang menatapnya dengan berani seperti itu.


"Anak ini lumayan menarik juga." Batin guru BK.


"Apa kau tahu nama ku?"


"Tidak, aku cuma tahu kalau jabatanmu adalah BK saja." Ujar Shaquil to the point.


"Anak ini mencoba menantang ku, ya?" Batin Guru BK.


"Namaku adalah Miya, Bu Miya. Ingat nama ku!"


"Maaf, memang anda siapanya saya, ya?"


Darah Bu Miya seketika mendidih mendengar perkataan Shaquil. Padahal Shaquil tidak berniat mengejek, hanya saja kesabaran orang juga memiliki batas.


"Hah, kau ternyata kau cukup sombong."

__ADS_1


"Saya tidak berniat mengejek Bu Miya, maaf jika lancang tapi, apa keahlian Bu Miya di sekolah ini?"


"Heh, keahlian ku adalah memanah. Aku cukup mahir dalam hal itu, memangnya kenapa?"


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertaruh, Bu Miya?"


"Bertaruh? Kau orang pertama yang menantang ku."


"Jadi, apa Bu Miya menyetujui tantangan saya?"


"Baiklah, aku setuju. Jika kau menang, maka kau akan terbebas dari hukuman. Tapi jika kau kalah, maka hukuman mu akan aku kalikan empat. Bagaimana?"


"Saya setuju, kita akan mengadakannya di mana?"


Bu Miya menunjukkan smirk dan segera membawa Shaquil ke suatu tempat. Tempat itu tidak ramai, dan hanya ada mereka bertiga saja di sana.


Mereka berada ada di sebuah bukit hijau yang sangat luas. Shaquil menelan saliva dan menghela napas lega. Bu Miya melirik ke arah Shaquil dengan senyum yang aneh.


"Ada apa? Apa kau sudah ingin menyerah?"


"Tidak ada kata menyerah dalam hidupku sayangnya."


Shaquil menaruh Ryu Ice di rerumputan dan mengambil busur dan anak panah yang sudah di siapkan. Bu Miya memulai permainan itu, tak, panah Bu Miya tepat sasaran.


"Bagus, sekarang giliran mu, Shaquil."


"Baik, Bu Miya."


Sret, Shaquil menarik busur itu dan menghela napas. Tak, sret, anak panah Shaquil membelah anak panah milik Bu Miya. Hal itu membuat mata Bu Miya terbelalak sempurna.


"Ba, bagaimana bisa...?"


"Ada orang yang pernah bilang padaku. Sebelum kau menantang seseorang, perhitungkan kekuatan mu terlebih dahulu."


Wush, angin berhembus kencang, menerbangkan helai- helai rambut Shaquil. Prok, prok, prok, Bu Miya bertepuk tangan akan keberhasilan Shaquil.


Senyum pun merekah di bibir merah muda Shaquil. Bu Miya hanya tersenyum saja, lalu ada sesuatu yang muncul di pikiran Bu Miya.


"Kau sangat hebat, kau terbebas dari hukuman dan kau di perbolehkan merawat bayi itu dik sekolah sampai kau lulus."


"Terima kasih, Bu Miya."


"Aku ada satu pertanyaan untuk mu, Shaquil. Maukah kau menjadi satu- satunya murid ku?"


BERSAMBUNG~


__ADS_1


Kakak- kakak bakal like dan komen, kan?


__ADS_2