
Beberapa hari menjelang perang ke daerah barat daya. Semua orang sangat terkejut karena mereka tidak percaya siapa orang yang di minta menjadi komando oleh raja saat itu.
Raja sudah cukup tua, sebab itulah dia tidak bisa ikut perang. Sebagai gantinya, dia menunjuk salah satu orang untuk mewakilinya. Dia adalah seorang pemuda berambut biru agak tua.
Matanya berwarna biru agak tua bercampur biru muda yang sangat indah. Usianya sekitar 15 tahun, bebannya sungguh berat. Dia adalah Shaquil Carlir.
Shaquil di tunjuk sebagai komando perang bukan hanya karena kekuatan, prestasi, keahliannya. Tapi juga karena kedewasaannya dalam bertindak dan berpikir. Dia juga memiliki ide dan pertimbangan dalam setiap perbuatannya.
Sebab itulah, Raja Reala menunjuk Shaquil sebagai komando perang. Tentu akan ada pro dan kontra dalam hal itu. Tapi semua itu akan di tepis saat Shaquil pulang membawa kemenangan bagi Reala.
Di rumah Ayah Nik, Ayah Nik dan Rian tentu saja berusaha menghentikan Shaquil agar tidak ikut dalam perang kali ini. Apa lagi dia adalah komanda, pasti dia akan berada di barisan paling depan dari yang lainnya.
"Shaquil, tolong pikirkan kembali keputusan menjadi komando itu!" Pinta Ayah Nik.
"Benar, bukankah ada orang yang lebih hebat, dan yang lainnya selain kau? Jadi jangan pergi ke perang itu, ya?" Pinta Rian.
"Yang di katakan Rian itu benar, nak. Ku mohon jangan pergi ke medan perang itu!"
"Shaquil~"
Ayah Nik dan Rian memegangi Shaquil dengan erat agar Shaquil tetap berada di sana. Shaquil mendegus kasar sambil berdecak sebal melihat tingkah kedua orang konyol itu.
"Mck, Ayah, Kakak, aku harus pergi dari sini. Aku harus membantu mereka yang sudah percaya padaku!" Ujar Shaquil kesal.
"Tapi kan masih ada yang lainnya, kenapa harus kau? Aku tidak setuju! Tidak!" Teriak Rian.
"Ck, kakak, orang yang lainnya itu tidak memiliki pemikiran dewasa. Raja Reala juga sudah percaya padaku!" Ucap Shaquil.
"Kalau begitu suruh saja orang berpengalaman atau senior mu itu saja!" Ujar Ayah Nik.
"Ck, ayah, para senior sudah di culik beberapa hari lalu. Kita tidak ada pilihan lain selain aku harus ikut perang." Jelas Shaquil.
"Tapi..."
Set, sebelum Ayah Nik menyelesaikan kata- katanya. Shaquil terlebih dahulu melototi ayahnya itu agar diam dan mendengarkan penjelasannya. Akhirnya Rian dan Ayah Nik diam.
"Dengar ya, kalian bisa tidak sih berhenti bersikap seperti anak kecil? Kalian juga harus bersikap dewasa. Mengerti?" Tanya Shaquil.
"Tapi Shaquil-"
__ADS_1
"Tidak ada tapi, tapi!" Shaquil memotong peekataan Rian.
"Tuh kan, saar debat sama perempuan jangankan menang seri aja susah banget!" Batin Rian.
Shaquil hendak pergi lagi tapi sempat tertahan karena Ayah Nik memegangi lengan bajunya sat itu. Shaquil menoleh ke arah Ayahnya itu, tentu tatapan sayu yang di lihat Shaquil.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku ikut berperang?" Tanya Ayah Nik.
"Iya benar, aku juga akan ikut perang!" Ucap Rian.
Perkataan Rian dan Ayah Nik membuat Shaquil terkejut. Shaquil menatap mereka berdua dengan tatapan menolak keras.
"Tidak boleh, kalau kalian ikut, yang menjaga Ryu Ice di sini siapa?" Tanya Shaquil.
"Ekhem, karena aku masih muda dan menghormati tulang tua milik Ayah Nik. Aku saja yang ikut dan Ayah Nik yang tetap di sini." Ujar Rian.
"Apa?! Tidak! Aku belum tua! Aku masih muda! Aku itu baru berusia 23 tahun tahu!" Ujar Ayah Nik.
Shaquil menatap Ayah Nik, "Yang benar 23 tahun?" Tanya Shaquil curiga.
"Ya, di kali 2, sih. Tapi aku belum tua! Belum! Buktinya ototku ini, dan aku masih bisa teriak- teriak, tuh!" Ujar Ayah Nik sambil memukul- mukul dadanya dengan keras.
Shaquil menepuk jidat, "Sudahlah, aku tidak peduli. Intinya kalian tidak boleh ikut! Tidak boleh!"
"Kenapa? Beri kami alasan, Adriana!" Teriak Rian.
Adriana pun memperlihatkan wajah murung dan bersedih. Rian pun seketika terdiam, ia tidak sadar ternyata perkataannya telah menyakiti hati Adriana.
"Astaga, apa ini yang namanya laki- laki selalu salah dan perempuan selalu benar, ya?" Batin Rian.
Tes, tes, buliran air mata jatuh membasahi pipi Shaquil. Hati Rian dan Ayah Nik semakin tersayat, Adriana, satu- satunya perempuan yang membuat mereka berdua damai dan bersahabat itu. Saat ini sedang menyembunyikan lukanya.
"A, Adriana, ke, kenapa? Ada apa?" Tanya Rian.
"Hiks, aku, aku sudah kehilangan, hiks, semua orang yang, hiks, aku sayangi, hiks, aku, aku tidak mau, hiks, kalian juga, hiks, pergi dariku, hiks."
Rian dan Ayah Nik pun memeluk Adriana dengan hangat dan penuh kasih sayang. Adriana menarik napas lega, rasanya semua bebannya sudah terangkat dari pundaknya.
"Kami tidak akan meninggalkanmu, dan kami juga tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian." Ucap Ayah Nik.
__ADS_1
"Jadi, ayo berjuang bersama- sama, Adriana." Tambah Rian.
Adriana pun tersenyum simpul, ia pun yang awalnya menolak keras pun mengangguk. Rasa tidak ingin kehilangan, dari dulu selalu membayangi Adriana.
Tapi sekarang, dia dapat bernapas lega. Ia mengusap air matanya di bantu oleh Ayah Nik dan Rian. Setelah itu, perang mulai tidak terasa menakutkan lagi bagi Adriana.
Ryu Ice? Bagaimana dengan dia?
Tenang, Ryu Ice di jaga oleh para pekerja di sana. Santai aja, pekerjanya baik- baik, kok. Nggak bakal ada yang berkhianat, tenang aja.
Hari perang pun di mulai, Shaquil menggunakan baju berwarna putih yang menambah kesan menawan kharismatiknya. Rosean, Shamus, Rea, Caldwel, dan Lynelle adalah para tangan kanan kepercayaan Shaquil.
Mereka berlima selalu berada di sisi Shaquil, entah suka maupun duka. Pokoknya best friend banget, deh. Mereka pun menggerakan para pasukan ke daerah barat daya.
Sesampainya di suatu tempat, mereka menyuruh pasukan untuk membangun tenda untuk beristirahat. Tentu saja diadakan pergantian penjaga setiap beberapa jam.
Jantung Shaquil seraya di pacu semakin cepat, bagaimana tidak? Sebentar lagi dia harus membunuh orang. Itupun lebih banyak dari pada yang ia bunuh saat di depan gerbang sekolah.
Bahkan bau darah dan wujudnya masih berada di sana. Tanggung jawab Shaquil memang sangat berat, salah bertindak saja, banyak nyawa orang yang akan ia libatkan.
Beberapa menit setelahnya, salah satu tangan kananya yang bernama Lynelle masuk ke tendanya. Lynelle memahami ketakutan itu, tapi ia menganggap ketakutan Shaquil itu adalah ketakutan tak berfaedah.
"Kenapa? Apa kau takut?"
Shaquil pun berbalik ke arah suara itu berasal. Shaquil tersenyum tipis mendengar pertanyaan Lyenelle. Lyenelle mengangkat satu alisnya bingung.
"Hm, kalau kau takut saat membunuh orang. Anggap saja mereka adalah serangga yang paling kau benci. Atau jika ingin lebih terpanasi lagi, anggap saja mereka adalah mantan yang selalu mengganggu kehidupanmu."
Shaquil menatap mata Lyenelle yang kelihatan serius dengan wajah imutnya. Shaquil hanya terkekeh geli saja, Lynelle hanya bingung dan bertambah bingung saja di buat Shaquil.
"Kenapa kau tertawa? Aku serius tahu!" Ujar Lynelle kesal.
"Hihi, maaf, tapi kata- kata mantan tadi itu membuatku tertawa." Ujar Shaquil.
"Huh, menyebalkan!"
"Hehe, tapi terima kasih, ya. Berkat kau sekarang perasaanku semakin membaik."
"Sama- sama."
__ADS_1
BERSAMBUNG~