
Author POV
"Ka, kau kehabisan obat, ya? Bagaimana mungkin hal itu terjadi?!" Caldwel menaikan nada bicaranya dengan wajah merona.
"Yang benar?"
"Te, tentu saja. Lagian, kalau aku seperti itu, berarti aku adalah seorang gay!"
"Iya, iya, tidak perlu marah."
"Shaquil, andaikan kau benar perempuan. Aku pasti, akan membuatmu menjadi milikku seorang." Batin Shamus dengan wajah merona.
Di sisi Rea, sesampainya di kamar setelah melihat kejadian memalukan itu, Rea membuka pintu kamar dengan senyum yang di paksakan.
"Rea, kau dari mana saja tadi?" Tanya Rosean.
"Ya, tadi aku sedang bosan, jadi aku mencari udara segar saja." Jawab Rosean.
"Baiklah, kalau begitu kita harus tidur. Besok kita harus masuk sekolah." Ujar Lynelle.
"Iya." Jawab Rosean dan Rea.
Mereka pun tertidur, keesokan harinya, Rea tidak terlihat di kamarnya. Mungkinkah dia sudah berangkat duluan?
"Lynelle, dimana Rea?" Tanya Rosean.
Lynelle yang baru saja selesai mandi pun menoleh ke arah Rosean. Ia menaikkan pundaknya.
"Aku juga tidak tahu."
"Kemana Rea pergi pagi- pagi begini? Bukannya hari ini hari libur?" Batin Rosean.
Sekolah Knight dan Witch akan libur setiap 1 bulan sekali. 2 bulan lagi, adalah ujian semester dan setelah itu para murid akan di pulangkan selama sekiranya 1 bulan.
Sementara itu, di sisi kamar Shaquil, Shamus, dan Caldwel. Terlihatlah satu orang pemuda berambut biru agak tua yang sedang menggunakan headset.
"Hm, tidak terasa sudah 4 bulan aku di sini. Sebentar lagi, aku akan bertemu dengan ayah dan Rian." Batin Shaquil tersenyum senang.
"Hei, Shaquil."
Seseorang tiba- tiba ada di sebelah Shaquil yang masih melamun sambil terseyum. Caldwel memegang jidatnya sambil mendengus kasar.
"Hei, Shaquil, kau mendengarku tidak, sih?"
"Shaquil?"
Caldwel mengepalkan tangan sambil terus- menerus menahan emosinya. Shaquil justru malah diam saja tidak mempedulikan hal itu.
"SHAQUIL!" Teriak Caldwel kesal.
Shaquil sontak tersadar karena suara teriakan Caldwel yang menyamai, ah tidak, melebihi toa masjid. Shaquil menatap wajah si nama dispenser itu dengan wajah geram.
"Teriakanmu keras sekali, sih. Aku bertaruh, jika kau bertanding teriakan dengan mobil sport, maka kau yang akan menang."
"Diam! Jangan mengejekku!"
"Huh, ada apa?"
Caldwel menghela napas, "Aku, ingin kau mengajariku sihir. Jadi, bisakah kau-"
"Aku menolak." Ujar Shaquil kembali berbaring di kasurnya.
__ADS_1
"Apa? Kenapa?"
Shaquil menatap Caldwel sekilas dengan tatapan dingin dan langsung membuang muka sambil mendengus kasar.
"Baiklah, aku minta maaf atas perilaku ku tadi."
"Tumben mau minta maaf duluan, biasanya gengsi tuh. Aku tebak besok saat kau menikah, kau akan menjadi suami- suami takut istri."
"Aku sudah minta maaf, dan kau malah mengejekku?"
Caldwel mulai mengepalkan tangannya lagi, Shaquil hanya menatap dan mengeluarkan smirk yang membuat Caldwel tambah kesal.
"Apa kau bisa memasak?" Tanya Shaquil.
"Bisa, memangnya kenapa?"
"Kalau begitu kita buat kesepakatan saja."
Shaquil berdiri dan kini, mata biru Shaquil dan mata kuning Caldwel bertemu. Caldwel mundur ke belakang karena jarak wajah mereka yang terbilang dekat, sekitar 10cm.
"Ke, kesepakatan apa?" Caldwel mulai gelagapan.
"Iya, kesepakatan. Aku akan mengajarimu, tapi kau harus memasak untukku sampai 2 bulan kedepan. Bagaimana?" Tanya Shaquil.
Caldwel terdiam sejenak memikirkan kesepakatan yang di berikan oleh Shaquil. Ia kemudian menatap Shaquil dengan tatapan yakin.
"Baik, aku setuju." Jawab Caldwel.
"Baiklah, deal ya?" Shaquil menjulurkan tangan.
"Ya." Caldwel memegang tangan Shaquil yang menandakan kalau ia sudah setuju.
Shaquil POV
Huh, lama- kelamaan pelajaran ini menjadi membosankan. Padahal dulu ini adalah pelajaran yang paling aku tunggu- tunggu. Tapi sekarang, ini seperti mengerjakan tugas anak tk.
Aku yang terlalu pintar atau pelajarannya yang terlalu mudah, sih?
Padahal orang- orang bilang pelajarannya susah. Sudah ku duga, sebenarnya orang- orang di sini rata- rata pada lebay semua. Hah, sekarang gara- gara tidak ada kerjaan, aku malah memikirkan tentang ayah dan Rian, kan.
Kira- kira mereka sedang apa ya?
Kalau sekarang aku ada di rumah, pasti aku sedang menonton acara pertunjukan perkelahian ayah dan Rian. Jelas pemenangnya adalah Ayah ku yang sangat kuat.
"Shaquil, kenapa kau dari tadi tersenyum, ha?" Tanya guru yang tidak sengaja memergoki Shaquil tersenyum seperti orang gila.
"Tidak apa- apa kok, Pak."
Huh, dasar guru menyebalkan, apa tersenyum saja tidak boleh? Sekalian aja kaga usah belajar. Kan enak tuh kaga kebanyakan pr.
"Kalau tidak ada apa- apa, sekarang kau jawab pertanyaan yang berjumlah 2 ini dari bapak."
Eh, enak aja lu bujank nyuruh gw jawab dua pertanyaan. Lu di suruh bersihin kelas ama murid aja langsung melarikan diri dan kembali dengan wajah tidak berdosa.
"Ada apa? Kenapa apa murid paling pintar di sekolah ini tidak bisa menjawab pertanyaan pak guru yang segampang semut ini?" Tanya pak guru dengan senyum smir**k.
Apa dia bilang? Segampang semut? Tahu- tahu nanti jumlahnya 2 meleset jadi 20 gara- gara jawabannya beranak atau panjang. Belum lagi kalau susah dan tidak di ajarkan, kan malu akunya.
"Tidak pak, saya akan menjawabnya."
Sudahlah, apapun pertanyaannya nanti aku hanya perlu menjawabnya. Walaupun jawabannya tidak masuk akal sama sekali. Semangat Adriana, kamu pasti nggak akan bisa.
__ADS_1
Pertanyaan pertama:
'Ada seorang supir bus, ia pergi ke halte A dan 47 orang naik. Di halte B, 15 dan 30 orang naik. Di halte C, 7 orang turun dan 50 orang naik. Berapa umur supir kereta tersebut?'
Ealah buju busrak, pertanyaan apaan tuh? Kenapa yang ditanyaain umur supir busnya? Bukannya seharusnya yang di tanyaan jumlah penumpangnya?
Rosean mengangkat tangannya, "Em, pak, ini tidak salah pertanyaan?" Tanya Rosean.
Bener tuh, apa nggak salah pertanyaan? Ngapain juga gw tahu umurnya? Biar gw nikahin dia? Belum cukup umur dodol.
"Tentu saja tidak, memang ada yang salah dengan pertanyaanku?" Tanya guru itu.
Ealah, enteng bat dah omongannya. Kalau lu tau jawabannya, ngapain masih nanya, sih? Bikin orang tambah susah aja dah.
"Ti, tidak, tapi-"
"Tidak ada tapi- tapi, Rosean, kalau kau tau jawabannya, jangan beritahu dia mengerti?" Tanya guru itu dengan tegas.
"Ba, baik, Pak."
Guru menyebalkan, beraninya dia memotong perkataan Dewi Rosean yang lembut. Aku pasti akan membalasnya Rosean.
"Jadi, apa jawabannya, Shaquil?" Tanya guru itu.
Guru b*d*b*h, dia ini masih sayang nyawanya tidak, sih? Kalau aku tidak menyandang nama Ayah Nik, aku pasti sudah mengahabisimu!
BERSAMBUNG~
\-Iklan\-
"Tumben ngadain iklan thor." -Shaquil.
"Gw, baru gabut, diam aja lu." -Author.
"Lu lagi gabut? Gw malah marah, tau nggak?" -Shaquil.
"Lah, gw nggak nanya, tuh." -Author.
"Author jahat bat dah." -Shaquil dengan wajah ingin menangis.
"Ih, jangan nangis dong. Nanti gantengnya ilang, lo." -Author sambil nepuk pundaknya Shaquil.
"Thor, gw boleh curhat nggak?" -Shaquil.
"Besok aja, pas chapter berikutnya. Kalo sekarang gw mau ngerjain pr dulu." -Author.
"Author jahat bat" -Rosean.
"Kok gw jahat? Ya udah sialahkan lu curhat, tapi lu bantuin gw ngerjain pr se alam semesta?" -Author bawa buku setinggi langit ke tujuh.
"Nggak, nggak, Author kerjain ndiri aja, kita mah nonton." -Shamus.
"Lu emang karakter nggak punya akhlak!" -Author.
"Kan lu yang buat, kok lu yang marah- marah?" -Shamus.
"......" -Author nggak bisa berkata- kata karena emang bener.
__ADS_1