
"Hei, kalian para manusia, lihatlah, keagungan sekolah ini, bla, bla, bla." Anggap aja angin yang ngomong😅.
Boleh nanya nggak? Bener nggak sih kalo misalnya ada orang pidato pasti cuma 10% yang dengerin sisanya cuek. Ini nggak bermaksud menyinggung, ya.
"Ngomong apa sih bapak- bapak gila itu?" Tanya seseorang dari belakang Shaquil dengan tatapan jengkel.
Jangan di tiru, ya, anak tidak ada akhlak ke begitu. Nah, mulai dari sini akan banyak karakter yang mulai bermunculan. Semangat bacanya, ya.
"Bapak- bapak gila?" Tanya Shaquil dengan tatapan polos.
"Ya tentu saja bapak- bapak gila, udah tahu nggak ada yang dengerin. Tapi masih saja ceramah, membuat ku muak." Tatapan jengkel masih menghiasi wajah laki- laki di samping Shaquil.
"Ngomong- ngomong siapa namamu?" Tanya orang itu.
"Hm? Namaku Shaquil Carlir."
"Harus aku katakan kau hebat sekali."
"Hebat apa maksudmu?"
Laki- laki itu menunjuk ke arah para gadis yang melihat mereka. Shaquil cuma diam memperhatikan saja.
"Tentu saja kau hebat, baru pertama kali masuk tapi sudah membuat puluhan gadis jatuh hati. Aku rasa kau bisa menjadi seorang playboy sejati."
"Apa maksudmu? Tunggu sebentar, apa maksudmu gadis- gadis tadi sedang melihatku?"
Laki- laki di sebelah Shaquil menepuk jidat sambil menghela nafas berat kemudian merangkul pundak Shaquil.
"Ternyata kau itu laki laki yang nggak peka, ya?" Ujar laki- laki itu.
Jleb, kata- kata yang sangat menusuk hati Shaquil dan membuatnya muntah darah tapi tidak kelihatan.
"Ck, ck, ck, sayang sekali." Ujar pria itu menghela napas berat.
"Kau sudah bosan hidup, ya?" Tanya Shaquil dengan tatapan mengerikan dan nada bicara yang di tekan.
"Hei, hei, hei, tidak perlu marah seperti itu, oh ya, perkenalkan namaku Shamus."
Seorang pemuda berambut putih dengan mata berwarna merah bercampur orange membuat pose menggoda.
"Nggak tanya." Ucap Shaquil dengan nada bicara dingin.
Jleb, kali ini gantian Shamus yang muntah darah karena perkataan Shaquil. Shamus memegang dadanya yang sakit karena perkataan Shaquil seperti ingin menangis.
"Ngomong- ngomong nama kita sama- sama di mulai dari huruf Sh, ya. Mungkin kita berjodoh?"
"Mungkin itu cuma sebuah kebetulan."
"Ya kali, jodoh ku kamu, jika dalam penampilan kayak gini kita gay dong!" Batin Shaquil.
__ADS_1
Sekedar info aja, Shamus itu artinya setia. Tapi, aku rasa laki- laki satu ini kaga bisa bakalan setia sampai mati, deh. Pendapat Author aja tapi.
Setelah perbincangan itu, ujian sekolah Knight pun di mulai. Setelah ujian Knight selesai, Shaquil langsung berlari menuju tempat kerjanya sekalian istirahat.
Setelah istirahat dan membantu ayah angkatnya itu. Kemudian Shaquil berlari ke tempat selanjutnya, sekolah penyihir Witch.
.
.
.
.
Waktu pengumuman hasil ujian telah tiba, Shaquil tidak sabar mengetahui hasil ujian kedua sekolah itu.
"Kalau Knight tidak bisa, maka Witch adalah pilihan ku yang tersisa." Batin Shaquil.
Tidak seperti yang Shaquil bayangkan, ternyata dia di terima di kedua sekolah itu. Pada Shaquil mendaftar ke kedua aekolah itu hanya untuk jaga- jaga saja.
"Kampr*t! Kenapa bisa jadi begini sih?!" Batin Shaquil kesal di sepanjang perjalanan.
Walaupun wajah marah Shaquil kalau di lihat masih bisa di bilang ganteng. Doeng, Shaquil pun kembali ke toko roti ayah angkatnya dengan wajah murung dan sangat sedih.
"Demi Rian yang aku pukul 12 kali, kenapa mukamu sangat pucat nak? Apa dia mengganggumu lagi?!"
Ayah Nik menunjuk ke arah Rian yang berdiri di sampingnya sedari tadi. Sontak Rian yang tidak tahu apa- apa pun terkejut.
"Kenapa namaku di sebut sebut kampr*t!" Batin Rian menggerang kesal.
Gambar di atas adalah gambar fotonya Rian. Seperti yang lainnya juga, aku ngambilnya dari google.
"Aku, aku di terima di kedua sekolah itu." Pria do depan Shaquil mengangguk mengerti.
"Apa? Kau di terima kedua sekolah? Kau ini terlalu imut, terlalu lucu, terlalu-"
"Hei, singkirkan tanganmu dari tubuh putriku!" Ujar Ayah Nik mengeluarkan pedang dengan tatapan mengerikan.
Alasan kenapa Ayah Nik marah karena dari tadi Rian nyentuh pipi, pundak sama tangannya Shaquil. Jadi Ayah Nik marah dan hampir saja ingin membunuh Rian.
"Apa kau menyesali keputusanmu itu?" Tanya Ayah Nik yang baru saja kembali dari memukul Rian.
"Tentu saja tidak, karena, tidak ada kata menyesal dalam hidupku!" Ujar Shaquil dengan tegas.
Ayah Nik tersenyum lega memdengar perkataan putri angkatnya itu. Sayangnya, wajah Shaquil masih terlihat sedih dan stres.
"Tenanglah, semuanya pasti akan baik baik saja. Percayalah." Shaquil mengangguk.
Keesokan harinya, Shaquil bangun pagi untuk segera masuk ke sekolah kesatria Knight agar tidak terlambat di hari pertamanya. Sebelum berangkat, Shaquil masih membantu ayah angkatnya terlebih dahulu.
__ADS_1
[Sekolah Knight, pukul 04:50]
"Hah, akhirnya sampai, beruntung aku tidak terlambat." Ucap Shaquil menyeka keringat.
Shaquil yang masih penasaran akan denah dan detail sekolah Knight itu berkeliling sambil melihat- lihat.
"Hei, Shaquil!" Shaquil membalikkan badan.
"Ternyata kau, Shamus."
Shamus mendekati Shaquil dan merangkul pundak Shaquil seperti teman lama yang sangat akrab. Padahal sih, enggak.
"Hei, kenapa kau datang begitu pagi? Lihatlah, gadis- gadis itu pasti akan langsung mengerumuni sekolah ini setiap pagi."
Shamus menunjuk ke arah kerumunan gadis yang baru saja datang. Shaquil hanya diam tanpa reaksi melihat tingkah gadis- gadis itu. Shamus menghela napas berat.
"Kau ini, bisakah memanfaatkan ketampanan mu itu?"
Pertanyaan yang di lontarkan oleh Shamus membuat Shaquil tambah bingung. Shaquil menatap datar ke arah Shamus.
"Untuk apa aku melakukannya?"
"Aduh, kau ini, bagaimana kalau aku ajari kau sesuatu yang menarik?"
"Sesuatu yang menarik? Seperti menggoda gadis- gadis itu?"
"Hahaha, aku rasa aku akan menarik kata kataku kemarin. Ternyata kau orang yang peka, ya?" Ujar Shamus dengan senyum menggoda.
"Cih, terserah, tapi aku mungkin akan menjadi sedikit tertarik untuk melakukannya."
Senyum merekah di wajah Shamus, wajah Shaquil menunjukkan smirk seperti mengatakan 'ayo kita lakukan'.
Ting, Tong, Ting, Tong, bel masuk kelas berbunyi. Beruntung, Shamus sekelas dengan Shaquil, jadi Shaquil tidak akan merasa sendirian.
Walau merasa tidak nyaman karena mata gadis- gadis di kelasnya menatapnya, membuat Shaquil bergidik ngeri dan keringat dingin terus bercucuran.
Ting, Tong, Ting, Tong, bel pelajaran berakhir pun berbunyi. Saat Shaquil ingin beranjak di tempatnya, ada seorang gadis yang mendekati mejanya.
"Gadis ini, sepertinya dia adalah gadis yang aku temui kemarin." Batin Shaquil.
Shaquil dan gadis itu hanya saling menatap sampai si gadis yang mendekati Shaquil pun angkat bicara.
"Na, namaku Rea. Na, namamu Shaquil kan?" Tanya gadis itu terlihat agak gugup.
"Rea? Nama yang bagus, senang berkenalan denganmu."
Tanpa peringatan Shaquil memegang tangan gadis itu dan membuat senyum imut. Hal itu membuat sang gadis hampir pingsan, dengan sigap Shaquil menangkap gadis itu dan membuat gadis itu tambah tersipu malu.
"Hei, apa kau baik- baik saja?"
__ADS_1
"Padahal kemarin sok kalem, kenapa sekarang jadi lembek gini?" Batin Shaquil.
BERSAMBUNG~