
"Jadi, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Shamus.
"Tentu saja kita akan menyelinap lagi ke istana." Ucap Adriana.
"Lagi? Aku bahkan tidak mendapat imbalan!" Gerutu Shamus.
"Haduh, anak ini." Batin Rea.
Cup, sebuah kecupan dari bibir yang sangat lembut mengenai pipi Shamus. Yap, lagi- lagi pasangan itu pamer kemesraan. Siapa lagi kalau bukan Rea dan Shamus.
Adriana dan Caldwell menatap datar ke arah dua sejoli yang selalu saja membuat orang muak dan ingin muntah. Set, Caldwell menarik- narik lengan baju Adriana, membuat si pemilik lengan baju itu menoleh.
"Kenapa?" Tanya Adriana sudah tahu maksud Caldwell.
"Aku juga mau." Ucap Caldwell dengan bibir di manyun- manyunkan.
"Haish, dasar kau ini. Kekanak- kanakan sekali."
"Hahaha, jadi sad boy! Kasihan banget, sih!"
"Diam kau Shamus! Atau aku cekik nanti!"
Set, tiba- tiba seseorang menarik lengan Caldwell dan membuat Caldwell kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Cup, bibir lembut Adriana menyentuh pipi Caldwell.
Sang pemilik pipi yang tengah di cium itu tersenyum menyeringai ke arah Shamus yang kalah telak. Kecupan yang di terima Caldwell juga sedikit lebih lama dari pada milik Shamus.
"Bagaimana? Aku menang!" Batin Caldwell.
"Huh! Rea, aku juga mau."
"Berhenti kekanak- kanakan. Ayo kita langsung bahas rencananya saja."
"Huh, menyebalkan."
"Hah! Sekarang siapa yang sad boy?!" Caldwell tertawa mengejek.
Shamus hanya berdecih memalingkan wajah sambil menaruh tangan di dada tidak mau menyahut. Pasrah, Adriana dan Rea hanya bisa menggeleng- gelengkan kepala tidak tahu harus berkata apa.
"Baiklah, begini. Malam ini kita..."
Pagi pun berganti menjadi malam. Rea, Adriana, Shamus, dan Caldwell sudah siap dengan pakaian ala penyusup dan ninja mereka masing- masing. Karena mereka akan mencuri.
Tentu saja mereka akan menggunakan pakaian yang berkamuflase di kegelapan malam. Tentu saja, warna hitam pekat. Lengkap dengan penutup mulut dan senjata yang ada di pinggang.
"Baiklah, kalian sudah siap?" Tanya Adriana.
"Siap!" Jawab yang lainnya serentak.
"Ayo kita mulai."
__ADS_1
Set, Adriana mengeluarkan tongkatnya dan sring, batu sihir yang besar tercipta. Syush, mereka pun sampai di salah satu koridor di dalam istana yang sangat besar itu. Sring, Adriana menyembunyikan tongkatnya.
"Baiklah, kita bagi tim dua orang. Aku dan Caldwell ke arah kanan. Kalian berdua ke arah kiri."
"Baik!"
"Yes! Se tim lagi dengan Rea." Ujar Shamus.
"Fokus Shamus! Atau aku buat barbeque nanti saat pulang!" Ucap Adriana.
"Idih, galaknya."
"Sudahlah, ayo kita mulai saja. Sebelum hari menjelang pagi." Ucap Caldwell.
"Iya, iya, kau ternyata cerewet juga, Caldwell."
"Diam kau Shamus b**d*b!"
"Cepat, ke arah sini Caldwell."
Mereka pun mulai berkeliling setelah pertengkaran kecil itu. Karena ini adalah istana kota Reala, sudah jelas kalau akan di jaga sangat ketat dan penjaganya selalu berganti setiap jamnya.
Mau tidak mau, Adriana dan Caldwell harus menggunakan sihir tembus pandang dan berjalan secara perlahan. Pelan namun pasti, itulah yang di lakukan Adriana dan yang lainnya saat ini.
"Apa kau tahu di mana kamar ratu?" Bisik Caldwell.
"Tidak, tapi kita pasti akan menemukannya."
"Ruang bawah tanah? Kenapa?"
"Dari buku yang aku baca, kebanyakan tempat yang paling sadis itu berada di ruang bawah tanah. Karena tidak akan ada yang mau ke sana."
"Itu masuk akal. Kita cek dulu apa benar atau tidak."
Karena penjagaan mulai mengendur, Adriana menggunakan sihir teleportasinya lagi. Sring, sekarang mereka berada di ruang bawah tanah, lebih tepatnya di bagian tangga.
Tiba- tiba ada sinar yang cukup terang dengan suara perempuan berbicara di dalamnya. Dengan cepat Adriana langsung mengetahui suara siapa itu walau tidak melihat wajahnya.
"Sebentar lagi, hanya tinggal sebentar lagi. Rencana ku akan sempurna! Hahahahaha!"
"Itu adalah suara ratu Reala?" Tanya Caldwell.
"Benar, tapi apa maksudnya dengan rencana?"
Sedikit demi sedikit Adriana dan Caldwell berjalan mendekati pintu yang terbuat dari kayu berukuran besar di bawah tanah. Suaranya semakin keras dan jelas.
Sudah pasti, itu adalah suara ratu. Anehnya, ratu menggunakan pakaian hitam dengan tanduk mirip tanduk iblis di kepalanya. Deg, mata Adriana dan Caldwell membulat terkejut.
"Bagaimana mungkin...?"
__ADS_1
"Apa dia benar- benar ratu Reala?" Tanya Caldwell.
Adriana masih belum lepas dari rasa syoknya. Di tambah lagi, di sekeliling ratu Reala yang menyerupai bentuk iblis seperti ibunya dulu. Ada banyak lava panas dan patung- patung mengerikan.
"Akhirnya kalian datang juga~"
Deg, Adriana tersentak, ia hendak mundur ke belakang menjaga jarak aman. Kaya social distancing saja. Brak, pintu kayu besar itu terbuka karena angin kencang yang tiba- tiba berhembus.
Suasananya mendadak suram nan mencekam. Pemandangannya itu semakin jelas terlihat. Lava panas yang menyembur keluar dinding entah dari mana itu semakin lama semakin terasa sangat panas.
"Ra, ratu Reala?" Ucap Adriana tergagap.
"Hai Adriana~ Kau masih saja cantik seperti biasa, ya~"
"Apa yang ratu inginkan?" Tanya Caldwell berusaha melindungi Adriana.
"Oh, ada tikus kecil juga di sini~ Sangat menggangu pemandangan~"
"Uh, kenapa kau melakukan ini?" Tanya Adriana.
"Karena aku menginginkan diri mu. Apa kurang jelas~?"
Deg, Adriana menatap tidak percaya apa maksud perkataan ratu Reala. Caldwell melangkah ke depan, mengayunkan tangan mencegah jikalau ratu Reala ingin mendekat apa lagi melukai Adriana.
"Ratu Reala, apa Anda masih waras?" Tanya Adriana.
"Haha, kau pasti berpikir kalau aku seorang pedofil bukan~?"
Pedofil berarti orang yang memiliki usia yang tua dan menyukai anak di bawah umur. Rata- rata selisih umur mereka kemungkinan lima belas atau dua puluh tahun. Sekitar itulah.
"Kenapa ratu Kota Reala yang sangat hebat menginginkan seorang anak kecil seperti Adriana? Bukankah Anda sudah memiliki Raja Kota Reala yang hebat?"
"Memang apa hubungannya dengan mu?"
Tatapan Ratu Reala menjadi mendingin, tatapannya juga terlihat sangat meremehkan. Mulutnya setajam ular berbisa yang sangat beracun. Caldwell agak bergidik ngeri, tapi dia juga tidak bisa mundur begitu saja.
"Ratu Reala, sebaiknya Anda membatalkan niat Anda sekarang."
"Jangan melunjak dasar kau tikus kecil!"
"Adriana, pergilah, aku akan berusaha menghambatnya. Carilah bantuan." Bisik Caldwell.
"Apa sudah g*la?! Mana mungkin aku melakukan hal itu?!"
"Jika kita tiada di sini, maka tidak akan ada yang bisa menyelamatkan Kota Reala nanti."
"Tapi Caldwell-"
Prok, prok, prok, tepukan tangan dari wanita sialan di hadapan mereka terdengar sangat keras. Set, Ratu Reala pun berdiri sambil berjalan turun ke arah Adriana dan Caldwell.
__ADS_1
"Sangat dramatis dan mengharukan. Tapi aku sudah mulai bosan. Bagaimana jika kita mulai permainannya saja~?"
Bersambung