
Author POV
Sekarang Shaquil menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Caldwel. Ia menyandarkan kepalanya ke tangan sebelah kanan.
"Festival? Maksudmu festival tahunan?" Tanya Shaquil.
"Benar, ngomong- ngomong kuenya enak. Siapa yang memasaknya?"
"Kenapa kau bertanya? Apa kau akan membawanya ke rumahmu dan menjadikannya istri?"
"Tidak, aku hanya penasaran saja. Siapa tau aku bisa belajar darinya."
Shaquil menunjukan smirk dan membuat Caldwel kebingungan. Caldwel masih menyantap makanan itu dengan tenang sambil menunggu jawaban dari Shaquil.
"Jika aku bilang kalau,"
Caldwel melebarkan mata penasaran, ia meminum coklat semanis gulali yang ada di sebelahnya.
"Kalau aku yang membuatnya bagaimana?" Lanjut Shaquil.
Bruth, Caldwel menyemburkan minumannya dan berhasil membuat para manusia melirik mereka berdua. Caldwel menyembur ke arah Shaquil, beruntung Shaquil belajar sihir jadi dia bisa menghentikan semburan itu.
"Jadi, kau adalah...Pembuatnya?!"
"Wahai manusia pobia alias polos- polos bi*adab. Kecilkan suara mu bisa tidak?" Tanya Shaquil pelan tapi menakutkan.
"Bai, baiklah, aku minta maaf."
Keheningan menguasai mereka berdua, padahal mereka sedang tidak ada di kuburan keramat saat malam hari. Suara dari meja sebelah saja tidak ada.
Seperti terkena ada lem tikus di bibir mereka, tidak bahkan sepertinya suara mereka ikut di lockdown oleh pemerintah.
"Em, baiklah aku akan ikut." Ujar Shaquil.
"Uhuk, apa?"
"Aku bilang aku akan ikut, jadi tunggu di sini sebentar. Jangan lupa habiskan makanannya, jika tidak akan ada hantu haus dessert yang akan membawamu ke kastil makanan."
"Hahaha, baiklah."
Shaquil pun masuk ke dalam dapur lagi dan dia segera masuk ke ruangan ayahnya. Hal itu membuat para pekerja yang haus gosip pun bertanya- tanya.
"Apa yang terjadi?"
Kriet, ceklek, Shaquil masuk ke dalam ruangan Ayahnya. Ayah Nik mendekati anaknya itu karena merasa anaknya memiliki sesuatu untuk di sampaikan.
"Adriana, ada apa?" Tanya pemuda berambut kuning itu.
"Ayah, aku mohon mulai hari ini panggil aku Shaquil, bukan Adriana."
"Iya baiklah, ada apa, Shaquil?"
"Ayah, aku ingin pergi ke festival bersama temanku. Apa boleh?"
__ADS_1
"Teman? Laki- laki atau perempuan."
"Dua- duanya."
Shaquil POV
Tentu saja dua- duanya, orang muncul satu bakal muncul seribu. Di tambah lagi si toa mesjid Shamus itu juga pasti akan ikut.
"Baiklah, jangan pulang malam- malam. Sampai pukul 22:00 saja, lewat jam itu aku akan menghukummu."
"Baiklah."
Berakhir pukul 22:00, aku tidak yakin akan selesai jam segitu. Aku tebak pukul 15:54 saja ayah pasti sudah mencariku di seluruh dunia sambil teriak- teriak.
Aku sudah mendapat ijin dari ayah, sekarang waktunya ganti pakaian dan jangan membuat si dispenser itu menunggu. Kalo dia ngambek kan berabe nanti masalahnya.
Aku berangkat menggunakan hoodie berwarna putih dengan celana berwarna biru dan sepatu berwarna biru campur putih. Aku pun keluar dari dapur dan tentu itu menarik perhatian.
"Caldwel ayo, kita segera pergi ke festival." Ujar ku.
"Wah, kau cantik ah, ganteng sekali."
"Tentu saja,"
Aku mendekatkan mulut ku ke telinga Caldwel yang masih duduk manis seperti anak kecil polos yang di kasih uang 30.000 untuk jajan.
"Aku kan ingin menggoda para gadis di sana."
Brak, Caldwel si dispenser itu pun segera bangun dan membuat aku langsung senam jantung. Seperti ada pertandingan drum di dadaku, deg, deg, deg, apa ini efek kelamaan di rumah?
Si anak disepenser itu segera pergi dengan sangat cepat. Ia menundukan kepalanya sampai, menabrak pintu toko kue.
"Dia tadi habis nonton hantu, ya? Jalan sampai tutup mata begitu." Batin Shaquil.
Tunggu sebentar, apa tadi aku salah lihat? Atau apa memang telinga Shaquil tadi memerah, ya? Padahal di dalam sini tidak panas, lo.
Author POV
Shaquil dan Caldwel pun sekarang segera pergi ke arah festival. Banyak sekali orang di sana, sepertinya semua orang sangat bersemangat untuk menghadiri festival kali ini.
Itu wajar, karena festival ini adalah festival merayakan kota Reala bebas dari ancaman dan menjadi kota paling kuat dan hebat. Tentu semua orang akan bersemangat.
Di tambah lagi ada banyak benda pusaka dan hal- hal menarik di sini. Seperti kuil cinta, konon katanya siapapun yang masuk ke dalam sana akan mendapat kan cinta jika hatinya murni.
Dengan kata lain, maksudnya adalah, dia adalah orang yang menerima apapun jodohnya. Entah itu kaya, miskin, jelek, cantik atau ganteng.
"Wah, lihat sate cumi- cumi itu!"
Shaquil menunjuk ke arah penjual yang di kerumuni para maniak jajanan di sana itu. Shaquil menarik tangan Caldwel mendekat le arah penjual cumi bakar itu.
"Pak, beli 2!" Ujar Shaquil.
"Tidak, satu saja, satu kita bagi dua, karena kalau cuma 2 aku tidak yakin akan habis."
__ADS_1
"Oh, baiklah, sate cuminya satu saja ya, Pak."
Wush, blar, Shaquil tanpa lelah melihat bapak penjual itu memperlihatkan aksinya saat membakar cumi. Caldwel hanya tersenyum melihat tingkah takjub Shaquil.
Caldwel POV
Huh, dia ini sungguh kekanak- kanakan sekali, tapi kalau seperti ini, dia terlihat sangat imut. Ah, tunggu dulu, apa yang aku pikirkan tadi, kami itukan sesama laki- laki. Aku tidak boleh menyukainya!
"Caldwel, ini cuminya, ayo makan di sebelah sana."
Anak itu, dia menyodorkan cumi itu ke arahku setelah itu menarik tanganku ke arah tempat yang tidak terlalu banyak orang. Deg, deg, deg, kenapa jantungku malah seperti arena balap mobil begini?
Tolong jangan meledak dulu! Dunia ini belum kiamat! Masa aku sudah auto dead duluan?!
Kami pun duduk di dekat sebuah pohon berdaun biru tapi bunganya berwarna krem kekunigan. Aku jadi berpikir, apa yang takdir ingin bicarakan kepadaku?
"Caldwel, ayo makan cumi ini. Nyam, enak."
Shaquil, orang di depan ku ini bagaikan seekor kelinci. Dia memakannya begitu lahap, sangat lincah, cepat, menawan, dan sangat membuat orang terpesona akan keimutannya.
"Nyam, kau benar ini memang enak."
Harus aku katakan, lidah anak ini memang tidak pernah salah. Lidah yang tajam dan menakutkan saat bicara kepada orang yang tidak ia sukai, lebih mirip singa.
"Nyam, nyam, ini kan, nyam, memang enak."
Bocah kelinci ini, makanpun masih banyak berbicara. Membuat kegantengan yang semula ada menjadi sebuah keimutan yang tidak dapat di tolak untuk di pandang.
"Hehe, dasar kelinci kecil yang rakus."
"Nyam, kalau aku kelinci kecil yang rakus, maka kau adalah dispenser yang kaku seperti batu!"
"Enak saja, dasar playboy."
"Aku memang playboy, lalu kenapa?"
"Huh, itu bukanlah sebuah pujian tahu?"
"Aku tidak peduli."
Anak ini, kadang- kadang membuatku kesal, licik dan kepalanya sekeras beton, tidak sekeras batu di neraka yang amat panas. Menyebalkan.
BERSAMBUNG~
\-Iklan\-
"Thor, kemaren kok nggak ada iklan?" -Shamus.
"Huh, diem aja lu, nggak ada iklan soalnya gw kemaren mbuatnya jam 11 lewat 34 tengah malem!" -Author.
__ADS_1
"Ih, author nggak sayang mata." -Shaquil.
"Mending nggak sayang mata dari pada nggak sayang nyawa!" -Author.