Magician Knight

Magician Knight
Kau ingin memilikinya?


__ADS_3

"Oh, ya, di mana Reryu?" Tanya Adriana.


"Ah, Kak Reryu ada urusan tadi. Jadi dia menitipkan aku kepada Kiano."


Kiano memalingkan wajahnya dengan semburat merah kecil di pipinya. Adriana menampilkan senyum menyeringai agak menakutkan.


"Oh, jadi Reryu memasrahkan mu kepada Kiano, ya?"


"Iya, memangnya kenapa?" Tanya Meira polos.


"Kenapa aku merasakan sesuatu yang buruk? Semoga itu tidak terjadi." Batin Kiano.


Senyum menyeringai itu masih belum hilang, malah di selingi suara terkikik kecil. Punggung belakang Kiano seketika menjadi dingin.


"Kalau begitu, bisakah kau membelikan ku yang ada di tangan mu itu?" Tanya Adriana.


"Ah, ini, ya. Baiklah, kalau begitu tinggi sebentar." Ucap Meira.


"Terima kasih!"


Tap, tap, tap, Meira meninggalkan Adriana dan Kiano berdua tanpa rasa khawatir dan cemas. Set, Adriana melirik ke arah Kiano.


Tatapannya aneh, seperti meremehkan dan agak kasihan(?). Set, Kiano membalas tatapan Adriana itu dengan tajam.


Btw, makanan yang di bawa Meira itu sosis bakar. Jadi jika ada yang penasaran itu sudah aku jawab, ya.


"Ada apa? Kenapa kau menatap ku?" Tanya Kiano.


"Tidak, hanya merasa aneh saja. Kenapa Reryu yang sangat aku percayai itu bisa menyerahkan Meira kepada mu, ya?"


Set, Adriana mendekatkan wajahnya ke wajah Kiano untuk melihat. Seberapa seriuskah anak yang ada di hadapannya itu saat ini.


"Kalau itu tentu aku tidak tahu. Tapi aku merasa terhormat bisa dapat kepercayaan dari sahabat guru."


"Idih, idih, ternyata kau mulai sombong, ya."


"Guru, jika suatu hari nanti aku mengambil Meira dari guru. Apa yang akan Guru lakukan?"


Hah?!


Adriana langsung terkejut mendengar pernyataan Kiano yang sangat terang-terangan itu. Bahkan dia sampai tidak bisa membalasnya sama sekali.


"Hei, hei, bukannya ini sama saja dengan pernyataan perang?" Batin Adriana.


Adriana kembali ke posisi kalemnya, ia melipat kedua tangannya di dada sambil menghela napas. Glek, Kiano menelan salivanya tegang.


"Jadi maksud mu, kau pantas untuk bersanding di sebelah Meira?"


"Saya yakin, karena saya, akan melindungi Meira. Walau saya harus tiada sekalipun!"


"Anak ini, ternyata dia tidak main-main." Batin Adriana.


"Apa kau yakin kalau ini hanya perasaan sesaat?"


"Tidak Guru, saya yakin. Saya juga akan bertanggung jawab apapun yang terjadi kepada Meira nantinya!"


Adriana tersenyum kecil. Syut, entah kenapa sekarang perasaan Kiano menjadi lebih lega, seperti dia yakin kalau dia akan berhasil.


Sementara itu, Meira yang kembali dari membeli sosis bakar itupun merasakan hal aneh. Atmosfer yang berada di sekeliling Kiano dan Adriana menjadi agak tegang dan menakutkan.


"Loh, mereka kenapa?" Batin Meira.


Kembali lagi ke Kiano dan Adriana yang berdebat tentang hubungan Kiano dan Meira. Biasa, pasti sebelum menikah ada selisih- selisihnya gitu.

__ADS_1


Antara mertua dan menantu. Tapi kali ini kakak ipar dan adik ipar yang bertengkar. Kenapa? Baca lagi yang chapter [Adik Baru]. Di situ menjelaskan kalau Meira itu adik angkat.


"Kau itu masih lemah, beraninya melamar Meira ku. Kau saja kalah saat bertarung dengannya."


"Saya akui, saya memang kalah waktu itu. Tapi saya berjanji, saya akan tetap melindunginya dan tidak akan menyerah."


"Anak ini keras kepala juga." Batin Adriana.


"Kakak! Kiano!"


Seseorang berteriak sambil berjalan menghampiri mereka berdua. Ya, siapa lagi kalau bukan Meira adik kesayangan Adriana.


Saat Meira mendekat, atmosfer itu kembali berubah. Kini menjadi lebih tenang, apalagi dengan senyuman di antara ketiganya.


"Ah, kau sudah kembali. Mana makanan ku?" Tanya Adriana.


"Ini sosis bakarnya. Eh, Kiano, ada apa?"


"Apa? Tidak ada apa- apa. Aku hanya sedang membahas latihan saja bersama guru."


"Cuih, latihan dari mana? Bahas perang memperebutkan Meira iya." Batin Adriana.


Meira ber-oh panjang tanda mengerti. Set, saat hendak memakan sosis bakar itu, Adriana mengingat sesuatu. Ya, dia lupa soal Caldwell.


Hah, Adriana tersenyum pahit, kali ini dia yang memasrahkan Meira kepada Kiano. Tentu bocah itu akan senang dan tersenyum kemenangan.


"Sial, kenapa aku lupa tentang Caldwell?" Batin Adriana.


"Meira, kakak pergi dulu. Ada sesuatu yang harus di lakukan."


"Ah, baiklah. Semangat kakak!"


"Tentu!"


"Hm, ada apa?" Tanya Kiano.


"Tidak ada apa- apa."


"Jadi soal aku menjadi pacar mu itu bagaimana?"


Blush, pipi Meira menjadi memerah, tidak terlalu terlihat. Dia menjadi batuk- batuk karena keselek meteor, maksudnya makanannya maaf.


"Ah, soal itu... Memang kau sudah mendapat restu dari kakak?"


Set, Kiano mendekatkan wajahnya ke wajah Meira. Senyum nakal nan menawan terukir di bibirnya, taulah, modusnya cowok.


"Dalam perjalanan. Lagi pula, aku masih memiliki banyak waktu. Benar kan?"


"Maksudnya apaan, sih?" Batin Meira.


"Uhuk, uhuk, maksud mu apa, ya?" Tanya Meira tersenyum canggung.


"Hei, apa kau pikir aku tidak tahu? Jangan berpura-pura polos, deh. Dasar rubah kecil."


"Huh, ice krim menyebalkan!"


Baiklah, kembali ke pemeran utama wanita. Syush, Adriana mendarat sekitar beberapa langkah dari Caldwell berada. Dia hanya sendirian.


"Apa ayahnya sudah pergi?" Batin Adriana.


"Loh, Adriana? Kenapa kau hanya berdiri di situ?"


"Ah, tidak ada. Aku hanya merasa kau cukup tampan juga, ya."

__ADS_1


Wush, angin sepoi- sepoi bertiup dan menerbangkan helai- helai rambut Adriana. Di selingi juga senyum manis menggoda di bibirnya.


Blush, pipi Caldwell menjadi memerah. Emang ya, nggak kakak nggak adik keduanya sama- sama suka bikin anak orang jantungan.


"Hihi, ternyata dia lebih polos dari pada yang aku duga." Batin Adriana.


"Ekhem, kenapa kau tiba- tiba mengatakan hal itu?" Caldwell memalingkan wajah malu.


"Memangnya kenapa? Jika kau tidak percaya kau bisa melihat bola mata ku untuk berkaca."


Ah, Caldwell menatap dengan polos seperti seorang anak kecil. Terlihat imut nan menggemaskan, saking menggemaskannya jadi pengen cubit.


"Ekhem, aku, aku rasa itu tidak perlu."


"Hihi, oh, ya, Caldwell."


"Hm?"


"Apa kau tahu di mana tempat membeli soul powder?"


"Kenapa kau menanyakan itu?"


"Ya, hanya tanya saja."


Set, Caldwell menatap ke arah langit berpikir keras. Ini juga kesempatan untuk membantu Adriana, betapa senangnya itu.


"Bukannya sudah jelas?"


"Hm?"


"Tentu saja di pasar gelap."


"Kalau itu aku tahu, tapi yang aku tanyakan adalah letaknya."


"Letak?"


"Benar."


Set, mata Caldwell menajam dengan Amar serius. Sudah jelas kalau dia tahu di mana tempatnya. Tapi, dia terlihat seperti tidak mau mengatakannya karena faktor khawatir dan takut.


"Jadi di mana?"


"Aku, aku tidak tahu."


"Bohong! Kau pasti tahu akan hal itu! Jangan coba- coba membohongi ku!"


"Maaf Adrian, aku, tidak bisa membantu mu soal hal ini."


Deg, jantung Adriana serasa berhenti berdetak saat itu juga. Tatapan matanya adalah tatapan mata terkhianati dan kecewa.


"Kenapa kau tidak memberi tahuku?"


Dengan ekspresi pahit, Caldwell memalingkan wajahnya berusaha tidak bertatap pandang langsung dengan Adriana. Dia tahu Adriana kecewa.


"Padahal aku, sangat percaya pada mu. Kenapa Caldwell? Kenapa...?"


Tes, tes, tes, mata Caldwell terbelalak sempurna. Air mata mengalir dari pelipis mata kanan dan kiri Adriana. Grep, Caldwell mengepal tangannya erat.


"Menyebalkan." Batinnya


Bersambung


Guys, akhirnya aku bisa update🤧Gara gara tugas sekolah numpuk ih kesel bat🤧Pemberitahuan, kalau nggak sibuk, besok [Emperor is a bad girl] bakal update.

__ADS_1


__ADS_2