Magician Knight

Magician Knight
Keributan


__ADS_3

Author pov


"Dia benar bocah sialan!" Teriak Rea yang terbakar api emosi.


"Cih, terserah." Ujar Caldwel kembali masuk ke dalam kamar.


Rea masih mengepal tangan geram akan tingkah kurang ajar Caldwel. Rasanya seperti dia ingin memukulnya, tapi kalah akan jarak mereka yang terbilang cukup jauh.


"Hei, kalian berdua, tolong hajar dia untukku ya!" Teriak Rea mengangkat satu kepalan tangannya.


Sementara Rosean mendekap Lynelle kedalam pelukannya. Terlihat Lynelle masih ketakutan, kenapa sepertinya Caldwel membenci Lynelle? Dan apa alasannya?


Shaquil menatap dan memberi isyarat yang mengatakan, "Tanyakan alasan mereka bertengkar nanti." Dengan gerakan tangan.


Rosean dan Rea mengangguk mengerti, kami pun masuk kamar mereka masing- masing. Caldwel masih terlihat bodoh amat dengan keadaan Lynelle yang hampir ia buat menangis tadi.


"Aku berjanji kalau tidak akan membuat masalah pada ayah. Tapi sepertinya aku akan melanggarnya." Batin Shaquil.


Shaquil menarik headset Caldwel dengan kasar, dengan cepat Caldwel berbalik dan mata mereka saling bertemu. Tapi, tatapan tajam penuh kemarahan dan kebencian milik Shaquil membuat Caldwel terkejut.


Lalu Shamus?


Shamus menatap perkelahian itu seperti menonton pertunjukkan teater. Sungguh teman yang tidak punya akhlak dan halal, bahkan sangat halal untuk di bunuh.


Kembali pada Shaquil dan Caldwel, Shaquil menarik kerah baju Caldwel dan jarak semakin mengikis kedekatan antara mereka. Sekarang wajah mereka hanya berjarak beberapa cm saja.


Tapi tatapan kebencian dan amarah Shaquil masih tidak berubah. Jika misalnya itu adalah sifat perempuan yang sebenarnya, wajah mereka pasti akan merona.


Ya, merona jika di hadapkan kepada pria setampan Caldwel. Tapi sayang seribu sayang, lawannya adalah Adriana yang hatinya membeku dan cukup sulit jatuh cinta.


"Kenapa kau melakukan itu pada, Lynelle?! Apa kau tahu kalau dia sangat sedih dengan perkataanmu itu?!" Tanya Shaquil dengan tangan yang siap memukul kepala pria di hadapannya itu.


"Kalian ini kenapa sih? Cuma seorang gadis imut saja!"


"Kalau kau suka sama Lynelle bilang saja, tidak usah pake acara ngejek segala!"


"Memangnya siapa yang suka sama dia?!"


Shaquil tersentak, dia kemudian duduk di sebelah Caldwel dengan tangan di lipat di dada. Caldwel hanya diam memperhatikan sambil terus- menerus kebingungan.


"Lalu, kalau tidak suka dengan dia. Kenapa kau mengejeknya?" Tanya Shaquil dengan tatapan polos.


"Itu, sebenarnya karena orang tuaku lebih menyayangi dia dari pada aku."


"Jadi, kalian memiliki orang tua yang sama?" Caldwel mengangguk.

__ADS_1


"Nggak papa bro, aku tahu apa yang kamu rasakan."


Caldwel menatap Shaquil dengan cepat, "Huwaaa!"


Mereka berdua, kemudian berpelukan sambil menangis hisetris dengan sangat keras. Bahkan 3 kamar dari sini saja masih kedengaran.


"Kok jadi kaya gini sih malahan?" Batin Shamus bingung.


Kedua orang itu, Shaquil dan Caldwel saling menyeka air mata mereka masing- masing. Shamus hanya menatap datar terus kebingungan.


"Jadi, maksudnya kau iri begitu dengannya?" Tanya Shaquil dengan tatapan polos.


"Em, mungkin bisa di bilang seperti itu. Oh, ya, namaku Caldwel Kalaila." Sambil tersenyum.


"Hahaha, senang bisa melihatmu tersenyum seperti itu. Namaku Shaquil Carlir."


"Kalau aku Shamus Andrika." Shamus tiba- tiba menyela.


Baiklah, info nama numpang lewat, Caldwel itu artinya dingin sekali, kalo Kalaila artinya hangat. Artinya kedinginan yang terasa hangat(?).


"Shaquil dan Shamus, ya?"


"Apa kau, orang yang sulit untuk berinteraksi dengan orang?" Tanya Shamus begitu saja.


Shaquil pov


"Tidal perlu dengarkan kata- kata orang g*la di sebelah kita." Ujar ku menenangkan Caldwel.


"Apa kau bilang tadi?! Kurang ajar!" Teriak orang g*la itu.


"Huh, bukannya kau yang kurang ajar?!" Hardik ku geram.


"Kau benar- benar, ya!"


"Tapi, yang di katakannya itu benar, aku, memang orang yang cukup sulit bersosialisasi."


Perkataan Caldwel membuatku dan Shamus melihatnya dan menghentikan adu mulut kami. Wajah Caldwel, seperti ingin menangis dan terlihat sangat rapuh.


"Tidak masalah, lagi pula itu bukan masalah besar. Tapi, kau punya berapa teman?" Tanyaku penasaran.


"Tidak ada satupun, kau sudah tahu kan alasannya, karena mulut ku yang kasar."


"Baik."


Ucapan Caldwel membuatku tambah sakit hati dan kehilangan kata- kata untuk menghilangkan kesedihannya itu. Uh, ini menyebalkan!

__ADS_1


"Kalau begitu, maukah kau menjadi teman kami?" Wajah Caldwel yang tadi menunduk sekarang mendongak menatapku.


Aku menampilkan senyum terbaikku untuk membuatnya merasa baikan dan nyaman. Rencanaku berhasil, Caldwel mengangguk setuju.


"Baik, kalau begitu, em, ayo kita bermain perang bantal!" Ajak Shamus sudah siap senjata.


Aku memberi isyarat pada Caldwel agar ikut, Caldwel pun mengangguk setuju dan malam itu kami bermain perang bantal. Sungguh berisik, sampai penjaga asrama datang dan menyuruh kami diam.


Tapi sebandinglah dengan kesenangan dan kegembiraan yang kami dapatkan. Di sekolah Witch aku memiliki Rosean dan Caldwel. Di sekolah Knight aku punya Rea dan Shamus.


Aku pikir kehidupanku akan terus bahagia seperti ini sampai, hal yang aku sudah perkirakan pun terjadi. Tapi, ternyata lebih cepat dari dugaanku. Akhirnya, aku bertemu lagi dengan, Lea, nama lengkapnya adalah Leanna.


.


.


.


.


.


Hari itu adalah hari yang sama seperti biasanya, aku berada di dekat pohon besar bersama Rea, Rosean, Caldwel, Shamus, dan Lynelle. Hubungan Lynelle dan Caldwel sekarang sudah mulai membaik, berkat ku tentu saja.


Pohon yang kami gunakan untuk bermain cukup rindang, sangat sejuk saat bermain di bawahnya. Aku akui mungkin itu tidak pantas di tiru, karena kami bermain di malam hari.


Tidak ada cara lain lagi, pagi, siang dan sore di gunakan untuk belajar. Jadi waktu malam harilah yang tersisa. Sangat melelahkan, untung waktu pelajaran sekolah Witch di majukan setelah sekolah Knight selesai.


Tapi karena hal itu, nyawaku hampir melayang di buatnya. Berkat itu juga, sekarang aku bisa berada di sini bersama mereka berlima, walau masih kesal dengan sikap menyebalkan Shamus.


Author pov


"Hei, kenapa kau terus membaca buku, Shaquil?" Tanya Shamus yang bergelantungan di pohon sepeti seekor monyet.


"Tentu jawabannya karena dia adalah anak rajin, bukan anak pembuat masalah seperti mu." Ejek Rea.


"Enak saja, aku ini juga anak yang rajin tau?"


"Benarkah? Aku tidak yakin."


Suara tawa menghiasi kami berenam, hanya saja, Caldwe dan Lynelle sedikit jarang bicara, mungkin karena tidak mau mengganggu mereka?


"Permisi, apa kau yang bernama Shaquil?"


Seorang wanita mendekat ke arah kami, deg, suaranya membuat hati Shaquil terkejut bukan main. Dia adalah Leanna, saudara tiri Shaquil.

__ADS_1


"Astaga, bagaimana aku bisa melupakan tentang keberadaan Lean?" Batin Shaquil mulai panik tapi di tutupi wajah stay cool nya.


BERSAMBUNG~


__ADS_2