
"Kakak, apa setelah kakak mengetahui identitas asliku kakak akan meninggalkan ku?"
"Tentu saja tidak!" Jawab Adriana dengan tegas.
"Dulu, aku sebenarnya adalah iblis yang di angkat menjadi Dewi. Apa kakak percaya itu?"
Ryu Ice, bukan, sebelum bertemu Adriana, dia selalu di panggil 'iblis' dan di jauhi orang- orang. Suatu hari, seseorang yang di panggil 'iblis' itu di beri tugas untuk meninjau bumi dan memberikan laporannya setelah kembali.
Hal itu malah menjadi sebuah kesempatan bagi dewi-Dewi yang membenci 'iblis' itu. Akhirnya, saat melakukan peninjauan, ada seseorang yang mengambil sebuah batu kekuatannya dan membuat 'iblis' itu berubah menjadi bayi.
Di bumi, kekuatan Dewi lebih terbatas dari pada di planet- planet lain. Adriana pun malah ikutan murung saat mendengar perkataan Ryu Ice itu. Kemarahannya tiba- tiba membara.
"Beraninya dia menjebak Ryu Ice ku yang bagaikan malaikat tanpa dosa!" Ujar Adriana.
"Kakak, kalau boleh jujur, sebenarnya dulu aku banyak sekali membunuh orang. Sekitar, 10 orang."
"Kau bodoh, ya? 10 orang itu sedikit, sedikit Ryu Ice! Kecuali kalau kau seperti aku yang menghabisi lebih dari 1000 orang. Itu baru boleh di panggil iblis!"
"Begitu, ya?"
Adriana tersenyum dan memeluk Ryu Ice dengan hangat. Air mata Ryu Ice mengalir tiba- tiba mengalir tanpa ia suruh.
"Ingatlah satu hal Ryu Ice, aku tidak akan meninggalkan mu apapun yang terjadi. Aku akan menjadi kakak idaman yang selalu berada di sisimu dan selalu mendukungmu."
Air mata Ryu Ice mengalir deras, "Terima kasih, kakak." Ujar Ryu Ice.
"Hm, hei, apa kau mau ikut aku berbelanja besok?" Tanya Adriana menawarkan.
"Eung, baiklah, terima kasih banyak kakak."
Keesokan paginya, sesuai janji, Caldwel dan Hyuga berdiri di depan rumah Ayah Nik. Ryu Ice tentu kembali ke wujud bayinya agar lebih mudah dan tidak memakan tempat.
"Eh, kalian ternyata sudah sampai, toh?" Tanya Adriana.
Mata Hyuga dan Caldwel terbelalak sempurna, karena kali ini Adriana menggunakan baju perempuan dengan rambut panjang sebahu. Agak panjang dikit, biar masih terkesan tomboy nya.
"Wah, ada angin apaan, nih?" Tanya Hyuga.
"Huh, diamlah. Ini juga atas permintaan Ryu Ice." Jawab Adriana.
"Lalu, telinga kucing itu...?" Caldwel menunjuk telinga bagian atas Adriana.
Adriana membuang muka sambil menggembung kan pipinya sebal. Hyuga dan Caldwel hanya terkekeh geli dan menggeleng- gelengkan kepala melihat perubahan Adriana.
"Sudahlah, ayo cepat. Jika tidak aku akan meninggalkan kalian di sini." Ujar Adriana berjalan pergi.
"Eiy, jangan seperti itu juga dong." Ucap Hyuga.
__ADS_1
"Berhentilah bicara, ayo ikuti dia saja." Ujar Caldwel ketus.
Mereka bertiga sekarang sampai di depan sebuah toko gaun. Adriana menghela napas malas, ia pun melangkah kan kakinya dengan perasaan tidak suka.
"Hei, Adriana, apa kau mau mencoba gaun ini?" Tanya Hyuga.
Adriana menoleh ke arah Hyuga, baju yang Hyuga perlihatkan adalah gaun berwarna putih. Dengan renda berbentuk es, ada juga sepatu high heels berwarna putih senada dengan gaunnya.
"Tidak mau, kalau aku pakai itu, nanti malah di kira seorang pengantin." Ujar Adriana.
"Hei, itu kan tidak masalah. Pada akhirnya kau juga akan menikah, kan?" Tanya Hyuga.
"Tidak tahu, tapi kalau aku menikah, memangnya dengan siapa?"
"Dengan ku, bagaimana?"
Adriana menatap datar ke arah Hyuga, di belakangnya adalah Caldwel yang mengepalkan tangan geram. Karena kesal, ia menggeret kerah bagian belakang Hyuga seperti menyeret seekor kucing.
Adriana hanya diam melihat tingkah ke dua sahabatnya itu. Ryu Ice kemudian melihat sebuah gaun yang di rasanya cantik. Ryu Ice menarik- narik lengan Adriana dan menunjuk gaun itu.
"Hm, kau ingin aku menggunakan gaun itu?" Tanya Adriana.
Ryu Ice mengangguk, "Ia, alau Kaka aai iu, anti Kaka amah antik(Iya, kalau kakak pakai itu, nanti kakak tambah cantik)."
Adriana melihat gaun itu, gaun yang di pilih Ryu Ice ternyata cukup feminim. Gaun itu tidak terlalu panjang, panjangnya hanya sampai lutut. Warna gaun itu adalah biru dengan campuran warna putih.
Ada juga sepatu high heels berwarna biru muda yang senada. Adriana tersenyum senang, model itu memang model yang cukup Adriana suka.
Ryu Ice mengangguk dan mereka berkeliling mencari gaun yang sesuai dengan karakter Adriana. Beberapa menit berlalu, Adriana pun menemukan gaun yang sesuai dengan dirinya.
"Ryu Ice, bagaimana kalau yang ini?"
"Agus, anat antik, ook enan aka(Bagus, sangat cantik, cocok dengan kakak)."
Adriana pun tersenyum senang, sekarang masalahnya adalah. Mereka kehilangan jejak Hyuga dan Caldwel. Kira- kira ada di mana mereka?
"Kemana si dua orang pengganggu itu, sih?" Batin Adriana.
Ryu Ice menoleh, "Aka, itu alwel ama uga di cana (Kakak, itu Caldwel sama Hyuga di sana)."
Adriana menoleh ke arah yang di tunjukan Ryu Ice. Adriana memasang wajah bingung, lantaran ada benjolan di kepala Hyuga dan Caldwel. Apa mereka habis berkelahi?
"Em, Caldwel, Hyuga, ada apa dengan, em, kepala kalian?" Tanya Adriana.
"Em, itu..." Hyuga dan Caldwel membuang muka.
Beberapa menit yang lalu, saat di mana Caldwel menarik Hyuga ke suatu tempat. Lebih tepatnya di luar toko karena sudah pasti mereka mungkin akan berkelahi.
"Hei, dispenser! Lepaskan aku!" Teriak Hyuga.
__ADS_1
"Siapa yang kau panggil dispenser, hah?! Dasar bocah halu!" Caldwel ikutan berteriak.
"Hei, jangan coba- coba memanggil ku seperti itu! Hanya Adriana saja yang boleh mengerti?!"
"Kalau begitu, jangan coba- coba juga untuk memanggilku dispenser! Kau tidak berhak!"
Jeder, kedua orang itu menatap tajam dan berakhir perkelahian yang, terjadi seperti sekarang ini. Hyuga hanya tersenyum saja tanpa mau menjawab, begitu pun dengan Caldwel.
"Haha, kami baik- baik saja, kok." Ujar Hyuga tertawa canggung.
"Apa, kalian barusan bertengkar?"
Jleb, pertanyaan Adriana tepat sasaran, Caldwel dan Hyuga memang berkelahi beberapa menit lalu. Tapi sepertinya mereka akan lebih memilih untuk menyembunyikannya.
"E, hei lihat jam berapa ini. Aku pulang duluan ya Adriana." Ujar Caldwel.
"Ya sana pergilah, biar aku mengantar Adriana pulang."
Set, Caldwel menghentikan langkah dan menatap tajam ke belakang. Hyuga tersenyum tanpa dosa, Ryu Ice hanya menatap datar karena sudah tahu maksud perkelahian dua pria itu.
"Hah, kalian ini kalau suka dengan kakak ku bilang saja. Kali aja aku restui, eh, tapi belum tau reaksi Ayah Nik dan Kakak Rian." Batin Ryu Ice.
"Tidak perlu, biar aku saja yang mengantar Adriana pulang."
"Bukannya kau bilang mau pulang? Kenapa tidak jadi pulang?"
"Kau mengusir ku?! Dasar munafik!"
"Beraninya kau mengatai ku munafik!"
Tangan Adriana gemetaran, sekarang dia benar-benar sangat kesal. Karena tidak ada pilihan, Adriana memukul kepala Caldwel dan Hyuga. Nggak sampai pingsan, kok.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri, sampai jumpa."
Adriana pun bergegas pergi dengan baju yang sudah ia pilih dan ia bayar tentunya. Set, seseorang memegang ke dua pundak Adriana. Itu Caldwel dan Hyuga.
"Hei, apa maksud tangan mu itu? Cepat lepaskan tangan mu dari pundak Adriana sekarang!"
"Dasar munafik, apa kabar tuh sama tangan mu?" Tanya Caldwel.
"Kalau kalian hanya ingin bertengkar saja, aku pergi, nih." Ucap Adriana.
"JANGAN!" Teriak Caldwel dan Hyuga.
"Jadi, apa yang akan kalian katakan?"
"Untuk pertemuan dewi nanti..."
"Kau akan memilih siapa sebagai pasangan mu?" Caldwel melanjutkan perkataan Hyuga.
__ADS_1
"Em, aku rasa aku akan pergi dengan..."
BERSAMBUNG~