
"Kau bukan gay, kan?!" Teriak Adriana kaget.
Teriakan Adriana membuat beberapa pengunjung di sekitar mendelik terkejut, bukan hanya itu, mereka bahkan dengan cepat menoleh ke arah Adriana.
Set, pedagang itu dengan cepat menutup mulut Adriana dengan jari telunjuk di depan mulut tanda menyuruh Adriana agar diam.
"Hei, diamlah atau aku-"
Zhung, tatapan tajam mengarah ke si pedagang yang membungkam Adriana. Yap, dia adalah Caldwell yang habis minum cuka satu gentong.
"Hei, lepaskan tangan mu dari dia atau...!"
Set, dengan senyum canggung dan sikap yang gelagapan. Pedagang itu menarik kembali tangannya dengan cepat dan segera membungkuk minta maaf kepada Adriana.
"Astaga, maafkan aku Nona."
"Em, tidak apa- apa. Ngomong- ngomong, terima kasih, ya, Caldwell."
"Suatu kewajiban bagiku."
"Ha? Kewajiban? Kewajiban apa?" Batin Adriana.
Adriana pusing tujuh keliling di buat calon suaminya itu. Walau belum di terima, tapi masih ada kesempatan untuk mencoba.
"Katakan saja kepada kami, siapa yang membeli soul powder ini." Ucap Caldwell.
"Maaf Tuan, tapi saya-"
Zhung, tatapan tajam nan menakutkan kembali terlihat di wajah Caldwell. Glek, pedagang itu agak sedikit menunduk ketakutan.
"Dengar ya, kesabaran ku juga ada batasannya."
"Baik Tuan, akan saya beritahu. Tapi, tidak si sini. Ikuti saya."
Drap, drap, drap, Adriana dan Caldwell berjalan mengikuti pedagang itu ke suatu tempat. Tempat terpencil yang hanya ada mereka bertiga.
Set, mereka pun berhenti. Nampaklah tempat yang kumuh dan kotor. Adriana sama sekali tidak masalah dan mempedulikan apa itu.
Ia hanya mempedulikan jawaban, hanya jawabanlah yang ia butuhkan sekarang. Set, pedagang itu berbalik badan, dengan tubuh agak gemetar.
"Sekarang kau bisa mengatakannya kepada kami?" Tanya Adriana.
"Baiklah, aku tidak tahu siapa dia. Yang aku tahu hanyalah, dia membawa sebuah plakat."
"Plakat? Plakat apa?"
"Plakat tanda kalau dia mungkin adalah, salah seorang kesatria Ratu Reala."
Deg, Adriana sontak sangat terkejut. Ia tidak menyangka kalau dugaannya dan apa yang ia lihat saat di taman lampion itu benar adanya.
__ADS_1
Puk, Caldwell menepuk pundak Adriana yang agak sedikit ketakutan dan terkejut. Adriana menoleh ke arah si pelaku, si pelaku hanya tersenyum saja.
"Baiklah, kalau begitu terima kasih. Kami pergi dulu, sampai jumpa." Ujar Caldwell.
Drap, drap, drap, Caldwell dan Adriana berjalan keluar dari pasar gelap itu. Sepanjang perjalanan Adriana diam- diam melirik ke arah Caldwell.
Sadar sedang di lirik, Caldwell menoleh dan menatap mata biru Adriana penuh tanda tanya. Senyum merekah indah dan manis di wajah Caldwell.
"Ada apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Tidak apa- apa. Terima kasih karena sudah membantu ku."
Set, Caldwell tiba- tiba berhenti, Adriana pun juga ikut berhenti. Set, Caldwell berjongkok sambil meraih tangan putih nan cantik milik Adriana.
Cup, Caldwell mengecup punggung tangan Adriana. Perilaku itu sontak membuat Adriana berdebar- debar, jantungnya bagaikan arena balap.
"Apapun untuk calon istriku yang manis."
Blush, pipi Adriana menjadi memerah dan panas. Ia merasa sangat ingin pergi dari tempat itu sekarang juga dan membenamkan dirinya di kolam es.
"Ka, kau, ja, jangan omong kosong."
"Kenapa? Tapi itu benar, bukan? Calon istriku yang cantik."
Set, Adriana dengan cepat menarik tangannya itu dan berjalan menjauh. Ia berjalan, tapi seperti lupa cara berjalan. Langkah kakinya sangat aneh.
Kadang besar kadang kecil, dan hampir saja ia terjatuh sesekali. Mungkin efek samping di baperin sama doi plus jantung yang minta loncat keluar.
"Baiklah, calon istriku."
Senyum nakal terukir di wajah Caldwell ia merasa sangat senang dapat menjahili Adriana. Karena jujur, dulu hati Adriana sangat beku kek es batu.
Cewek- cewek yang pernah ngebaperin Adriana aja sampai mengeluh. Karena semuanya gagal ngebaperin Adriana, malah mereka sendiri yang baper karena senyum manisnya Adriana.
"Dasar Caldwell sialan, mentang-mentang aku kasih kesempatan. Dia malah ngelunjak." Batin Adriana.
"Hihi, dia sangat imut. Tidak heran kalau aku jatuh cinta padanya." Batin Caldwell.
Drap, drap, drap, Adriana dan Caldwell terus berjalan sampai di sebuah jembatan yang di bawahnya penuh dengan ikan.
Adriana berhenti sejenak, Caldwell yang di belakangnya merasa penasaran dan bingung. Di tambah lagi, tempat itu minim orang. Hanya sekitar satu sampai lima orang saja yang ada di sana.
"Kau ini, sangat suka ngebaperin anak orang, ya?" Tanya Adriana.
"Ha? Ah, maksudmu soal tadi? Ya, lumayan."
"Berapa banyak?"
"Tidak banyak, hanya kamu seorang saja yang aku baperin seperti itu."
__ADS_1
Set, Adriana berbalik dengan tatapan tidak percaya. Terlihatlah wajah Caldwell yang sedikit memerah karena malu. Aw, aku ikutan malu.
"Benarkah?"
"Benar, bahkan mungkin, aku tidak akan bisa hidup tanpa mu."
"Oh, ya? Kalau begitu saat besok aku tiada dan kau masih tetap hidup bagaimana?"
"Hah? Kalau itu, berarti aku akan ikut mati bersama mu."
Smirk, Adriana tersenyum menyeringai tanda sesuatu akan terjadi. Pada Caldwell tentunya. Tatapan Caldwell berubah menjadi serius.
"Yakin kau akan ikut mati bersama ku?"
"Ya, aku yakin. Jika kau menyuruhku meminum racun saat ini pun. Pasti akan aku minum."
"Kalau itu yang kau inginkan, baiklah."
Caldwell memiringkan kepala bingung, mencoba memahami maksud Adriana. Set, Adriana mengangkat satu tangannya di atas perut.
Syush, cahaya ilahi, eh, salah, cahaya berwarna putih muncul. Wush, sebuah botol berukuran kecil berwarna hitam pun muncul di tangan Adriana.
"Kalau begitu,"
Set, Adriana menyodorkan botol kecil itu ke hadapan Caldwell. Saat itu juga Caldwell mengerti apa maksud Adriana. Memang seorang wanita membutuhkan bukti, bukan hanya perkataan manis saja.
"Minumlah ini dan buktikan ketulusan mu kepada ku."
Set, Caldwell melihat botol itu sekilas dan kembali menatap Adriana. Senyum menyeringai kembali terlihat di wajah Adriana.
"Kenapa? Apa kau tidak sanggup? Calon suamiku?"
Sikap himedere Adriana tiba- tiba kembali begitu saja. Membuat Caldwell menghela napas dengan sikap agak kekanak- kanakan Adriana.
Bagi yang tidak tahu, himedere. Hime artinya Ratu atau permaisuri. Dengan kata lain, himedere itu orang yang kelakuannya seperti ratu atau permaisuri.
"Bukankah sudah aku bilang,"
"Hm?"
"Meminum racun pun, akan aku lakukan untuk mu."
Set, tanpa pikir panjang dan banyak bac*t, Caldwell mengambil botol kecil itu dan meminumnya dalam sekali tegukan. Membuat Adriana agak sedikit terkejut.
"Adriana, jika misalnya aku tiada kali ini. Maukah kau menikah dengan ku di kehidupan selanjutnya?"
Adriana sedikit tersentak, ia mengepal kedua tangannya dengan kuat. Senyum tulus nan manis terukir di bibirnya. Set, Adriana melangkahkan kaki.
Cup, Adriana dengan gercep(gerak cepat) mencium bibir Caldwell untuk ke dua kalinya. Mata Caldwell terbelalak sempurna.
__ADS_1
"Bodoh, di kehidupan sekarang ataupun selanjutnya. Aku pasti, akan menjadi milik mu seutuhnya."
Bersambung