Magician Knight

Magician Knight
Berakhir


__ADS_3

"Tiada? Apa kau bercanda? Kalau aku tiada, mana mungkin aku bisa menonton pertunjukan yang sangat hebat dan mengharukan ini?"


"Jangan terlalu banyak basa- basi. Kali ini, semuanya akan berakhir."


"Benarkah? Bukankah terlalu cepat kalau langsung berakhir?"


"B*c*t."


Sring, duar! Ledakan besar tercipta dan menghancurkan sebagian istana Reala. Puing- puing bangunan berserakan di mana- mana. Tapi itu tidak menyurutkan pertarungan dan keinginan untuk membunuh di kedua belah pihak.


Sejak awal datang, Adriana hanya ingin bermain- main saja. Tapi sudah cukup, dia mulai serius, dan itu adalah pertanda buruk. Tiga jam, butuh waktu tiga jam sampai pertarungan itu benar- benar selesai semuanya.


"Setelah ini, jangan pernah kembali lagi."


Tidak akan ada orang bernama Leanna lagi, karena dia sudah tiada. Orang yang tiada tidak akan pernah kembali. Itu adalah hal mutlak dan tidak akan bisa di ganggu gugat. Seberapa pun usaha mu membangkitkannya, itu hanya sia- sia.


"Dunia ini, akan damai dan hanya akan ada kebahagiaan. Aku jamin itu."


Dua tahun kemudian, seperti yang Adriana katakan. Dunia tempat Adriana tinggal sangatlah damai. Bagaimana tidak? Semua musuh dan orang- orang munafik sudah tidak ada, kebahagiaan tercipta.


"Bukankah sangat hebat jika dunia damai dan tenang seperti ini?" Tanya wanita bersurai biru.


Matanya yang berwarna biru langit itu menatap intens pemandangan yang di suguhkan. Rambutnya tergerai indah, kulitnya mulus seperti susu. Bibir cherry yang berwarna merah muda itu tampak sangat menawan.


Wanita itu duduk di atas jendela sambil menaikkan satu kakinya. Menatap keluar ruangan berlantai lima itu. Dari sana kau bisa melihat betapa indahnya Kota Reala saat malam hari. Di penuhi oleh lampion di setiap jalan.


"Tentu itu sangat hebat. Ini semua berkat kerja keras mu, Adriana."


"Jangan seperti itu, semua ini adalah karena kerja keras kita semua. Tanpa kalian, mana mungkin dunia bisa begitu damai seperti ini?"


"Kau terlalu merendah."


Set, pria bersurai crem dengan warna mata biru lautnya itu duduk mendekat. Rasanya dia ingin sekali terus berduaan seperti ini dengan wanita pujaan hatinya itu. Ya, dari sinilah mungkin ada orang yang mengatakan. 'Dunia serasa milik berdua, yang lain cuma ngontrak'.


"Adriana," Panggil pria bersurai crem itu.


"Hm?"


"Kau tahu bukan janji ku akan terus membahagiakan mu selamanya?"

__ADS_1


"Tentu saja aku ingat. Lalu sekarang kau mau apa?"


Cup, pipi Adriana di kecup dengan lembut. Semakin lama ciuman itu semakin merambat menuju bibir Cherry Adriana. Alarm bahaya berbunyi, Adriana segera menjauhkan wajahnya yang kian merona.


"Hei, kau ini mau apa, sih?"


"Bukannya sudah jelas?"


Tangan itu, tangan dari Caldwell memeluk tubuh mungil Adriana. Kiss mark itu sekarang sudah ada di perpotongan leher Adriana. Sang empu terus mendesah dan berusaha menolak.


"Sialan, kau mau melakukan 'itu'? Kita belum menikah bodoh."


"Kalau begitu bagaimana kalau kita menikah?"


"Huh?"


Set, Caldwell mulai berjongkok sambil mengecup punggung tangan Adriana. Dengan sikap gentle nya, Caldwell melihat mata biru langit yang membuatnya jatuh cinta dan tertarik sejak awal bertemu.


"Adriana Alaqua, maukah kau menikah dengan ku dan membuat masa depan yang sama dengan ku?"


Mata biru langit itu membola sempurna, tidak percaya kalau Caldwell akan langsung melamarnya begitu. Walau tidak di hadapan orang, rasanya masih saja sangat malu. Apa lagi kalau di hadapan banyak orang, tepar sudah.


"Aku tahu aku bukan orang yang humoris, romantis, atau pun kuat. Tapi aku berjanji, aku akan membuat setiap detik dan menit dalam hidup mu terasa sangat berharga."


"Pft, kau sangat bodoh. Tidak perlu kau tanya pun, pasti jawaban ku iya."


Set, kedua pasangan sejoli itu berpelukan. Perasaan haru dan senang menjadi satu. Akhirnya setelah sekian lama, mereka dapat mengungkapkan perasaan cinta mereka. Tidak akan ada lagi yang bisa menghentikan mereka.


Kecuali mungkin, Brak! Pintu di dobrak dengan kuat. Yap, kecuali mungkin mereka bertiga. Para pelaku tidak berakhlak yang selalu mengacaukan waktu berdua Caldwell dan Adriana.


"Dasar kalian, bukankah sudah aku bilang ketuk pintu dulu?" Tanya Adriana berusaha tenang.


"Huh!" Caldwell mendengus kesal.


"Hehe, kami kan hanya ingin bertanya pada Kakak!" Ujar Meira dengan wajah temboknya.


"Benar, Kakak juga jaang(jarang) bercama kami." Gerutu Ryu Ice.


Tawa canggung menghiasi suasana yang mulai menjadi suram itu. Ya, mau bagaimana lagi? Seorang adik pasti perlu di temani seorang Kakak. Beda sama kakak gw yang menyebalkan seantero jagad raya.

__ADS_1


"Lagi pula melakukan hal 'itu' sebelum menikah juga adalah hal yang buruk Tuan." Ucap Reryu.


"Hei, kenapa kau malah ikut- ikutan?!" Batin Adriana.


"Iya, iya, aku minta maaf. Jadi kalian mau apa?" Tanya Adriana pasrah.


"Aku tidak di tanyain, nih?" Gerutu Caldwell.


"Baik, baik, kau juga mau apa?"


Adriana Pov


Menyebalkan! Kenapa setelah kejadian beberapa hari lalu dia jadi sangat cemburuan, sih? Padahal Meira dan Ryu Ice itu adik ku, loh. Walau bukan adik kandung juga, tapi tetap saja bukan?


"Aku ikut kau saja."


Tuh kan, kalau di tanya pasti jawabannya begitu. Memang kau ini anak bebek yang selalu mengikuti induknya apa? Sabar, sabar, orang yang sabar always di sayang Tuhan. Jadi sabar, sa-


"Setiap Meira dan Ryu Ice datang kau selalu saja mengabaikan ku. Keterlaluan."


bar? Ok, cukup! Aku sudah sangat bersabar. Sikapnya mulai menyerupai anak kecil, jangan bilang kalau misalnya kami punya anak dia juga akan cemburu dengan anaknya sendiri. Dengan kata lain aku mengurusi dua anak dong?


"Huh, Kaka Awel kan udah beca. Ida elu kacih cayang lagi(Kakak Caldwell kan sudah besar. Tidak perlu kasih sayang lagi)."


Huh? Apa tadi Ryu Ice bilang?


"Benar, sekarang giliran kami mendapat kan kasih sayang Kak Adriana."


"Tuan Caldwel, saya harap Tuan dapat mengalah dengan anak kecil."


Hei, hei, Reryu, kenapa kau malah semakin memperkeruh suasana? Sial, aku harus segera menghentikan pertarungan tidak berguna ini. Ah, tapi ini malah mengingatkan ku kejadian dua tahun yang lalu.


Saat di mana aku berhasil mengalahkan Leanna dan koma selama satu tahun. Sejak saat itu Caldwell terus datang dan mengurus ku, tentu di bantu oleh Reryu dan Meira yang sudah siuman juga. Selain itu, hidupku terasa lebih berwarna.


Tidak seperti hidupku dulu yang di penuhi oleh satu warna. Dan itu adalah warna mengerikan, yaitu hitam. Aku pikir hidupku akan senantiasa di kelilingi oleh kegelapan. Tapi setelah aku lihat lebih jelas lagi. Ternyata tidak seburuk yang aku kira. Aku bahagia.


"Baiklah, baiklah, berhenti berdebat dan dengarkan aku."


"Hm? Memang Kaka mau bicara apa?" Tanya Meira penasaran.

__ADS_1


"Besok, aku akan menikah dengan Caldwell. Jadi nantikan, ya~"


Bersambung


__ADS_2