
Pukul 04:56, Shaquil sampai di asrama dan di lihatnya Shamus yang ada di depannya. Shaquil menepuk punggung pemuda itu, pemilik punggung pun berbalik.
"Oh, kau cepat juga datangnya."
"Iya."
Shamus terus menatap Shaquil terutama mata Shaquil yang begitu indah nan menawan. Shaquil pun hanya diam dan mengangkat alisnya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Apa kau habis menangis tadi?"
Apa?
"Matamu terlihat sangat bengkak tahu?"
Shaquil pun terkejut dan terus- menerus menyeka air mata itu. Tidak sengaja melihat ada keran air, Shaquil berlari ke sana dan membasahi wajahnya, soal koper, ia titipkan pada Shamus.
"Ha, kau ini aneh, padahal kebanyakan anak akan senang saat berada di luar jangkauan bayang- bayang orang tuanya."
Shamus tiba- tiba mendekat dan sekarang berada di samping Shaquil. Ekspresi cemberut menghiasi wajah pemuda yang tadi habis membasuh mukanya itu.
"Bahagia? Itu kalau bagi anak durhaka seperti mu." Ujar Shaquil mengambil kopernya lalu meninggalkan Shamus.
"Hei, aku bukan anak sedurhaka itu, mengerti?"
Shaquil terus berjalan tidak menghiraukan perkataan Shamus yang mengoceh dari tadi. Matanya menangkap seorang pria yang ada di depan pintu kamar asrama Shamus dan Shaquil.
Shaquil tiba- tiba berhenti dan membuat Shamus yang di belakangnya itu terkejut dan menabraknya, beruntung hidungnya tidak sampai berdarah.
"Hei, kenapa kau berhenti diam- diam begitu?" tanya Shamus memegangi hidungnya.
Shaquil menujuk ke arah pemuda yang ada di depan pintu asrama mereka, "Siapa laki- laki itu?" Tanya Shaquil penasaran.
"Hm? Oh, dia adalah Caldwel."
"Jadi dia yang bernama Caldwel."
Caldwel, pemuda berambut krem dengan mata biru laut berada di depan pintu mereka sambil berbicara dengan anak perempuan di dekatnya dengan senyum ramah.
Ada juga headset yang melingkar di lehernya. Dia terlihat seperti anak seorang yang kaya raya dan terpandang di kota Reala.
"Ayo kita segera masuk ke kamar." Ujar Shaquil melangkah duluan.
"Woi, tungguin dulu napa?"
Caldwel yang duluan sampai memilih tempat tidur yang tidak bertingkat dan segera membereskan barangnya. Ceklek, suara pintu terbuka lagi, pelakunya adalah Shaquil.
__ADS_1
Caldwel hanya diam dan terus membereskan barangnya. Shaquil menaruh kopernya di dekat tembok dan melompat ke tempat tidur yang paling atas.
"Hei, apa- apaan kau? Aku yang akan tidur di atas sana!" Ujar Shamus yang tiba- tiba masuk ke dalam.
"Ogah, siapa cepat dia dapat dong!" Ujar Shaquil tidak mau kalah.
Kamar mereka berada di lantai 2 dan berhadapan dengan asrama untuk putri. Selain itu juga ada balkon di sana dan di suguhkan oleh pemandangan yang sangat sejuk dan menyegarkan mata.
Kembali kepada Shamus dan Shaquil, Shamus menarik kaki Shaquil agar mau turun dari sana tapi masih di tolak keras oleh Shaquil.
"Turun nggak?"
"Nggak! Aku nggak bakalan mau turun!"
Pertengkaran mereka berdua membuat Caldwel geram. Caldwel segera berdiri di depan Shamus dan Shaquil dengan tatapan kesal.
"Kalian berdua, kalau mau ribut diluar saja sana!"
Shamus dan Shaquil terdiam sebentar, setelah itu saling menatap dengan masih ada aura kemarahan di mata mereka masing- masing.
"Baik, kami akan ribut di luar!" Ujar keduanya berjalan ke arah pintu.
Bam, suara bantingan pintu yang sangat keras dan membuat Caldwel sempat merinding ketakutan.Caldwel menatap ke arah langit langit kamar.
"Aku kemarin mimpi apaan sih?" Tanya pria itu menggaruk- garuk kepala bagian belakangnya.
Di luar ruangan, Shaquil dan Shamus mencari tempat sepi yang jelas tidak akan ada siapapun yang menghentikan pertarungan mereka.Mereka bertengkar panjang kali lebar, sampai memutuskan untuk melakukan pertarungan.
Sedetik kemudian, "Yey, aku menang, aku yang akan tidur di kasur atas!" Ujar Shaquil dengan senyum kemenangan.
"Iya, iya, kau yang menang." Ujar Shamus dengan mada bicara malas.
Shaquil menatap ke sekitar mereka saat ini, begitu pula dengan Shamus. Mereka berdua berpikir, 'Kita ada di mana sekarang ya?'
Wush, sesuatu melewati mereka, seperti bayangan hitam. Shaquil dan Shamus mengambil langkah waspada. Tanpa mereka sadari, ada sesuatu di belakang mereka.
"Hai semuanya!"
Suara yang akrab bagi Shaquil, tapi suara itu malah membuat Shamus pingsan. Alhasil nanti Shaquil harus menggotongnya ke kamar. Pelakunya tak lain adalah Rea.
"Hahahaha, apa- apaan itu? Baru segitu saja sudah pingsan? Lucu sekali!"
Rea semakin tertawa keras saat melihat Shamus pingsan, Shaquil cuma menggelengkan kepala pasrah, sedetik kemudian.
"Jadi kau yang mengagetkan kami ya?!" Tanya Shamus sambil mencengkram kerah Rea.
"Hei, cuma kau sendiri yang kaget lalu pingsan. Kalau aku jelas tidak." Ujar Shaquil dengan tatapan datar.
Jleb, kata- kata Shaquil menusuk hati Shamus dan membuat Rea tertawa geli. Shamus berbalik ke arahku seperti ingin menangis.
__ADS_1
"Kenapa kau jahat sekali padaku sih?" Masih mencengkram kerah Rea.
"Haha, bagus lah kau tidak pingsan, karena aku tidak mau menggendong badanmu yang berat itu." Ujar Shaquil mengejek.
"Berat? Enak saja! Badanmu lebih berat dari ku tahu?!"
"Mustahil aku seberat kau."
Suara kesal dan tertawa menghiasi keheningan saat itu. Sebenarnya kami tidak sengaja bertemu, dan juga kami tidak tahu daerah ini sampai seseorang bergabung dengan kami.
"Apa yang kalian lakukan pagi- pagi begini?"
"Rosean?!"
Ya, dia adalah Rosean dengan tangan membawa sekiranya 3 buku. Sepertinya itu buku sihir, Rosean mendekat ke arah kami. Tentu saja, Rea malah terbakar api kesal nan cemburu.
"Ini sudah pagi, kenapa kalian belum mengambil seragam kalian?" Tanya Rosean heran.
"Seragam? Benar, aku lupa!" Ujar Shaquil dengan senyum malu menghiasi wajahnya.
Sebenarnya awal masuk itu pakaiannya bebas dan saat itu hari libur, besoknya yang berangkat sekolah.
Rosean menggeleng dengan senyum terukir di bibirnya. Shamus di belakang Shaquil cuma memiringkan kepala bingung.
"Hei, Shaquil, siapa dia?" Tanya Shamus, sementara Rea masih diam.
"Dia adalah Rosean orang yang aku ajak ke toko roti ayahku kemarin."
"Ah, jadi namanya Rosean ya? Perkenalkan, namaku Shamus Andrika."
"Namaku Rosean, Rosean Adira."
Shaquil sedikit tersentak karena ini pertama kalinya ia mendengar nama panjang teman- temannya itu.
"Kau tidak memberitahuku nama panjangmu dulu." Ujar Shaquil sedikit kesal.
"Ah, itu karena aku lupa, aku minta maaf." Ujar Rosean memalingkan wajah meronanya karena wajah Shaquil yang tiba- tiba mendekat.
"Benar juga, aku belum memberitahu nama panjang ku padamu juga bukan?"
Shaquil berbalik badan seraya mengangguk, namun Rea hanya tersenyum. Rea menghela napas lega ia membuka mulutnya.
"Nama panjangku Rea Cherly."
Rea Cherly, Rea artinya bunga madat; mengalir, sementara Cherly artinya manis. Rosean Adira, Rosean artinya rajin, pekerja keras, rela berkorban. Sementara Adira artinya kuat.
Shamus Andrika, Shamus artinya setia, jika Andrika artinya pemimpin tampan. Walau aku akui ia memang lumayan tampan sih.
BERSAMBUNG~
__ADS_1
Jika ada yang merasa namanya sama, itu cuma suatu kebetulan aja ya gengs😇