Magician Knight

Magician Knight
Menyerah


__ADS_3

"Dia, dia, dia mencium ku?!" Batin Adriana.


"Mm!"


Semakin lama, ciuman itu terasa semakin nikmat dan membuat Adriana merasa melayang. Bibir Caldwel dan Adriana semakin mengikis jarak dan terus mendekat.


Sampai mereka kehabisan nafas dan melepaskan ciuman hangat itu. Pipi Adriana memerah semerah paprika, begitu pula dengan pipi Caldwel.


"Sialan." Umpat Adriana.


"Adriana, perilaku ku tadi mungkin memang agak tidak sopan. Tapi aku sungguh- sungguh mencintai mu. Maukah kau menerima ku?"


Adriana hanya diam saja tidak menyahut pertanyaan Caldwel. Sadar mungkin Adriana sedang kesal kepadanya, Caldwel menghela napas dan ikut diam.


"Kau kurang ajar."


Deg, ucapan Adriana barusan membuat Caldwel sakit hati. Ya, tentu saja Adriana akan bilang seperti itu, dia memang suka blak- blakan tapi dia bukan tipe orang yang suka mencuri ciuman orang begitu saja.


"Aku minta maaf, aku memang seharusnya tidak-"


Set, sebelum menyelesaikan kalimatnya, Adriana keburu pergi meninggalkan Caldwel. Hanya diam melihat kepergian Adriana, itulah yang sekarang Caldwel lakukan.


"Ah, nona, maafkan aku!"


"Eh?"


"Beraninya kau melakukan hal itu!" Teriak Adriana.


Caldwel membeku di tempatnya, ia tidak sadar kalau ternyata sedari tadi ada orang yang memata- matai mereka. Mulai dari mereka berciuman, mungkin.


"Katakan kepada ku! Siapa yang menyuruh mu melakukannya, hah?!"


"Ampun nona, tidak ada yang menyuruh saya melakukan hal ini. Saya hanya numpang lewat saja."


"Numpang lewat? Kau pikir aku akan mempercayai hal itu, iya?"


"Aku mohon ampun nona, saya janji tidak akan melakukannya lagi."


"Kau adalah anggota dari penulis berita di Kota Reala bukan?"


"I, iya betul nona. Memangnya kenapa?"


Perasaan pria yang sedang di interogasi Adriana menjadi sangat tidak karuan. Caldwel masih memantau apa yang terjadi saat itu, dan apa yang di lakukan Adriana.


"Kau sudah bisa tenang sekarang, karena kau besok tidak perlu lagi berangkat bekerja."


"No, Nona Adriana, apa maksud Anda?"


"Bukankah itu sudah jelas? Kau di pecat."


Deg, jantung pria itu serasa berhenti, tentu saja, siapa yang tidak terkejut kalau di beritahu kalau dirinya di pecat. Pria itu kemudian berlutut dan memegangi kaki Adriana.


"Tidak Nona! Ku mohon jangan! Saya masih memiliki anak dan istri Nona!"


"Kalau begitu kenapa kau tidak berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan hal itu, hah?"


"Nona ku mohon, tolong maafkan aku kali ini saja!"

__ADS_1


"Adriana,"


Caldwel memanggil nama Adriana, pemilik nama pun menoleh. Sepertinya, Caldwel merasa kasihan pada pria paruh baya itu. Adriana dapat memahami hal itu.


"Ada apa?" Tanya Adriana kalem.


"Apa kau bisa melepaskan pria itu? Berilah dia satu kesempatan saja."


Adriana hanya diam, mungkin dia akan melepaskannya, mungkin juga tidak. Semua keputusan tentang kehidupan pria itu sekarang berada di tangan Adriana.


"Em, baiklah, kau ku lepaskan kali ini. Tapi jika ini terulang lagi, jangan salahkan aku berbuat kasar."


"Terima kasih, terima kasih Nona!"


"Sebelum itu, memori kamera mu ini akan aku hancurkan. Tidak apa- apa, kan?"


"Tidak, tidak apa- apa Nona."


Set, pria itu pun bangun dan menyerahkan memori kameranya itu kepada Adriana. Kamera pada masa itu adalah sejenis mirip dengan teleskop jama dahulu.


Setelah menyerahkan memori kamera pria itu pun pergi meninggalkan Adriana dan Caldwel berdua. Duar, begitulah suara memori kamera itu hancur menjadi berkeping- keping.


"Em, Adriana, soal pertanyaan ku itu-"


Set, dengan cepat Adriana menarik kerah Caldwel dan mendekatkan wajah Caldwel ke wajahnya. Cup, bibir mereka bersentuhan walau hanya sekilas.


"Ekhem, apa ini sudah cukup sebagai jawabannya?" Tanya Adriana dengan pipi memerah.


Blush, Caldwel berpura- pura batuk hanya untuk mencairkan suasana yang canggung dan mulai memanas itu. Adriana menatap Caldwel menanti jawabannya.


"Haish, aku pikir yang aku lakukan tadi sudah menunjukan jawabannya."


"Aku, aku tidak mempercayainya. Ini benar- benar sangat tidak terduga, aku pikir kau akan-"


Set, tiba- tiba jari telunjuk Adriana berada di depan mulut Caldwel. Tentu tujuannya adalah membuat Caldwel berhenti berbicara dan menjadi gugup, sepertinya.


"Shut, omong- omong, aku belum benar- benar setuju, loh."


"Eh? Apa maksud mu?" Tanya Caldwel tidak mengerti.


"Sebenarnya, maksud ciuman ku tadi adalah,"


Adriana menghentikan laju bicaranya, dia kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Caldwel. Adriana lalu mulai membisikkan sesuatu yang membuat Caldwel terkejut.


"Kejar aku, bodoh."


"Kejar? Jadi ini maksudnya?" Batin Caldwel.


"Kalau begitu, ayo kita pergi. Aku tunggu performa mu dalam mengejar ku! Sampai jumpa!"


Heh, Caldwel tersenyum tapi lebih mirip ke menyeringai. Mereka berdua pun bermain kejar-kejaran. Sementara di tempat lain, di tempat Hyuga dan Lynelle.


"Hei, Hyuga."


"Ya, ada apa?"


"Kenapa kau mengajak ku ke sini dan bukan Adriana? Apakah kau sudah menyerah untuk mendapatkan Adriana?"

__ADS_1


Deg, Hyuga menoleh ke arah Lyenelle yang masih menyantap makanannya itu dengan cepat. Perasaan Hyuga sekarang, tidak dapat di deskripsikan. Ada rasa kecewa, tapi juga seperti ada rasa bahagia.


"Kalau menurut mu bagaimana?"


"Kalau bagi ku, aku rasa kau sudah menyerah."


"Mungkin hal itu benar. Tapi aku masih tidak mau dan tidak bisa lepas dari bayang- bayang Adriana."


"Apa itu karena masa lalu kalian yang terbilang, manis?"


"Ya, begitulah, aku ingin memilikinya, tapi aku juga ingin dia bahagia. Karena aku tahu, mungkin dia tidak akan bahagia walau bersama ku."


Lynelle terdiam sebentar, dia memang masih kecil. Tapi dia tahu tentang hubungan percintaan dan apa yang Hyuga rasakan saat ini. Lynelle pun tertawa kecil.


"Puft,"


"Eh? Kenapa kau tertawa? Memang ada yang lucu dengan perkataan ku?"


"Apa kau bahagia saat Adriana juga bahagia?"


"Tentu saja!"


"Walau dia tidak bersama mu?"


"Ya, mungkin kalau pertanyaan yang itu agak sulit untuk di terima."


"Kalau begitu terimalah kenyataan, move on lah dari dia! Jangan pernah kau jadi orang bodoh hanya karena cinta!"


Hyuga pun akhirnya sadar, dia memutuskan akan menerima kenyataan jika dia tidak bisa memiliki Adriana sejak saat itu. Sekarang, kita akan berpindah ke adik Adriana yaitu Meira.


"Hei Meira." Panggil Kiano.


"Ada apa? Apa kau lelah karena mengikuti ku? Kalau begitu istirahat saja."


"Bukan begitu."


"Lalu kenapa kau memanggil ku? Apa karena di sana ada makanan yang sangat enak?"


Mata Meira berbinar senang menanti jawaban dari Kiano. Huft, begitulah Kiano menghela napas panjang. Set, mata Kiano dan Meira pun bertemu di bawah sinar rembulan.


"Ekhem, aku ingin mengenal mu lebih dekat. Apa bisa?"


"Mengenal ku lebih dekat? Untuk apa? Dan apa hubungannya dengan mu?"


"Ya Tuhan, apa dia masih tidak mengerti maksud ku?" Batin Kiano.


"Aku hanya penasaran saja."


"Kalau begitu, akan aku beritahu."


"Benarkah?"


"Ya, jika kau sudah menjadi pacar ku."


Blush, pipi Kiano pun menjadi merah dan semakin memerah karena perkataan Meira barusan. Apa Meira benar- benar memberikan kode kepada Kiano?


BERSAMBUNG~

__ADS_1


__ADS_2