
Shaquil POV
Wah, Caldwel ternyata sangat baik, aku akui dia juga cukup tampan. Tapi, kenapa para gadis- gadis itu melihat ke arah kami? Sampai ada yang mimisan juga.
"Eh, Shaquil, ada apa?" Tanya Caldwel.
"Gadis- gadis itu...?"
Aku menunjuk ke arah gadis- gadis yang diam- diam melihat kami dari balik dinding olah raga. Caldwel pun menegok ke arah yang aku tunjuk, dan benar saja, gadis- gadis itu langsung sembunyi.
"Sudah, abaikan saja mereka." Ujar Caldwel.
Ya, mengatakannya sih mudah, tapi kenyataannya. Mereka malah semakin sering mengikuti kami setiap aku dan Caldwel bersama.
Apa sih sebenarnya keinginan mereka?
Sudah 2 minggu berlalu, mereka masih saja mengikuti kami. Jadi, setiap mau mengajari Caldwel, aku harus mencari tempat sepi, seperti kuburan.
Walaupun tahu kalau misalnya arwahnya bakal bangun dan langsung membawa kami ke surga. Ya, surga, surga ketakutan dan jeritan yang berada di sekeliling kami. Tapi mereka bisa nggak ya bawa aku ke rumah Ayah?
Di saat yang bersamaan, aku tidak sengaja mendengar para gadis berbicara. Aku rasa itu adalah sebuah gosip. Aku nggak terlalu suka gosip, tapi rasanya seperti menarikku ke arah makanan enak, benar- benar nggak bisa di tolak.
"Hei, apa kalian sudah mendengar berita itu?"
"Maksudmu, couple Shaquil dan Caldwel?"
"Benar, sekarang itu sudah menjadi berita top satu sekolah, lo."
"Astaga, aku tidak habis pikir, bagaimana mereka bisa saling cinta, sih?"
"Aku juga tidak tahu."
Apa, yang mereka bicarakan? Aku, couple dengan Caldwel?!
Aku yakin kepala mereka sudah terbentur batu besar seberat 50 ton. Bagaimana bisa aku couple dengan Caldwel?
Lagi pula, kalau begitu aku dan Caldwel adalah gay? Ogah!
*Orang yang tidak sadar jenis kelaminnya sendiri😓*
"Hei, Shaquil, apa yang kau lakukan di sini?"
Sura itu, suara yang sangat familiar bagiku. Siapa lagi, kalau itu bukan si Shamus orang yang mengalahkan besarnya suara toa masjid?
"Ada apa?" Tanyaku dengan wajah datar.
"Ei~ Kok lu ngambek gitu, sih? Aku kan cuma nanya apa yang kau lakukan di sini?"
Ku hanya memalingkan wajah dengan sedikit kekesalan dalam lubuk hatiku. Dia ini baru datang setelah tidak bisa di hunungi selama beberapa hari.
"Hm, ternyata kau laki- laki yang suka gosip, ya?"
Pertanyaannya itu, benar- benar membuat darahlu mendidih. Tidak perlu memasak darahku, karena darahku sudah panas sejak ia datang.
"Jangan berpikir yang aneh- aneh, kemana saja kau akhir- akhir ini? Jangan bilang main sama cewek lagi."
__ADS_1
"Hei, aku bukan orang seperti itu tau? Aku ini sedang memvantu orang tuaku. Mereka akan membuat sebuah proyek, lucunya, mereka malah menyuruhku untuk mengerjakannya." Ujar Shamus.
Lucunya? Emang lucunya di mana? Itu malah sebuah berkah! Kalau aku jadi kamu, aku akan menggunakan alasan itu agar bisa bolos!
Author POV
"Tapi, kenapa kau menanyakan hal itu? Apa kau, kangen padaku?" Tanya Shamus dengan tatapan menggoda.
"Iya." Jawab Shaquil to the point.
Shamus tentu saja terkejut, lantaran dia gagal mengerjai Shaquil yang belakangan ini terlihat sangat serius. Shaquil menatap Shamus heran karena Shamus masih membeku di tempat.
"Hei, kenapa kau diam saja?" Tanya Shaquil.
"Ekhem, ngomong- ngomng kenapa kau kangen kepadaku?" Tanya Shamus sedikit malu- malu.
"Karena wajahmu."
"Wa, wajahku? Wajahku kenapa? Aku tahu kalau aku itu tampan."
"Benar, saking tampannya membuatku semakin ingin menghancurkannya." Ujar Shaquil dengan tatapan kesal.
Shamus tersentak, "Seharusnya aku tidak terlalu berharap tadi!" Batin Shamus.
Keheningan menghiasi suasana mereka berdua, sampai Rea yang kabarnya tidak terdengar lagi pun menyapa mereka berdua.
"Hai, kalian kenapa diam saja di sini?" Tanya Rea menepuk pundak Shaquil.
"Tidak apa- apa, Rea, kemana saja kau akhir- akhir ini?" Tanya Shaquil dengan raut wajah khawatir.
"A, apa Shaquil tadi mengkhawatirkanku?" Batin Rea.
"Iya, karena kita kan teman." Ujar Shaquil.
Jleb, hati Rea langsung tertusuk sakit, rasanya seperti lebih baik tertusuk tombak saat perang dari pada tertusuk perkataan dari orang yang kita sukai.
"Pft, kasihan di friend- zone nin." Ucap Shamus mengejek.
Buagh, Rea mengepalkan tangannya dan memukul kepala Shamus yang ada di belakangnya. Alhasil kepala Shamus jadi seperti candi di Borobudur.
"Sakit tau! Kau ini datang- datang langsung memukul ku!" Hardik Shamus meringis kesakitan.
"Itu karena kai sangat menyebalkan!" Ujar Rea.
"Kalian ini, kenapa sangat berisik, sih?"
Seseorang berambut ungu kemudaan dengan hoodie berwarna putih salju mendatangi mereka bertiga. Ia membawa sebuah boneka kelinci putih favoritnya.
"Lynelle, apa kabarmu?" Tanya Shaquil.
Ya, dia adalah si imut bin gemesin Lynelle. Walau harus di akui, seimut- imutnya Lynelle, tidak bis. di pungkiri kalau dia agak psikopat.
"Kabarku baik, eh, ada apa dengan kepala kak Shamus?" Tanya Lynelle.
Lynelle menunjuk Shamus yang pingsan dengan kepala berputar- putar. Shaquil menatap ke arah Shaquil dan memapahnya di pundak.
__ADS_1
"Aku rasa dia baik- baik saja, aku akan memapahnya ke kamar." Ujar Shaquil.
"Ya baiklah, aku harap dia baik- baik saja." Ujar Lynelle.
Shaquil mengangguk dan segera membawa Shamus ke kamarnya. Di tengah jalan, Shaquil bertemu dengan Caldwel yang sedang berjalan- jalan.
"Eh, Shaquil, Shamus kenapa?" Tanya Caldwel.
"Oh, Shamus tadi kejatuhan dinosaurus berbobot 80 ton dari abad 12."
"Bu, bukannya abad 12 udah nggak ada dinosaurus ya?"
"Lu mau nolongin, atau mau bicara aja? Kalau cuma mau bicara, minggir kalau nggak aku doakan kau berjalan terbalik."
"Iya, iya, aku bantuin, nggak usah marah- marah. Nanti kecantikan mu hilang, lo."
"Lu kesambet apa, dah? Kesambet petir 200 wot? Aku ini laki- laki, aku tidak ganteng tapi cantik."
"Kebalik, t*l*l."
"Aku nggak t*l*l."
Caldwel pun membantu Shaquip memapah Shamus ke kamar mereka bertiga. Harus diakui, tubuh Shamus agak berat, bahkan hal itu bisa membuat mereka agak ngos- ngosan.
"Haduh, anak ini beratnya berapa, sih?" Tanya Shaquil.
"Sudah, ayo kita tinggal saja, sebentar lagi pasti dia akan bangun." Ucap Caldwel.
Shaquil dan Caldwel pun meninggalkan Shamus berbaring sendirian di kamar. Mereka berdua pergi ke taman untuk berjalan- jalan. Itu pikiran mereka, tapi bagaimana pikiran gadis- gadis yang mengikuti mereka?
"Lihatkan, lihatkan, mereka pasti ke taman untuk berkencan!"
"Astaga, Shaquil- ku sudah tidak polos lagi, huwa aku nggak terima!"
"Ya tuhan, apa benar Shaquil- ku adalah seorang gay?!"
Pemandangan itu di tambah dengan sikap Caldwel dan Shaquil yang semakin mengikis jarak. Caldwel dan Shaquil duduk bersama sangat dekat di pinggir air mancur.
BERSAMBUNG~
\-Iklan *again*\-
"Woi Author, kok aku couple lan dengan Caldwel, sih? Aku kan pria!" -Shaquil.
"Bukan cuma Caldwel, ada Rian dan Shamus juga." -Author.
"Terus, gw sama siapa dong dari ke tiga cogan itu?" -Shaquil.
"Kalau itu biarkan para pembaca yang menentukan, aku cuma mengikuti vote mereka aja." -Author.
"Kok takdir ku di tentukan pembaca, sih?" -Shaquil.
__ADS_1
"Nasib- nasib mu, bukan urusan gw, gw cuma nulis doang kok." -Author. -3-
"..." -Shaquil.